Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Pagi hari berikutnya terasa amat berat. Sinar matahari yang menerobos masuk lewat celah jendela seolah memaksa aku untuk bangun. Rasa hampa dan perasaan tidak berharga dari perlakuan Raka semalam masih membekas jelas, menyisakan rasa mual yang tertahan di ulu hati.
Namun, aku tidak punya waktu untuk meratapi nasib. Pukul tujuh pagi, aku sudah siap dengan kemeja kerja yang rapi.
Begitu aku melangkah mendekati meja lobi, resepsionis yang kemarin melihatku menangis langsung menegakkan punggungnya. Ekspresinya tampak kaget sekaligus sangat lega melihatku kembali dengan pakaian kerja lengkap.
“Mbak Aruna!” panggilnya setengah berbisik, langsung mengambil seutas tali biru dari dalam laci mejanya. “Ini... ID card Mbak kemarin langsung saya simpan. Kemarin siang setelah Mbak pulang, orang HRD pusat langsung nyariin data Mbak ke sini.”
Aku menerima kartu itu. Di sana tertera jelas namanya: Aruna Prameswari – Admin Reimbursement.
“Terima kasih banyak ya, Kak,” ucapku dengan senyum tipis yang tulus. Aku segera mengalungkan benda itu ke leherku. Kali ini, kartu ini terasa lebih berharga setelah semua badai yang kulewati kemarin.
“Sama-sama, Mbak. Semangat ya kerjanya hari ini!” dukung si Mbak resepsionis ramah.
Aku mengangguk, lalu bergegas menuju lift. Begitu pintu lift terbuka di lantai lima, suasana kubikel yang sibuk langsung menyambutku. Beberapa staf menoleh ke arahku dengan tatapan penasaran. Berita tentang staf baru yang langsung diusir oleh Pak Danu di hari pertama kerja tampaknya sudah menyebar menjadi gosip hangat sejak kemarin siang.
Aku menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahu, dan berjalan lurus menuju ruangan Pak Danu.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk,” terdengar suara dari dalam.
Aku membuka pintu kaca buram itu. Pak Danu sedang duduk di kursi kebesarannya sambil memeriksa beberapa dokumen. Begitu dia mendongak dan melihat wajahku ditambah kilatan ID card resmi yang menggantung di dadaku ekspresinya langsung berubah drastis. Wajahnya yang biasa angkuh dan galak mendadak berubah menjadi kaku, pucat, dan ada gurat ketakutan yang coba dia sembunyikan.
Sepertinya, dia sudah ditegur habis-habisan oleh Pak Adrian. Tapi masa sih seorang CEO mau repot ngurus karyawan baru?
“Selamat pagi, Pak Danu. Saya Aruna Prameswari, melapor untuk kembali bekerja sesuai instruksi dari bagian HRD pusat,” ucapku dengan nada suara yang sebisa mungkin terdengar tenang, sopan, namun tegas.
Pak Danu berdehem keras, salah tingkah. Dia meletakkan pulpennya dengan tangan yang agak canggung.
“Ah... iya, Aruna,” suara Pak Danu terdengar jauh lebih pelan, tidak ada lagi bentakan kasar atau nada merendahkan seperti kemarin. “Kemarin itu... ada kesalahpahaman komunikasi yang cukup besar di antara kita. Saya tidak tahu kalau kamu... maksud saya, kalau kamu memang benar-benar diminta membantu di atas oleh Pak Adrian.”
Dia tidak berani menatap mataku secara langsung dan malah berpura-pura sibuk merapikan kertas di mejanya.
“Pihak manajemen pusat sudah meluruskan semuanya. Jadi... ya, kamu bisa langsung menempati kubikel kamu di depan. Tugas kamu hari ini fokus saja pada laporan bulanan yang tertunda. Dan...” Pak Danu menjeda kalimatnya, wajahnya tampak memerah menahan malu. “...saya harap kejadian kemarin tidak perlu dibahas lagi ke depan.”
Melihat seorang manajer yang kemarin begitu berkuasa kini mendadak ciut, ada sedikit rasa lega yang mengalir di dadaku.
“Baik, Pak. Terima kasih. Saya permisi untuk mulai bekerja,” jawabku sopan, lalu berbalik meninggalkan ruangannya.
Saat aku berjalan menuju kubikel kerjaku yang baru, aku menghembuskan napas panjang. Hari kedua ini dimulai dengan kemenangan kecil berkat bantuan tak langsung dari Pak Adrian. Aku duduk di kursi kerja, mulai menyalakan komputer, mencoba mengubur semua memori buruk semalam bersama Raka dan fokus pada tumpukan kwitansi di depanku.
Aku menatap tumpukan kwitansi dan nota di atas mejaku dengan dahi berkerut. Meskipun aku punya pengalaman jadi kasir toko dan mengerti logika dasar arus kas, format lembar kerja di komputer kantor ini terasa jauh lebih rumit. Baru saja aku mau menghela napas panjang, sebuah tepukan pelan mendarat di bahuku.
“Hai! Anak baru ya?”
Aku menoleh dan mendapati seorang perempuan berambut sebahu dengan senyum ramah yang ceria sedang berdiri di samping kiri kubikelku. Di lehernya berkalung ID card biru yang sama denganku.
“Eh, iya, Kak. Saya Aruna,” jawabku agak canggung, buru-buru menegakkan posisi duduk.
“Santai aja panggil gue Fika. Sama-sama di Admin Keuangan juga, tapi gue megang bagian operasional cabang. Salam kenal ya, Runa,” ucapnya sambil mengulurkan tangan yang langsung kusambut hangat. “Jangan tegang gitu dong, santai aja. Pak Danu kalau lagi gak kumat emang mukanya ditekuk terus kok.”
Fika terkekeh pelan, membuat keteganganku sedikit mencair. Ia kemudian menarik kursi kosong di dekat kubikelku dan duduk di sebelahku.
“Sini, gue ajarin sistem input-nya. Lo pasti bingung kan lihat kode-kode akunnya? Nah, kalau nota konsumsi rapat itu masuknya ke kode ini... terus kalau nota bensin operasional masuknya ke sini,” tutur Fika dengan sangat telaten.
Penjelasannya yang asyik dan mudah dimengerti membuatku cepat paham. Dalam waktu beberapa jam, aku sudah bisa menyusul ketertinggalan pekerjaanku yang kemarin. Rasanya lega sekali, setidaknya fokus pada angka-angka ini membuatku sedikit melupakan rasa perih di hatiku akibat perlakuan Raka semalam.
Kriingg!
Bel jam istirahat siang berbunyi. Fika langsung meregangkan kedua tangannya ke atas.
“Duh, akhirnya makan siang! Runa, kantin yuk? Di lantai tiga makanannya enak-enak, sekalian gue kenalin sama anak-anak lain,” ajak Fika antusias.
Aku sempat ragu karena teringat kejadian di lift kemarin siang bersama Pak Adrian, tapi perutku yang keroncongan tidak bisa diajak kompromi. “Boleh, Fik. Yuk.”
Kami berdua berjalan ke kantin lantai tiga yang sudah mulai ramai oleh karyawan dari berbagai divisi. Setelah mengantri dan memesan siomay serta es teh manis, kami mencari meja kosong di pojok ruangan agar bisa mengobrol dengan lebih santai.
Baru saja aku menyuap potongan siomay pertama ke dalam mulutku, Fika tiba-tiba memajukan badannya ke depan meja. Matanya menyipit penuh selidik, menatapku dengan pandangan yang mendadak sangat kepo.
“Eh, Runa. Gue mau nanya deh dari tadi pagi sebenarnya,” bisik Fika, suaranya sengaja diredam biar gak kedengaran meja sebelah. “Kemarin kan lo seharusnya masuk ya? Terus heboh banget gosip lo diusir Pak Danu kemaren.”
Aku langsung tersedak es teh manis yang baru kuteguk. “Uhuk! Ah... iya, Fik. Ada... salah paham sedikit kemarin.”
“Iya, gue tahu Pak Danu emang keterlaluan kalau ngomong. Tapi yang bikin gue penasaran bukan itu...” Fika mengetuk-ngetuk jarinya di meja, tatapannya makin intens. “Kemarin siang pas jam istirahat, gue tuh lagi makan di meja tengah sana, keliatan kan lift nya meskipun agak jauh. Pas lift terbuka, pintunya kebuka lama banget tapi gak ada satu orang pun yang keluar.”
Jantungku langsung berdegup dua kali lebih cepat. Tanganku yang memegang garpu mendadak kaku.
“Gue sempat liat ke dalem lift,” lanjut Fika dengan mata melebar. “Di dalam lift itu... ada Pak Adrian, si CEO kita yang super galak itu, terus ada sekretaris barunya yang mukanya judes, dan... ada satu cewek lagi kayak lagi nangis sesenggukan membelakangi pintu. Cewek itu... lo bukan sih, Runa?”
Aku terpaku, tenggorokanku mendadak terasa kering.
“Gila, kalau itu beneran lo, lo berani banget sumpah! Kok bisa lo satu lift sama beliau dalam kondisi kayak gitu? Terus kok hari ini lo bisa masuk lagi? Soalnya gak pernah ada yang dipanggil masuk lagi apapun alasannya. Lo... ada hubungan apa sama Pak CEO?” tanya Fika bertubi-tubi, benar-benar penasaran.