kau hadir saat ku benar benar merasa hancur dan nyaris gila dengan alur cerita hidupku. kau seperti malaikat tak bersayap yg di utus tuhan untuk menyadarkan dan menyelamatkan hidupku.
tanpamu aku bukan lah siapa siapa, tanpamu aku hanya orang hina yg kehilangan arah tujuan hidup.
takan cukup aku mengucap kata terimakasih kepadamu, atas segala kebaikan dan ketulusan hatimu.
kaulah jawaban do'a dalam hatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukmanben99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tingkah konyol sahabat
Dengan perasaan kecewa, aku putar balik dan mengembalikan motor Dony. Dony yang melihat semua dari jauh, sesampainya aku di hadapanya, ia menepuk pundakku. Dia mengerti tanpa aku harus bicara. Setelah itu kami pulang.
*sampai di rumah*
Aku tertegun. Di depan rumah terparkir sebuah vespa tua. Aku berjalan masuk rumah memperhatikan motor vespa tua itu, aku melihat Bapak sedang memperbaiki listrik.
“Pak,” sapaku sambil salim. “Vespa di depan punya siapa, Pak?”
Bapak tersenyum. “Itu buat kamu, Biar kamu nggak naik angkot terus, gimana kamu suka kan?! ”
Aku tak percaya. Aku sungguh merasa senang. Meski kusam dan berkarat, vespa itu adalah harta paling mewah bagiku. “ serius pak?, Makasih, Pak...” ucapku dengan hati senang.
" Iyaa,,,Tapi kamu yang rajin ya sekolahnya ya, awas kalau bolos sekolah lagi, nanti bapak sita motornya!" Ucap bapak.
" Iya gak kok pak!" Jawabku.
*ke esokan harinya*
Aku berangkat sekolah dengan semangat 45. Tak perlu lagi desak-desakan di angkot. Vespa pemberian Bapak melaju membelah jalanan kampung.
Di parkiran sekolah, aku berpapasan dengan Dony yang juga baru datang.
“Widihh, motor siapa tuh?” Dony melongo.
“Ya motor gue lah,” jawabku bangga.
“Serius? Ngebegal di mana loe?” ledek Dony.
“Enak aja loe kalo ngomong, Motor loe tuh hasil begal,” balasku.
“Haha!” Dony ngakak.
Setelah itu.
Saat Jam pelajaran selesai. Saat bel pulang, aku mengendarai vespa keluar gerbang. Seperti biasa, aku melihatnya lagi. Wanita itu berdiri sendirian, menunggu jemputan papanya. Aku sempat berhenti, memperhatikannya. Dia tidak sadar.
_Percuma,_ pikirku. _Pasti bentar lagi papanya datang._ Aku pun melanjutkan perjalanan.
Baru beberapa meter, aku lirik kaca spion. Kulihat dia gelisah. Berkali-kali dia menelepon, wajahnya kesal. Sepertinya papanya tak bisa menjemput.
_Ini kesempatanku,_ batinku. Jantungku berdebar. Sesekali dia menoleh ke arahku. Tanpa pikir panjang, aku putar balik. Dengan tangan dingin dan malu-malu, aku menghampirinya.
“Hey...” sapaku sambil tersenyum canggung.
Dia tersenyum, lalu balas tersenyum. “Hai, Kak,” jawabnya lembut. Dia memanggil ku kakak, Padahal kami seangkatan, cuma beda kelas.
“Kamu lagi nunggu jemputan, ya?” tanyaku sok tahu.
“Iya, Kak. Kok tahu?” Dia tampak heran.
“Iya, kemarin aku liat kamu dijemput. Ouh iya, boleh kenalan?” Aku memberanikan diri.
Dia tersenyum, anggukan kecil.
“Kenalin, aku Satria,” ucapku sambil mengulurkan tangan.
Dia menatap tanganku sejenak, lalu menjabatnya. Tangannya halus dan hangat.
“...Elina,” ucapnya pelan sambil tersenyum.
Dan akhirnya, kini aku tahu namanya.
*ELINA*
“Ouh iya... kok aku perhatiin kamu kayaknya kesel banget tadi,” tanyaku hati-hati.
“Iya, Kak. Soalnya Papah aku nggak bisa jemput hari ini. Katanya lagi ada urusan penting,” jawab Elina pelan.
“Ouh gitu ya... ya udah, mending sama aku aja yuk. Aku anter kamu pulang,” tawarku setengah nekat.
Elina terdiam. Matanya melirik vespa-ku yang kusam dan berkarat. Tapi dia tidak begitu memedulikannya.
“Emm, gimana ya... aku takut ngerepotin Kakak. Nggak papa, nggak usah Kak, makasih. Aku naik taksi aja,” ucapnya malu-malu.
“Udah, nggak papa, Nggak ngerepotin kok. Udah yuk, naik. Aku anter kamu pulang sampai rumah dengan aman... hehe,” rayuku, berusaha meyakinkannya.
“Emm, beneran nggak papa, Kak?” Elina masih ragu.
“Iya beneran. Yuk, naik,” aku makin semangat.
“Emm... ya udah deh,” akhirnya dia mengangguk sambil tersenyum malu.
Dan akhirnya dia mau kubonceng. Elina naik ke vespa-ku, dan kami pun berangkat menuju rumahnya.
Aku tak menyangka bisa sedekat ini dengannya. Jujur, aku bahagia dan nyaman saat berada di dekatnya. Sepanjang jalan kami ngobrol hal-hal kecil, saling tanya-jawab. Dia juga menunjukkan arah jalan ke rumahnya.
Sesampainya di depan rumah Elina, aku mematikan mesin. Aku terdiam sejenak. Rumahnya begitu megah, jauh dari bayanganku. Lagi-lagi rasa tidak percaya diri itu muncul. Elina turun dari motor, lalu tersenyum dan berterima kasih.
“Ini rumah kamu, Lin?” tanyaku pelan.
“Iya, ini rumah aku, Kak,” jawabnya.
“Kak, makasih ya udah nganter aku pulang,” ucapnya tulus sambil tersenyum. Aku pun balas tersenyum.
“Iya, sama-sama, Lin!”
Sebelum dia masuk rumah, aku memberanikan diri. “Lin, aku boleh minta nomor HP kamu nggak?” tanyaku malu-malu.
Tanpa ragu, dia tersenyum dan mengangguk. Disebutkannya nomor HP-nya, lalu aku simpan di kontak HP ku dengan nama ‘Elina
“Makasih ya Lin. Ya udah, kalau gitu aku pamit pulang dulu ya,” pamitku.
“Iya, Kak. Aku juga makasih udah dianter pulang. Hati-hati ya di jalan,” balasnya. Aku tersenyum, lalu tancap gas pulang dengan hati berbunga-bunga.
*Sesampainya di rumah...*
Malam tiba. Aku duduk di teras, HP di tangan. Jempolku gatal mau kirim chat ke Elina, tapi bingung mau nulis apa. Akhirnya kuketik sederhana: “Lagi apa?”
Sementara itu, Elina sedang rebahan di kamarnya sambil main laptop. HP-nya berdering. Ia Melihat notifikasi dariku, dia tersenyum. Dibalasnya chatku. Kami pun saling balas pesan. Aku dan dia senyum-senyum sendiri, kasmaran. Entah kenapa, aku yakin Elina juga menyukaiku. Seperti aku menyukainya.
Hari-hariku jadi lebih berwarna sejak mengenal Elina. Aku jadi semangat sekolah karena ada seseorang yang kusukai.
*haru libur...*
Aku dan Dony mancing di danau tak jauh dari kampung. Kami duduk berdua, menatap pelampung pancingan. Dony fokus, sementara aku... senyum-senyum sendiri membayangkan wajah cantik Elina.
“Loe kenapa cengar-cengir sendiri?” Dony melirik heran.
“Nggak papa!” jawabku masih senyum-senyum.
“Ngeri gue liatnya. Cepet sembuh loe ya,” ledek Dony.
“Lah, emang gue sakit?” aku protes.
“Haduh, anak muda jatuh cinta. Jangan kelewatan loe, entar jadi tolol,” kata Dony tanpa mengalihkan pandangan dari pancingan.
“Kok tolol?” aku tak terima.
“Ya bagi gue, orang tolol itu orang yang lagi jatuh cinta,” jawabnya santai.
“Berarti maksud loe gue tolol gitu?” aku mulai kesal.
“Pikir aja sendiri...! Entar juga loe ngerasa tolol sendiri!” Dony nyengir.
“Ya kalau menurut gue sih tergantung orangnya,” belaku.
“Serah loe dah,” Dony mengangkat bahu.
Tak lama, pelampung Dony bergerak. Dengan cepat dia menarik pancingnya, girang bukan main.
“Huh, mantap! Emaknya ini gue rasa!” teriak Dony.
Tapi sesampainya di permukaan, bukan ikan yang didapat. Melainkan teko besi kecil yang berlumut.
“Apaan nih, Sat?” Dony heran sambil memungut teko itu. Aku ikut mendekat, penasaran.
“Wah, teko ajaib tuh, Don. Coba dah loe gosok, entar keluar jin,” candaku.
“Jin yang suka ngibulin permintaan itu?” Dony menanggapi serius.
“Ngabulin, bukan ngibulin!” aku ngakak.
“Iya, maksud gue itu. Coba gue gosok ya,” Dony manggut-manggut.
“Bentar-bentar, kita pikirin dulu Don, apa keinginan kita,” cegahku.
“Iya juga ya. Ya udah, bentar gue mikir dulu pengen apa!” Dony mengernyit serius.
Kami pun berpikir. Hening sejenak.
“Gue pengen jadi Ketua KPK! Gue pengen berantas korupsi di negara ini! Gue udah muak sama para koruptor. Gue pengen basmi mereka sampai ke akar-akarnya!” seru Dony penuh semangat.
“Hah, percuma nggak bakal bisa. Apalagi ke akar-akarnya. Yang jadi pagar aja banyak yang makan tanaman. Udah lah, nggak cocok loe jadi Ketua KPK. Jadi hansip aja loe mah,” ledekku.
“Jadi hansip?!, Yang kerenan dikit napa. Kalau loe pengen apaan?” Dony balik tanya.
Aku tersenyum malu. “Gue pengen... Elina jadi milik gue. Jadi pacar gue. Gimana menurut loe, cocok nggak gue sama dia, Don?”
“Haduh, bucin. Serah loe dah! Ya udah nih, gue gosok ya sekarang!” Dony mulai menggosok teko itu.
Satu kali, dua kali, tiga kali. Nihil. Tidak terjadi apa-apa. Dony coba lagi, tetap tidak ada jin yang keluar. Dengan penasaran dia ketuk teko itu sambil mengucap salam. Masih nihil. Dia intip lubangnya—gelap. Kesal, dia totok-totokan teko itu ke tanah, berharap jinnya keluar.
Tetap tidak ada hasil. Akhirnya, dengan muka bete kesal, Dony berdiri dan melempar teko itu kembali ke danau sekuat tenaga. _Byurrr!_
Aku ngakak terbahak-bahak melihat tingkahnya.