NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Mendung di Teras Kelas dan Tanda Tanya Seno

Pagi bergulir menyapa pelataran SMA Bangsa dengan udara yang lebih menggigit dari biasanya. Sisa-sisa kabut masih menggantung tipis di dahan-dahan pohon mahoni yang berjajar di sepanjang lapangan basket. Namun, hawa dingin itu sama sekali tak mampu meredam hawa panas yang menyelimuti raut wajah anak-anak kelas tiga yang biasa berkumpul di teras belakang sekolah.

Jenawa baru saja memarkirkan sepeda motornya ketika ia menyadari sejumlah pasang mata tengah menatapnya dengan tajam. Langkah kakinya yang biasanya disambut dengan sapaan penuh hormat dan kepalan tangan persaudaraan, kini disambut oleh keheningan yang sarat akan tuntutan.

Di tengah kerumunan itu, Seno berdiri dengan tangan terlipat di dada. Ada sebersit kekecewaan yang tak tertutupi di wajah kawan karibnya tersebut. Bentrokan kemarin petang memang tidak berujung pada kekalahan telak, namun kepergian Jenawa yang mendadak dari garis depan telah meninggalkan celah besar dalam formasi moral mereka.

Jenawa melangkah dengan ritme yang tenang, wajahnya datar tanpa dosa. Ia menghentikan langkahnya tepat di hadapan Seno.

"Pagi yang muram untuk raut wajah yang masam, Seno," sapa Jenawa santai, mencoba mencairkan kebekuan.

Seno tidak tersenyum. Ia menatap Jenawa lekat-lekat. "Kami menunggu hingga malam larut di simpang tiga, Wa. Berharap kau kembali dengan sebuah alasan yang masuk akal. Mengapa kau meninggalkan barisan ketika anak-anak Pelita sudah berada di depan mata?"

Beberapa kawan di belakang Seno mulai berbisik, memanaskan suasana.

"Apakah aku terlihat seperti seseorang yang lari dari medan perkelahian karena gentar?" balas Jenawa, suaranya tetap tenang namun menguar wibawa yang membuat bisik-bisik di belakang Seno seketika mereda.

"Tentu saja tidak," sahut Seno cepat, masih mempertahankan nada protesnya. "Namun kau berlari melintasi jalan raya hanya demi menarik seorang siswi baru dan menghilang ke dalam gang. Anak-anak Pelita menertawakan kita, Wa. Mereka mengira panglima SMA Bangsa tiba-tiba kehilangan nyalinya karena seorang perempuan."

Rahang Jenawa mengeras. Telinganya terasa panas mendengar cemoohan yang dialamatkan kepadanya, namun bayangan Sinaca yang berjalan sendirian menembus medan bahaya seketika meredam amarahnya. Ia teringat akan janjinya pada diri sendiri di bawah pohon tanjung sore itu.

"Dengarkan aku baik-baik," ucap Jenawa dengan intonasi yang rendah, namun cukup tegas untuk didengar oleh seluruh kawan-kawannya. "Kehormatan SMA Bangsa tidak ditentukan oleh satu perkelahian di simpang tiga. Aku meninggalkan barisan bukan karena aku gentar, melainkan karena ada hal yang jauh lebih mendesak yang tak bisa kutoleransi: membiarkan orang yang tak bersalah terluka oleh ego kita yang buta."

"Orang yang tak bersalah? Maksudmu gadis yang suka menegur itu?" Seno mendengus tak percaya. "Sejak kapan kau peduli pada siswi yang bahkan tak mau menundukkan kepala saat melewati kita?"

"Sejak kemarin," potong Jenawa lugas. Tatapannya menghujam mata Seno. "Dan jika ada satu pun dari kalian, atau anak-anak Pelita, yang berani mengaitkan nama Sinaca dalam urusan jalanan kita, maka orang itu harus berhadapan denganku secara pribadi. Apakah perselisihan ini sudah cukup jelas, Kawan?"

Keheningan kembali menyergap teras belakang sekolah. Seno menelan ludah, menyadari bahwa ada keteguhan baru di mata kawan karibnya itu—sebuah keteguhan yang tak pernah ia lihat sebelumnya, bahkan di saat konfrontasi paling berdarah sekalipun. Ia akhirnya menghela napas panjang dan menepuk bahu Jenawa dengan kasar, tanda menyerah.

"Kau berutang kopi pada kami sepulang sekolah nanti," gerutu Seno pada akhirnya, membalikkan badan dan memberi isyarat agar kerumunan itu membubarkan diri.

Jenawa hanya mengangguk pelan, membiarkan kawan-kawannya berlalu menuju kelas masing-masing. Ketika ia membalikkan badan untuk melangkah menuju lorong utama, pandangannya tanpa sengaja bersirobok dengan sepasang mata di lantai dua.

Di balkon koridor kelas sepuluh, Sinaca Tina berdiri bersandar pada pagar pembatas. Gadis itu sedari tadi rupanya memperhatikan interaksi tegang antara Jenawa dan kelompoknya. Jarak memisahkan mereka, namun Jenawa bisa melihat dengan jelas bahwa tidak ada lagi tatapan menghakimi dari gadis tersebut.

Sinaca tidak tersenyum, namun ia menganggukkan kepalanya pelan—sebuah gestur pengakuan yang halus. Ia memahami bahwa pemuda di bawah sana baru saja mempertaruhkan posisinya demi menjaga nama baiknya.

Jenawa membalas anggukan itu dengan seulas senyum simpul yang amat tipis. Pagi yang dingin itu tak lagi terasa muram baginya. Langkahnya menuju kelas kini terasa jauh lebih ringan. Ia tahu, meskipun perseteruan dengan SMA Pelita belumlah usai, ada sebuah serenada baru yang kini mengiringi hari-harinya di sekolah ini. Dan ia siap menghadapi badai apa pun, asalkan ia bisa terus mendengarkan alunannya.

1
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!