Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1 terbangun di tubuh manusia
Di awal penciptaan, semesta diatur oleh dua poros primordial: Cahaya, sang pelindung kehidupan, dan Kegelapan, sang pemurni yang menghancurkan apa pun yang tak lagi layak tegak. sang Raja Naga, adalah manifestasi tertinggi dari kehendak Kegelapan. Ia adalah badai, kehancuran, dan akhir dari segala sesuatu.
Namun, memori terakhirnya hanyalah ledakan sunyi yang menelan segalanya. Saat kesadarannya kembali, hal pertama yang ia rasakan bukanlah dinginnya ruang hampa atau kerasnya sisik naga, melainkan rasa sakit yang berdenyut di balik tempurung kepala. Pandangannya kabur, dikelilingi oleh kegelapan yang bukan miliknya.
"Dimana aku?" gumamnya. Suaranya tidak lagi menggetarkan bumi; suaranya kini terdengar cempreng dan rapuh.
Voltra mencoba bangkit, namun tangannya menyentuh permukaan kayu yang kasar. Ia tersentak saat melihat jemarinya—sepuluh ruas daging kecil tanpa cakar, tanpa sisik obsidian, tanpa kekuatan penghancur.
"Tunggu? Tubuh siapa ini?!" pekik voltra panik. Ia meraba wajahnya, merasakan kulit yang halus dan rambut yang berantakan. "Kenapa juga aku menjadi sangat kecil... dan selemah ini?!" Lanjutnya benar-benar heran.
Setelah itu ingatan pemilik tubuh ini menghantam kepalanya. Voltra meringis merasakan ingatan demi ingatan asik membanjirnya otaknya, pertama nama bocah ini adalah voltra, kedua orang tuanya mati dalam insiden break gate, ketiga ia menjadi tulang punggung untuk membiayai hidup adik perempuannya.
Ingatan terakhir adalah voltra ikut terlibat dalam hunter ilegal, sepertinya ia frustasi dan ingin mendapatkan uang secara instant namun kelompoknya malah di serang oleh banyak monster hingga menyisakan dirinya sendiri yang sekarat.
"Baiklah tenangkan diri dulu. Hal terakhir ku ingat aku sedang terbang di lautan kematian dan semuanya menjadi gelap" gumam voltra berdiri. "Apa jiwaku secara tidak sengaja terlempar kesini, tubuh ini sulit sekali menggunakan mana" Lanjutnya melihat tangannya sendiri.
"Apa nama spesis menyedihkan yang ku tempati ini" Gumam voltra berpikir mencoba mengingat. "Ah iya, manusia itu namanya bukan" Lanjutnya bangkit dari posisi duduk.
"Aku sudah terlahir dengan kekuatan besar, tidak menyangka akan kembali sebagai sosok yang lemah" ucap voltra mengamati tubuhnya. "Memulai dari awal, kedengerannya tidak buruk juga" Lanjutnya melirik ke samping.
Sebuah anak panah melesat kearahnya, voltra berbalik dan mengigit anak panah yang mencoba membunuhnya. Ia meludahkan ke samping dengan kasar, melihat segerombolan goblin nampak tertawa.
"Goblin? Biasanya hanya makanan bayi naga yang mulai berburu" ucap voltra menatap tajam. "Beraninya bajingan seperti kalian, mencoba memburu raja naga yang Agung" Lanjutnya kesal sendiri.
Salah satu goblin melompat menebaskan pedang, tapi begitu cepat voltra mencekik lehernya, meremas kuat menghancurkan tenggorokan goblin kecil itu. Mayat ia lemparkan ke kedepan, memancing amarah goblin goblin lain.
"Hahahaha... Ku bunuh" ucap voltra melesat maju.
Cipratan darah pembantaian membasahi tanah. Voltra bergerak kesana kemari, mencabik goblin tanpa ampun bahkan tak membiarkan mereka untuk melarikan diri dari hadapan nya. Voltra menginjak wajah goblin hingga hancur, itu adalah goblin terakhir yang mencoba kabur darinya.
Roaaaaar.
Raungan dari bos goblin terdengar, ia lebih besar dan lebih kuat dibandingkan semua goblin dalam kelompoknya. Voltra mengambil sebuah batu kecil dibawah kakinya, memainkan batu itu di tangan kirinya.
"Berisik kau" ucap voltra melemparkan.
Batu yang ia lempar melesat cepat menghancurkannya wajah bos goblin hingga tercerai-berai. Voltra mengambil krystal mana yang berserakan setelah mengalahkan goblin, ia memasukkan ke dalam tas kecil yang ditemukan tak jauh dari posisinya.
"Dia punya seorang adik, apa dia kemari untuk benda ini" ujar voltra memasukkan krystal terakhir. "Kalau tidak salah ini namanya dungeon, setelah mengalahkan bos monster dungeon secara otomatis runtuh menciptakan gate baru" Lanjutnya mengingat
benar saja baru beberapa detik setelah bos goblin mati, percikan mana muncul diudara membentuk sebuah gerbang/gate berwarna biru cerah sebagai jalan keluar.
Voltra berjalan ke arah gate yang baru tercipta. Saat keluar ternyata ia sedang berada di hutan terpencil, melihat kesana kemari, sampai akhirnya menemukan sebuah kota tidak jauh, voltra melompat sangat tinggi ke arah kota itu hanya dalam sekali percobaan, ia mendarat sempurna di pinggir jalan.
"Hahahaha.... Tunduklah pada Raja naga yang Agung" Teriak voltra menarik perhatian orang-orang.
"Ibu kenapa dengan kakak itu?" Tanya seorang anak kecil.
"Mungkin ia sedang stress" Jawab sang ibu.
ilustrasi voltra
*************
Sel-sel penjara itu dingin, tapi tidak sedingin napas kematian yang biasa ditiupkan Voltra di kehidupan sebelumnya. Ia duduk bersila di atas lantai semen, menatap jeruji besi dengan pandangan menghina.
"Lepaskan aku, manusia fana! Beraninya kalian mengurung manifestasi Kegelapan di dalam kotak tikus ini!" teriak Voltra, suaranya yang cempreng bergema di koridor kantor polisi.
"Diamlah, Nak. Tidur saja, besok wali atau adikmu akan menjemput" sahut seorang petugas polisi dari balik meja, tanpa mendongak dari tumpukan berkas. "jangan membuat keributan ditengah malam begini" lanjutnya.
Voltra mendengus. Ia mencoba memanggil api hitamnya, namun yang keluar hanyalah percikan kecil yang bahkan tidak cukup untuk menyalakan lilin. Pagi harinya, pintu sel terbuka. Namun, bukannya rasa takut yang ia terima, Voltra justru disambut oleh sebuah tas kain yang mendarat tepat di wajahnya.
"Kakak bodoh! Apa yang kau pikirkan?!" Teriak seorang gadis muda.
Seorang gadis remaja dengan mata sembab berdiri di sana. Itu adalah Vanya, adik dari pemilik tubuh ini. Ingatan Voltra berdenyut; ini adalah satu-satunya orang yang paling dipedulikan oleh 'Voltra' yang asli.
"Kau menghilang dua hari, ikut rombongan Hunter ilegal, dan sekarang tertangkap polisi karena berteriak seperti orang gila di tengah jalan?"balas Vanya menarik telinga Voltra dengan keras.
"Aduh! Lepaskan! Kau menyentuh Raja Naga, gadis kecil!" rintih Voltra. Rasa sakitnya nyata. Bagaimana mungkin cubitan seorang manusia biasa bisa terasa sesakit ini?
"Raja Naga matamu! Ayo pulang!" Balas vanya kesal sendiri.
Sepanjang jalan menuju apartemen kumuh mereka, Voltra hanya terdiam sambil mengamati lingkungan sekitar. Dunia ini aneh. Gedung-gedung tinggi, kendaraan besi tanpa kuda, dan orang-orang yang terobsesi dengan "Level" dan "Rank".
Sesampainya di rumah, Voltra segera masuk ke kamar dan mengunci pintu. Ia harus memulihkan kekuatannya. Jika ia ingin kembali ke singgasananya, ia tidak bisa terus-menerus ditarik telinganya oleh seorang gadis remaja.
"Dasar aneh" ucap vanya heran. "Apa kepalanya terbentur saat hilang selama dua hari" Lanjutnya memikirkan.
"Aku bisa dengar itu gadis kecil" Balas voltra dari balik kamar.
"Berisik" Teriak vanya cemberut.