“Segera pulanglah,, Kita butuh kamu untuk menjadi saksi Kha!”
Mendapat kabar tentang pernikahan kedua sahabatnya, kini Arka yang memang menetap tinggal di Italia Kembali dengan Sangat mendadak, Bagaimana tidak Dua sahabat baiknya akan menikah dan Arka harus menghadirinya.
Namun beberapa langkah Arka tiba di tempat dimana janur kuning melengkung terdapat juga bendara kuning di sampingnya.
Bayu Putra!
Bagaimana bisa sahabatnya meninggal tepat di acara sakralnya?
“Aku hancur Kha, Kenapa Bayu harus meninggalkan aku?”
Arka tak mampu menahan tangisnya, di peluk Vina dengan penuh belas kasih.
“Bagaimana Acaranya? Penghulu sudah datang namun pernikahan tidak bisa di lanjutkan!”
Arka menatap Vina yang sudah berderai air mata, rasanya dia ingin menghapuskkan kesedihan sahabatnya itu, tapi bagaimana caranya?
Kesedihan menyelimuti kediaman mempelai, pernikahan sudah pasti batal.
Namun, Satu pucuk surat yang Bayu tinggalkan untuk Arka membuat suasana semakin mencekam, Bayu meminta Arka yang menggantikan dia menikahi Vina.
Dan menikahi SAHABATNYA sendiri tidak pernah terlintas di dalam benak seorang ARKANA.
“Lanjutkanlah,, Arka yang akan menjadi pengantin penggantinya!”
Satu pernnyataan Sang Ibu yang membuat seluruh mata mendelik.
“Mah!”
“Lanjutkan Nak, Hujudkan permintaan terakhir sahabatmu!”
Apa Akra akan mengabulkan permintaan terakhir sahabatnya? Dan bagaimana bisa dia menikahi sahabat perempuannya?
Tidak!!
Pria Tampan itu gelisah memandang Cincin tunangan di jemari kirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETUKAN PINTU
BAB 34
Ketukan Pintu di Penghujung Malam
Zidan akhirnya pamit kembali ke kamarnya setelah menepuk pundak Arka sekali lagi, meninggalkan pria itu sendirian di tengah keheningan taman hotel Roma. Angin malam yang berembus kencang terasa seperti jarum-jarum es yang menusuk kulit, namun rasa dingin itu kalah telak oleh rasa sesak yang kian menghimpit dada Arka.
Kalimat Zidan terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.
“Dia tidak bersalah Kha, dia pun korban di sini.”
Arka menatap cangkir kopi aluminium di tangannya yang sudah mendingin. Pikirannya campur aduk. Di satu sisi, ada Vina wanita yang kini berstatus sebagai istrinya, wanita yang menanggung beban rahasia ini dalam diam hingga matanya membengkak karena tangis.
Di sisi lain, ada Sefa. Gadis yang telah menemaninya sejak ia bukan siapa-siapa, wanita yang dicintainya dengan teramat sangat, namun kini justru menjadi orang yang paling ia hancurkan hatinya.
Keberanian yang entah datang dari mana tiba-tiba merayapi batin Arka. Berada di bawah tekanan rasa bersalah yang tak tertahankan, ia tahu dia tidak bisa terus bersembunyi. Dengan langkah yang terasa seberat timah, Arka membalikkan badan, berjalan membelah lobi hotel yang sepi, dan menaiki lift menuju lantai paling atas. Kamar tempat dimana Sefa menginap.
“Ya Tuhan, aku harus bagaimana..” Arka mengusap wajah tampannya.
“Bantu aku Tuhan..”
Setiap langkah kaki Arka di atas karpet koridor hotel yang tebal terdengar bagai hitungan mundur menuju eksekusi matinya sendiri. Ketika ia akhirnya tiba dan berdiri tepat di depan pintu kamar Sefa, pandangan lelaki itu mendadak meremang.
Lorong hotel yang megah itu seolah mengabur. Satu tetes air mata yang hangat lolos begitu saja, membasahi pipinya yang pucat. Hatinya begitu sakit, teriris oleh kenyataan yang ia ciptakan sendiri.
Tak bisa ia pungkiri, Arka masih sangat, sangat mencintai Sefa. Baginya, Sefa adalah kompas, tempatnya pulang, dan gadis yang teramat baik. Namun, kebaikan Sefa justru menjadi belati paling tajam yang kini menghunjam kesadarannya.
Arka menarik napas panjang, mencoba menghentikan gemetar di ujung jarinya sebelum mengangkat tangan dan mengetuk pintu kayu jati di hadapannya.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan itu terdengar nyaring di keheningan malam. Tidak butuh waktu lama sampai terdengar suara slot pintu yang digeser dari dalam. Ketika daun pintu perlahan terbuka, sosok Sefa muncul dari balik remang cahaya kamar.
“Kak?”
Diam.. Arka bahkan masih menatap kosong kedepan.
Kedua mata gadis itu mendelik bulat, memancarkan binar keterkejutan yang nyata. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat saat ini. Tunangan sekaligus calon suaminya, pria yang beberapa hari ini terasa berjarak ribuan mil darinya, kini berdiri di depan kamarnya pada jam satupagi dengan mata yang kemerahan.
"Kak Arka?" Sefa berbisik, suaranya terdengar serak khas orang yang belum tidur.
"Kamu... kenapa di sini? Ada apa?"
Arka memaksakan sebuah senyuman, walau sudut bibirnya terasa kaku luar biasa.
"Hai, sayang. Kamu belum tidur?"
Sefa menggeleng pelan, lalu membuka pintunya lebih lebar.
"Belum kak. Masih membaca ulang beberapa revisi dialog untuk besok. Masuk, Kak. Di luar dingin banget, wajah kamu sampai pucat begitu."
Arka melangkah masuk ke dalam kamar yang beraroma terapi lavender, aroma yang selalu Sefa gunakan untuk membantunya rileks. Pintu ditutup rapat, mengunci mereka berdua dalam ruang privat yang mendadak terasa begitu sempit bagi Arka. Sefa menuntun Arka menuju ranjang besar di tengah ruangan. Keduanya kemudian duduk di atas ranjang, saling berhadapan.
Sefa memiringkan kepalanya, lalu tersenyum manis.
Sangat manis. Senyuman itu begitu lepas, seolah ia tidak memiliki beban apa pun di pundaknya, seolah tidak ada rahasia gelap atau luka yang tersimpan,dan seolah tidak ada masalah pelik yang sedang mengintai hubungan mereka.
"Kamu kenapa, Kak? Kok matanya merah? Kamu habis nangis?" tanya Sefa lembut, jemari tangannya yang halus bergerak menyentuh pipi Arka, menghapus sisa jejak air mata yang sempat tertinggal di sana.
“Ya Tuhan, Gadis ini, gadis yang sangat aku cintai, bahkan aku rela mengorbankan jiwa dan ragaku untuk sepucuk kebahagiaan, tapi kenapa kini aku dengan tega menghancurkan hatinya berkeping-keping.” Arka membatin menatap Sefa dengan lekat.
“Sayang, Are you oke?” Sefa mengusap pipi Arka sehingga lelaki itu tak kuasa menahan air matanya lagi.
Sentuhan itu seperti sengatan listrik bagi Arka. Rasa rindunya buncah, bercampur aduk dengan rasa berdosa yang luar biasa. Tanpa aba-aba, Arka memajukan tubuhnya dan langsung menarik Sefa ke dalam pelukannya. Ia mendekap tubuh mungil itu dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, Sefa akan lenyap selamanya dari hidupnya.
Di dalam dadanya, jiwa Arka seakan mengaung hebat, berteriak meminta maaf atas pengkhianatan terbesar yang telah ia lakukan.
“Maafkan aku, Sef... Maafkan aku...”
Arka membenamkan wajahnya di ceruk leher Sefa, menghirup aroma tubuh wanita itu yang selalu ia rindukan. Air matanya kembali luruh tanpa suara, membasahi bahu piyama yang dikenakan Sefa.
Di dalam hati, Arka dirundung ketakutan yang teramat sangat. Ia pun tidak yakin, bahkan merasa mustahil, apakah Sefa akan sudi memaafkannya dan membalas pelukannya ini lagi saat gadis itu tahu jika dirinya telah mengkhianati komitmen mereka dan menikahi Vina.
“Maafkan aku sayang, bagaimana nanti jika kamu tau kalau aku sudah menyakiti hatimu bahkan sampai ke akarnya.. apakah kamu akan memaafkan aku?”
Sefa tertegun sejenak menerima pelukan yang begitu tiba-tiba dan emosional itu. Namun perlahan, kedua tangan Sefa terangkat. Ia membalas pelukan Arka, melingkarkan lengannya di punggung kokoh sang kekasih. Sefa memejamkan matanya rapat-rapat, menikmati kehangatan itu. Ia pun seolah merindukan dekapan lelaki yang selama beberapa tahun ini selalu memberikan kenyamanan penuh atas dirinya.
"Kak Arka..." bisik Sefa lirih, tangannya mengelus lembut rambut belakang Arka.
"Kamu kenapa? Cerita sama aku. Ada apa sebenarnya?"
Seolah tidak mengetahui apa yang di rasakan oleh Arka, Sefa memilih melembut seolah tidak tau apa-apa.
“Kak?”
“Hmmm?”’
“Kamu kenapa? Kenapa nangis?” Sefa bertanya lagi karena sejak tadi Arka hanya diam.
Arka tidak menjawab. Ia hanya terus mempererat pelukannya, membiarkan keheningan malam di kota Roma menjadi saksi atas dua hati yang berpelukan erat, namun dipisahkan oleh jurang rahasia yang siap meruntuhkan segalanya dalam hitungan hari.
like dan berikan ulasan.. agar authornya semangat UP setiap bab 🙏😍😍😍