Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melawan singa betina demi harga diri
Rapat dimulai dengan suasana yang tegang. Kepala sekolah mulai memaparkan rincian biaya dan rute study tour, namun di barisan depan, suara bisik-bisik Maudy dan gerombolan ibu-ibu sosialita justru lebih nyaring terdengar. Mereka tidak lagi berbisik, melainkan sengaja mengeraskan suara agar Dita mendengarnya.
"Iya Jeng, kasihan ya Pak Arjuna. Mungkin lagi masa puber kedua, makanya cari yang seumuran anaknya. Takutnya cuma dimanfaatin buat bayar sekolah atau belanja," celetuk Maudy sambil melirik sinis ke arah Dita.
Siena yang duduk di samping Maudy mulai merasa tidak nyaman. Ia melihat teman-temannya mulai berbisik sambil menunjuk-nunjuk ke arah Dita. Meski ia tidak menyukai Dita, namun melihat orang-orang menertawakan "keluarganya" di depan umum membuat harga diri Siena terusik.
"Tante Maudy, fokus ke rapatnya saja, jangan bahas itu terus," bisik Siena pelan, namun Maudy hanya mengibaskan tangan tak acuh.
Dita menarik napas panjang. Ia teringat tatapan Arjuna tadi pagi, tatapan seorang suami yang mempercayakannya untuk hadir di sini. Ia tidak boleh membiarkan martabat suaminya diinjak-injak hanya karena ia diam.
Dita berdiri dari kursinya. Gerakannya yang tenang namun tegas seketika membuat seisi ruangan menoleh. Suasana mendadak hening.
"Maaf, Ibu Kepala Sekolah, saya instruksi sebentar," ucap Dita dengan suara yang lantang, jernih, dan penuh wibawa. Ia melangkah perlahan menuju barisan depan, tepat di samping kursi Maudy.
Dita menatap Maudy dan ibu-ibu penggosip itu satu per satu dengan tatapan tajam yang tak tergoyahkan.
"Saya hadir di sini atas permintaan langsung dari suami saya, Bapak Arjuna Diningrat, sebagai wali sah dari Siena. Saya sangat menghargai antusiasme Ibu-ibu sekalian terhadap urusan domestik keluarga kami," Dita menjeda kalimatnya, memberikan senyum tipis yang sarat akan sindiran.
"Namun, ini adalah rapat resmi sekolah untuk masa depan anak-anak kita. Sangat disayangkan jika waktu yang berharga ini terbuang hanya untuk membahas hal-hal yang bukan kapasitas Ibu-ibu sekalian. Jika ada yang merasa keberatan dengan status sah saya sebagai istri Bapak Arjuna, silakan sampaikan langsung pada suami saya, bukan di forum pendidikan seperti ini."
Maudy ternganga, wajahnya memerah padam karena malu menjadi pusat perhatian negatif. Ibu-ibu di sekitarnya mendadak sibuk membetulkan letak tas atau pura-pura membaca brosur rapat.
Dita kemudian beralih menatap Siena yang tampak tertegun melihat keberanian ibu sambungnya. "Siena, Ayah mengirim ku ke sini karena dia percaya aku bisa menjaga kepentinganmu. Mari kita fokus pada apa yang disampaikan Kepala Sekolah."
Siena terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat Dita bukan sebagai "nenek sihir", melainkan sebagai sosok wanita yang berani pasang badan demi kehormatan nama Diningrat. Ada rasa bangga yang kecil namun nyata menyelinap di hati Siena.
"Terima kasih, silakan dilanjutkan, Bu Kepala Sekolah," tutup Dita sebelum kembali duduk dengan tenang.
Maudy mendengus kesal, ia meremas tas tangannya kuat-kuat. Rencananya untuk mempermalukan Dita justru berbalik menjadi bumerang yang membuatnya terlihat tidak berkelas di mata wali murid lainnya. Sementara Dita, ia merasa lega, karena ia telah membuktikan bahwa meskipun muda, ia tidak bisa diremehkan begitu saja.
*
*
Rapat baru saja usai, namun bara api di hati Maudy justru semakin berkobar. Di parkiran sekolah yang mulai lengang, Maudy berdiri bersedekap di samping mobil para wali murid, menanti dengan tatapan yang sanggup membakar apa saja yang dilewatinya. Begitu Dita muncul bersama Siena, Maudy langsung menghadang jalan mereka.
"Hebat ya kamu, Dita! Masih kecil sudah pintar bersandiwara di depan umum!" bentak Maudy, suaranya melengking penuh kebencian.
Dita menghentikan langkahnya, menatap Maudy dengan tenang namun waspada. "Saya hanya mengatakan kebenaran, Mbak Maudy. Tolong biarkan kami lewat."
"Kebenaran? Kamu itu cuma benalu di keluarga Diningrat! Jangan pikir karena Mas Juna bilang mencintaimu, kamu bisa menang dariku!" Maudy melangkah maju, wajahnya memerah padam. "Kurang ajar kamu!"
Tangan Maudy melayang di udara, siap mendaratkan tamparan keras ke pipi Dita. Dita memejamkan mata, bersiap menerima hantaman itu. Namun, tamparan itu tak kunjung sampai.
SRET!
BRAK!
Sebuah tangan kekar menangkap pergelangan tangan Maudy dengan sangat kasar dan menghempaskannya hingga Maudy terhuyung dan hampir tersungkur ke aspal. Sebuah mobil dinas kepolisian terparkir gagah tepat di belakang mereka. Arjuna muncul dari balik kemudi dengan wajah yang luar biasa bengis.
"Mas Juna?!" Maudy terpekik, napasnya tersengat rasa takut sekaligus syok.
Arjuna berdiri pasang badan di depan Dita, menatap Maudy dengan sorot mata yang dingin mematikan. Rupanya, rasa khawatir akan keselamatan Dita di sekolah membuat Arjuna meminta izin dua jam setelah apel pagi untuk menyusul ke sana.
"Berani kau menyentuh istriku, Maudy, maka kau akan berurusan langsung denganku sebagai aparat hukum!" desis Arjuna, suaranya rendah namun penuh ancaman.
"Tapi Mas... dia sudah mempermalukan ku di dalam!" rintih Maudy sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah.
"Kau yang mempermalukan dirimu sendiri dengan datang ke sini tanpa diundang!" bentak Arjuna.
"Dengar baik-baik, Maudy. Jangan pernah kau ganggu keluargaku lagi. Dan jangan pernah sekali-kali kau berani menginjakkan kakimu di rumahku atau mendekati anak istriku! Pergi!"
Maudy tak mampu berkata-kata lagi. Air mata kehancuran jatuh membasahi pipinya. Rasa sedih, marah, dan kecewa bercampur menjadi satu saat melihat betapa Arjuna begitu protektif melindungi Dita. Dengan langkah gontai dan hati yang hancur lebur, ia masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Siena, yang biasanya selalu membela Maudy, kali ini hanya berdiri mematung. Ia menatap ayahnya, lalu beralih menatap Dita yang masih tampak syok. Ada sesuatu yang bergejolak di batin Siena, ia menyadari bahwa Maudy yang selama ini ia puja ternyata bisa bersikap sekasar itu.
"Kamu tidak apa-apa, Dit?" tanya Arjuna lembut, memutar tubuhnya dan memeriksa wajah Dita dengan saksama.
"T... tidak apa-apa, Pak. Terima kasih," jawab Dita lirih.
*
*
Suasana di dalam mobil jauh berbeda dari keberangkatan tadi pagi. Arjuna fokus menyetir, sementara Siena duduk di kursi belakang dengan diam. Tiba-tiba, sebuah tangan kecil terulur dari belakang dan menyodorkan sebuah kotak susu cokelat yang belum dibuka ke arah Dita.
Dita menoleh ke belakang, terkejut.
"Siena?"
Siena membuang muka ke arah jendela, pipinya sedikit bersemu merah karena malu. "Tadi... makasih ya sudah bicara seperti itu di depan ibu-ibu tadi. Aku tidak suka mereka menertawakan Ayah," gumam Siena pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
Dita tertegun, lalu tersenyum sangat tulus. Ia menerima susu itu dengan perasaan haru. "Sama-sama, Siena. Itu sudah jadi tugas saya."
Arjuna yang melihat interaksi itu melalui spion tengah, tak tahan untuk tidak tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa badai di rumah tangganya mulai mereda, dan cahaya kebahagiaan mulai nampak di ufuk timur.
Bersambung...
walaupun gak comend di setiap bab nya... di krn kan fokus ke cerita....