NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12 Sean Adalah Putramu

"Jangan coba-coba membual di depanku, Leo! Aku bukan orang asing yang bisa kau tipu dengan dongeng kematian itu!"

Dante mencengkeram kerah jaket Leo, menyentaknya dengan kuat.

Matanya merah, sarat akan amarah yang telah mengendap selama tujuh tahun.

"Aku melihatmu membawanya keluar dari kobaran api itu! Aku tahu dia selamat! Katakan di mana dia, atau aku akan benar-benar lupa kalau kau adalah adikku!"

Leo tidak melawan. Ia membiarkan tubuhnya diguncang, namun matanya menatap Dante dengan kekecewaan yang mendalam.

"Lalu kenapa kalau dia masih hidup, Kak? Apa yang akan Kakak lakukan? Memamerkan istri barumu padanya?"

"Leo!"

"Apa Kakak pikir Venus akan tersenyum dan memelukmu setelah tahu pria yang dia cintai sudah membangun hidup baru di atas abu kematiannya?" sentak Leo. "Kakak benar-benar egois! Kau menuntut kesetiaan darinya, sementara kau sendiri sudah bersanding dengan wanita lain di pelaminan!"

Dante melepaskan cengkeramannya, langkahnya terhuyung mundur seolah baru saja dipukul telak di ulu hati.

"Kau pikir aku menginginkan pernikahan itu? Aku koma, Leo! Aku tidak sadarkan diri selama berbulan-bulan! Saat aku bangun, semua orang termasuk orang tua Bianca mengatakan bahwa kami sudah terikat. Aku bahkan baru tahu aku sudah menikah saat aku bisa membuka mata!" ucap Dante. "Aku bersumpah demi nyawaku, Leo... sampai detik ini, aku sama sekali belum menyentuh Bianca. Tidak seujung kuku pun! Hatiku, tubuhku, semuanya masih milik Venus. Aku menjaganya karena aku percaya dia masih ada di suatu tempat!"

Dante jatuh bertelut. Harga dirinya sebagai penguasa dunia bawah runtuh seketika di hadapan adiknya. "Aku mohon, katakan padanya aku masih mencintainya. Katakan di mana dia."

Leo menghela napas panjang, menatap kakaknya yang kini nampak begitu rapuh. "Jika aku membawamu kepadanya sekarang, apa Kakak bisa menjamin keselamatannya? Dari Bianca? Dari musuh-musuhmu yang haus darah?"

Dante mendongak dengan kening berkerut. "Apa maksudmu? Apa hubungannya dengan Bianca?"

Leo menunjuk ke arah jurang di belakang mereka dengan dagunya. "Mayat-mayat yang baru saja aku buang ke sana adalah pria-pria bayaran yang disewa untuk menghabisi Kak Venus sore tadi! Seseorang ingin dia lenyap selamanya sebelum Kakak menemukannya!"

Dante terkesiap, wajahnya memucat. "Apa? Siapa yang melakukannya?"

Leo tidak menjawab. Ia berbalik menuju mobilnya, mengambil topeng kulit yang sempat ia lepas, lalu memakainya kembali dengan perlahan.

Saat ia berbalik lagi menghadap Dante, sosok suami Detektif Ve kembali hadir di depan mata Dante.

Dante terpaku. Ingatannya berputar cepat menuju ruang rumah sakit, pada pria berwajah rusak yang mengecup tangan Detektif Ve dan mengaku sebagai ayahnya Sean.

"Kau..." bisik Dante, suaranya tercekat. "Kau pria di rumah sakit itu? Jadi... Detektif Ve..."

"Sekarang Kakak tahu di mana Kak Venus, kan?" suara Leo terdengar dingin di balik topengnya. "Dia ada tepat di depan matamu, dengan luka yang kau berikan dan identitas yang harus ia sembunyikan darimu."

Dante memukul tanah dengan kepalan tangannya, mengutuk dirinya sendiri yang begitu buta hingga tak mengenali belahan jiwanya sendiri.

"Aku benar-benar bodoh! Apa yang sudah kulakukan?"

"Dan ada satu hal lagi yang harus Kakak tahu," Leo menjeda, menatap kakaknya dengan iba sekaligus peringatan. "Bocah laki-laki yang membencimu setengah mati itu, bocah cerdas yang wajahnya adalah cerminan dirimu saat muda, dia putramu, Kak. Sean adalah darah dagingmu yang kau biarkan tumbuh tanpa perlindungan seorang ayah selama tujuh tahun ini."

Deg!

Jantung Dante terasa berhenti berdetak. Sean. Bocah yang memandangnya dengan penuh kebencian itu adalah putranya?

Kehancuran menyelimuti wajah Dante. Ia tidak hanya mengkhianati istrinya, tapi ia juga telah menjadi orang asing bagi putranya sendiri.

******

"Paman dari mana saja? Kenapa baru pulang?"

Sean berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap, menatap Leo dengan tatapan menginterogasi yang tajam.

Namun, kalimat bocah itu menggantung di udara saat matanya menangkap sosok tinggi yang berdiri di bayang-bayang belakang pamannya. Sosok yang sangat ia kenal sekaligus ia benci.

"Paman bersamanya?" Sean menunjuk Dante dengan dagunya. "Usir saja. Kami tidak menerima tamu dan kami tidak butuh bantuan apa pun dari orang ini."

Dante tidak menunggu izin. Ia melangkah maju, menembus pertahanan dingin bocah itu. Sebelum Sean sempat memprotes, Dante sudah berlutut di depannya.

"Maafkan Papa..." bisik Dante tanpa aba-aba, ia menarik Sean ke dalam pelukan yang sangat erat. "Maaf karena selama ini Papa tidak pernah ada untukmu. Maafkan Papa, Nak."

Sean membeku di tempat. Tubuh kecilnya menegang, tangannya menggantung kaku di sisi tubuh. Ia tidak membalas pelukan itu. Matanya beralih menatap Leo yang berdiri di belakang Dante dengan wajah serba salah.

Leo hanya bisa memalingkan wajah ke arah kegelapan malam, tak sanggup menatap mata keponakannya.

"Lepaskan," desis Sean setelah beberapa saat. Ia mendorong dada Dante dengan sisa tenaganya. "Mama sudah tidur. Kembalilah besok. Jangan membuat keributan di sini."

"Tapi, Papa ingin bicara denganmu sebentar. Apa boleh? Papa punya banyak hal yang harus dijelaskan," pinta Dante dengan sorot mata penuh permohonan.

Sean menatap Dante dalam-dalam dengan mata berkilat penuh amarah. "Aku malas bicara dengan orang asing! Dan bagiku, kau tetap orang asing yang baru saja membuat Ibuku pingsan."

Tanpa kata lagi, Sean berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan kedua pria dewasa itu di teras.

"Sean! Dengar Papa!" teriak Dante frustrasi. Ia hendak mengejar, namun lengan Leo menahannya dengan kuat.

"Kak, jangan paksa dia," ucap Leo tegas. "Dia itu persis sepertimu. Keras kepala dan sangat tajam. Jika dia sudah kecewa, butuh waktu lama untuk pulih. Lebih baik kau pulang sekarang. Biarkan dia tenang."

Dante menepis tangan Leo, napasnya memburu. "Pulang? Sedangkan kau tetap di sini bersama mereka? Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkanmu tinggal di sini sementara aku diusir dari rumahku sendiri!"

Leo tertawa hambar, sebuah tawa yang memancing emosi Dante.

"Memangnya kenapa? Aku sudah tujuh tahun tinggal bersama mereka, Kak. Aku yang melihat dia belajar jalan, aku yang mendengar kata pertamanya. Kau cemburu padaku?"

Rahang Dante mengeras. "Kau adikku, tapi kau menyembunyikan putraku selama tujuh tahun! Tentu saja aku tidak suka kau berada di posisi yang seharusnya menjadi milikku!"

"Picik sekali pikiranmu, Kak," sahut Leo tenang, namun menusuk. "Aku di sini bukan untuk menggantikanmu, tapi karena kau yang memintanya. Jika kau ingin posisi ini kembali, berhentilah bersikap egois dan selesaikan kekacauanmu dengan Bianca. Jangan paksa Sean menerimamu sementara kau masih membawa bau mansion itu ke rumah ini."

Dante terdiam, tak bisa berkata-kata. Ia menatap pintu rumah yang tertutup rapat, menyadari bahwa perjalanan menuju hati putranya jauh lebih sulit daripada menaklukkan musuh-musuhnya.

"Sial!" gumamnya dengan tangan terkepal.

1
🅰️Rion bee 🐝
👍👍👍👍👍..
Kinara Widya
😂😂😂😂😂
Tiara Bella
pedes bngt loh Dante kata² anakmu...
Nice1808
bacanya sambil mewek lihat sean yg menangis dlm pelukan dante😭.Ayolah sean terima dan maafkan papamu agar bianca gk ambil papamu lagi🤣
Nice1808: 🤣🤣iya kak
total 4 replies
Arbaati
othooor...tanggung jawab...aku mewek ini
Senja: peluk jauh kak😚
total 1 replies
Sri Rahayu
ayolah Sean maafkan papa mu...karena semuanya itu bukan keinginan Dante...lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Senja: Siapp
total 1 replies
tinie
akhirnya mulai luluh tembok dingin itu😭😭😭
Senja: huuhuhum
total 1 replies
Sri Rahayu
baru tau kamu Dante....anak mu Sean sangat cerdas, mulutnya pedas dan pemberani...lanjut Thorr😘😘😘
tinie
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/🤣rasakan kau dantee
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tidak bergeming = tidak diam?
Senja: Beda2 ya kak, 🤣🤭
total 4 replies
tia
nikmati benih u dante 😁😁
🇧🇬
😆😆😆
Jungkookieeeeeee97🐰
infooo si Venus makan apa sih waktu hamil??
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh 🫪
Jungkookieeeeeee97🐰
tau tuh si Dante, loe mau anak istri loe kembali,
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
Jungkookieeeeeee97🐰
Udah didalem kamar pun masih nyaut 🥸
Tiara Bella
papahmu itu Sean....
Jungkookieeeeeee97🐰
bener kata Sean Ve,,,,, Suami mafia mu itu,, Oneng nya tuh Ngoneng bangettt /Scream//Scream/
Jungkookieeeeeee97🐰
Wkwkwkkwkwkwk
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
lovely_day
ayo Sean.. makan with papa🤗
Jungkookieeeeeee97🐰
Ttttaaapiiiii ucapan Sean bener loh 😳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!