Satu skandal, dua musuh bebuyutan, dan 24 jam kamera yang menyala.
Sienna Rose, seorang supermodel papan atas, mendadak dihujat publik dan dituduh menjadi simpanan sugar daddy. Di waktu yang sama, Declan Bryer, aktor internasional berwajah sedingin es, tersandung skandal orientasi seksual. Demi menyelamatkan karier bernilai jutaan dolar, manajemen mereka memaksa keduanya bergabung dalam reality show pernikahan palsu, We Got Married.
Publik mengira mereka pasangan serasi yang romantis. Namun di balik layar, saat kamera mati, mereka adalah musuh bebuyutan masa kecil yang saling membenci! Sanggupkah Sienna menahan diri untuk tidak mencakar Declan di depan kamera? Dan apa yang terjadi saat masa lalu yang belum usai serta rahasia besar keluarga mereka perlahan mulai terkelupas di tengah sandiwara ini?
"Kurangin manjanya di depan kamera. Geli gue dengernya." — Declan Bryer.
"Pikir gue sudi?! Lo itu cuma kanebo kering, Declan!" — Sienna Rose.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Aturan Main di Rumah Baru
"Cut! Oke, bagus banget! Interaksi awal kalian dapet banget gregetnya!" teriak sutradara dari balik monitor.
Begitu kata cut menggema, senyum manis di wajah Sienna langsung lenyap. Dia menyentak lengannya yang sejak tadi memeluk mesra tangan Declan, lalu mundur tiga langkah seolah pria itu adalah tumpukan sampah yang mengeluarkan bau busuk.
"Maju lo sini, kanebo kering!" desis Sienna, merapikan tatanan rambutnya yang agak berantakan gara-gara ulah Declan tadi. "Maksud lo apa tadi ngacak-ngacak rambut gue? Cari mati?!"
Declan mengabaikan omelan Sienna. Dia mengangkat kopernya sendiri dan koper Sienna dengan santai, lalu berjalan mendahului menuju pintu utama rumah mewah bergaya modern minimalis itu.
"Gue cuma akting, Cegil. Biar natural. Lo aja yang baperan," sahut Declan tanpa menoleh.
"Baper dari mana?! Rambut gue ini disalon tiga jam ya, babi! Sengaja banget lo nyari gara-gara!" Sienna menghentakkan kakinya, berjalan cepat menyusul Declan ke dalam rumah.
Rumah itu luas, berlantai dua, dan dipenuhi oleh kamera tersembunyi di setiap sudutnya. Menurut kru, ada sekitar dua puluh kamera yang menyala 24 jam untuk menangkap momen "kehidupan domestik" mereka, kecuali di dalam kamar mandi dan area pribadi tertentu.
Sienna melirik ke sekeliling ruang tamu yang mewah, lalu matanya tertuju pada tangga. "Kamar gue di mana? Gue mau tidur. Pusing gue lihat muka lo lama-lama."
"Kamar kita," potong Declan dingin sambil meletakkan koper di ruang tengah.
Sienna membeku. "Hah? Lo ngomong apa tadi? Coba ulang?"
Declan berbalik, menatap Sienna dengan tatapan datar andalannya. "Kamar kita. Cuma ada satu kamar utama di rumah ini yang dipasangin kamera untuk pasutri. Lo pikir ini acara reality show beda rumah?"
"Nggak! Nggak bisa!" Sienna langsung panik, wajahnya memerah menahan kesal. "Gue nggak mau sekamar sama lo! Siapa yang tahu lo tiba-tiba khilaf terus macem-macem sama gue?!"
Declan tertawa sinis. Dia melangkah mendekati Sienna, membuat Sienna refleks mundur sampai punggungnya membentur dinding. Declan menumpu satu tangannya di tembok sebelah kepala Sienna, mengurung cewek itu dalam jarak yang sangat dekat. Aroma parfum maskulin Declan yang mahal langsung menusuk indra penciuman Sienna.
"Macem-macem sama lo?" Declan menunduk sedikit, berbisik tepat di depan wajah Sienna. "Sienna Rose, denger ya. Selera gue nggak seburuk itu sampai harus napsu sama cewek galak, ceroboh, dan nggak punya otak kayak lo. Jadi, turunin tingkat kegeeran lo yang setinggi langit itu."
Sienna menggertakkan giginya. Tangannya sudah gatal ingin menampar wajah tampan yang sok suci di depannya ini. "Terus kenapa lo mau sekamar sama gue?!"
"Karena itu perintah kontrak. Tapi tenang aja," Declan menegakkan kembali tubuhnya, menjauhkan diri dengan wajah tak acuh. "Gue bakal tidur di sofa panjang kamar. Ranjang king size itu jatah lo. Puas?"
Sienna mendengus, melipat tangannya di dada. "Baguslah kalau lo tahu diri. Pokoknya, bikin garis pembatas! Lo nggak boleh ngelewatin batas sofa kalau malam!"
"Pikir gue mau? Malah gue yang takut lo jalan sambil tidur terus tiba-tiba meluk gue," sindir Declan tajam sembari berjalan menaiki tangga menuju kamar utama.
"Declan Bryer! Sialan lo ya!" teriak Sienna dari lantai bawah, wajahnya sudah kepalang kesal.
Satu jam kemudian, kamera di ruang tengah kembali diaktifkan untuk sesi makan siang pertama mereka. Di depan kamera, mereka harus terlihat sedang memasak bersama.
Sienna berdiri di depan konter dapur dengan canggung. Jujur saja, memasak adalah kelemahan terbesarnya. Dia memegang pisau seperti orang yang ingin mengajak perang, bukan memotong sayur.
"Kamu mau aku potongin wortelnya seukuran apa, Sayang?" tanya Sienna dengan suara yang dibuat selembut sutra, menghadap ke arah kamera tersembunyi di sudut dapur.
Declan yang sedang memakai celemek hitam—yang sialnya membuat pria itu kelihatan sepuluh kali lipat lebih tampan—melirik Sienna dengan tatapan ngeri.
"Potong biasa aja, Sayang. Jangan tegang gitu pisaunya, aku takut jari kamu yang kepotong," balas Declan dengan senyum termanisnya, meski matanya mengisyaratkan hal lain: 'Lo kalau nggak bisa masak, mending diam.'
"Ih, kamu perhatian banget deh," ucap Sienna, berpura-pura manja sambil mulai memotong wortel dengan kasar. Tok! Tok! Tok! Suara pisau membentur talenan terdengar sangat agresif.
"Sienna," bisik Declan, bergeser mendekati Sienna agar suara aslinya tidak tertangkap mikrofon terlalu jelas. "Lo mau masak apa mau bunuh orang? Pelan-pelan."
"Berisik lo! Gue lagi fokus nih!" balas Sienna berbisik dengan gigi rapat, masih sambil tersenyum ke arah kamera luar.
Aww!
"Sienna!"
Detik berikutnya, pisau itu benar-benar meleset dan menggores jari telunjuk Sienna. Darah segar langsung keluar. Sienna meringis, refleks menjatuhkan pisaunya.
Tanpa diduga, Declan langsung menyambar tangan Sienna. Wajah ketusnya lenyap, berganti dengan raut wajah panik yang teramat nyata. Dia menarik jari Sienna ke bawah pancuran air mengalir untuk membersihkan darahnya, lalu menghisap jari Sienna sekilas demi menghentikan pendarahan sebelum berteriak ke arah kru.
"Tim medis! Ambilin kotak P3K sekarang!" teriak Declan tegas, suaranya menggema di seluruh ruangan.
Sienna terpaku. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Bukan karena luka di jarinya, tapi karena melihat bagaimana ekspresi Declan saat ini. Mata tajam pria itu memancarkan rasa khawatir yang luar biasa. Tatapan yang sama... seperti saat mereka masih duduk di bangku SMA dulu, sebelum segalanya hancur.
"Lo tuh bener-bener ya, cerobohnya nggak ilang-ilang dari kecil," omel Declan dengan suara rendah sambil menekan luka Sienna dengan tisu bersih. Kali ini, nadanya tidak ketus, melainkan penuh dengan kekhawatiran yang tertahan.
Sienna menelan ludah, buru-buru menarik tangannya dari genggaman Declan setelah kru medis datang membawa plester. "Gue... gue nggak apa-apa. Cuma luka kecil."
"Nggak apa-apa matamu. Kalau sampai infeksi dan syuting ketunda, reputasi kita berdua yang jadi taruhan," sahut Declan, kembali ke mode ketus dan dinginnya dalam sekejap begitu menyadari beberapa kamera masih menyorot mereka dengan tajam.
Sienna mencibir dalam hati. Dasar cowok labil! Tadi panik kayak orang mau mati, sekarang malah galak lagi!
Malam harinya, setelah makan malam delivery yang canggung (karena insiden potong jari), mereka akhirnya berada di dalam kamar utama. Kamera di dalam kamar diatur dalam mode night vision untuk menangkap momen tidur mereka.
Sienna sudah berganti pakaian menggunakan piyama satin pink, sementara Declan hanya memakai celana training abu-abu dan kaos oblong putih tipis.
Declan melempar sebuah bantal dan selimut tebal ke atas sofa panjang di sudut kamar. Dia merebahkan tubuh tingginya di sana dengan posisi kaki yang agak menekuk karena sofa yang kurang panjang.
Sienna yang sudah nyaman di atas kasur king size menatapnya bersalah, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakuinya.
"Hei, kanebo," panggil Sienna lirih.
"Apa?" sahut Declan, menutup matanya dengan salah satu lengan.
"Hm... makasih soal yang di dapur tadi," ucap Sienna, suaranya pelan hampir tak terdengar.
Declan membuka matanya, menoleh ke arah kasur. Dalam kegelapan kamar yang hanya disinari lampu tidur remang-remang, dia menatap Sienna lekat-lekat.
"Nggak usah makasih. Gue cuma nggak mau disalahin netizen kalau lo kenapa-napa selama acara ini," balas Declan dingin. Dia kemudian berbalik memunggungi Sienna. "Tidur. Besok jam enam pagi kita udah harus syuting episode outdoor."
Sienna memutar bola matanya kesal, lalu menarik selimutnya sampai ke dada. "Dasar cowok kaku. Untung ganteng, kalau nggak udah gue racun lo dari tadi!" gumam Sienna pelan sebelum akhirnya memejamkan mata.
Di sudut kamar, dalam posisinya yang memunggungi kasur, Declan perlahan membuka matanya kembali. Dia menatap jemarinya yang tadi sempat menyentuh kulit Sienna.
Kenapa lo nggak pernah berubah, Sienna? Tetap bodoh, ceroboh, dan bikin gue nggak bisa berhenti buat jagain lo, batin Declan miris, teringat kembali luka lama di masa SMA yang masih membekas jelas di hatinya.