Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Kesembilan Iblis (bagian pertama)
"Bagaimana dengan mereka, apakah mereka bisa mem..."
Kalimat Zhao Yun belum selesai. Nenek Wang segera menempelkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan pemuda itu agar tidak mengganggu kesembilan iblis di dalam ruangan dengan kehadiran mereka.
"Ssst, jangan berisik," bisik Nenek Wang dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Zhao Yun menahan napas, menghentikan kalimatnya seketika. Di dalam ruangan remang-remang itu, sembilan iblis tingkat tinggi tersebut tampaknya sedang tenggelam dalam sebuah ritual meditasi atau rapat rahasia yang teramat penting. Aura magis yang pekat dan beracun menguar dari tubuh mereka, berputar-putar di atas meja panjang seperti pusaran badai hitam yang siap menelan apa saja.
"Jika kau Ingin ikut masuk, kau tidak boleh sampai mengganggu kesembilan iblis itu" ucap nenek Wang dengan suaranya yang hampir tak terdengar. "aku harus menambah energi mereka."
Zhao Yun mengangguk tanpa bersuara. Ia tidak berani melakukan tindakan ceroboh yang nantinya bisa membangunkan iblis-iblis terkuat di neraka ini. Zhao Yun tahu betul bahwa keahlian sihir kesembilan iblis itu berada jauh di atasnya. Jangankan melawan mereka sekaligus, menghadapi satu saja dari sembilan sosok itu, ia belum tentu mampu.
Nenek Wang melangkah lebih dulu, menyelinap melewati celah pintu batu dengan gerakan yang luar biasa halus, nyaris seperti sehelai daun kering yang ditiup angin malam. Dari balik lipatan jubah lusuhnya, wanita tua itu mengeluarkan sebuah botol keramik kecil berwarna hitam pekat.
Zhao Yun mengikuti dari belakang, menapakkan kakinya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Matanya tetap waspada, mengawasi setiap pergerakan sembilan iblis yang duduk mengelilingi meja panjang berbentuk aneh tersebut.
Nenek Wang berjalan mendekati wadah perunggu besar yang berada di tengah ruangan. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia membuka tutup botol keramiknya dan menuangkan beberapa tetes cairan kental berwarna merah keperakan ke dalam wadah tersebut. Cairan itu adalah Esensi Jiwa Murni—sumber energi langka yang dikumpulkan dari sisa-sisa reinkarnasi masa lalu.
Sreeet...
Begitu cairan itu menyentuh dasar perunggu, pusaran asap hitam yang berputar di atas meja mendadak bergolak lambat, menyedot energi murni tersebut untuk dialirkan ke tubuh sembilan iblis yang sedang bermeditasi. Raut wajah garang mereka yang tadinya tegang perlahan-lahan mulai mengendur, menyerap tambahan energi yang diberikan oleh Nenek Wang untuk mempertahankan sisa-sisa kekuatan mereka yang kian menipis.
Namun, tepat di saat ritual penambahan energi itu hampir selesai, iblis berkepala dua yang duduk di ujung meja mendadak menggerakkan salah satu kepalanya. Kepala bagian kiri yang berwajah mengerikan itu perlahan membuka mata, berkilat merah menatap lurus ke arah posisi berdiri Zhao Yun.
Seketika jantung Zhao Yun serasa berhenti berdetak. Tubuhnya mendadak kaku dan mati rasa di bawah tatapan sosok iblis mengerikan tersebut. Meski mereka sesama makhluk terkutuk, aura kegelapan purba yang terpancar dari iblis berkepala dua itu benar-benar sanggup mematahkan nyali siapa pun yang berani menantangnya.
"Rupanya kau, iblis penjaga roh" ucap iblis berkepala dua itu.
Perlahan, kepala bagian kiri iblis itu kembali ke posisinya semula, kepala utamanya mengambil alih pembicaraan. "Sepertinya kau membawa sesuatu yang penting Zhao Yun"
Nada suaranya terdengar ramah, namun tatapannya menunjukkan kebuasan yang haus akan nafsu membunuh.
"Ah, a-aku sedang meminta bantuan Nenek Wang untuk mencari sebuah petunjuk," sahut Zhao Yun, sedikit gugup saat ia berusaha keras menyembunyikan rasa takutnya. "Maaf karena telah mengganggu meditasi para Tetua. Aku sebaiknya segera pergi. Terima kasih, Nenek Wang."
Begitu kalimatnya selesai, Zhao Yun langsung berbalik arah menuju pintu keluar ruangan tersebut. Langkah kakinya sengaja ditahan agar tetap tenang dan berirama, demi mencegah para iblis menaruh curiga dan mengetahui rencana rahasia yang sedang ia jalankan.
"Tunggu," sebuah suara berat kembali menggema, membuat langkah Zhao Yun mendadak terhenti tepat beberapa jengkal di depan pintu batu yang hampir menutup. Suara itu berasal dari iblis berkepala dua.
Zhao Yun tidak menoleh sepenuhnya, ia hanya memiringkan kepalanya sedikit, sementara tangannya mencengkram kuat menyembunyikan gelang giok di balik lengan jubahnya.
...****************...