NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Musuh Bisnis Ayah

Pernikahan Kontrak Dengan Musuh Bisnis Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

​"Ayah, katakan sekali lagi bahwa ini hanya lelucon April Mop yang terlambat," suara Aletta rendah, namun penuh penekanan.
​Di belakangnya, Surya Maheswari, pria yang telah membangun dinasti ini dari nol, tampak hancur. Pria itu duduk di sofa kulit dengan bahu yang merosot dalam. Laporan audit yang tersebar di atas meja menunjukkan angka-angka merah yang mengerikan. Defisit yang diciptakan oleh pengkhianatan direktur keuangan mereka telah membawa Maheswari Group ke jurang kebangkrutan dalam waktu satu malam.
​"Dia satu-satunya yang memiliki likuiditas sebesar itu, Al," bisik Surya parau. "Bank sudah menutup pintu. Investor lain melarikan diri seperti tikus dari kapal yang tenggelam. Hanya Dirgantara Corp yang menawarkan bantuan."
​Aletta berbalik dengan gerakan anggun namun tajam. "Dirgantara? Arkananta Dirgantara? Pria yang menghancurkan tender kita di Singapura? Pria yang selama lima tahun terakhir ini menjadi mimpi buruk bagi setiap ekspansi bisnis kita? Ayah, dia bukan penyelamat.​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SINGA YANG TERJEBAK DI SARANG SERIGALA

Aroma kopi Arabika yang biasanya menjadi penyemangat pagi Aletta Maheswari, hari ini terasa sepahit empedu. Di ruang kerja pribadinya yang terletak di lantai 35 Maheswari Tower, gadis berusia 24 tahun itu menatap pantulan dirinya di dinding kaca yang menjulang. Ia mengenakan setelan blazer berwarna merah marun yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan otoritas yang tak terbantahkan. Rambut hitamnya disanggul rapi tanpa sehelai pun yang berani keluar dari jalur.

Aletta adalah definisi dari kekuatan. Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah memimpin ribuan karyawan. Ia dikenal sebagai "Singa Betina Sudirman" karena ketegasannya dalam negosiasi. Namun, pagi ini, singa itu merasa jerat sedang melilit lehernya.

"Ayah, katakan sekali lagi bahwa ini hanya lelucon April Mop yang terlambat," suara Aletta rendah, namun penuh penekanan.

Di belakangnya, Surya Maheswari, pria yang telah membangun dinasti ini dari nol, tampak hancur. Pria itu duduk di sofa kulit dengan bahu yang merosot dalam. Laporan audit yang tersebar di atas meja menunjukkan angka-angka merah yang mengerikan. Defisit yang diciptakan oleh pengkhianatan direktur keuangan mereka telah membawa Maheswari Group ke jurang kebangkrutan dalam waktu satu malam.

"Dia satu-satunya yang memiliki likuiditas sebesar itu, Al," bisik Surya parau. "Bank sudah menutup pintu. Investor lain melarikan diri seperti tikus dari kapal yang tenggelam. Hanya Dirgantara Corp yang menawarkan bantuan."

Aletta berbalik dengan gerakan anggun namun tajam. "Dirgantara? Arkananta Dirgantara? Pria yang menghancurkan tender kita di Singapura? Pria yang selama lima tahun terakhir ini menjadi mimpi buruk bagi setiap ekspansi bisnis kita? Ayah, dia bukan penyelamat. Dia adalah pemangsa yang sedang menunggu kita mati untuk memakan bangkai kita!"

Surya mengangkat wajahnya, menatap putrinya dengan tatapan memohon yang paling dibenci Aletta. "Dia tidak meminta saham mayoritas, Al. Dia juga tidak meminta bunga sepersen pun. Dia hanya mengajukan satu syarat dalam kontrak penyelamatan ini."

Aletta menyipitkan mata. Firasatnya memburuk. "Apa?"

"Pernikahan. Dia ingin kau menjadi istrinya."

Hening.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Aletta. Ia merasakan getaran aneh di telinganya. Menikah dengan Arkananta Dirgantara? Pria yang dikenal dingin, kejam di meja perundingan, dan memiliki aura yang begitu dominan hingga orang-orang segan menatap matanya?

Dalam kondisi tertekan seperti ini, sesuatu yang aneh terjadi di otak Aletta. Mekanisme pertahanannya yang unik muncul. Alih-alih meledak marah, matanya mendadak terpaku pada sebuah klip kertas di atas meja. Ia berjalan mendekat, mengambil klip itu, dan mulai membengkokkannya hingga membentuk siluet kepala kucing dengan sangat serius.

"Al? Kau mendengarku?" Surya bertanya heran melihat tingkah random putrinya.

Aletta tidak menjawab sampai telinga kucing dari klip itu sempurna. "Ayah," katanya tanpa menatap sang ayah, "apa dia tahu kalau aku sering mendengkur kalau sangat lelah? Dan apa dia tahu kalau aku tidak bisa tidur jika tidak ada guling yang wangi detergen bunga melati?"

Surya mengerutkan kening. "Apa hubungannya dengan—"

"Artinya," Aletta memotong, suaranya kembali tegas dan dingin, "dia akan menyesal telah membeliku. Jika ini satu-satunya cara agar sepuluh ribu karyawan kita tidak kehilangan pekerjaan, maka aku akan melakukannya. Aku akan masuk ke sarang serigala itu. Tapi jangan salahkan aku jika aku menggigit jantungnya dari dalam."

Tepat pukul dua siang, Aletta melangkah masuk ke lobi Dirgantara Corp. Gedung ini lebih megah, lebih dingin, dan lebih angkuh daripada miliknya. Setiap langkah sepatu hak tingginya berdentang di atas lantai marmer, menciptakan irama perang.

Saat ia naik ke lantai paling atas, jantungnya berdebar, namun wajahnya tetap sedatar papan tulis. Sekretaris Arkan—seorang pria berkacamata yang tampak sangat efisien—menyambutnya dengan hormat yang berlebihan.

"Tuan Arkan sudah menunggu Anda, Nona Maheswari."

Saat pintu jati besar itu terbuka, Aletta disambut oleh ruangan yang luas dengan pemandangan 360 derajat kota Jakarta. Di sana, di balik meja obsidian hitam yang kokoh, duduk sang pria.

Arkananta Dirgantara.

Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawah yang berotot dan urat-urat tangan yang maskulin. Ia tidak memakai dasi, dan dua kancing teratas kemejanya terbuka, memberikan kesan dewasa namun berbahaya. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas, hidung bangir, dan mata hitam yang tajam seperti elang.

Arkan tidak langsung berdiri. Ia membiarkan Aletta berdiri di sana selama beberapa detik, seolah sedang menilai kualitas barang yang baru saja ia beli.

Aletta, yang merasa tertantang, justru tidak menuju kursi di depan meja Arkan. Ia malah berjalan ke arah sudut ruangan di mana terdapat sebuah akuarium besar berisi ikan arwana langka. Ia berdiri di sana, mengetuk kaca akuarium dengan telunjuknya, lalu bergumam pelan, "Kasihan sekali kau, terkurung di ruangan sedingin ini dengan pria membosankan."

Arkananta meletakkan pulpennya. Suara baritonnya yang berat memecah keheningan. "Dia tidak mengeluh. Dia tahu siapa yang memberinya makan."

Aletta berbalik, memberikan senyum paling sinisnya. "Tentu saja. Semua orang di bawah ketiakmu pasti takut kelaparan, bukan?"

Arkan berdiri. Posturnya yang tinggi—setidaknya 185 cm—membuat Aletta harus sedikit mendongak, meski ia sudah memakai hak setinggi 10 cm. Arkan berjalan mengitari meja, mendekati Aletta dengan langkah yang tenang namun penuh wibawa.

"Duduklah, Aletta. Kita punya banyak hal untuk ditandatangani."

Aletta duduk di kursi kulit yang empuk, menyilangkan kakinya dengan elegan. "Langsung saja ke poin utamanya. Kenapa kau melakukan ini? Jika kau ingin menghancurkanku, kau cukup diam saja dan membiarkan perusahaanku bangkrut minggu depan. Kenapa repot-repot menikahiku?"

Arkan menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja, tepat di depan Aletta. Jarak mereka begitu dekat hingga Aletta bisa mencium aroma parfum Arkan—campuran antara kayu gaharu, tembakau mahal, dan sesuatu yang segar seperti hujan.

"Karena menghancurkanmu dari jauh itu membosankan," jawab Arkan tenang. Matanya menatap bibir Aletta sejenak sebelum kembali ke matanya. "Aku ingin melihat bagaimana 'Singa Maheswari' ini bersikap saat dia kehilangan taringnya. Lagipula, aku butuh seorang istri untuk menenangkan para pemegang saham yang kolot. Kau adalah kandidat paling kompeten, meski paling menyebalkan."

Aletta mendengus, tangannya bergerak ke arah piring kecil berisi permen di meja Arkan. Ia mengambil satu, membukanya dengan kasar, dan memasukkannya ke mulut. "Jadi aku hanyalah piala untuk dipajang? Baiklah. Tapi kau harus tahu, aku piala yang sangat berat dan sulit dibersihkan."

Arkan mengambil sebuah map hitam dan menggesernya ke hadapan Aletta. "Ini kontraknya. Pernikahan ini akan berlangsung selama satu tahun. Setelah satu tahun, kau bebas pergi dengan dana talangan yang sudah menjadi hibah tetap untuk perusahaanmu. Selama satu tahun ini, kau wajib tinggal di rumahku. Kau wajib hadir di setiap acara resmi bersamaku. Dan kau... wajib menuruti perintahku sebagai suamimu di depan publik."

"Dan di belakang publik?" tanya Aletta menantang.

"Di belakang publik, kau bisa melakukan hobi randommu sesukamu. Termasuk menghitung jumlah lubang di langit-langit kamarku jika kau mau," Arkan memberikan senyum tipis yang tampak seperti ejekan, namun ada kilatan aneh di matanya.

Aletta meraih pulpen emas yang disodorkan Arkan. Jari mereka bersentuhan sesaat. Sebuah sengatan listrik yang aneh merambat ke lengan Aletta, membuatnya tersentak kecil. Ia buru-buru menarik tangannya.

Ia mulai membaca kontrak itu dengan teliti, seperti sedang memeriksa surat dakwaan. Saat matanya sampai pada poin tentang kediaman, Aletta mendadak berhenti.

"Aku ingin poin tambahan," kata Aletta keras kepala.

Arkan menaikkan sebelah alisnya. "Katakan."

"Aku ingin membawa mesin capit boneka pribadiku ke rumahmu. Aku tidak bisa berpikir jernih jika tidak bermain itu setidaknya sepuluh menit sehari."

Arkan terdiam. Ia menatap Aletta seolah gadis itu baru saja berbicara dalam bahasa alien. Ini adalah sisi Aletta yang tidak pernah diketahui dunia luar—kekakuan yang dibalut dengan keanehan yang tidak terduga.

"Mesin capit boneka?" Arkan mengulang dengan suara datar.

"Ya. Dan aku tidak menerima penolakan. Itu atau biarkan Maheswari Group hancur," ancam Aletta, meski ia tahu posisinya lemah.

Arkan menghela napas panjang, sebuah senyum geli hampir pecah di wajahnya yang kaku. "Terserah. Kau bisa membawa seluruh taman hiburan jika itu membuatmu berhenti memasang wajah ketus seperti itu."

Aletta segera menandatangani dokumen itu sebelum Arkan berubah pikiran. Sret, sret. Nasibnya resmi tersegel. Ia kini milik musuhnya.

Arkan mengambil dokumen itu, menyimpannya kembali, lalu menatap Aletta dengan intensitas yang berbeda. Ia berjalan mendekat, membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan Aletta yang masih duduk.

"Selamat datang di hidupku, Aletta Maheswari," bisik Arkan. "Atau harus kupanggil dengan nama lain?"

Aletta mengernyit. "Maksudmu?"

Arkan tidak menjawab. Ia justru meraih tangan kanan Aletta, lalu dengan gerakan yang sangat sopan namun intim, ia mengecup punggung tangan gadis itu. Matanya tetap terkunci pada mata Aletta.

"Sampai jumpa besok pagi pukul tujuh. Sopirku akan menjemputmu. Jangan terlambat, atau aku akan menambah durasi kontrak ini menjadi dua tahun."

Aletta menarik tangannya dengan wajah memerah—entah karena marah atau malu. Ia berdiri, merapikan blazer-nya dengan kasar. "Jangan harap aku akan tersenyum di hari pernikahan kita nanti."

Aletta melangkah keluar dengan langkah lebar. Namun, saat ia sampai di pintu, ia berbalik sejenak. Matanya tertuju pada sebuah bingkai foto kecil yang diletakkan terbalik di sudut meja Arkan. Rasa penasaran menggelitiknya, tapi ia segera menepisnya dan keluar.

Di dalam ruangan, Arkan kembali duduk. Ia membuka laci mejanya yang paling bawah dan mengeluarkan sebuah benda usang. Sebuah pita rambut berwarna biru tua yang sudah pudar warnanya.

"Kau benar-benar lupa padaku, ya?" gumam Arkan dengan suara yang sangat lembut, sangat jauh dari citra pria kejam yang ia bangun. "Kau yang mengajariku cara bertahan hidup, dan sekarang kau malah menyebutku serigala."

Arkan memejamkan mata, membayangkan hari esok ketika ia akhirnya bisa mengunci gadis itu di dalam jangkauannya—bukan untuk menghancurkannya, tapi untuk memastikan tidak ada lagi yang bisa menyakitinya seperti belasan tahun yang lalu.

Namun, ia tahu Aletta. Gadis itu tidak akan menyerah tanpa perlawanan. Dan Arkan sangat menantikan perlawanan itu.

Tiba-tiba, ponsel Arkan bergetar. Sebuah pesan singkat dari nomor yang baru saja ia simpan sebagai 'Istri Kontrak'.

Aletta: Aku lupa bilang. Aku juga punya koleksi kaktus yang butuh sinar matahari khusus. Jangan berani-berani memindahkan mereka dari balkon kamarku nanti, atau aku akan menaruh duri kaktus itu di dalam sepatumu setiap pagi.

Arkan tertawa. Tawa lepas yang pertama kali terdengar di ruangan itu dalam bertahun-tahun.

"Ini akan menjadi tahun yang sangat melelahkan... dan sangat menyenangkan," bisiknya.

Di sisi lain kota, Aletta sedang duduk di lantai kamarnya, menatap tumpukan koper yang belum terisi. Ia mendadak mengambil sebuah bantal dan berteriak sekeras-kerasnya ke dalamnya.

"Kenapa dia harus setampan itu?! Dan kenapa parfumnya enak sekali?! Sialan kau, Arkananta!"

Aletta melempar bantalnya, lalu tatapannya beralih pada sebuah kotak kayu kecil di bawah tempat tidurnya. Kotak yang selama ini ia kunci rapat. Entah kenapa, hari ini, ia merasa ingin membukanya. Seolah ada benang tak kasat mata yang mulai menarik memori masa kecilnya yang paling terkubur.

Siapa pria itu sebenarnya? Dan kenapa setiap kali aku menatap matanya, aku merasa seperti sedang pulang ke rumah yang sudah lama terbakar?

Aletta tidak tahu, bahwa di balik kontrak pernikahan itu, ada kontrak lain yang sudah tertulis di atas takdir yang jauh lebih gelap dan lebih manis dari yang bisa ia bayangkan.

Pena yang menggores kertas hari ini bukan sekadar tanda tangan bisnis. Itu adalah awal dari pembukaan luka lama yang akan memaksa Aletta dan Arkan menghadapi hantu-hantu dari masa lalu mereka. Namun, pertanyaannya, siapa yang akan menyerah lebih dulu? Singa yang keras kepala, atau Serigala yang penuh rahasia?

Jangan lewatkan bab selanjutnya: "Peraturan di Kediaman Dirgantara", di mana Aletta akan menemukan bahwa Arkan punya satu kebiasaan rahasia di malam hari yang membuatnya sangat terkejut.

1
Muft Smoker
lanjuuut kak
Muft Smoker
astgaaa si Aletta bakal punya cucu donk🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
astgaaa ,,
nnti tu kapal tanker klakson ny jd gntii klaksoon motor ,,
badan gede tp klakson ny ' tiiin ,, tiin ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hey mereka udh mulai me coba hidup sebagai manusia normal looo ,,
pengganggu bisa gx marahan dluu ,,
jgn deket2 sama pasangan ini truus ,,
sana cari serigala dn gadis kaktus yg lain ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
lanjuuut kaaak ,,

makiin seruu niih ,,
Muft Smoker
sir Lancelot di jdikan bebek hitam ,, bilang aj km yg kgen arkan ,, 😏😏😏🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
aduuuh kak msh ad ulet bulu yg tersisa kaaah ,, 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁
Muft Smoker
astgaaaa ,,
gx kebayang siih seorang arkan tidur sambil meluk boneka bebek🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,

lanjuuut kak ,,
makiin seruu nih tiap bab ny ,,
Muft Smoker
kencan ny di tunda lgii yx duo A ,, 🤭🤭🤭🤭
kasus baruu udh muncuul ,,
Selamat menikmatiii,,,👏👏👏👏


lanjuuut kak
Muft Smoker
gx da yg gx mungkin Selama si gadis kaktus ajaib msh bernapas ,,
semua masalah pasti bisa di selesaikan dg taktik ajaib Aletta,,

lanjuuut kak
Muft Smoker
aduuuh sypa lgii tuh ,,
gx mungkin kn Aletta punya sekte kaktus ajaib 🤭🤭🤭🤭 ,,

lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
ni nma ny ke ajaiban yg sempurna kn mas arkan ,,
😁😁😁


lanjut kak ,,
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,,
tumbuhan ny emnk di setting bgtu Pak arkan ,,
😁😁😁
Rmauli💖: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,,
Muft Smoker
astgaaaa telur galaxi /Facepalm//Slight//Slight//Slight/ ,,
bsok2 bikin Tempe Amazon yx Al ,,
sxan pake sup palung Mariana biar makin joosssss ,,
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker: ok kak ,,
dtggu menu ajaib dr Aletta kak ,, 🤭🤭🤭😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
keajaiban sang Ratu maheswari selalu menyelamatkan anda kn arkan ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
next kakak ,,
makiin seruuu ,,


pengkhianatan paling menyakitkan yg dtg dr org paling dekat dg qta ,,
Muft Smoker
next kak ,,
penasaran ma kelanjutan ny yx
Muft Smoker
dasar pasangan random ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker: tp mereka unik koq kak 🤭🤭🤣🤣
total 2 replies
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!