NovelToon NovelToon
Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16 : Sangat cantik

Kini kembali ke pelabuhan. Mayat ketua musuh terlihat sudah sangat ancur. Kepalanya lepas dari badannya, matanya hancur dan otaknya keluar. Bau darah langsung menyerbak disana.

Terlihat Felix menghampiri Xavier yang sedang mengelap pisaunya dengan kain.

Wajah Felix tampak biasa saja, seolah kegiatan Xavier itu sudah sangat lumrah baginya. "Semuanya sudah selesai, Tuan."

Xavier mengangguk. “Sudah kau urus semuanya?”

Felix mengangguk. “Sudah, Tuan. Wilayah sudah diamankan. Dokumen kepemilikan juga sudah berhasil dialihkan menjadi milik Black Colfer.”

Xavier tersenyum tipis. “Bagus."

Felix lalu memperhatikan sisi pinggang Xavier yang tampak mengeluarkan semacam cairan.

"Tuan... apakah Anda terluka?” tanya Felix tampak terkejut kecil.

"Hanya luka kecil, selagi aku masih bisa berjalan, tidak perlu dianggap serius," katanya sambil memegang sisi pinggangnya dengan tangan.

Felix mengangguk mengerti. “Kalau begitu, silahkan Tuan. Saya bisa meminta tim medis agar mengobati luka Anda."

Xavier mengangguk. Lalu Felix dan Xavier berjalan keluar dari sana. Sepanjang perjalanan aroma darah dan mayat anggota musuh sudah berserakan seperti barang rongsokan disana.

Kondisi mereka sudah tidak dimungkinkan masih bernyawa. Seluruh tubuh mereka tampak sudah terpisah-pisah menjadi beberapa bagian dan tampak banyak darah yang keluar.

Beberapa anggota Xavier tampak sedang mengevakuasi semua mayat itu menggunakan karung besar. Dan ada pula yang mengidam bekas darah agar tidak berbekas dilantai.

Sesampainya didepan gerbang, terlihat banyak anggota Xavier yang terluka dan sedang diobati para tim medis.

“Satu orang kemari, Tuan Xavier terluka,” ucap Felix dengan lantang.

Saat Xavier duduk di bangku portabel, salah satu petugas medis laki-laki segera mulai memeriksa lukanya.

"Kami perlu melihat kondisi lukanya terlebih dahulu, Tuan," ucapnya sopan.

Xavier hanya mengangguk. Tanpa banyak bicara, ia membuka beberapa kancing kemeja hitamnya. Seketika bagian tubuh atasnya yang terlatih terlihat jelas.

Bahu yang lebar, lengan yang kokoh, serta otot perut yang terbentuk dari latihan bertahun-tahun membuat beberapa anggota tim medis perempuan yang berada di sekitar tanpa sadar melirik ke arahnya.

Mata semua para medis wanita itu sedikit membesar. Bukan karena hal lain, melainkan karena selama ini mereka hanya mendengar cerita mengenai Xavier adalah mafia yang kejam.

Ia dikenal sebagai pemimpin yang dingin, tegas, dan hampir tidak pernah menunjukkan emosi.

Namun melihatnya dari dekat adalah pengalaman yang berbeda. Aura pria itu begitu kuat bahkan saat sedang duduk diam menerima perawatan.

"Tuan, balutannya sudah selesai," ujar petugas medis laki-laki.

Xavier hanya mengangguk. Ia lalu mulai mengancingkan kembali kemejanya dengan tenang.

Ares yang tangannya kini diperban berdiri tak jauh dari Xavier. “Permisi Tuan. Apa anda baik-baik saja?”

Xavier mengangguk. “Aku baik-baik saja."

“Operasi kali ini berjalan dengan baik, itu semua karena persiapanmu,” lanjutnya.

Ares terlihat sedikit lega mendengar pujian langka itu.

Ia membungkuk. "Terimakasih banyak, Tuan."

“Tidak perlu berterimakasih, sebagai apresiasi aku akan berikan bonus untuk kalian.”

Area semakin tersenyum lebar. “Sekali lagi terimakasih, Tuan.”

Xavier mengangguk. “Kalian boleh pulang duluan.”

Area kemudian membungkuk dan kemudian meninggalkan Xavier.

Kemudian Xavier melirik Felix. “Jam berapa sekarang?"

Felix melihat arlojinya. "18.00 tepat, Tuan."

Xavier mengeluarkan ponselnya, dan segera mengirim pesan pada Lyko.

“Bersiaplah. Aku akan menjemputmu sebentar lagi.”_ Xavier.

Pesan terkirim kepada Lyko. Beberapa saat kemudian Xavier kembali menyimpan ponselnya.

Pikirannya kini beralih pada malam nanti. Pertemuan antara Lyko dan kedua orang tuanya. Pertemuan yang bisa menentukan banyak hal. Xavier berdiri, ia merapikan mantelnya.

Felix hanya bisa mengangguk di belakangnya.

Lalu ia berjalan menuju mobil bersama Felix. Saat pintu mobil tertutup, pandangannya tertuju ke luar jendela. Untuk pertama kalinya malam itu, bukan musuh yang membuatnya berpikir keras.

Melainkan seorang gadis bernama Lyko. Dan bagaimana reaksi mama dan papanya saat akhirnya bertemu dengannya.

Malam perlahan mulai turun. Mobil hitam milik Xavier berhenti tepat di depan hotel tempat Lyko menginap. Lampu-lampu kota mulai menyala, memantulkan cahaya ke permukaan mobil yang mengilap. Xavier melirik layar ponselnya sebelum mengetik sebuah pesan pada seseorang.

“Aku sudah sampai. Turunlah jika kau sudah siap.”_ Xavier.

Pesan itu langsung terkirim.

Tak lama kemudian, Xavier dan Felix memasuki lobby hotel. Suasana lobby tampak tenang dengan lantai marmer yang berkilau dan lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit.

Xavier duduk di salah satu sofa ruang tunggu sambil menunggu balasan pesan, sementara Felix berdiri di sampingnya seperti biasa.

Beberapa menit kemudian, ponsel Xavier bergetar. Ia perlahan melirik kearah layarnya.

“Aku segera turun.”_ Lyko.

Xavier hanya membaca pesan itu tanpa membalas. Dan entah mengapa pikirannya sama sekali tidak tenang saat ini. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, bukan urusan bisnis ataupun musuh yang memenuhi kepalanya lagi.

Melainkan bagaimana caranya menghadapi kedua orang tuanya malam ini, terutama ibunya. Mama Olivia bukan wanita yang mudah dibohongi. Sedikit saja ada kejanggalan, wanita itu pasti langsung menyadarinya.

Xavier menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Felix.” Panggilnya.

Felix langsung menoleh. “Ya, Tuan.”

"Cari semua informasi tentang Lyko," katanya. “Informasi sekecil apapun itu, berikan semuanya padaku.”

Felix langsung mengangguk. “Baik, Tuan.”

"Dan pastikan hanya kita yang mengetahui informasi itu,” tatapan Xavier sedikit berubah serius. "Serta sembunyikan semua informasi tentang Lyko dari masyarakat agar tidak dapat dicari dulu dalam beberapa waktu kedepan."

Felix langsung memahami maksud tuannya.

Xavier takut kedua orang tuanya tidak akan menyetujui hubungannya dengan Lyko jika tahu ia menemukan Lyko dibar. Dan kalau sampai tidak disetujui bisa-bisa Xavier langsung dipaksa nikah dengan orang lain yang bahkan tak ia sukai.

"Baik, Tuan."

Felix segera membuka tabletnya dan mulai mengirim instruksi kepada beberapa anggota kepercayaannya.

Namun sebelum percakapan itu berlanjut, suara lembut seorang gadis terdengar dari arah belakang.

"Xavier..."

Keduanya langsung menoleh. Dan untuk sesaat... baik Xavier maupun Felix benar-benar terdiam.

“Maaf menunggu lama,” lanjutnya.

Lyko berdiri tidak jauh dari mereka. Malam itu gadis tersebut terlihat sangat berbeda. Riasan tipis menghiasi wajahnya dengan sempurna tanpa menghilangkan kesan lembut yang selama ini dimilikinya.

Mini dress berwarna biru muda membalut tubuhnya dengan anggun. Pada salah satu sisi dress itu terdapat hiasan bunga putih yang menjalar cantik dari bagian bahu hingga pinggang.

Rambutnya terurai lurus dan rapi. Sebuah jepit bunga kecil menghiasi sisi kepalanya, sementara anting berbentuk bulan sabit berkilau lembut di bawah cahaya lampu lobby.

Di tangannya ia menggenggam tas putih berukuran kecil dari merek ternama. Sepasang heels transparan berwarna biru muda membuat kakinya yang mulus dan jenjang terlihat semakin indah.

Beberapa tamu hotel bahkan tanpa sadar menoleh ke arahnya karena terpesona dengan penampilan dan laras wajahnya yang sangat cantik.

Xavier dan Felix bahkan hampir tidak mengenali Lyko sama sekali. Aura Lyko malam ini benar-benar sangat berbeda. Biasanya ia selalu tampil sederhana, tapi malam ini ia terlihat seperti seseorang yang memang sangat pantas berdiri di sisi Xavier.

Lyko yang menyadari keduanya terus menatapnya mulai merasa gugup. Ia memiringkan kepalanya pelan. "Xavier...? A-Apa ada yang salah?" tanyanya ragu. "K-Kenapa kalian melihatku seperti itu?”

Lyko melihat dirinyanya sendiri. “Apa aku tidak cocok memakainya?” tanya Lyko sambil mengepalkan satu tangan gugup didepan dadanya.

Felix yang sempat kehilangan fokus langsung berdehem kecil. Ia buru-buru kembali menatap tabletnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Sementara Xavier... untuk pertama kalinya malam itu ia terlihat sedikit salah tingkah. Ia mengalihkan pandangan sesaat sebelum akhirnya berkata dengan suara pelan.

"Ti-Tidak ada yang salah,” Xavier menggaruk pelipisnya sendiri. "Dan kau...”

Lyko menaikan alisnya seolah menunggu kelanjutan ucapan Xavier itu.

“Kau cocok memakainya."

DEG

Kalimat itu sukses membuat pipi Lyko langsung memanas.

Sementara Felix yang melihat reaksi keduanya hanya bisa menahan tawa. Ia benar-benar tidak menyangka bisa melihat putra tunggal keluarga Volkov itu gugup karena seorang gadis.

Xavier kemudian segera berdiri. "Kalau begitu... ayo kita berangkat sekarang.”

Lyko mengangguk kecil.

Mereka kemudian berjalan keluar lobby hotel. Felix segera membuka pintu mobil belakang. "Silakan, Nona."

Lyko masuk lebih dulu. Setelah itu Xavier menyusul masuk dan duduk di sampingnya. Pintu mobil tertutup perlahan. Dan mobil pun segera melaju meninggalkan hotel menuju Kediaman Volkov.

1
Raicy Starmoonix
bnr lgi/Facepalm/
It's me Sky: efek trlalu kaya bgtu tuh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bohongnya nyambung lagi/Facepalm/
It's me Sky: bkn skrip dlu mrka/Slight/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
gmna g terpesona Lykonya aja cantik gituu/Sly//Rose/
It's me Sky: //Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
tegang tor, aura mafianya ada bgt/Shame/
It's me Sky: bulu kudup aman?/Blush/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bagusss bgt ceritanyaa/Kiss//Kiss/
Raicy Starmoonix
si mc ganteng bgt tor/Drool/
It's me Sky: kiww🤭
total 1 replies
Raicy Starmoonix
Xavier tanggung jwb anak orng salting/Facepalm/
It's me Sky: xavier aja salting sendiri/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
salting.... saltingg/Smirk/
It's me Sky: gengsi... gengsi/CoolGuy/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
omak, terbakar cemburu dan posesif/Doubt/
It's me Sky: shhtt/Shhh/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
astaga diksih black card.../Doubt/
It's me Sky: iya dong/Casual/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
lyko nya polos bgt pilss/Proud/
It's me Sky: hu um, soalnya dya bukan batik/Tongue/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
pingin punya cowok spek Xavier ihh, royal bgt😍/Rose/
It's me Sky: heii aku jg mau lohh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
wahh alurnya keren/Joyful/
Arditya
luar biasa mantap thor
It's me Sky: makasihh/Hey/
total 1 replies
Arditya
Mampir baca thor😍
It's me Sky: yuk¹ mampir/Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!