Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.
Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 - Nama Di Bibirnya
Ada hal-hal kecil yang baru terasa berarti setelah seseorang hadir terlalu sering dalam hidup kita. Bukan hadiah mahal, bukan pengakuan besar yang membuat dunia seolah berhenti berputar, dan bukan pula kejadian dramatis yang bisa diceritakan berulang kali kepada orang lain. Kadang hanya kebiasaan sederhana yang nyaris luput diperhatikan, tetapi diam-diam cukup untuk menggeser isi hati sedikit demi sedikit.
Bagi Airel Virellia, hal kecil itu adalah namanya sendiri. Nama yang selama ini terdengar biasa saja, empat huruf yang tak pernah ia pikirkan lebih jauh. Dipanggil dosen saat absensi, diteriakkan Kalista dari ujung koridor, disebut ibunya dari dapur rumah ketika makan malam siap, atau tertulis datar di formulir dan kartu identitas tanpa arti khusus.
Namun sejak Zevarion Hale hadir terlalu sering dalam harinya, nama itu terasa berubah. Bukan karena bentuknya berbeda, bukan karena mendadak menjadi indah. Melainkan karena cara pria itu mengucapkannya membuat satu kata sederhana terdengar seperti sesuatu yang disimpan baik-baik.
Ia menyadarinya pada suatu pagi di perpustakaan kampus. Ruangan masih sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang duduk berjauhan dengan wajah mengantuk dan tumpukan buku di meja masing-masing. Cahaya matahari masuk dari jendela tinggi, memantul di permukaan meja kayu panjang dan lantai yang mengilap.
Airel duduk di sudut favoritnya sambil menyalin catatan dari laptop ke buku tulis. Ia terlalu fokus mengejar tugas yang tertunda sampai tidak sadar ada seseorang berdiri di samping kursinya.
“Airel.”
Suara rendah itu datang dekat dan pelan, seolah sengaja menjaga keheningan ruangan. Airel mendongak cepat dan mendapati Zev berdiri sambil memegang dua gelas kopi kertas.
“Kamu ngagetin orang.”
“Aku udah manggil dua kali.”
“Enggak kedengeran.”
Zev meletakkan satu gelas di mejanya, lalu duduk di kursi seberang tanpa meminta izin lebih dulu seperti biasa. Gerakannya tenang dan seolah semua itu wajar.
“Makanya aku panggil lebih dekat.”
Airel menatap kopi itu, lalu menatap wajahnya lagi.
“Kamu beli buat aku?”
“Kebanyakan.”
“Kamu beli dua padahal sendiri.”
“Aku optimis.”
Nada datarnya membuat Airel menahan senyum. Namun bukan kopi hangat itu yang membuat dadanya terasa ringan. Justru cara Zev menyebut namanya tadi yang terus terulang di kepala.
Tidak keras. Tidak asal lewat. Tidak seperti orang yang hanya ingin memanggil perhatian sesaat.
Lebih seperti seseorang yang tahu satu kata itu cukup untuk membuatnya menoleh.
Siang harinya, Airel berjalan cepat di koridor karena hampir terlambat masuk kelas. Lorong dipenuhi mahasiswa yang baru keluar dari ruangan lain, suara obrolan dan langkah kaki bercampur menjadi keramaian yang memantul di dinding.
Di tengah riuh itu, seseorang memanggil dari belakang.
“Airel.”
Ia spontan menoleh tanpa berpikir. Zev berdiri beberapa meter darinya sambil mengangkat buku catatan yang tertinggal di bangku taman tadi pagi.
Airel terdiam sebentar. Di lorong seramai itu, ia tetap mengenali suara Zev hanya dari satu kata.
Bukan karena paling keras.
Justru karena paling tenang.
Zev mendekat dan menyerahkan buku itu.
“Kamu ketinggalan.”
“Makasih.”
“Kamu ceroboh akhir-akhir ini.”
“Aku sibuk.”
“Kamu kebanyakan mikir.”
Airel mengerutkan dahi.
“Kamu tahu dari mana?”
“Kelihatan.”
Ia lalu berjalan pergi begitu saja sebelum Airel sempat membalas. Gadis itu masih berdiri sambil memegang bukunya, lalu sadar satu hal yang terasa konyol.
Orang lain memanggil namanya seperti informasi.
Zev memanggilnya seperti perhatian.
Hal itu semakin terasa dari hari ke hari. Di kantin, saat Airel sedang mengantre makanan dan tidak sadar antrean sudah maju beberapa langkah, suara rendah itu terdengar dari samping.
“Airel.”
Pelan, nyaris seperti bisikan di tengah keramaian.
Ia menoleh, dan Zev mengangguk ke arah depan.
“Giliran kamu.”
“Kenapa enggak dari tadi?”
“Kamu lagi bengong.”
“Kamu lihatin aku lagi?”
“Aku lihat keadaan sekitar.”
“Pembohong.”
Zev hanya mengambil nampan kosong lalu berdiri di belakangnya. Airel mencoba fokus memesan makanan, tetapi pipinya sudah terasa hangat duluan.
Sore itu di toko buku tempatnya bekerja, lonceng pintu berbunyi pelan. Airel sedang menyusun rak bagian bawah dan terlalu sibuk menempel label harga baru sampai tidak melihat siapa yang masuk.
Beberapa detik kemudian, suara itu terdengar dekat dari sela rak.
“Airel.”
Ia refleks bangkit terlalu cepat hingga hampir membentur rak atas. Zev yang berdiri di sana menahan sisi rak dengan satu tangan sebelum kepalanya terbentur.
“Hati-hati.”
Airel memegang dahinya sambil menatap kesal.
“Kamu sengaja ya?”
“Sengaja apa?”
“Datang diem-diem terus manggil.”
“Aku masuk dari pintu depan.”
“Terus kenapa ngomongnya pelan?”
Zev terlihat berpikir sejenak, seolah pertanyaan itu perlu dijawab serius.
“Karena kamu dekat.”
Jawaban sederhana itu membuat Airel kehilangan balasan. Ia menunduk dan pura-pura merapikan buku yang sebenarnya sudah tersusun rapi.
Hari itu Kalista kebetulan datang menjemputnya sepulang shift. Begitu Zev pergi setelah membeli pembatas buku yang mungkin tidak ia butuhkan, Kalista langsung menyender di meja kasir dengan wajah penuh arti.
“Dia kalau manggil kamu beda banget.”
Airel pura-pura tidak paham.
“Apa bedanya?”
Kalista menyipitkan mata, mencari kata yang pas.
“Kayak nama kamu barang mahal.”
Airel tertawa kecil.
“Ngaco.”
“Aku serius. Orang lain manggil biasa aja. Dia kayak nyimpen sesuatu di tiap hurufnya.”
Airel melempar struk bekas ke arah sahabatnya. Kalista tertawa puas, tetapi setelah gadis itu pulang, kalimat tadi terus teringat.
Malamnya, saat berbaring di kamar dengan lampu redup, Airel menatap langit-langit sambil memutar ponsel di tangan. Ia mencoba mengingat satu per satu.
Cara Zev menyebut namanya di bawah hujan.
Cara Zev memanggilnya dari halte saat bus datang.
Cara Zev mengucapkannya pelan ketika mereka duduk berdua di taman.
Ia juga baru sadar Zev tidak pernah menyingkat namanya seperti teman-teman lain. Tidak pernah memanggil Rel. Tidak pernah menggunakan hey atau woi saat sedang bercanda.
Selalu lengkap.
Airel.
Dan entah kenapa, setiap kali nama itu keluar dari bibir Zev, rasanya seperti sesuatu yang hanya dimiliki dirinya seorang.
Hari berikutnya mereka duduk di bangku taman belakang kampus sambil berbagi kentang goreng dari kantin. Airel sedang bercerita panjang tentang dosen yang salah mengirim soal kuis ke grup kelas ketika Zev tiba-tiba memotong.
“Airel.”
“Iya?”
Ia menoleh cepat, otomatis.
Zev justru diam beberapa detik sambil menatap wajahnya.
“Apa?”
“Ada saus di pipi kamu.”
Airel langsung mengusap pipi kiri.
“Yang kanan.”
Ia buru-buru pindah ke kanan.
“Masih ada?”
Zev menatapnya sebentar, lalu mengambil tisu dari saku dan menyodorkannya.
“Biar aku nyerah aja.”
Airel menerima tisu itu dengan wajah memanas.
“Kamu bisa bilang dari awal.”
“Kamu lucu waktu panik.”
Airel menatapnya sebal, tetapi Zev hanya terlihat tenang sambil mengambil kentang goreng terakhir dari kotak di antara mereka.
“Kamu ganggu banget.”
“Airel.”
“Napa lagi?”
“Marahnya lucu juga.”
Airel benar-benar ingin melempar tisu ke wajahnya. Namun yang keluar justru tawa kecil yang sulit ditahan.
Beberapa hari kemudian hujan turun tipis sepulang kelas. Banyak mahasiswa berteduh di bawah atap depan gedung sambil menunggu reda. Airel berdiri agak jauh sambil memeriksa pesan di ponselnya.
Di tengah suara ramai dan rintik air, ia mendengar suara itu lagi.
“Airel.”
Tidak keras, tetapi cukup membuat kepalanya menoleh seketika.
Zev berdiri sambil mengangkat payung hitam di tangannya.
“Ayo.”
“Kok kamu tahu aku bakal noleh?”
Zev membuka payungnya lalu melangkah mendekat.
“Karena aku manggil kamu.”
Jawaban itu sederhana sekali, namun entah kenapa membuat dada Airel penuh oleh rasa hangat yang sulit dijelaskan.
Di bawah payung yang sama, mereka berjalan menyusuri trotoar basah. Hujan menetes di sisi payung, kendaraan melintas membawa cahaya lampu yang memantul di jalan, dan kota tetap sibuk dengan urusannya sendiri.
Namun pikiran Airel hanya berputar pada satu hal yang tampak sepele.
Namanya.
Ia ingin menertawakan diri sendiri karena bisa sebaper ini hanya karena cara seseorang menyebut empat huruf sederhana. Tetapi perasaan memang jarang masuk akal.
“Kenapa diem?” tanya Zev.
“Lagi mikir.”
“Mikir apa?”
Airel menatap jalan di depan. Kalau ia jujur, ia pasti malu sendiri.
Bahwa ia sedang memikirkan bagaimana suara Zev mengucapkan namanya bisa membuat detak jantungnya berantakan.
“Rahasia.”
Zev mengangguk tipis.
“Airel.”
“Iya?”
“Kamu kalau penasaran gampang kelihatan.”
“Aku enggak penasaran.”
“Sekarang iya.”
Airel menoleh kesal, tetapi Zev sedang menatap lurus ke depan dengan sudut bibir nyaris terangkat. Ia tahu pria itu sengaja menggodanya.
Dan yang lebih gawat, ia tahu dirinya menyukai hal itu.
Saat sampai di depan halte, Zev menurunkan payung sedikit agar Airel bisa naik ke trotoar yang kering.
“Airel.”
Ia kembali menoleh refleks.
“Hm?”
“Hati-hati pulang.”
Hanya itu. Tidak ada kalimat manis, tidak ada tatapan dramatis, tidak ada usaha berlebihan.
Namun suara rendah yang menyebut namanya lebih dulu sebelum perhatian sederhana itu terasa cukup untuk menemani perjalanan pulang.
Bus datang beberapa menit kemudian. Dari jendela, Airel melihat Zev masih berdiri di tempat semula, satu tangan memegang payung, menatap jalan dengan wajah tenang seolah semuanya biasa saja.
Airel menyentuh pipinya sendiri yang kembali hangat.
Namanya tidak berubah. Tetap empat huruf, tetap nama yang sama seperti dulu.
Namun sejak Zev hadir terlalu sering dalam hidupnya, setiap kali nama itu keluar dari bibir pria tersebut, rasanya seperti dipanggil pulang.