Suatu hari Kael ikut misi menutup Rift kecil.
Namun Rift itu berubah menjadi Rift Hitam — portal langka yang belum pernah tercatat.
Di dalamnya mereka menemukan kuil kuno dari dimensi lain.
Di tengah kuil ada artefak hidup yang disebut:
Core of Eclipse
Ketika semua orang mati diserang Abyssal, Kael menyentuh inti tersebut.
Dan dunia tiba-tiba berhenti.
Sebuah suara muncul:
“Host ditemukan. Sistem Evolusi Dimulai.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rehanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eclipse Breaker — chapter 34: Pedang yang Harus Menebas
Angin malam tidak lagi terasa.
Semua tertutup oleh tekanan yang menyesakkan.
Di tengah atap gedung yang hancur—
Kael berdiri.
Diam.
Namun aura di sekitarnya…
mengamuk.
Garis yang Dilanggar
Bayangan menyebar tanpa bentuk.
Menjalar ke segala arah.
Menelan cahaya.
Menggerus ruang.
Raven berdiri di hadapannya.
Pedang di tangan.
Tatapannya tidak goyah.
Namun kali ini—
tidak ada santai.
Tidak ada sindiran.
Hanya satu keputusan.
“…Kael.”
Tidak ada jawaban.
“…Kalau kau masih dengar…”
Ia menggenggam pedangnya lebih kuat.
“…lawan.”
Tidak Ada Respon
Tubuh Kael tetap diam.
Namun bayangan di bawahnya bergerak.
Seolah merespon suara itu—
namun bukan dengan kesadaran.
Sistem bergetar.
[SISTEM ECLIPSE]
Status: Kontrol menurun
Dominasi entitas meningkat
Raven menghela napas pelan.
Matanya menutup sesaat.
“…Baik.”
Ia membuka matanya kembali.
Tajam.
Dingin.
“…Kalau begitu aku yang paksa kau kembali.”
Serangan Pertama...
Raven menghilang.
Kecepatannya memotong udara.
SLASH
Serangan langsung menuju leher Kael.
Tanpa ragu.
Tanpa ditahan.
Namun—
CLANG
Bayangan menahan.
Bukan satu lapisan.
Namun puluhan.
Raven tidak berhenti.
Serangan kedua...
Ketiga.
Keempat.
CLANG! CLANG! CLANG!
Percikan energi menyebar.
Atap semakin hancur.
Namun Kael—
tidak bergerak.
Reaksi Balik
Tiba-tiba—
bayangan meledak.
BOOOOM
Gelombang hitam menyapu Raven.
Ia terdorong mundur.
Kakinya menggeser keras di permukaan.
“…Kuat.”
Ia mengangkat pedangnya lagi.
Kael Bergerak
Untuk pertama kalinya—
Kael bergerak.
Langkahnya pelan.
Namun setiap langkah—
membuat tanah retak.
Matanya kosong.
Namun di dalam—
sesuatu mengamati.
“…Gangguan.”
Suaranya keluar.
Namun bukan miliknya sepenuhnya.
Raven menyipitkan mata.
“…Ya, aku gangguan.”
Ia melompat maju.
Duel Dimulai
BAM
Pedang dan bayangan bertabrakan.
Kael mengangkat tangannya.
Bayangan membentuk bilah.
Mereka bertukar serangan.
Cepat.
Brutal.
Tanpa jeda.
SLASH! CRASH! BOOM!
Setiap benturan—
menghancurkan sisa bangunan.
Raven menyerang dari sudut.
Presisi.
Terlatih.
Namun Kael—
menahan semuanya.
Tanpa terlihat berpikir.
Di Dalam Kael
Dalam kegelapan—
Kael berdiri.
Ia bisa melihat.
Ia bisa merasakan.
Namun tubuhnya—
tidak sepenuhnya miliknya.
Di depannya—
sosok itu semakin jelas.
“…Kenapa kau mengambil alih?”
Jawaban datang.
“Aku tidak mengambil.”
“Aku melengkapi.”
Kael mengerutkan kening.
Dunia Nyata
Raven menyerang lebih cepat.
Lebih kuat.
Ia mengeluarkan seluruh kekuatannya.
Pedangnya bersinar terang.
SLAAAAASH
Serangan itu—
menembus pertahanan bayangan.
Untuk pertama kalinya—
mengenai Kael.
Darah mengalir.
Tubuh Kael berhenti sesaat.
Matanya berkedip.
Kesadaran—
kembali sedikit.
“…Raven…?”
Namun—
hanya sesaat.
Bayangan langsung mengamuk.
BOOOOOOM
Ledakan besar.
Raven terpental.
Menghantam sisa dinding.
Ia berdiri kembali.
Napasnya berat.
“…Masih ada.”
Raven menatap Kael.
Matanya tidak berubah.
Namun ada sesuatu di dalamnya.
“…Jangan mati sebelum aku pukul sadar.”
Ia mengangkat pedangnya lagi.
Dalam Kegelapan
Kael jatuh berlutut.
“…Aku akan kehilangan…”
Sosok itu mendekat.
“Jika kau menolak…”
“kau akan hancur.”
“Jika kau menerima…”
“kau akan berubah.”
Sunyi.
Kael mengepalkan tangan.
“…Kalau begitu…”
Ia berdiri.
“…aku yang memilih.”
Di dunia nyata—
Kael mengangkat kepalanya.
Matanya berubah lagi.
Namun kali ini—
berbeda.
Tidak liar.
Tidak kosong.
Namun…
terkendali.
Raven menyipitkan mata.
“…Oh?”
Bayangan di sekitar Kael perlahan stabil.
Namun auranya—
jauh lebih dalam.
“…Raven.”
Suaranya kembali.
Namun lebih berat.
“…Terima kasih.”
Sunyi sejenak.
Raven tersenyum tipis.
“…Bagus.”
Namun—
di langit—
Rift masih terbuka.
Dan dari dalam—
sesuatu masih mengawasi.
Kael melangkah maju.
Tenang.
Namun berbahaya.
“…Sekarang…”
Ia menatap ke arah musuh.
“…kita lanjutkan.”
Dan malam itu—
Kael tidak hanya selamat.
Ia berubah.