Rania adalah seorang janda muda dengan satu anak. Meski hidupnya tidak mudah, kecantikannya yang mempesona dan sifatnya yang lembut membuat banyak pria terpikat padanya.
Di tengah usahanya membesarkan anaknya sendirian, dua pria muda tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Arga, pria brondong yang ceria dan berani, selalu terang-terangan menggoda dan mendekati Rania. Sementara itu ada Damar, pria muda yang dingin, tampan, dan diam-diam selalu memperhatikan Rania dari jauh.
Dua pria.
Satu wanita.
Siapa yang akhirnya akan memenangkan hati janda cantik itu?
Di antara masa lalu yang belum sepenuhnya hilang, tanggung jawab sebagai seorang ibu, dan godaan cinta dari dua pria yang lebih muda…
Akankah Rania membuka kembali pintu hatinya?
Atau justru cinta baru itu akan mengubah hidupnya selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arga yang Terus Mendekat
Hari itu cuaca cerah. Sinar matahari menembus jendela rumah Rania dengan lembut. Suara burung di luar dan aroma kopi pagi membuat suasana hangat di dapur kecilnya.
Rania sedang menyiapkan sarapan untuk Rafa, sementara anaknya duduk di kursi tinggi sambil memainkan robot baru yang ia bawa ke sekolah kemarin.
“Bunda… nanti pulang sekolah Rafa mau main lagi sama robot baru ini, ya?” tanya Rafa sambil tersenyum polos.
Rania tersenyum tipis. “Tentu saja. Tapi jangan lupa belajar dulu, ya.”
Rafa mengangguk bersemangat dan mulai mengayunkan robot kecilnya di udara.
Rania menatap anaknya dengan lembut. Hatinya selalu hangat setiap kali melihat Rafa tersenyum. Anak ini adalah satu-satunya alasan Rania tetap tegar, meski hidup sebagai janda muda bukan hal yang mudah.
Namun, hidup Rania mulai berubah lagi.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.
“Bunda, siapa itu?” tanya Rafa penasaran.
Rania mengerutkan alis dan berjalan ke pintu. Ketika membuka, ia terkejut melihat Arga berdiri di depannya, wajahnya cerah tapi ada sedikit rasa gugup yang sulit disembunyikan.
“Halo, Mbak Rania,” sapa Arga dengan suara hangat. “Pagi-pagi begini aku cuma mau… ah… bantu Mbak. Jadi aku pikir aku datang saja.”
Rania menatapnya bingung. “Bantu apa?”
Arga menggaruk kepalanya, sedikit salah tingkah. “Eh… tadi aku lihat ban motor Mbak masih kempes. Jadi aku bawa pompa portabel. Kalau Mbak mau, bisa aku bantu sekalian…”
Rania menatap Arga sebentar, lalu tersenyum. “Ah… makasih, ya. Tapi aku bisa sendiri.”
Arga terlihat kecewa tapi cepat menutupinya dengan senyum. “Ya… kalau begitu. Tapi kalau butuh bantuan, jangan sungkan bilang aku, ya.”
Rania hanya mengangguk ringan. “Oke.”
Sebelum Arga pergi, ia menoleh sebentar. Pandangannya tertahan sejenak di mata Rania. Ada sesuatu di matanya—campuran kagum, penasaran, dan… mungkin sedikit rasa suka.
Rania hanya menatapnya sebentar, lalu menutup pintu pelan. Hatinya berdebar, tapi ia menepis perasaan itu. Arga terlalu muda, pikirnya.
Sementara itu, beberapa langkah di seberang jalan, Damar—pria muda yang selama ini diam memperhatikan Rania—menyaksikan kejadian itu dari mobil hitamnya.
Matanya tajam, menatap Arga yang baru saja pergi. Ada sedikit rasa cemburu yang muncul, tapi Damar menekannya rapat-rapat. Ia tidak akan mudah menunjukkan perasaan.
“Dia masih banyak hal yang harus kuketahui…” gumam Damar pelan. “Dan aku akan selalu ada… diam-diam.”
Hari-hari berikutnya, Arga mulai sering muncul di sekitar Rania. Kadang ia sekadar lewat gang, kadang sengaja membantu tetangga Rania, dan beberapa kali, Arga sengaja mampir ke rumah Rania dengan alasan sepele.
Rania merasa terganggu tapi juga… sedikit terhibur. Ia belum pernah memiliki teman seusia Arga yang sesering ini datang untuk sekadar mengobrol.
Suatu siang, ketika Rania sedang menjemur pakaian di halaman belakang, Arga muncul lagi.
“Halo, Mbak Rania!” sapa Arga ceria. “Aku bawa teh hangat. Katanya ini bisa bikin orang segar lagi kalau panas.”
Rania menoleh, sedikit tersenyum. “Ah… terima kasih. Tapi Mbak bisa sendiri kok.”
Arga menatap Rania sebentar. “Aku tahu. Tapi aku… suka melihat Mbak tersenyum. Jadi kalau bisa bantu, kenapa tidak?”
Rania tersentak. Kata-kata Arga terdengar jujur, tapi juga terlalu… manis. Hatinya sedikit bergetar, tapi ia cepat menepisnya.
“Arga… kita cuma tetangga, kan?” katanya pelan.
Arga tersenyum lebar. “Tetap tetangga, tapi tetangga baik, kan?”
Rania hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Arga memang… membuatnya bingung.
Beberapa hari kemudian, Arga muncul lagi, tapi kali ini membawa sesuatu yang berbeda. Sebuah kotak kecil berwarna merah.
“Ini… hadiah kecil. Buat Mbak Rania. Hanya karena aku… menghargai Mbak,” kata Arga sambil tersenyum malu.
Rania menatap kotak itu, bingung. Ia menolak sedikit, tapi Arga memegang tangannya sebentar. “Hanya terima saja, Mbak. Nanti kalau Mbak menolak, aku bakal sedih.”
Rania menghela napas. “Oke… tapi ini cuma sekali.”
Arga tertawa kecil. “Janji. Sekali saja. Tapi aku harap Mbak suka.”
Rania membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah gantungan kunci kecil berbentuk hati dengan ukiran nama “Rania”.
Rania menatap Arga. “Arga… ini terlalu manis.”
Arga mengangkat bahu. “Aku tahu. Tapi… aku tidak bisa menahan diri kalau melihat Mbak sedih atau capek. Aku ingin Mbak senang.”
Rania merasa hatinya hangat, tapi juga ragu. Ia mengingat Rafa, anaknya, dan kenyataan bahwa Arga jauh lebih muda darinya.
Namun satu hal yang jelas… Arga selalu muncul di saat ia butuh bantuan, selalu peduli, dan selalu membuatnya tersenyum tanpa alasan.
Di sisi lain, Damar diam-diam memperhatikan semuanya dari kejauhan. Ia tidak ingin Arga terlalu dekat dengan Rania. Tapi Damar masih memilih menunggu. Ia ingin Rania mengenalnya perlahan, tanpa tekanan.
“Dia memang… menarik,” gumam Damar pelan. “Tapi aku harus sabar. Aku akan membuat Mbak Rania memperhatikan aku… tanpa harus memaksa.”
Hari itu, ketika Rania menjemur baju, Rafa berlari menghampirinya dengan robot barunya.
“Bunda! Bunda! Arga bawa teh lagi buat kita!”
Rania menoleh dan tersenyum. Arga berdiri tak jauh, membawa dua gelas teh hangat, sambil melambai kecil.
Rania hanya menepuk kepala Rafa pelan. “Hati-hati ya, Nak. Jangan terlalu berisik.”
Arga tersenyum dan menaruh gelas di meja kecil. “Santai saja, Mbak. Aku cuma mau lihat kalian senang.”
Rania menatap Arga sebentar, lalu menatap Rafa. Hatinya sedikit hangat. Ia sadar, selama ini ia jarang memiliki seseorang yang tulus peduli padanya.
Namun hatinya tetap waspada. Ia tidak mau terlalu cepat membuka pintu hatinya.
Arga pergi setelah itu, tapi kali ini Rania merasa… sesuatu telah berubah. Hatinya sedikit berdebar, tapi ia menepisnya.
Damar, yang masih mengintai dari kejauhan, menatap adegan itu dengan mata tajam. Ia tahu, ini baru awal.
“Dua pria, satu hati,” gumamnya pelan. “Ini akan menjadi pertarungan yang… panjang.”
Dan benar saja, hidup Rania mulai semakin rumit.
Satu sisi, ada Arga yang terang-terangan mengejar dan selalu muncul di dekatnya.
Sisi lain, ada Damar yang tenang, misterius, tapi selalu ada di saat Rania tidak menyadarinya.
Rania menyadari satu hal.
Hidupnya sebagai janda cantik dengan satu anak, yang selama ini tenang… kini mulai berubah.
Dan ia tidak tahu… siapa yang akhirnya akan memenangkan hatinya.