NovelToon NovelToon
CEO Itu Ayahku

CEO Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: T Moel

Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuh bulanan

Tidak terasa waktu sangat cepat berlalu, kini kandungan Rania sudah tujuh bulan. Perutnya sudah sangat besar karena selain kembar, bayi bayi yang ada dalam kandungan Rania sangat sehat dan aktif.

Hari ini bu Arini mengundang ibu ibu majelis taklim di sekitar rumahnya, serta tidak lupa anak anak yatim piatu untuk turut mendoakan Rania dan bayinya. Bu Arini juga mengundang seorang ustad yang biasa mengisi pengajian di mesjid tempat tinggal nya.

Rania juga mengundang semua karyawan toko rotinya yang mempunyai tiga gerai di beberapa sudut kita Pontianak. Selain makanan yang fi pesan dari catering, Rania dan menyajikan roti dan kue dari toko nya yang ada beberapa variant rasa. Banyak yang memuji rasa kue dan Roti dengan tanggapan positif.

Acara yang sangat meriah, lantunan do'a serta sholawat nabi menggema di dalam rumah Rania, semua orang tampak bahagia, terlebih dengan Rania yang adanya bersyukur dapat melaksanakan acara tujuh bulanan, walaupun ada beberapa orang yang bernada sumbang dengan acara yang di lakukan Rania namun tidak sedikit yang mendukung serta mendo'akan Rania dan bayi kembar yang ada dalam kandungannya.

Ba'da Ashar acara sudah selesai, para tetangga dan tamu undangan serta anak yatim semuanya sudah pulang, selain hanya tinggal ibu Arini dan Rania yang ada di rumah, dan ada beberapa tukang yang sedang membongkar tenda.

Rania merasakan sakit di pinggang nya mungkin karena acara tadi banyak menguras tenaganya. Sambil bershalawat Rania duduk di tempat tidur. Pikiran nya sudah sedikit tenang dan tubuhnya mulai relaks.

Suara ketukan di pintu menghentikan shalawat, bu Arini masuk ke dalam kamar membawa nampan berisi makanan dan minuman serta buah potong untuk Rania.

"Ran, makan dulu Tadi ibu perhatikan kamu tidak begitu banyak makannya. Kasihan bayi nya nanti lapar kalau kamu kurang makan. '

Bu Arini melettakan nampan fi atas nakas kemudian duduk di pinggir tempat tidur sambil memijit kaki Rania yang terlihat agak bengkayang mungkin karena pengaruh dari kandung dan aktivitas serta makanan juga.

" Kaki kamu bengkak Ran, ibu pijat ya, buar kamu enak juga. "

"Iya bu terima kasih. " Rania memejamkan mata menikmati sentuhan tangan bu Arini yang memenangkan hatii dan perasaan nya.

"Setelah ini kamu makan dulu ya, buar nanti kamu tidur perut nya sudah penuh. "

Bu Arini mengambil makanan di atas nakas kemudian menyerahkan nya pada Rania lalu memakannya dengan perlahan.

Bu Arini hanya memperhatikan saja, dalam hatinya terdapat sangat sedih, kenapa harus anaknya yang seperti ini, seharusnya saat acara tujuh bulanan ada pendamping nya yaitu suaminya, namun Rania harus menghadapi semua cobaan ini sendirian.

"Ya Tuhan, beri aku umur panjang agar dapat menemani putriku untuk mengurus cucuku hingga dewasa nanti, serta berikan lah kebahagiaan dan takdir yang baik untuk putriku. " bu Arini dalam hati.

"Ibu kenapa, seperti nya akan menangis? "

'"Tidak apa apa, ibu hanya berdoa untuk kebahagiaan kamu dan kedua anakmu kelak kemudian hari. "

"Aamiin bu, terima kasih do'anya. " Rania dengan tersenyum.

"Makannya sudah habis? " Bu Arini melihat piring Rania sudah kosong.

'Iya bu sudah habis, lapar banget. " Rania terkekeh pelan.

"Sekarang minum susunya lalu istirahat, kamu terlihat sangat lelah sekali. "

"Baik bu. " Rania mengangguk kemudian mengambil susu ibu hamil di atas nakas lalu menghabiskan nya.

"Tidurlah, ibu akan keluar melihat yang bongkar tenda sudah selesai atau belum, kasihan belum di kasih minuman. "

Ibu Arini keluar kamar kemudian berjalan ke teras depan melihat beberapa orang yang masih berada di sana. Bu Arini menyuruh mereka untuk minum kopi dan beberapa camilan yang masih ada sisa acara tadi, Serta memberikan sejumlah uang juga makana dan hampers untuk di bawa pulang, Terlihat mereka sangat sumringah karena mereka sangat jarang sekali di berikan banyak makanan dan uang oleh orang yang menyewa jasa mereka.

Rania sudah terlelap dalam tidur nya yang nyaman, namun sangat jauh berbeda dengan Leon yang saat ini sedang pusing menghadapi kelakuan Stela yang meminta untuk segera di nikahi oleh Leon.

"Ayolah Leon, kita bertunangan sudah cukup lama,lalu kapan kamu akan melamar aku untuk menikah. Kedua orang tua ku sudah sering kali bertanya tentang hal ini. "

Stela dengan kesal meminta agar Leon menikahinya.

"Sudah aku katakan dari awal. kota bertunangan kalau aku tidak mencintai kamu, dan orang tua mu juga tahu dengan sikap ku ini, seharusnya meteka tidak mendesak aku terus. '

" Setelah sekian lama, apakah di hatimu tidak pernah ada sedikitpun cinta untuk ku.? "

"Tidak, karena aku tidak pernah merasakan ada getaran dalam Hatiku sedikit pun. "

"Tidak pernah ada, atau jangan jangan kamu belok karena kamu sering berinteraksi dengan Ryan dan juga relasi kamu yang kebanyakan adalah lelaki? " Stela merasa curiga.

"Aku tidak belok, aku masih normal, hanya saja aku suda mencintai seseorang. " Jawab Leon sambil pikiran nya melayang ke wajah saat itu sedang tidak sadarkan diri.

"What, tidak mungkin tidak. mungkin, karena aku selama ini tidak pernah melihat kamu bergandengan dengan wanita lain selain tante Erlina. "

"Terserah saja, kamu mau percaya atau tidak, dan aku tetap tidak akan menikahi kamu, kalau perlu kita batalkan saja pertunangan ini, karena aku merasa pertunangan ini tidak sehat, karena semua kedua orang tua kita yang mengaturnya"

"Aku akan bicara dengan papah apapun yang terjadi kamu harus menikahi aku. "

Stela bangkit dari duduknya dan berjalan keluat dari ruangan Leon sambil membanting pintu hingga membuat Lidya yang sedang duduk di kursinya saja sampai terkejut serta mengusap dadanya.

'Kenapa mak lampir itu membanting pintu, apa karena tuan Leon tidak memberikan uang? ' Lidya berbicara sendiri hingga tidak menyadari kalau Ryan sudah berdiri di belakang nya.

"Siapa yang tidak di beri uang? "

Ryan bertanya dengan sedikit berbisik membuat Lidya kembali terkejut karena suasana kantor yang sepi tiba tiba saja ada suara.

"Ya Tuhan, pak Ryan sejak kapan berdiri di situ, bikin kaget aja? "

"Sejak kamu bilang mak lampir. "

"Oh itu anu, eee tapi pak Ryan jangan bilang bilang ya. "

"Bilang bilang apa dan pada siapa? "

"Jangan bilang bilang dengan tuan Leon. "

"Siapa yang jangan bilang bilang dengan saya? " Tiba tiba saja Leon sudah berdiri tidak jauh dari meja Lidya.

'Aduh kenapa tuan Leon tiba tiba ada di sini. "

"Iya siapa? "

"Tadi Lidya bilang katany mak lampir mak lampir membanting pintu karena tidak di kasih uang. " Rya yang menjawab.

"Siapa mak lampir? " Leon kembali bertanya-tanya

"Anu tuan, jangan marah ya. " Lidya wajahnya memerah karena takut dengan Leon.

"Marah kenapa? "

"Anu saya bilang mak lampir itu nona Stela. "

"Oh dia, ya ga pa pa. "

Leon berkata seolah tidak ada beban, membuat Lidya bingung karena bisa besar nya tidak marah tunangannya di sebut mak lampir oleh dirinya.

Lidya hanya tersenyum kikuk saat Leon berjalan melewati dirinya di ikuti Ryan yang masih tersenyum mengejek Lidya.

Lidya hanya menatap kedua nya sampai mereka masuk kedalam lift, kemudain memegang tengkuk nya yang tiba tiba saja merasa tegang. Berharap Leon tidak memperpanjang masalah mak lampir dan berakhir dengan pemecatan dirinya.

Sedangkan di dalam lift, Leon dan Ryan masing masing terdiam dan hanya sesekali menghela nafas.

"Maaf tuan apakah tuan akan langsung ke tempat acaranya? "

"Iya, langsung saja, mungkin semuanya sudah menunggu, agar mereka semua secepatnya mendo'akan keselamatan bayiku yang sekarang entah mereka berada di mana." Leon tampak sangat putus asa dengan semua yang sudah terjadi.

'Kita hanya bisa berdoa saja semoga dimana bayi anda dan ibunya dalam keadaan sehat dan tidak ada sesy apapun juga."

"Semoga." Leon berkata nyaris tak terdengar.

Pintu lift terbuka, ada beberapa karyawan yang sedang berlalu lalang di lobi tampak mengangguk dan dibalas dengan anggukan kecil oleh Leon tampa ada senyum sedikitpun.

"Untung ganteng dan bos kita, coba kalau keduanya ga ada sudah pasti aku tendang. " ucap seorang karyawan wanita.

"Iya aku juga. " jawab yang lain.

Beberapa karyawan lainnya juga ada yang berkomentar, ada yang kagum, ada yang ingin memiliki dan ada juga tidak simpati dengan Leon yang terlalu dingin.

"Apa kalian sudah bosan kerja di sini!!. "

Lidya sudah berdiri berkas pinggang di belakang para karyawan yang sedang bergosip tentang bos mereka, para karyawan hanya terdiam setelah mengetahui orang ketiga dalam perusahaan.

"Tidak bu kami masih betah kerja di sini. "

Beberapa karyawan menjawab dengan rasa takut akan di pecat karena ketahuan sedang bergosip tentang bos mereka.

"Sekay bubar semua sebelum aku berubah pikiran dan melaporkan kalian semua pada tuan Leon. "

Karyawan yang tadi sedang berkumpul akhirnya membubarkan diri, dari pada mereka di pecat lebih baik menyelamatkan diri, ada yang ke kantin ada yang masuk ke ruangan dan ada juga yang masuk ke dalam toilet.

Sedangkan Lidya hanya menggelengkan kepala dan menggelengkan kepalanya sambil tertawa terkikik melihat tingkah para karyawan yang sedang ketakutan, sedangkan dirinya sendiri masih ketar ketir jika nanti bertemu lagi dengan tuan Leon.

"Begini rasanya membuat orang ketakutan. " Gumamnya setengah berbisik pada diri sendiri.

Leon saat ini sedang berada di sebuah panti asuhan yang berada di pinggiran kota, panti asuhan yang selalu di beri santunan setiap bulannya. Leon di dampingi Ryan menghadiri acara tujuh bulanan yang akan di tujukan untuk bayinya yang menurut perkiraan nya berusia tujuh bulan dalam kandungan wanita yang pernah di hancurkan nya.

Sampai sekarang Leon masih mengalami mual dan muntah serta ngidam yang membuat Ryan kebingungan, hanya saja tidak seberat awal awal ngidam.

"Assalamualaikum, tuan Leon dan tuan Ryan, selamat datang di panti asuhan kami. " Sapa bu Sundari selalu pimpinan panti.

"Wa'alaikumsalam, terima kasih atas sambutannya. "

"Anak anak semua, tian Leon sudah datang, sekarang kalian beri salam pada tuan Leon. "

"Baik bu......!!!! "

Jawab anak anak panti serempak, satu-satunya persatu anak panti menghampiri Leon, mereka mencium tangan Leon dengan takjim, setelah nya mereka duduk kembali di tempatnya masing masing mendengar kan kata sambutan dri Leon sebagai penyelenggara acara juga sebagai donatur tetap di panti

Acara juga mendatangkan seorang ustad yang akan memberikan tausyiah yang berkenaan dengan acara tujuh bulan. Selesai acara, Leon membagikan paket sekolah dan paket sembako juga amplop ke seluruh anak yatim yang ada di panti dan juga anak yatim yang tinggal di sekitar panti dan juga para lansia.

Hari itu semua orang terlihat bahagia karena mendapatkan amplop yang terlihat cukup tebak dan juga paket sembako yang isinya cukup banyak.

Selesai acara Leon tidak kembali ke kantor, namun dirinya dan Ryan pergi apartemen milik Leon.

"Tuan kita kembali ke kantor? "

"Tidak, lebih baik antarkan ke apartemen, setelah kamu bisa pulang, kalau masih ada pekerjaan selesai kan. "

"Baik tuan, saya ada sedikit pekerjaan yang masih harus di cek lagi. "

"Nanti kamu tidak usah menghubungi saya, malam ini ingin sendiri dulu, besok jemput lagi di apartemen. "

"Baik tuan. "

"Dan satu lagi, saya akan mematikan ponsel, kalau mamah dan papah tanya saya ke mana, bilang saja tidak tahu, Stela juga. "

Ryan mengangguk dan mengendarai mobilnya menuju apartemen milik Leon yang berada di kawasan elit yang berada di tengah kota.

Sampai di lobby, Leon turun dari mobil kemudian berjalan ke arah lift, Sampai di apartemen yang berada di lantai dua puluh, Leon masuk ke dalam kamar yang dulu pernah di pakai nya untuk menodai Rania.

Leon duduk di pinggir tempat tidur merabanya kemudian menangis sejadi-jadinya. Menyesali yang telah terjadi. Andai saja saat malam itu dirinya waspada mungkin malam naas oti tidak akan terjadi dan penyesalan yang saat ini terjadi mungkin akan ada kebahagiaan, namun nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi dan Leon hanya bisa menyesalinya.

"Anak anak papah yang hari ini tujuh bulan, maafkan papah, karena papah kalian ada di perut mamah. Semoga kalian baik baik saja dan sehat, peluk cium dari papah sayang. " Leon berbicara seolah olah ada anak anak ya di depannya.

Air matanya berlinang, tanpa mampu di cegah air mata iti luruh. Seorang Leonardo Aditama seorang CEO dingin di takuti lawan dan di segani para relasi nya,, tidak pernah takut melawan para yang tidak sesuai dengan keinginan nya dan tidak pernah menyesali semuanya, namun saat ini harus luruh dan menangis karena rasa bersalah dan penyesalan.

Mungkin karena lelah menangis, akhirnya Leon tertidur dengan pakaian yang masih lengkap, pakaian kerja yang tadi siang masih meleo dalam tubuh atletis nya.

Dalam tidurnya Leon bermimpi bertemu dengan dua anak kecil laki laki dan perempuan. Mereka bermain bersama, Leon merasakan kebahagiaan dalam mimpinya.

"Papah terima kasih do'anya, semoga papah bahagia selalu,. " ucapan anak perempuan yang dalam mimpinya sangat mirip sekali dengan Leon.

Sedangkan anak laki lakinya hanya tertawa saja melihat saudara perempuan nya berbicara.

Leon tiba tiba saja terbangun dari tidurnya, nafasnya terengah. "Anakku papah sayang kalian. "

1
tia
lanjut thor
tia
cepat satukan thor kembar sama papa nya
Nadia salma: ada lika liku dulu kak, biar ada gregetnya
total 1 replies
tia
tambah lagi Thor 🫢,,suka cerita ny
Nadia salma: siap kak...
total 1 replies
tia
update yg banyak lah thor
Nadia salma: akan saya usahakan kak, karena saya sambil kerja membagi waktu. Terima kasih sudah menyukai karya saya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!