Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
••••
"Kenapa kau menyarankan itu?" Darren bertanya, suaranya rendah tetapi jelas, mengandung selidik yang tajam. Matanya mengunci pandangan Neysa, menuntut jawaban yang masuk akal. "Ini bukan kebiasaanmu. Apa yang sebenarnya kau rencanakan?"
Pertanyaan itu menusuk Neysa tepat di tempat yang paling rapuh. Ia menguatkan diri, mencoba menjaga ekspresi tenang meski hatinya mulai gelisah.
"Aku hanya berpikir... keluarga Lawrence bisa menjadi jalan keluar. Mereka cukup kuat untuk melindungi keluarga Barnes. Dengan aliansi itu, kau bisa memutus kendali Jessica."
Darren mengernyit, mencoba mencerna maksud Neysa. "Keluarga Lawrence? Kau tahu betul mereka menghancurkan keluarga Kanneth, kan? Jika mereka bisa menyingkirkan Kanneth yang begitu kuat, apa yang membuatmu berpikir mereka tidak akan melakukan hal yang sama pada Barnes?"
Kata-kata Darren terasa seperti tamparan bagi Neysa. Dia tahu semua itu lebih baik dari siapa pun, tetapi ia harus tetap pada rencananya.
"Keluarga Barnes mungkin kecil, tapi mereka bisa mendapatkan perlindungan jika berada di sisi yang tepat," jawab Neysa, mencoba terdengar meyakinkan.
Darren menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. "Perlindungan, ya?" Ia tertawa kecil, tetapi tidak ada humor dalam suaranya. "Mungkin benar. Tapi itu seperti menyerahkan lehermu kepada algojo. Aku tak akan mempertaruhkan keluarga Barnes hanya untuk keuntungan semu."
"Jadi kau lebih memilih membiarkan Jessica terus menekanmu?" Neysa memotong, nadanya mulai meninggi.
Darren menatapnya, tetapi kali ini tidak dengan kemarahan. "Ini bukan tentang Jessica," katanya tenang. "Ini tentang memilih waktu yang tepat untuk melawan. Keluarga Barnes mungkin kecil, tetapi kami tahu cara bertahan. Jika kami harus mundur sekarang, itu bukan kelemahan. Itu persiapan."
Neysa terdiam, merasa terpojok oleh keyakinan Darren. Tidak seperti rencananya, yang dilandasi oleh ambisi dan kebohongan, Darren justru berbicara tentang kehormatan dan strategi. Dia benci mengakuinya, tetapi kata-kata Darren menyentuh sesuatu dalam dirinya.
Melihat Neysa bungkam, Darren menariknya perlahan ke dalam pelukannya. Ia menyentuh puncak kepala Neysa dengan lembut, mendaratkan sebuah kecupan singkat di sana.
"Kau tak perlu terlalu khawatir," gumamnya. "Aku tahu kau ingin membantu, tapi percayalah, aku akan mengurus semuanya."
Neysa memejamkan matanya, membiarkan kehangatan pelukan Darren menyelimuti tubuhnya. Tetapi di dalam hatinya, dia tahu kebohongan ini harus terus ia jaga. Jika Darren tahu siapa dia sebenarnya, semua ini akan berakhir dalam sekejap.
"Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" Darren bertanya tiba-tiba, suaranya lembut tetapi penuh rasa ingin tahu.
Pertanyaan itu membuat Neysa menegang. Namun, ia segera menguasai dirinya, memasang senyum kecil. "Apa yang bisa kusembunyikan darimu? Kau tahu segalanya tentangku," jawabnya dengan nada yang dibuat senormal mungkin.
Darren memperhatikan wajahnya, mencari tanda-tanda kebohongan, tetapi akhirnya tersenyum tipis.
"Baiklah. Tapi jika suatu saat kau merasa sulit, kau bisa mengatakannya padaku. Aku di sini untukmu."
Tanpa aba-aba, Neysa tiba-tiba menarik wajah Darren, mengecupnya lembut. Darren terkejut, tetapi ia membalas dengan kehangatan yang sama. Ia hanya berharap kalau dirinya terlahir dari keluarga Cadmael. Mungkin hubungannya dengan Dareen tidak akan sesulit itu.
****
Kediaman Barnes terasa lebih ramai dari biasanya. Jessica tiba dengan dua pelayan yang sibuk membawa koper dan barang-barang mewahnya. Kehadirannya membawa hawa dingin yang tak terlihat, tapi cukup terasa.
Di pojok ruangan, Neysa berdiri diam, memandang sekilas dengan senyum kecut. Tidak ada yang lebih memuakkan daripada mengingat cara Jessica selalu merendahkannya di setiap kesempatan.
Dan, itu terjadi lagi, Jessica melangkah mendekat, suaranya bergaung di antara langkah sepatu mahalnya. Ia berhenti tepat di depan Neysa, menatapnya seperti benda usang yang tak berharga.
“Aku benar-benar heran,” katanya dengan nada sarkastik. “Kenapa mereka masih mempertahankanmu di sini? Tidak ada yang istimewa darimu, selain kemampuanmu bertahan seperti kutu.”
Ia mengangkat dagu sedikit, menatap Neysa dengan penuh rasa puas. “Tapi karena aku sedang dalam suasana hati yang baik, aku akan mengabaikan mu hari ini.”
Jessica mengalihkan perhatian ke arah pintu utama. Senyumnya berubah menjadi seringai penuh kemenangan.
“Nona Yumi! Cepat ke sini!” serunya dengan suara lantang.
Neysa membeku. Nama itu menghantam dadanya seperti petir di siang bolong. Yumi. Tidak mungkin. Ia merasa seperti waktu melambat, bahkan napasnya terasa berat.
Wanita yang dipanggil itu melangkah masuk. Penampilannya anggun, setiap langkahnya mencerminkan wibawa dan kelas. Pakaian mahal yang membalut tubuhnya membuat para pelayan menatapnya dengan kekaguman. Namun, Neysa tak berani menengok. Ia hanya bisa menundukkan kepala, berharap tak terlihat.
Langkah Yumi terhenti tiba-tiba. Matanya terpaku pada Neysa. Senyum di wajahnya memudar, digantikan oleh ekspresi yang sulit dijelaskan—terkejut, bingung, mungkin sedikit terluka.
“Siapa dia?” suara Yumi terdengar tegas, meski ada nada bergetar di sana. Ia menunjuk Neysa, yang masih menunduk tanpa berani bergerak. “Kenapa dia ada di sini?”
Jessica tertawa kecil, menikmati situasi itu. “Dia?” katanya dengan nada mengejek. “Dia hanya seorang pelayan, tidak lebih. Meski, kalau aku jujur...” Jessica mendekatkan wajahnya ke arah Neysa, berbicara dengan nada rendah tapi cukup keras untuk didengar semua orang. “Dia punya keahlian tambahan. Katanya, dia pandai menemani majikannya di tempat tidur.”
PLAK!
Tamparan Yumi melayang begitu cepat hingga Jessica tak sempat menghindar. Suara tamparan itu bergema di seluruh ruangan, membuat semua pelayan membeku. Jessica terhuyung, memegang pipinya yang kini memerah.
“Kau tidak tahu kapan harus berhenti, ya?” kata Yumi dengan nada dingin. Sorot matanya tajam, menusuk Jessica seperti belati.
Jessica menatapnya tak percaya, bibirnya sedikit bergetar. “Nona Lawrence...” katanya, suaranya pelan namun penuh tekanan.
“Diam.”
Yumi memotongnya dengan tegas. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sebelum menoleh ke Neysa. Pandangan matanya berubah, ada campuran emosi yang rumit di sana.
“Neysa.” Yumi menyebut namanya pelan, tapi cukup untuk membuat Neysa akhirnya mendongak. “Ikut aku. Sekarang.”
Ruangan itu terasa begitu sunyi. Semua pelayan menunduk, tak ada yang berani menatap langsung ke arah mereka. Neysa menelan ludah, kakinya terasa berat untuk digerakkan, tapi ia tahu tidak ada pilihan lain.
Jessica hanya bisa menatap mereka dengan sorot penuh kebencian, tangannya masih memegangi pipi yang panas. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Bahkan Jessica tahu, kali ini, ia telah melangkah terlalu jauh.
***
"Kenapa kau memakai nama Yumi? Siapa yang menyuruhmu menggantikan ku sebagai Nona di keluarga Lawrence?" Wanita itu tersenyum tipis, mengangkat dagu wanita yang sedang berlutut di bawah. "Apa Kakaku?"
B e r s a m b u n g ....
Tinggalkan jejak, biar Miminnnya tetap semangat posting. Makasih ^_^