Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.
Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
First Date Desya
Jum'at malam Vanya mendapatkan pesan baru dari dua orang yang mengganggunya akhir akhir ini.
"Van, gamau tau pokoknya lo besok harus temenin gue ketemuan sama Nana di taman belakang sekolahan lo." Pesan dari Desya lah yang pertama kali Vanya baca. Apa boleh buat Vanya hanya bisa mengirim sticker jempol untuk membalas nya.
"Van...mau ada yang gue tanya nih"
Sekarang giliran pesan dari Nana yang di baca Vanya. Kali ini Vanya tau apa yang ingin di tanya Nana, sudah pasti Nana akan tanya baju mana yang lebih cocok, atau hadiah apa yang harus dia kasih ke Desya.
"Mau nanya pake baju apa buat ketemuan sama desya apa mau nanya nanti bawain apa"
"Hehe tau aja, mau nanya dua dua nya Van"
Lagi lagi Vanya hanya bisa menghela nafas nya kasar. Jujur saja sedikit demi sedikit Vanya sudah mulai menerima semua nya.
"Baju nya biasa aja Na, kan biasanya juga lo rapih. Lo bawain aja dia coklat, Desya pasti seneng kok, dia orang nya ga neko-neko kok"
"Oke deh thanks Vanya"
Lagi lagi sticker jempol sebagai jawaban dari Vanya.
...☘️☘️☘️...
Sabtu pagi yang cerah, Vanya bagun dengan perasaan yang ceria karna hari ini orang tua Vanya akan pulang dari perjalanan dinas dan sudah dapat di pastikan Vanya akan dapat oleh oleh yang sangat banyak.
Vanya memilih untuk duduk di balkon kamar nya dan menikmati sejuk nya udara pagi, hari hari nya di sibukan dengan berbagai macam kegiatan, sabtu paginya yang terbiasa ia isi dengan mengisi soal soal kompetisi yang terkadang membuat pala nya hampir pecah itu membuat sabtu pagi ini berbeda dari sabtu sabtu sebelum nya.
Ternyata sedikit menikmati hidup itu penting, perasaan Vanya semakin tenang, kepala nya yang terbiasa di penuhi dengan berbagai macam pertanyaan dan soal soal sulit kini terasa lebih relax.
Entah dosa apa yang sudah Vanya perbuat sampai ketengan nya pun selalu di ganggu, seakan akan ia tak pantas untuk bersantai dan menikmati hidup.
"VANYAAAA YUHHUUU ZHEVANYA... Van bukain dong plisss"
"Hah lagi lagi manusia itu" Dengan langkah yang sangat gontai Vanya terpaksa turun dan membukakan pintu.
Siapa lagi kalau bukan si pengacau yang datang, pagi pagi begini sudah bertamu ke rumah orang apakah Desya sudah tidak waras. Tidak henti henti nya Vanya sumpah serapah walau hanya ia katakan di hati nya, Desya benar benar sudah merusak hari indah Vanya.
"Apalagi sihhh, ya ampun capek banget, ini masih pagi ya neng. Sarapan aja blom, ini malah udah kedatangan tamu tak di undang" Vanya berjalan mendahului Desya, mempersilahkan Desya untuk masuk.
"Hehe maaf Van, gue deg degan nih nanti mau ketemu Nana makanya gue kesini mau minta saran baju hehe"
"Ga ada saran buat lo"
Ya ini lah Vanya kalau sudah bersama Desya, ia akan berubah menjadi seorang yang sangat kejam, kata kata yang keluar dari mulut Vanya seperti sebuah pisau yang baru saja di asah, tapi yang membuat Vanya ke heranan bagaimana bisa Desya selalu menjawab kata kata sarkas nya dengan tawa dan terkadang sampai terbahak bahak. Sama seperti hari ini, Desya hanya tertawa dan langsung membuka lemari pakaian milik Vanya.
Vanya hanya bisa pasrah melihat lemari nya sudah di obrak-abrik.
"Van pinjem ini ya" Kata Desya sambil menunjukan senyum terbaik yang ia punya
Tak bisa menjawab lagi, Vanya hanya menganggukkan kepala nya.
...☘️☘️☘️...
Sore hari di taman yang ramai ini Vanya dan Desya duduk tenang menunggu kedatangan Nana.
Jangan tanya bagaimana keadaan Vanya, perasaan sedih yang harus ia tutup rapat rapat itu kini semakin terasa.
"Van, bosen ih Nana lama banget"
Tak henti henti nya Vanya mendengar keluhan itu.
"Sabar Des, telpon aja sih Nana nya suruh cepet dateng"
"Iya ini juga udah di telpon dari tadi tapi ga diangkat"
Hening tak ada lagi yang bersuara, mereka sibuk dengan telepon genggam masing masing. Vanya yang sibuk mengscroll tiktok itu mendapat kan pesan masuk dari Nana.
"Van sorry lo lagi sama Desya ya?"
Sontak membuat Vanya melirik ke arah Desya. Desya yang sedang memainkan ponsel nya dengan wajah masam itu tak henti henti nya menggerutu.
"Kenapa Na"
...☘️☘️☘️...
Pada saat yang bersamaan, Ibu Nana sakit yang membuat Nana harus mengantarkan Ibu nya ke rumah sakit. Walaupun ia tidak enak dengan Desya dan Vanya namun apa boleh buat ia tetap harus mengantar ibu nya karna hanya dia yang ada di rumah pada saat itu.
"Van sorry banget Van gue benar benar harus batalin janji, ibu gue sakit gue harus nganterin ibu ke dokter dulu"
Rasa bersalah Nana seolah menebus masuk ke relung hati Vanya, hanya dengan lewat tulisan nya Vanya bisa merasakan ke khawatiran dan rasa bersalah yang sedang Nana rasakan.
Vanya hanya bisa membalas pesan itu dengan kata kata penenang dan doa doa untuk kesembuhan ibu Nana.