NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:616
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian Dramatis

Malam di Aruba tak lagi menjadi surga tropis yang membuai; ia telah berubah menjadi labirin maut yang menyesakkan. Angin kencang dari arah laut Karibia membawa aroma garam dan bahaya yang pekat, mencambuk rambut Helen Kusuma yang kusut saat ia berlari mengikuti langkah lebar Ario Diangga. Di belakang mereka, lampu-lampu sorot dari mobil jeep milik anak buah Andre membelah kegelapan seperti mata pemangsa yang lapar.

"Jangan menoleh, Helen! Teruslah berlari!" perintah Ario, suaranya parau namun penuh otoritas.

Tangan Ario mencengkeram jemari Helen dengan kekuatan yang menyakitkan, namun bagi Helen, cengkeraman itu adalah satu-satunya jangkar yang membuatnya tidak terjatuh ke dalam jurang keputusasaan. Napasnya tersengal, dadanya terasa panas seolah terbakar, dan kakinya yang tanpa alas telah lama kehilangan rasa sakit meski darah merembes dari luka akibat kerikil tajam.

Mereka harus mencapai teluk tersembunyi di sisi timur pulau—tempat di mana seorang nelayan lokal yang berhutang budi pada jaringan intelijen Ario telah menunggu dengan sebuah perahu motor tua. Hanya itu jalan satu-satunya menuju Venezuela, pintu gerbang untuk keluar dari jaring-jaring kekuasaan Beatrix van Amgard yang mulai menutup rapat pulau ini.

****

"Ario! Lihat!" teriak Helen sambil menunjuk ke arah jalan setapak di atas tebing.

Dua unit jeep melaju kencang, mencoba memotong jalur mereka. Suara deru mesinnya beradu dengan deburan ombak yang menghantam karang, menciptakan simfoni kematian yang mengerikan. Dari dalam salah satu mobil, sesosok pria berdiri di kursi penumpang. Cahaya bulan yang redup sempat memperlihatkan wajahnya—Andre Willson. Tidak ada lagi jejak ketampanan arsitek yang ramah di sana; yang ada hanyalah seringai kejam seorang pemburu yang kehilangan buruannya.

"Kau tidak bisa lari, Helen!" suara Andre bergema melalui pengeras suara, terdengar distorsi dan dingin. "Berhenti sekarang, atau aku akan memastikan suamimu berakhir di dasar laut malam ini!"

Helen tersedu, air matanya menyatu dengan keringat dan debu. "Ario, mereka akan membunuhmu... ini salahku, harusnya aku tidak pernah percaya padanya..."

Ario berhenti sejenak, menarik Helen ke balik sebuah formasi batuan kapur yang besar. Ia menangkup wajah Helen dengan kedua tangannya yang kaku. Darah dari luka di dahi Ario menetes ke pipi Helen, sebuah tanda pengorbanan yang membuat hati Helen kian hancur.

"Dengarkan aku, Helen," bisik Ario, matanya menatap tajam ke dalam manik mata istrinya. "Ini bukan salahmu. Ini perangku, dan kau adalah alasan kenapa aku harus memenangkannya. Kita akan sampai di perahu itu. Apapun yang terjadi, jangan lepaskan tanganku. Mengerti?"

Helen mengangguk lemah, meski sekujur tubuhnya gemetar hebat. Ia melihat Ario mengeluarkan sebuah pistol glock dari balik pinggangnya, memeriksa magasin dengan gerakan mekanis yang dingin.

****

Saat mereka keluar dari balik batu untuk menuruni lereng menuju dermaga kayu tua yang sudah reyot, Andre memberikan aba-aba.

Dor!

Suara tembakan itu memecah kesunyian malam, diikuti oleh suara peluru yang menghantam tanah hanya beberapa senti dari kaki Helen.

"Aaaaaaaaakh!" Helen menjerit histeris, sebuah teriakan yang lahir dari trauma mendalam dan teror yang tak terbendung. Ia jatuh tersungkur di atas pasir, menutup telinganya dengan telapak tangan, tubuhnya meringkuk seperti anak kecil yang ketakutan.

"Helen! Bangun!" Ario menarik bahu Helen, mencoba melindunginya dengan tubuhnya sendiri.

Dor! Dor!

Andre melepaskan dua tembakan lagi. Kali ini peluru menghantam batang pohon Divi-divi di samping mereka, menciptakan serpihan kayu yang beterbangan. Andre tidak bermaksud membunuh Helen—dia butuh Helen hidup-hidup untuk Beatrix—namun dia tidak ragu untuk melukai Ario atau menciptakan ketakutan yang melumpuhkan.

"Berdiri, Helen! Sedikit lagi! Perahu itu ada di sana!" Ario berteriak sambil membalas tembakan ke arah mobil jeep untuk memaksa mereka berlindung.

Helen masih terisak hebat, napasnya pendek-pendek dalam serangan panik. Pikirannya melayang pada kematian ayahnya, pada api yang menghanguskan sejarah keluarga Ario dan kini... peluru yang mengincar satu-satunya orang yang masih berdiri di sampingnya.

"Aku tidak bisa, Ario... aku tidak bisa..."

"Kau bisa!" Ario menyentak bahu Helen, memaksa wanita itu melihat luka-luka di wajahnya. "Jika kau tidak berdiri sekarang, papamu akan mati sia-sia. Perusahaanmu akan hilang selamanya. Dan aku... aku akan mati di sini bersamamu. Pilih, Helen! Bangun dan lawan, atau mati sebagai pecundang!"

Kata-kata kasar dan jujur itu seperti sengatan listrik bagi Helen. Di tengah isak tangisnya, sebuah amarah yang murni mulai bangkit. Amarah pada Beatrix, amarah pada pengkhianatan Andre, dan amarah pada kelemahannya sendiri.

Helen berdiri dengan kaki yang goyah. Ia mencengkeram baju Ario. "Ayo... bawa aku pergi dari sini."

****

Mereka berlari menuruni lereng berbatu menuju dermaga. Di sana, sebuah perahu motor tua dengan mesin yang sudah menyala tampak bergoyang-goyang di atas air yang ganas. Seorang pria lokal berteriak-teriak dalam bahasa Papiamento, memberi isyarat agar mereka cepat.

Andre dan anak buahnya melompat dari jeep dan mulai mengejar dengan kaki. Jarak mereka hanya tinggal lima puluh meter.

"Tangkap mereka! Jangan biarkan perahu itu lepas!" perintah Andre. Ia mengarahkan senjatanya ke arah mesin perahu.

Ario berbalik, berdiri di pangkal dermaga kayu yang mulai rapuh. Ia mendorong Helen menuju perahu. "Naik, Helen! Cepat!"

"Ario, ikutlah!"

Ario tidak menjawab. Ia berlutut, melepaskan rentetan tembakan presisi ke arah kaki anak buah Andre, membuat mereka kocar-kacir mencari perlindungan di balik batuan. Andre merunduk, mengumpat dalam bahasa Belanda yang kasar.

Helen merangkak naik ke atas perahu yang bergoyang hebat. Nelayan itu segera menarik tangan Helen masuk.

"Ario! Ayo!" Helen berteriak, tangannya terjulur ke arah dermaga.

Ario melepaskan tembakan terakhir hingga pelurunya habis. Ia membuang pistolnya yang sudah kosong dan berlari kencang di atas kayu dermaga yang berderit. Tepat saat ia melompat, Andre berdiri dan membidik bahu Ario.

Dor!

"TIDAAAAAK!" jerit Helen saat melihat tubuh Ario tersentak di udara.

Ario mendarat di lantai kayu perahu dengan bunyi berdebam yang keras. Perahu itu segera melesat membelah ombak, mesinnya meraung keras meninggalkan dermaga.

"Ario! Ario, bicara padaku!" Helen merangkak mendekati Ario yang mengerang kesakitan.

Tangannya gemetar saat menyentuh bahu kiri Ario yang kini basah oleh darah hangat. Cairan merah itu mengalir di sela-sela jari Helen, membuat seluruh tubuhnya menggigil.

"Hanya... luka gores," desis Ario sambil meringis, mencoba menenangkan istrinya meskipun wajahnya sepucat kertas. "Kita... kita berhasil, Helen."

****

Helen menoleh ke belakang. Di dermaga yang kian menjauh, ia melihat sosok Andre Willson berdiri mematung. Cahaya lampu dari perahu memperlihatkan wajah Andre yang penuh amarah dan kegagalan. Pria itu menembakkan sisa pelurunya ke arah laut secara buta, namun perahu mereka sudah terlalu jauh untuk dijangkau.

Aruba kian mengecil, menjadi titik cahaya di cakrawala yang gelap.

Di dalam perahu yang sempit dan berbau solar, Helen mendekap kepala Ario di pangkuannya. Ia menggunakan sela gaunnya yang robek untuk membebat luka di bahu Ario. Tidak ada kata-kata manis, tidak ada janji-janji romantis. Hanya ada suara mesin perahu dan isak tangis Helen yang mulai mereda, digantikan oleh keteguhan yang membeku.

"Kenapa kau melakukannya?" tanya Helen lirih, sambil mengusap dahi Ario yang berkeringat dingin. "Kau bisa saja menyerahkanku dan menyelamatkan dirimu sendiri. Kau membenci ayahku, kau membenci namaku."

Ario membuka matanya sedikit, menatap wajah Helen yang diterangi cahaya bulan. "Karena saat aku melihatmu menggigit tangan Andre dan melawan... aku sadar kau bukan sekadar putri Aditya Kusuma. Kau adalah Helen. Dan Helen-ku tidak boleh hancur di tangan wanita seperti Beatrix."

Helen tertegun. Kata "Helen-ku" bergema di dadanya, meruntuhkan sisa-sisa keraguan yang ia miliki terhadap suaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!