Kekacauan dan penderitaan kembali datang, seperti penyakit yang telah mengakar hingga tumbuh semakin ganas. Sepuluh tahun sudah berlalu sejak hari itu, hari di mana haru bahagia dikumandangkan di seluruh penjuru, saat akhirnya Ratu Iblis dan Naga Es berhasil dikalahkan di tangan Xin Fai.
Ibarat api kecil yang membesar dan melahap apapun yang berada di sekitarnya, musuh lama pun mulai menampakkan jati dirinya kembali, mengguncang dunia persilatan setelah beberapa tahun dan kembali dengan membawa bencana yang jauh lebih mengerikan.
Bahkan Rubah Petir pun tak yakin Xin Fai bisa mengalahkan musuh ini dan dibanding melihat Xin Zhan yang merupakan anak tertua dengan kejeniusan tak terbandingi, dia justru menunjuk Xin Chen yang sama sekali takmemiliki bakat dalam bertarung.
Xin Chen yang sering disebut 'anak gagal' berlari melawan takdirnya, menantang langit dan mengukir namanya sendiri dalam benak orang-orang.
Meski sering kalah dari Xin Zhan namun dia tetap bersikukuh menjadi Pedang Iblis kedua. Untuk menjamin perdamaian dengan nyawanya sendiri, walaupun kebanyakan orang yang ingin dia lindungi adalah mereka yang melihatnya sebelah mata.
"Tidak ada kekalahan dalam diriku, aku hanya jatuh untuk menang. Karena pemenang sebenarnya adalah seorang pecundang yang bangkit dan mencoba sekali lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 30 - Mantra Penghancur
Sedikit khawatir waktunya tak sempat lagi Xin Chen mempercepat langkah, dia tiba-tiba membelokkan arah memasuki sebuah gang sempit.
Lima pria itu terpaksa harus menghentikan lari, saling mencari di dalam gang sempit tersebut dan tak dapat menemukan siapapun di sana kecuali hanya sebuah jalan buntu.
"Anak itu... Ke mana perginya? Apa aku salah melihat?" gumam salah satu dari mereka dengan wajah bingung, dia menendang tong sampah terbuang di sana tetap tak menemukan siapapun.
"Jadi kau pikir kita semua salah melihat?"
Mereka kebingungan, sedangkan di ruangan yang bersebelahan dengan gang tersebut Xin Chen telah berhasil masuk ke sana. Tertawa cekikikan sambil membunyikan suara-suara hantu.
Kelima orang tersebut terdiam cukup lama saat mendengar suara aneh di seberang, memilih tak mengurusnya lagi mereka segera kembali ke tempat berjaga.
Xin Chen menarik napas lega saat melihat Shen Xuemei telah berdiri di tempat yang mereka janjikan sebelumnya. Pria itu menyambutnya dengan senang hati.
"Kau ini membuatku khawatir saja." Hanya itu yang keluar dari mulut Shen Xuemei, dia khawatir Xin Chen malah tertangkap oleh lima orang tersebut. Dia saja harus terdesak beberapa kali saat berhadapan dengan lima pendekar agung sekaligus.
"Yang penting kita berdua selamat, Paman, boleh aku meminta tolong sesuatu padamu?"
"Tentu saja aku akan membantumu. Kau sudah membantuku tadi."
Xin Chen tersenyum kecil, "Kau bisa menetralkan racun sekaligus kutukan tidak?"
"Kutukan?" ulang Shen Xuemei.
"Iya, aku butuh penawar racun Kobra Api, Zhan Gege terkena racun itu karena menyelamatkanku."
Shen Xuemei berusaha memahami situasi yang terbilang gawat ini, dia menyuruh Xin Chen untuk berbincang di kedai teh sebentar sambil berpikir-pikir jalan yang tepat untuk permasalahan ini.
"Kau bilang besok adalah hari terakhirnya, bukan?" Shen Xuemei angkat bicara setelah sepuluh menit terdiam.
"Ya, begitulah. Apa kau sudah memiliki solusinya?"
Bahu Shen Xuemei menurun, Xin Chen menebak pria itu bahkan tak mampu mengatakan apapun untuk sekedar membuatnya lega.
"Untuk racunnya mungkin aku bisa membantu, tapi kutukan itu... Butuh alat khusus untuk menghancurkannya."
Xin Chen menyatukan kedua tangan di atas meja, kepalanya tertunduk di atas tangannya itu. "Tolong katakan jika kau memiliki solusinya, walaupun tidak mungkin, aku akan berusaha sebisa mungkin. Nyawa kakakku terancam di sana.."
"Apa Ayahmu tidak mencari penawarnya?"
"Ayah pasti mencarinya, bahkan membuat penawar sendiri untuk Zhan Gege. Tapi racun dan kutukan ini tidak bisa dihilangkan semudah itu."
Shen Xuemei memasang wajah sedihnya, menepuk pundak Xin Chen. "Kalau begitu kau harus mendapatkan Mantra Penghancur, tapi setahuku, mantra itu hanya ada di Kekaisaran Qing."
Xin Chen mengangkat kepalanya begitu cepat, membuat Shen Xuemei kebingungan.
Di sisi lain Xin Chen merasa pernah melihat benda bertuliskan Mantra Penghancur ini, matanya terbuka lebar sepersekian detik.
Dia mengeluarkan satu dari sembilan barang pusaka yang dia dapatkan sebelumnya.
"Mantra Penghancur yang ini?" tanyanya bersemangat.
Shen Xuemei menarik senyum tipis. "Ayo bergerak."
**
Perjalanan kembali menuju rumah nyatanya menjadi lebih cepat dari dugaan, bahkan hingga malam menjelang mereka tak berhenti berlari agar segera sampai ke rumah untuk mengobati Xin Zhan.
Selama tujuh hari belakangan Xin Chen dapat merasakan perkembangan dalam dirinya sendiri, dia lebih mudah tangkap saat mengambil situasi, kecepatan berlari pun meningkat pesat kalau dirinya berada dalam keadaan yang mengharuskannya bergerak cepat.
Untuk menambah staminanya agar bisa mencapai rumah Xin Chen terkadang mengonsumsi beberapa pil yang berguna untuk menambah lingkaran tenaga dalamnya. Xin Chen baru sadar, dari semua harta-harta yang berhasil diambilnya, pil sejenis itu hanya ada dua buah.
Sedangkan langkahnya sendiri mulai melambat, Shen Xuemei berulang kali menawarkan untuk menggendongnya tapi Xin Chen menolak. Selain karena tak ingin merepotkan, Xin Chen juga malu digendong seperti anak kecil. Padahal memang di umurnya yang sekarang dia masih tergolong muda.
"Sepertinya kau kelelahan, kalau begitu kita istirahat dulu." Shen Xuemei menangkap jelas dari matanya kalau Xin Chen memang harus beristirahat, kalau tidak dia akan pingsan sebentar lagi.
"Tapi Paman... Aku tidak mau karena salahku lagi Zhan Gege akan celaka." Xin Chen menopang kedua tangannya di kaki, mengelap keringatnya yang mulai menetes.
"Kau yakin masih bisa berjalan?" Shen Xuemei memastikan sekali lagi, tak lama terdengar dia menarik napas berat.
"Ambillah." Pria itu mengeluarkan sebuah pil penambah kekuatan, karena tahu pil apa yang sedang disodorkan padanya Xin Chen menolak.
"Aku tidak bisa mengambilnya, Paman. Harga pil itu sangat mahal."
"Tidak usah khawatir, lagipula kau sangat membutuhkannya saat ini," sanggah Shen Xuemei menyodorkan tangannya sekali lagi. Menunggu Xin Chen menyambutnya.
Xin Chen terdiam beberapa lama, dia menggeleng tak mau. Anak itu justru mengeluarkan sebuah pil lainnya dari cincin ruang. Karena pengetahuannya yang masih sedikit, Xin Chen tak mengenali beberapa pil yang dia bawa. Salah satunya pil yang berada di tangannya ini.
Karena mencium aroma tanaman herbal dari pil berwarna kuning itu, Xin Chen segera memasukkannya ke mulut. Hal itu membuat dahi Shen Xuemei berlipat-lipat.
"Pil apa yang baru saja kau makan?"
Xin Chen memiringkan kepalanya bingung, berpikir-pikir agak lama. "Kupikir pil ini memiliki khasiat untuk memulihkan tenagaku."
Shen Xuemei mendekatkan wajahnya, mencium aroma pil yang sangat kuat dari pil tersebut. Dia menyadari pil yang dimakan Xin Chen sangat istimewa. Aura tubuh Xin Chen seketika berbeda, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Xin Chen menyadari tulang-tulangnya mulai terasa aneh, bahkan organ dalamnya menimbulkan reaksi yang sama. Sulit untuk dijelaskan. Anak itu berjongkok sehingga Shen Xuemei pun turut khawatir akan kondisinya.
"Kau kenapa?"
"Tubuhku... Argghh!" Xin Chen memuntahkan darah segar, dia meringis kesakitan tak mengerti di bagian mana tubuhnya terluka. Tapi semua terasa terbakar, seperti dikoyak-koyak dari dalam, serta oksigen yang dapat masuk ke dalam paru-parunya mulai sedikit demi sedikit berkurang.
Xin Chen hampir saja pingsan jika Shen Xuemei tak membantu dengan ilmu penyembuhannya, pria itu membaringkan tubuh Xin Chen untuk mengobati, meneliti apa yang salah dari pil tadi.
"Chen, darimana kau mendapatkan pil itu?"
Xin Chen menggeleng pelan, "Dari Asosiasi Pagoda Perak dan toko di Lembah Para Dewa... Kupikir tidak ada racun di dalamnya."
Shen Xuemei terdiam, sedikit mengoreksi perkataan Xin Chen. "Ini bukan racun, ini memang pil herbal tapi ada yang istimewa dari pil ini. Apa kau merasakan ada yang berbeda di tubuhmu?"
Xin Chen mengedipkan matanya, merasa efek dari pil tadi mulai menghilang perlahan. Dia mendudukkan tubuh. Menarik napas dalam-dalam. Seketika matanya terbuka lebar.
"Apa yang terjadi?"
novel kho ping ho
pertahankan terus author...mudah mudahan kesini bikin novel pendekar dengan karakter nusantara
karena ceritanya jadi bertele tele...bikin pusing readers.
emang kasur ada kolongnya, harusnya di bawah kolong ranjang...Thor.