NovelToon NovelToon
Warisan Darah Sang Mafia

Warisan Darah Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.

Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.

Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.

Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.

**RED ASHES SEASON II**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahkota Berdarah

Angin malam berhembus dingin, menusuk hingga ke tulang. Suara KRAK. yang dalam dan bergema seolah menjadi batas pemisah antara dua dunia.

Di luar masih ada sisa-sisa kehidupan normal, udara segar, lampu kota, dan orang-orang yang tidur nyenyak tanpa tahu neraka apa yang ada di bawah kaki mereka.

Di dalam sini hanya ada kegelapan, bau besi, darah, dan kekuatan mutlak.

Alessandro berdiri tegak di tengah ruangan bawah tanah seluas lapangan bola, tersembunyi jauh di bawah gedung pencakar. langit miliknya di pusat kota.

Ruangan ini bukan kantor, bukan juga gudang. Ini adalah markas jantung organisasi RED ASHES. Sisa warisan Leonardo Valerio, yang selama sepuluh tahun mati suri, dan malam ini bangkit kembali.

Dinding beton tebal dipenuhi layar monitor raksasa yang menyala biru redup, menampilkan peta satelit, data transaksi gelap, jalur perdagangan, dan wajah-wajah orang penting du seluruh dunia.

Di sini dunia terlihat kecil, bisa diatur, bisa dihancurkan, atau bisa diselamatkan. Semua tergantung pada satu orang yang berdiri di tengah ruangan itu.

Alessandro mengenakan setelan jas hitam rapi, kemeja hitam tanpa dasi, dua kancing terbuka. Rambut hitamnya sedikit berantakan terkena angin, tapi tatapan matanya yang dulu hangat, lembut, dan penuh rasa ingin tahu, kini sudah berubah menjadi danau yang beku, gelap, dan tak berdasar.

Di kakinya terhambat karpet merah tua yang sudah kusam, di ujung karpet itu berdiri satu kursi besar. Kursi yang terbuat dari kayu diukir rumit dengan motif ular dan mawar berduri. Di lengan kanan kursi itu, terukir satu nama dalam huruf latin tua: LEONARDO VALERIO.

Dan di kursi itulah, selama bertahun-tahun ayahnya pernah duduk memberi perintah kematian pada ribuan orang. Memainkan ekonomi dunia seperti mainan, dan hidup sebagai raja tanpa mahkota yang paling ditakuti di muka bumi.

Sekarang, kursi itu kosong, seolah sedang menunggu seseorang.

"Tuan Muda."

Suara berat dan serak terdengar dari belakang, Ivan Rostov berjalan mendekat, tongkat kayunya mengetuk lantai beton dengan irama lambat dan berat. Pria tua itu sudah berganti pakaian, mengenakan jas panjang hitam klasik.

Di belakangnya mengikuti para bos-bos keluarga mafia yang tadi siang berlutut padanya. Kini wajah mereka bukan lagi penuh keraguan, atau sekedar hormat, tapi sekarang penuh ketakutan karena selama beberapa jam terakhir, mereka melihat sisi Alessandro yang bahkan Leonardo pun jarang tunjukkan di awal kekuasaannya.

Ivan berhenti tepat tiga langkah di depan Alessandro, di tangannya ia membawa sebuah benda yang dibungkus kain beludru merah tua. Ukurannya tidak besar, tapi bobotnya terasa berat. Seolah memuat seluruh dosa dan sejarah keluarga Valerio di dalamnya.

"Seratus tahun yang lalu," mulai Ivan, suaranya bergema di ruangan luas itu. "Kakek buyutmu membangun kerajaan ini dari nol. Dari darah, air mata, dan mayat-mayat musuh. Dua puluh tahun lalu, ayahmu Leonardo menyatukan kembali pecahan-pecahan ini dan menjadikan nama Valerio sebagai mimpi buruk bagi setiap orang yang berani menyebutnya."

Ivan mengangkat benda itu lebih tinggi, tangannya yang keriput sedikit gemetar. Bukan karena lemah, tapi karena emosi yang tertahan.

"Sepuluh tahun lalu, saat Leonardo mati tertembak, semua orang berpikir ini akhir. Mereka berpikir pohon besar Valerio sudah tumbang, dan akarnya akan membusuk di tanah. Tapi mereka salah, karena mereka lupa akan satu hal..."

Ivan perlahan membuka kain beludru itu. Di dalamnya bukan mahkota emas permata yang indah seperti di dongeng.

Yang terlihat adalah sebuah lingkaran yang terbuat dari besi hitam kasar, mentah, tajam, dan berkarat. Di sepanjang lingkaran itu, tertahan belasan duri besi yang panjang dan runcing. Di bagian depannya, terdapat simbol singa yang sedang mengaum, matanya diisi dua baru rubi merah darah yang berkilauan redup di bawah cahaya lampu.

Benda itu kasar, kotor, mengerikan, dan sangat berat. Ini bukan hiasan, tapi ini alat penyiksa.

"Mahkota ini," ucap Ivan pelan, matanya menatap tajam ke manik mata Alessandro. "Disebut Mahkota Duri. Ini bukan simbol kemegahan, Alessandro. Ini simbol pengorbanan. Saat kamu memakainya, duri-duri ini akan menusuk kulit kepalamu, menancap ke dagingmu, dan darahmu akan mengalir membasahi wajahmu. Selama kamu memegang kekuasaan, maka kamu akan terus merasa sakit. Kamu akan terus berdarah, dan kamu akan selalu sendirian di puncak."

Ivan melangkah maju, mengangkat mahkota besi itu setinggi bahu Alessandro. Bau besi berkarat dan logam tua tercium tajam.

"Leonardo memakainya selama dua puluh tahun, ia tidak pernah melepasnya. Bahkan saat tidur, dan saat bersama ibumu. Ia bilang, rasa sakit itu adalah pengingat konstan, bahwa kekuasaan tidak pernah gratis. Bahwa setiap keputusan yang kamu ambil, akan selalu dibayar dengan darah. Baik darah orang lain, maupun darahmu sendiri."

Alessandro menatap mahkota duri itu, matanya terpaku pada ujung-ujung besi yang tajam, siap merobek kulitnya kapan saja. Ia bisa merasakan dinginnya logam itu, meski belum menyentuhnya.

Alessandro tahu, saat ini ia menerima benda ini, ia tidak hanya menerima gelar, uang, atau pasukan. Ia menerima beban, kutukan, takdir yang selama ini ibunya coba sembunyikan, lindungi, dan bakar habis demi dia.

Bayangan wajah ibunya melintas sekejap di pikiran, wajah Nadira yang cantik, lembut, selalu penuh ketakutan, selalu memeluknya erat dan berbisik: "Jangan menjadi seperti ayahmu. Sayang. Janji sama Mama, kamu jadi orang baik, kamu harus jadi manusia biasa."

Tapi kemudian, bayangan wajah lain muncul. Wajah Viktor Karev yang menyeringai, wajah musuh-musuh yang ingin matanya, wajah orang-orang yang ia cintai yang selalu jadi sasaran bahaya hanya karena ia ada.

Dan suara Leonardo, suara yang dulu selalu menghantuinya, kini terdengar jelas di kepalanya: "Dunia ini kejam, Nak. Kalau kamu lemah, kamu akan hancur. Kalau kamu ingin melindungi apa yang kamu miliki, maka kamu harus jadi dewa, atau setan."

Alessandro mengangkat dagunya, ia tidak mundur, dan tidak merasa ragu.

Karena ia sadar, ia sudah tidak punya pilihan. Pintu belakang sudah tertutup rapat, jalan kembali ke kehidupan normal sudah hilang hancur berkeping-keping sejak ia memutuskan melawan Viktor. Sejak ia mulai membunuh, sejak ia mulai menikmati rasa takut orang lain padanya.

Ia sudah terlalu jauh masuk ke dalam kegelapan untuk berbalik arah.

"Pasangkan," perintah Alessandro. Suaranya rendah, tenang, dan mutlak.

Ivan Rostov menelan ludah, matanya berkaca-kaca. Ia menundukkan kepalanya sedikit, lalu perlahan mengangkat mahkota duri yang berat itu ke atas kepala Alessandro.

KRASSHH...

Besi dingin itu menyentuh kulit kepala Alessandro, dalam sekejap rasa sakit yang tajam, panas, dan menyengat meledak di seluruh kepalanya. Duri-duri besi itu menancap, merobek kulit, menusuk hingga ke bawah jaringan daging.

Alessandro bisa merasakan aliran hangat yang kental mulai turun, mengalir di antara rambut hitamnya, meluncur pelan turun melewati pelipis, melewati pelupuk mata, dan jatuh perlahan ke pipinya.

Darahnya sendiri, darah Valerio.

Rasa sakit itu luar biasa menyiksa, membuat kepalanya seolah mau pecah. Kuku-kukunya mencengkram telapak tangannya sendiri hingga kulit tangan bawahnya robek dan berdarah juga. Giginya gemertak kuat, rahangnya mengeras sampai otot rahangnya menonjol dan urat di lehernya timbul dengan jelas.

Tapi... Alessandro tidak berteriak, ia tidak meringis atau pun menjerit.

Ia hanya memejamkan matanya sejenak, menyerap rasa sakit itu. Merasakan besi itu bersatu dengan dagingnya. Merasakan kutukan itu masuk ke dalam tulang sumsumnya. Rasanya seperti ribuan jarum yang menusuk sekaligus, bahkan seperti neraka yang hidup.

Dan anehnya, di balik sakit yang tidak tertuliskan itu. Ada sesuatu yang lain. Ada rasa lega, rasa benar, rasa kekuatan yang mengalir deras. Rasa sakit ini terasa akrab dan terasa seperti rumah.

Perlahan, Alessandro membuka matanya. Maya cokelat gelap itu basah oleh air mata sakit dan darah merah segar yang menetes tepat di sudut matanya.

Tatapannya berubah total, kosong, dalam, dingin, dan mengerikan. Di balik darah yang mengalir di wajah tampannya, tersenyumlah seorang pria yang sudah mati rasa terhadap kemanusiaan.

Ia mengangkat tangan kanannya yang bergetar sedikit, lalu perlahan menyentuh salah satu duri besi di pelips kirinya. Jari telunjuknya terlumuri darahnya sendiri, ia mengangkat jari itu ke depan matanya, menatap cairan merah pekat itu lama sekali.

"Ini rasanya..." bisiknya pelan, nyaris tidak terdengar. "Inilah rasanya menjadi seorang Valerio."

Alessandro menurunkan tangannya, lalu melangkah maju. Darah terus menetes jatuh membasahi lantai beton, membentuk noda merah kecil di karpet tua itu.

Ia berjalan melewati Ivan, melewati para bos mafia yang kini semua menundukkan kepala hingga dahi menyentuh dada, tidak berani menatap mata raja baru mereka. Ia berjalan perlahan, tetap, penuh wibawa, menapaki jalan merah itu yang menuju kursi kekuasaan ayahnya.

Setiap langkahnya terasa berat, seolah membawa beban seluruh dosa masa lalu, masa kini, dan masa depan. Rasa sakit di kepalanya terus berdenyut. Hingga akhirnya ia sampai di depan kursi besar itu.

Alessandro berhenti, ia berbalik menghadap seluruh ruangan, menghadap puluhan pasukan, bos, dan pengikutnya. Alessandro berdiri tegak di hadapan kursi itu, darah terus mengalir di wajah tampannya. Hingga membuat terlihat lebih menakutkan dari hantu Leonardo sekalipun.

"Dengar baik-baik," ucap Alessandro. "Mulai detik ini, tidak ada lagi Alessandro anak laki-laki Nadira, tidak ada lagi Alessandro penguasa muda murni, tidak ada lagi Alessandro yang lemah, yang penurut dan takut darah."

Ia mengangkat dagunya lebih tinggi, tatapannya tajam memindai satu per satu wajah di depannya.

"Orang itu sudah mati. Aku membunuhnya malam ini, bersama dengan kepolosan dan kelemahannya."

Alessandro perlahan berbalik badan, ia mengangkat ujung jasnya, lalu duduk perlahan di atas kursi kayu milik ayahnya itu. Sandaran kursi yang tinggi itu menyelimuti punggung lebarnya, membuatnya terlihat seperti satu kesatuan.

Tangan kanannya diletakkan santai di lengan kursi yang terukir nama Leonardo. Tangan kirinya menopang dagu, jari-jarinya yang berdarah menyentuh bibirnya.

Ia duduk persis di tempat yang sama, dengan posisi yang sama, dengan ekspresi yang sama dingin, namun penuh perhitungan, dan mematikan.

"Panggil aku Valerio," perintahnya dingin. "Karena itulah satu-satunya nama yang akan membuat musuh kita gemetar ketakutan. Satu-satunya nama yang akan membuat kalian hidup atau mati."

Seketika seluruh ruangan bergetar.

"PANJANG UMUR TUAN VALERIO!!" seru puluhan suara serentak, bergema seperti guntur, berulang kali, dan semakin keras. "VALERIO!! VALERIO!! VALERIO!!"

Di layar raksasa di belakang Alessandro, sistem komputer lama kembali menyala hijau terang. Teks besar berkedip:

SYSTEM UPDATE COMPELETE.

USER: ALESSANDRO VALERIO.

STATUS: ACTIVE.

HELL SIGMA - FULL CONTROL.

Di sudut gelap ruangan, di balik bayangan tiang beton, Viktor Karev berdiri diam, ia melihat semuanya. Ia melihat darah mengalir di wajah pemuda itu. Ia melihat bagaiman Alessandro masuk ke dalam kulit ayahnya dengan begitu sempurna. Seolah tempat itu memang sudah disiapkan khusus untuknya sejak lahir.

Wajah Viktor tidak marah, justru sudut bibirnya terangkat membentuk senyum puas yang gelap dan gila.

"Indah sekali," bisik Viktor pada dirinya sendiri. "Sempurna. Kamu bukan sekedar pewaris, Alessandro. Tapi kamu adalah versi yang lebih baik, lebih kejam, dan lebih pintar. Leonardo akan bangga melihatmu yang sekarang, kalau saja dia masih hidup."

Viktor perlahan mundur, menghilang kembali ke dan kegelapan. Meninggalkan raja baru yang sedang bermahkotakan duri dan darah.

Di atas kursi kekuasaan itu, Valerio muda menatap lurus ke depan. Ia merasa kepalanya mau pecah, hatinya terasa kosong, dan jiwanya perlahan terkikis habis. Tapi saat ia melihat data-data di layar, melihat kekuatan di tangannya, melihat ketakutan di mata orang-orangnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa punya kendali penuh.

Darah di wajahnya mengering, lengket dan dingin. Mahkota duri itu masih menusuk, sakit, dan nyata.

Ini adalah awal dari neraka yang ia ciptakan sendiri. Dan Valerio, ia siap untuk membakar dunia.

1
☕︎⃝❥virgo93
si ale msih pnya sisi baik🥰 jgn jdikan dia mnster thor aku gk relaa😫
Kucing Biru: kayaknya akaaa, deh🤔
total 3 replies
Vie
ga apa2 setengah2 juga ale, karena kalau 100% km jadi monster maka kamu akan kehilangan dirimu seperti ayahmu, dan itu adalah hal yang paling ditakuti oleh ibumu....
Vie
duh.... jadi ikutan tegang 😱😱😱😱😱
Vie
duh.... jadi ikutan tegang 😱😱😱😱😱
Vie
iiihhh makin seru dn penasaran aja..... lanjut kak.... 👍👍👍👍
Vie
lanjut thor.. 👍👍👍
☕︎⃝❥virgo93
keren banget thor🥰
Vie
dan kamu bodoh baru menyadari semua itu setelah apa yang terjadi disekitar kamu dan ibumu
Vie
aku agak bingung deh.... bukanya viktor ini yang selalu mengincar ale dan juga semua peninggalan ayahnya dan yang menghancurkan beberapa gudang kemarin, tapi kenapa masih ada disisi alesandro? apa aku yang salah ini viktor yang lain
Vie
dan akan keluar kemana... sedangkan kalian selama ini bersembunyi pun teta saja ketahuan, apalagi sekarang.. tidak ada cara lain selain melawan dira... kamu kalau takut ale menjadi seperti ayahnya, itu tidak bisa dihindari karena memang dia adalah anaknya, tapi kamu setidaknya bisa terus menemaninya disisinya agar dia tidak kehilangan dirinya sendiri seperti ayahnya, karena kamu adalah ibunya...
Vie
tau rasa kan. disuruh pindah gak mau, dan sekarang kamu jadi target seseorang yang sudah pasti kamu tau akan seperti apa, kamu hanya ketakutan... dasar keras kepala.... dan justru kamulah yang menjadi kelemahan dan juga ketakutan terbesar bagi ale tau.... dongkol deh sama si nadira .
Vie
bagi ale tidak ada jala lain... dia harus bersembunyi seumur hidupnya dan selalu dalam ketakutan karena dia sedang menjadi mangsa para mafia, atau dia menerima dan menjadi kuat, lalu membasmi semua ketakutan itu agar hidup tidak lagi menjadi mangsa.. setelah semua usai dan menjadi kuat baru dia bisa memutuskan apakah dia akan terus melanjutkan hal itu atau mau berhenti....
Vie
kamu itu seorang ibu yang takut pada kenyataan yang tidak pernah bisa dipungkiri, tapi selalu saja mengatakan ale mirip dengan ayahnya.... bagaimana gak mirip karena dia adalah anaknya, dan semua tidak bisa ditutupi oleh apapun, karena darahnya asa dalam tubuhnya... dan kamu selalu mengatakan hal itu seperti mengingatkan ale bahwa dia benar2 anaknya Aleandro bukan untuk menjauhkanya dari semua itu....
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍
☕︎⃝❥virgo93
semngat dek comelku..🥰
Kucing Biru: mkasih akaa😚😚
total 1 replies
☕︎⃝❥virgo93
ahhh nanggung banget upx thor.🤭lgi seru2 baca eh udah abis aj ayuk semagat untk up selanjutx🥰
Vie
aahhh.... akhirnya nongol juga lanjutanya.... 🥰🥰🥰🥰
Vie
lanjut kak.... makin seru aja... penasaran aku.... 👍👍👍
viandranovel
saling mampir bg 🙏
☕︎⃝❥virgo93
lnjut dek🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!