Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI MENGUSIK MIKHAELA
"Sebaiknya saham milik Dion berikan saja pada Salfa, anak itu lebih berhak dari anak yang sedang tidur itu. Bisa jadi dia anak laki-laki lain yang tidur dengan wanita ini–"
"Plakkk!!"
"Awww..."
"Mikhaelaaa..."
"Kau pikir kamu siapa menilai ku seperti itu Nania!! Sebaik apa diri mu dari ku hah?!!".
"Siapa pun yang kalian suruh mengikuti ku, mengambil foto ini adalah legal. Aku bisa menuntut kalian. Terlebih kenyataannya tidak seperti ini. Karena aku di restoran itu bersama Ana dan anak ku juga, ada Luthfi asisten tuan Dante dan Eugene anaknya juga. Jadi kalian salah besar kalau menganggap ku berbuat yang tidak-tidak karena kami berada di area terbuka".
Mikhaela melangkah maju sambil meremas foto ditangannya mendekati Nania yang spontan melangkah mundur. Wanita itu memegangi wajahnya yang baru saja Mikha tampar. Sungguh Nania tidak menyangka wanita lembut seperti Mikha sanggup memukulnya seperti sekarang.
"Kalian tahu...Dion yang mengkhianati pernikahan kami dengan wanita tidak jelas itu bahkan memiliki anak kan?. Menurut kalian itu perbuatan terpuji?...Tapi kalian malah menuduhku berzina dan mengatakan Revan bukan anak Dion? Aku bersedia melakukan tes DNA kapanpun kalian inginkan. Tapi jika tuduhan kalian tidak benar, aku tidak segan-segan menjebloskan kalian ke penjara atas dasar pencemaran nama baik!!!", ketus Mikhaela bernada ancaman membuat Nania dan Warda terdiam tak bergeming.
"Kalian menginginkan saham Dion? Itu yang kalian MAU?... Heh, sampai kapan pun aku tidak akan menyerahkannya pada kalian. Silahkan habiskan tenaga menuntut ku, aku pastikan anak itu...cucu kesayangan mu itu tidak akan mendapatkan satu sen pun dari ku!!!", tegas Mikhaela.
"K-amu...Akhh".
"Mamaa..."
Warda memegangi dadanya seperti orang kesakitan. Melihat Warda begitu, Nania memegang wanita itu.
"Awas saja kalau terjadi apa-apa dengan mama, kau harus bertanggung jawab Mikhaela!!". Nania menghunuskan tatapan tajam matanya pada Mikhaela.
Mikha tersenyum sinis mendengar tudingan Nania yang selalu mengintimidasi itu. Ia Membiarkan Warda dan puteri tertuanya tersebut di kamarnya. "Aku tidak ada urusan dengan kalian berdua, apapun yang terjadi sekarang kesalahan kalian sendiri!!".
Mikha mengambil Revan dari dalam box bayi kemudian keluar kamar itu. Mikhaela tak perduli lagi, walaupun Warda mengerang kesakitan di dadanya.
"Dasar wanita sialan tidak tahu diri!".
Warda terduduk di sofa, tangan kanannya mencengkeram dada kiri dengan wajah pucat pasi. Nafasnya memburu dan tersengal. "Mikha... t-olong...!!" rintihnya lemah, menatap bagian belakang tubuh menantu yang sudah melangkah keluar bahkan tidak perduli lagi padanya. Hal yang berbeda ketika dulu ia mendampingi Dion. Mikha sangat perhatian dan tidak pernah membantah Warda. Bahkan ia selalu perhatian padanya.
Mikha berdiri mematung di ambang pintu kamar yang ada di lantai bawah. Tatapannya dingin, tidak ada kepanikan atau rasa iba yang biasa muncul di wajahnya seperti dulu.
“Dulu aku menghormati mereka karena selama ada mas Dion mereka tidak pernah mengusik hidup ku. Tapi sekarang mereka menunjukkan sifat sebenarnya. Yang mereka pikirkan hanya uang dan uang. Karena mereka pula mendukung pengkhianatan mas Dion. Aku tidak akan memaafkan perbuatan mereka pada ku!”.
"Bu... Sekarang apa yang harus kami lakukan pada bu Warda dan bu Nania, apa kami usir saja?", tanya Fajar satpam pada Mikhaela. Bersamanya ada Nando, Nurma dan Ana juga. Orang-orang yang setia pada Mikha hingga kini.
"Tidak usah, biarkan saja mereka di sana. Kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian. Aku dan Revan akan lebih tenang di sini", ucap Mikhaela.
"Baik bu", jawab ke empatnya berbarengan.
"Sebaiknya ibu kunci saja pintu kamar ini. Aku dan Ana akan mengawasi mereka bu", ujar Nurma memegang tangan majikannya yang begitu baik pada semua orang itu. Sungguh Nurma tidak tega begitu Dion pergi, keluarga nya selalu merongrong Mikha seperti sekarang.
"Iya Nurma, tenang lah aku baik-baik saja. Tidak ada yang bisa menindas ku, karena aku di temani kalian di rumah ini", balas Mikha tersenyum pada pelayannya tersebut.
*
"Telepon...T-io!!," bisik Warda terbata-bata pada Nania.
Nania melipat tangannya di dada. "Tio pasti sedang sibuk dengan wanita itu mah. Mama kan tahu seperti apa anak bungsu mama itu", jawab Nania.
Warda terlihat tengah mengatur nafasnya yang tersengal matanya mulai terpejam.
"Sebaiknya mama istirahat sebentar, kalau sudah mendingan kita pulang".
Nania berdiri di dekat jendela.
"Huhh... Mikhaela sekarang sudah merasa di atas angin. Dia selalu memiliki argumentasi mematahkan tuduhan ku. Dion tidak ada, ternyata tak segampang membalikkan telapak tangan mengusir wanita itu dari rumah ini dan perusahaan", gumam Nania kesal.
"Walaupun aku sudah menampakkan Ira dan Salfa di hadapan Mikha, bukannya lemah tapi wanita itu malah semakin kuat saja menghadapi tekanan. Brengsek. Kalau begini bisa gagal semua rencana ku!!".
...***...
To be continue
Thor jgn ada drama tiba-tiba dion msh hidup y. Asli dah biasa bgt kayak gitu 😂 btw visualnya selalu pas👍 Nania tuh sesuai dg karakter yg di gambarkan. Sadis😂