Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.
Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.
Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Gada Baja
Langit Ngarai Darah terasa seperti runtuh ketika ratusan Roh Pedang Kuno melesat turun layaknya badai perak yang mematikan. Suara lolongan roh-roh itu menyatu menjadi jeritan melengking yang mampu merobek gendang telinga manusia fana dan mengacaukan lautan kesadaran para kultivator.
Su Yue, mematuhi perintah Lin Ye dengan kesetiaan buta, langsung menjatuhkan dirinya ke tanah, menutup kedua telinganya erat-erat, dan memutar seluruh Qi esnya untuk melindungi organ dalamnya dari gelombang suara tersebut.
Di tengah badai yang mematikan itu, Lin Ye berdiri tegak dengan kaki terentang kokoh, membumi layaknya pilar penopang langit. Tangannya mencengkeram erat gagang kasar dari Embrio Pedang Kekacauan. Logam hitam pekat seberat ribuan kati itu tidak memiliki mata pisau, namun di tangan Lin Ye yang menyimpan tenaga lebih dari sepuluh ribu kati, benda itu adalah senjata penuai maut yang menentang akal sehat.
Ratusan pedang berkarat yang digerakkan oleh Niat Kuno menusuk dari segala arah—atas, kiri, kanan, dan depan. Mereka menargetkan setiap celah pertahanan di tubuh Lin Ye.
"Hancur," desis Lin Ye pelan.
Otot-otot di lengan, punggung, dan pinggang Lin Ye mengembang secara ekstrem, merobek sisa-sisa jubah di pundaknya. Ia memutar pinggangnya dan mengayunkan bongkahan logam raksasa itu dalam satu putaran penuh.
Tidak ada Qi spiritual yang berpendar. Tidak ada teknik pedang mistis yang rumit. Ini hanyalah hantaman fisik murni yang digerakkan oleh kecepatan dan massa yang tidak masuk akal.
WUUUSSS—BLAAARRR!
Udara di sekitar Lin Ye tidak hanya terbelah, udara itu meledak. Ayunan Embrio Pedang Kekacauan yang sangat berat itu memampatkan udara di depannya hingga batas ekstrem sebelum melepaskannya dalam bentuk gelombang kejut fisik berbentuk cincin raksasa.
Ledakan udara itu menghasilkan suara dentuman yang jauh lebih memekakkan telinga daripada petir surgawi. Tanah berbatu di bawah kaki Lin Ye amblas sedalam satu tombak, membentuk kawah berdebu.
Saat gelombang kejut fisik itu menghantam barisan pertama Roh Pedang Kuno, sesuatu yang mengerikan terjadi. Roh-roh itu tidak memiliki tubuh fisik, namun pedang berkarat yang mereka pegang memiliki massa. Ketika gelombang kejut bertenaga puluhan ribu kati itu menabrak pedang mereka, daya tolaknya seketika memaksa wujud roh mereka memadat di udara untuk menahan benturan.
Dan di saat wujud mereka memadat, ayunan logam hitam pekat milik Lin Ye menyapu bersih mereka.
KRAAK! PRANG! SPLAASH!
Pedang-pedang berkarat patah menjadi debu. Tubuh-tubuh perak para roh itu hancur berkeping-keping layaknya kaca yang dipukul godam raksasa. Lebih dari empat puluh Roh Pedang musnah hanya dalam satu ayunan pertama.
Namun, Lin Ye tidak berhenti. Ia tertawa pelan—sebuah tawa serak, rendah, dan penuh kehausan predator yang menggetarkan tulang siapa pun yang mendengarnya.
Ia melompat ke udara, menyongsong sisa badai roh yang sedang menukik turun. Embrio Pedang di tangannya diayunkan berulang kali, menciptakan rentetan ledakan udara yang membuat ngarai itu bergetar hebat.
Setiap kali logam hitam itu menghantam udara, puluhan roh hancur lebur. Serpihan cahaya perak dari roh-roh yang hancur memenuhi udara layaknya kembang api pemakaman yang tragis.
Di saat yang sama, Kuali Penelan Bintang di Dantian Lin Ye berputar dengan kebrutalan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pusaran hisap kosmik menyebar dari pori-pori kulit Lin Ye, menyedot setiap tetes debu perak energi roh tersebut sebelum mereka sempat menguap kembali ke alam.
Energi Niat Kuno yang murni mengalir deras bagai sungai besar ke dalam tubuh Lin Ye. Darah perunggunya mendidih, membakar sisa-sisa kotoran fana terakhir di sumsum tulangnya. Warna merah rubi darahnya perlahan memancarkan bintik-bintik keemasan yang semakin padat, menandakan fisiknya telah mencapai titik puncak ekstrem dari Alam Bina Tubuh Tingkat Kedelapan.
Pemandangan ini terekam jelas di mata para kultivator dari sekte lain yang masih bertahan hidup di ngarai tersebut.
Mereka, para jenius yang dipuja di sekte masing-masing, yang telah menghabiskan ribuan batu spiritual untuk mencapai Tingkat Ketujuh dan Kedelapan, kini hanya bisa berlutut di tanah lumpur yang bercampur darah. Mata mereka membelalak ngeri melihat seorang pemuda setengah telanjang mengayunkan balok besi tumpul dan membantai ratusan eksistensi kuno yang membuat mereka putus asa.
"I-itu bukan manusia..." gumam seorang jenius dari Sekte Awan Guntur, bibirnya bergetar hebat, bahkan ia tidak menyadari dirinya telah membasahi celananya sendiri. "Dia menelan jiwa mereka! Dia adalah Iblis Kuno yang bangkit dari dalam makam!"
Hanya dalam waktu sepuluh tarikan napas, ratusan Roh Pedang yang tadinya menutupi langit ngarai telah disapu bersih. Tidak ada satu pun yang tersisa. Awan kelabu kembali terlihat.
Lin Ye mendarat dengan keras di tanah, meninggalkan dua jejak kaki sedalam setengah telapak kaki di atas batu keras. Hawa panas yang mengepul tebal menguap dari tubuhnya yang memerah, membuat salju dan es di sekitarnya langsung meleleh. Napasnya panjang dan teratur, seolah ia baru saja melakukan pemanasan ringan, bukan membantai ratusan pembunuh mematikan.
Ia mengangkat Embrio Pedang Kekacauan di tangannya dan memicingkan mata.
Logam hitam pekat yang tadinya kasar dan berkarat itu kini terlihat sedikit berbeda. Darah dan Niat Kuno dari ratusan roh yang hancur tampaknya telah bereaksi dengan benda tersebut. Permukaannya kini memancarkan satu garis merah darah yang sangat tipis dan redup, berdenyut pelan seolah benda itu mulai bernapas. Benda mati yang memegang hawa kekacauan ini sedang berevolusi.
"Bagus," bisik Lin Ye, menyarungkan kembali bongkahan logam itu ke punggungnya dengan tali akarnya. Beban yang bertambah beberapa ratus kati dari embrio itu terasa nyaman di punggungnya yang kini jauh lebih kuat.
Ia kemudian memutar tubuhnya, menatap kerumunan belasan kultivator yang tersisa.
Melihat tatapan hitam pekat Lin Ye yang tak berdasar, para kultivator itu tersentak mundur serempak. Beberapa langsung menjatuhkan senjata mereka karena teror mental yang luar biasa.
Namun, ada satu orang—seorang kultivator tua yang menyembunyikan kultivasinya di Tingkat Kesembilan dari sekte musuh—melihat celah. Ngarai kini bersih dari roh. Jalan menuju pusat makam terbuka lebar!
Kultivator tua itu menggertakkan giginya, membakar jimat angin tingkat tinggi, dan melesat secepat kilat melewati sisi Lin Ye, berniat memanfaatkan hasil kerja keras Lin Ye untuk masuk ke dalam makam terlebih dahulu.
"Hahahaha! Terima kasih telah membukakan jalan, Orang Bodoh!" tawa kultivator tua itu bergema saat bayangannya melesat menuju ujung ngarai.
Su Yue yang baru saja berdiri, terkesiap. "Senior! Dia mencoba merebut peluang di depan!"
Lin Ye bahkan tidak berkedip. Ia tidak mengejar, tidak juga menghunus senjatanya. Ia hanya mengangkat tangan kanannya ke udara, membentuk cakar, dan meremas kehampaan ke arah pelarian kultivator tua tersebut.
Daya hisap yang luar biasa brutal, didorong oleh kekuatan fisik Puncak Tingkat Kedelapan yang dipadukan dengan tarikan kosmik dari Kuali Bintang, meledak di udara.
Kultivator tua yang sudah berada sejauh lima puluh tombak di depan itu tiba-tiba berhenti di udara seolah menabrak dinding tak terlihat. Wajahnya seketika memucat. Ia merasakan darah di dalam nadinya, udara di paru-parunya, dan seluruh Qi spiritual di Dantian-nya ditarik paksa ke arah belakang.
"T-tidak! Teknik iblis macam apa—!"
Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, Lin Ye menarik lengannya ke belakang dengan kasar.
Tubuh kultivator Tingkat Kesembilan itu terseret terbang mundur dengan kecepatan yang mengerikan, menabrak bebatuan tajam, dan berakhir mendarat tepat dalam cengkeraman tangan kiri Lin Ye yang memiting lehernya.
"Kau berani mencuri makananku?" bisik Lin Ye tepat di telinga kultivator tua itu, nadanya sedingin jurang es kosmik.
Tanpa basa-basi, Sutra Kekosongan berputar. Esensi darah dan Qi kultivator tua itu langsung disedot kering hanya dalam tiga kedipan mata, mengubah pria kuat itu menjadi mumi kering yang hancur menjadi debu saat Lin Ye melepaskan cengkeramannya.
Sisa para kultivator yang berniat lari mengikuti pria tua itu, langsung menjatuhkan diri dan bersujud gemetar ke tanah. Tidak ada yang berani bergerak. Tidak ada yang berani menatap mata pemuda itu. Mereka menyadari, makhluk di depan mereka jauh lebih menakutkan daripada ribuan roh pedang.
Lin Ye mengabaikan serangga-serangga yang bersujud itu. Ia tidak membunuh mereka karena mereka tidak memiliki energi yang cukup padat untuk menarik minat kualinya, dan membantai terlalu banyak anggota sekte besar lain akan menarik perhatian para Tetua Inti di luar. Biarkan mereka hidup dengan ketakutan; mereka adalah saksi dari sebuah "Bencana Tak Dikenal", bukan Lin Ye sang pelayan.
"Jalan," perintah Lin Ye pada Su Yue tanpa menoleh, mulai melangkah menyusuri sisa ngarai.
Su Yue yang menelan ludahnya karena takjub dan ngeri, segera bergegas mengikuti tepat tiga tombak di belakangnya, memastikan tidak ada percikan darah yang mengenai "Sang Senior".
Mereka berjalan selama setengah batang dupa hingga Ngarai Darah itu menyempit dan berakhir di sebuah pelataran melingkar yang luas.
Di sana, menempel pada tebing batu tegak lurus yang menjulang menembus langit kelabu, terdapat sebuah Gerbang Perunggu Kuno raksasa. Gerbang itu memiliki tinggi lebih dari lima puluh tombak. Permukaannya dipenuhi ukiran rumit yang menceritakan pertempuran dewa-dewa kuno melawan naga-naga bermata tiga.
Ini bukan sekadar pintu masuk. Ini adalah segel.
Udara di depan gerbang perunggu itu begitu berat hingga membuat tarikan ke bumi terasa berlipat ganda. Tidak ada salju atau angin di sini. Hanya aura pemusnahan yang membungkam segalanya.
Di tengah pelataran, tepat di depan gerbang raksasa itu, terdapat sebuah altar batu berbentuk heksagonal. Di atas altar itu, tertancap sebilah pedang yang tampak utuh, tidak seperti jutaan pedang rongsokan di luar sana. Pedang itu memancarkan cahaya ungu kegelapan, dengan hulu pedang berbentuk tengkorak yang meneteskan cairan merah darah.
Su Yue merasa lututnya melemas. Meskipun ia berdiri jauh dari altar, hawa dari pedang itu menekan jiwa es-nya. "Senior... aura ini... pedang itu setidaknya adalah Senjata Spiritual Tingkat Surga! Benda suci yang hanya bisa dipegang oleh Tetua Pemisahan Roh!"
Lin Ye menatap pedang di atas altar itu. Kuali di Dantian-nya tidak bergetar karena kelaparan. Kualinya bergetar karena... waspada.
"Itu bukan harta karun," ucap Lin Ye perlahan. Senyum kejam dan penuh antusiasme yang langka terukir di wajahnya. "Itu adalah anak kuncinya. Dan kunci itu hidup."
Seolah merespons kata-kata Lin Ye, pedang ungu di atas altar itu bergetar hebat. Darah yang menetes dari hulunya tiba-tiba melayang ke udara, mengumpulkan Niat Pedang dari seluruh makam, dan perlahan-lahan membentuk siluet seorang jenderal tinggi besar berbaju zirah darah, menggenggam pedang ungu tersebut.
Mata merah menyala terbuka dari balik helm zirah jenderal bayangan itu, mengunci pandangannya tepat ke arah Lin Ye.
Sebuah suara yang terdengar seperti logam yang saling bergesekan menggema di pelataran.
“Darah fana yang menyatu dengan kekacauan... Siapa pun yang ingin membuka Makam Dewa Pedang, harus menukar jiwanya di hadapanku, Jenderal Bayangan Darah.”
Lin Ye memutar lehernya hingga berbunyi gemeretak. Ia menurunkan Embrio Pedang Kekacauan dari punggungnya dan memukulkannya ke telapak tangannya sendiri, menghasilkan suara dentuman logam yang menantang.
"Tukar jiwaku?" Lin Ye menyeringai lebar, memperlihatkan deretan giginya layaknya naga yang kelaparan. "Bagaimana kalau aku memakan jiwamu, menghancurkan pedangmu, dan menendang pintu perunggu sialan ini hingga hancur?"