NovelToon NovelToon
Di Jual Kepada Mafia Rusia

Di Jual Kepada Mafia Rusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.

"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. DARAH DI BALIK SUTRA

​Heningnya kamar utama Mansion Dragunov malam ini terasa mencekam, seolah dinding-dinding batu itu ikut menahan napas. Alana berdiri terpaku di depan wastafel kamar mandi yang luas, menatap pantulan dirinya di cermin besar berbingkai perak. Pakaian taktis hitam yang ia kenakan masih menyisakan bau mesiu dan debu gudang yang terbakar. Namun, matanya tidak fokus pada pakaiannya, ia hanya menatap tangannya.

​Tangannya tidak berdarah, namun di bawah lampu neon yang terang, Alana seolah melihat noda merah yang tidak terlihat melekat di jemarinya. Tangan yang selama ini hanya digunakan untuk mengetik tugas kuliah, kini telah mengambil nyawa seseorang secara nyata.

​"Ini bukan aku..." bisik Alana, suaranya parau dan bergetar. "Kehidupan ini... ini bukan yang aku impikan saat aku menatap langit Jakarta dari jendela kamarku."

Dulu, masalah terbesarnya hanyalah tenggat waktu tugas atau tuntutan ayahnya untuk menghadiri jamuan makan malam yang membosankan. Kini, ia adalah seorang pembunuh. Ia telah melintasi batas yang tidak memiliki jalan kembali.

​Pintu kamar mandi terbuka. Alexei masuk dengan langkah tenang yang berwibawa. Ia telah melepas jas dan dasinya, hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berdiri tepat di belakang Alana. Sosoknya yang tinggi besar memenuhi pantulan cermin, mengunci posisi Alana di antara tubuhnya dan wastafel.

​Alexei meraih kedua tangan Alana yang gemetar. Sentuhan tangannya yang kasar dan hangat membuat Alana tersentak, namun Alexei tidak melepaskannya. Ia menghidupkan keran, membiarkan air dingin mengalir membasahi jemari mereka yang saling bertautan.

​"Jangan menatapnya seolah itu adalah dosa yang abadi," suara rendah Alexei bergema di dada Alana. Ia mengambil sebatang sabun dan mulai menggosok tangan Alana dengan gerakan yang sangat perlahan, sangat teliti. "Tangan ini tidak kotor, Alana. Tangan ini baru saja melakukan apa yang diperlukan untuk bertahan hidup."

​"Aku membunuhnya, Alexei. Aku melihat dia jatuh karena aku," air mata Alana jatuh, bercampur dengan air yang mengalir di wastafel.

​"Kau menyelamatkanku," Alexei memutar tubuh Alana agar menghadapnya, namun tetap memegangi tangannya di bawah kucuran air. Ia menatap mata Alana dengan intensitas yang menghipnotis. "Dunia ini tidak mengenal orang baik, printsessa. Hanya ada pemangsa dan mangsa. Dan malam ini, kau membuktikan bahwa kau adalah pasangan seorang serigala, bukan domba yang hanya bisa pasrah."

​Alexei mengambil handuk kecil dan mengeringkan tangan Alana dengan lembut, Momen itu sangat intim, kontak kulit yang minim namun dominasinya terasa begitu nyata. Alana merasa seolah Alexei sedang menghapus identitas "Alana dari Jakarta" dan membaptisnya menjadi bagian dari dunianya yang gelap.

​"Istirahatlah," ucap Alexei sambil mengusap pipi Alana dengan ibu jarinya yang dingin. "Aku harus mengurus Orlov di sayap medis. Ada beberapa hal yang harus kupastikan sebelum Sergei mencoba melakukan langkah konyol lainnya."

​Mendengar nama Orlov, rasa traumatis Alana sesaat tergeser oleh kewaspadaan. Mengurus Orlov? Atau memastikan mulut pria tua itu terkunci selamanya? Begitu Alexei meninggalkan kamar dan suara kunci pintu terdengar seperti sebuah "perlindungan" yang terasa seperti penjara untuk Alana.

​Satu jam kemudian, Alana tidak sedang tidur. Ia menggunakan jubah sutra hitamnya untuk menyelinap keluar melalui balkon, melewati jalur sempit yang menghubungkan ke sayap medis mansion yang ia pelajari dari denah di perpustakaan kemarin. Udara malam yang dingin di Rusia menyengat kulitnya, namun rasa ingin tahunya lebih dingin dari salju.

​Ia berhasil masuk melalui pintu service dan menemukan ruangan Orlov. Bau antiseptik dan suara bip mesin jantung menyambutnya di lorong yang remang.

​"Jenderal..." bisik Alana, mendekati ranjang Orlov.

​Pria tua itu membuka matanya, tampak seperti mayat hidup. Ketakutan murni terpancar saat melihat Alana. "Gadis bodoh..." suaranya terdengar seperti gesekan amplas. "Dmitri...Ayah kandungmu... dia tidak mati karena Wira..."

Jantung Alana seakan berhenti berdetak. "Lalu siapa? Siapa yang membunuhnya?"

​Orlov mencoba menarik Alana lebih dekat, tangannya yang gemetar mencengkeram lengan sutra Alana. "Map itu... mawar perak... isinya bukan hanya sejarah ibumu. Itu adalah bukti kepemilikan aset Offshore yang bisa membeli seluruh kekuasaan di Rusia. Alexei... dia tidak menikahimu untuk melindungimu. Dia menikahimu karena kau adalah 'kunci' biologis untuk brankas itu..."

​"Apa maksudmu?" tuntut Alana, air mata kemarahan mulai membakar matanya.

​"Dia yang merancang semuanya..." Orlov terengah-engah, matanya membelalak menatap langit-langit. "Dia membawamu ke sini agar kau membenci Wira, agar kau hanya punya dia... dan saat saatnya tiba... dia akan menggunakan darahmu untuk membuka pintu itu, lalu..."

​Tiba-tiba, suara bip di mesin jantung berubah menjadi nada panjang yang melengking. Flatline.

​"Jenderal! Jenderal, bangun!" Alana mengguncang bahu Orlov, namun pria itu sudah pergi.

​Detik berikutnya, lampu ruangan menyala dengan terang yang membutakan.

​"Aku sudah menduga kau tidak akan bisa tidur nyenyak, Alana."

​Alana berbalik dengan kaget. Di ambang pintu, Alexei berdiri dengan tenang, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Ekspresinya tidak menunjukkan kemarahan, melainkan sebuah senyum tipis yang terlihat jauh lebih mengerikan, senyum seorang dalang yang baru saja melihat bonekanya mencoba memutus tali senarnya sendiri.

​"Kau mendengar dongeng pria sekarat, Sayang?" Alexei berjalan mendekat, langkah sepatunya bergema di lantai keramik yang dingin. Ia berdiri tepat di depan Alana, menatap mayat Orlov sejenak, lalu beralih menatap Alana.

"Dia bilang kau memanipulasiku," suara Alana bergetar hebat. "Dia bilang kau hanya menginginkan aset ibuku. Dia bilang... kau adalah alasan sebenarnya kenapa hidupku hancur."

Alexei menghela napas, seolah merasa kecewa karena dikhianati oleh kecurigaan Alana. Ia merunduk, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Alana. "Orang yang akan mati akan mengatakan apa saja agar bisa hidup lebih lama, Alana. Dia ingin kau meragukanku agar kau lemah."

Alexei menarik sesuatu dari sakunya, sebuah kunci perak kuno dengan motif mawar yang sama dengan lambang keluarga ibunya. Ia meletakkannya di telapak tangan Alana yang tadi ia cuci dengan begitu lembut.

"Jika kau berpikir aku hanya menginginkan aset ini, ambil kunci ini. Carilah brankas itu di ruang rahasia sayap timur. Dan jika kau merasa aku telah mengkhianatimu, kau bebas menggunakannya untuk membeli tiket pulangmu ke Jakarta."

Alana menatap kunci itu, bingung. Mengapa Alexei memberikannya begitu saja? Apakah ini ujian loyalitas? Ataukah Alexei tahu bahwa kebenaran di dalam brankas itu akan lebih menghancurkan Alana daripada kebohongannya?

"Tapi ingat satu hal, Alana," Alexei membisikkan kata-kata yang membuat darah Alana membeku. "Begitu kau membuka pintu itu, tidak akan ada jalan kembali. Kau akan tahu siapa ibumu sebenarnya, dan kau akan memohon padaku untuk membuatmu lupa kembali."

Alexei berbalik, meninggalkan Alana yang berdiri mematung di samping mayat Orlov dengan kunci dingin di tangannya.

"Ivan, bersihkan ini," perintah Alexei dingin pada bayangan di luar pintu. "Dan pastikan istriku kembali ke tempat tidur. Dia butuh mimpi yang indah sebelum dunia yang sebenarnya menghancurkannya besok pagi."

Alana menggenggam kunci itu hingga telapak tangannya terasa perih. Ia menatap punggung Alexei yang menjauh, Alana tidak tahu apakah ia baru saja diberikan kunci menuju kebebasan, ataukah kunci menuju neraka yang lebih dalam yang telah disiapkan Alexei untuknya.

1
Mia Camelia
haduh kok jadi rumit sih😔
My: Kalau terasa rumit, berarti kamu mulia melihat potongan puzzle- nya.. 👀
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor🥰👍
Mia Camelia
cerita nya menarik
Mia Camelia
lanjut thor, cerita nya seru banget👍👍👍
putri
Alexei.. neraka yang indah itu macam mana?? 😄
My: wahh, terimakasih kehadirannya kak-
🥰
total 1 replies
putri
aku suka ceritanya.. tetap semangat kak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!