NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

INSPEKSI DAPUR TAK TERDUGA

Suara bel pintu apartemen unit 1205 berbunyi dengan nada yang tidak sabar, seolah-olah penekan belnya sedang melakukan misi penyelamatan negara. Sintia, yang baru saja selesai mandi dan masih mengenakan daster rumahan motif bunga-bunga yang sedikit pudar, tersentak. Di sofa ruang tamu, Jingga sedang asyik bermain game di ponselnya dengan kaki terangkat ke meja.

"Jing, siapa? Lu pesen paket?" tanya Sintia sambil mengeringkan rambut dengan handuk.

Jingga menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Enggak. Palingan kurir salah alamat. Biarin aja."

Ting-nong! Ting-nong! Ting-nong!

Bel berbunyi lagi, kali ini diikuti oleh suara ketukan pintu yang sangat familiar di telinga Jingga. Suara ketukan yang ritmis, tegas, dan mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. Mata Jingga membelalak. Dia mengenali pola ketukan itu. Itu adalah ketukan "Kode Merah".

"Mampus... itu Nyokap gue," desis Jingga, hampir menjatuhkan ponselnya.

Sintia membeku. "Ibu lu? Ngapain jam segini ke sini? Kan nggak ada janji!"

"Mana gue tahu! Cepet, beresin itu pembalut atau apa pun barang cewek yang bertebaran! Gue buka pintu!" Jingga panik, dia menendang sandal rumahnya dan berlari menuju pintu dengan langkah seribu.

Begitu pintu dibuka, sosok wanita paruh baya yang tampak anggun namun memiliki tatapan mata setajam silet berdiri di sana. Ibu Jingga, Bu Lastri, mengenakan setelan batik sutra dan membawa sebuah tas pendingin besar.

"Jingga! Lama sekali buka pintunya. Kamu lagi ngapain? Main judi online ya?" tuduh Bu Lastri tanpa salam, langsung nyelonong masuk ke dalam apartemen.

"Enggak, Bu! Tadi lagi... lagi tadarus! Eh, maksudnya lagi baca dokumen kantor," jawab Jingga asal.

Sintia muncul dari balik lorong dengan senyum yang sangat dipaksakan, mencoba menutupi fakta bahwa dia baru saja melempar tumpukan cucian kotor ke dalam lemari dan menguncinya. "Ibu! Wah, kejutan sekali. Silakan duduk, Bu."

Bu Lastri tidak langsung duduk. Dia meletakkan tas pendinginnya di meja makan dan mulai mengendus udara. "Aroma apa ini? Kok bau mi instan goreng?"

"Anu, Bu... itu... camilan sore," sahut Sintia cepat.

"Camilan sore kok mi instan. Kalian ini sudah menikah, harus jaga kesehatan. Mana dapurnya? Ibu mau taruh rendang dan stok bumbu dari Bandung ini ke kulkas," ujar Bu Lastri sambil melangkah mantap menuju dapur.

Jingga dan Sintia saling lirik. Jantung mereka berdegup kencang secara sinkron. Dapur adalah area paling berantakan di apartemen itu. Karena mereka jarang masak bareng, bumbu-bumbu dapur di sana adalah hasil sisa-sisa belanjaan yang tidak terurus.

"Astaga! Jingga! Sintia!"

Teriakan Bu Lastri dari arah dapur membuat keduanya berlari kecil menghampiri. Bu Lastri berdiri di depan rak bumbu dengan wajah horor, seolah-olah dia baru saja melihat TKP pembunuhan.

"Kalian ini bagaimana? Ini botol garam kenapa tutupnya hilang? Terus ini... kenapa ketumbar dicampur sama merica di satu wadah? Kalian mau bikin masakan aliran sesat?" Bu Lastri menunjuk deretan botol plastik yang tidak berlabel dan lengket.

Sintia menelan ludah. "Itu... itu sebenarnya sistem penyimpanan modern, Bu. Namanya fusion seasoning."

"Fusion apa?! Ini namanya berantakan, Sintia! Ibu dulu ajarkan Jingga untuk selalu rapi. Masa istri Jingga cara nyimpen bumbunya kayak gudang pecah belah begini?" Bu Lastri menatap Sintia dengan tatapan kecewa yang sangat dalam. "Ibu nggak mau tahu. Sebelum Ibu pulang, dapur ini harus rapi. Ibu mau lihat kalian punya sistem yang terorganisir. Sekarang!"

Jingga segera mengambil inisiatif sebelum ibunya makin mengamuk. "Iya, Bu! Tenang aja. Sebenarnya kami emang lagi rencana mau beresin sore ini. Sintia udah beli labelnya kok! Ya kan, Sayang?" Jingga menyenggol lengan Sintia dengan keras.

"Eh? Iya! Iya, Bu! Labelnya ada di... di laci!" sahut Sintia sambil meringis menahan sakit di lengannya.

Bu Lastri duduk di kursi meja makan, mengawasi mereka seperti mandor bangunan yang kejam. "Sok, atuh, mulai sekarang. Ibu mau lihat kerja sama kalian. Pasangan yang harmonis itu terlihat dari bagaimana mereka menata dapur bersama."

Mau tidak mau, Sintia dan Jingga harus memulai sandiwara "Tim Dapur Solid". Sintia mengambil kain lap, sementara Jingga mencari spidol permanen dan kertas stiker. Mereka berdiri berhimpitan di dapur yang sempit, mencoba terlihat seperti pasangan yang saling mencintai padahal dalam hati ingin saling tendang.

"Sin, bersihin itu botol kecap yang tumpah. Lengket banget kayak masa lalu lu," bisik Jingga sambil menulis label.

"Diem lu, Anjing! Lu yang terakhir pakai kecap buat telur ceplok kemarin tapi nggak ditutup bener!" balas Sintia dengan suara yang sangat rendah, hampir tidak terdengar namun penuh penekanan.

"Sintia, kenapa bisik-bisik? Ada yang rahasia?" tanya Bu Lastri curiga.

Sintia langsung menoleh dengan senyum lebar. "Enggak, Bu! Ini saya cuma bilang ke Mas Jingga, tulisannya yang rapi ya, biar estetik kayak di Pinterest!"

"Bagus. Lanjutkan," sahut Bu Lastri kembali fokus pada ponselnya, mungkin sedang melapor pada ibu Sintia tentang kemajuan anak-anak mereka.

Drama berlanjut. Jingga mulai menulis label satu per satu. Garam. Gula. Merica. Micin. Dia menempelkannya dengan sangat presisi di botol-botol kaca yang sudah dilap bersih oleh Sintia.

"Nah, Bu. Lihat nih. Sekarang sistemnya udah jelas. Yang bumbu putih di sebelah kiri, bumbu berwarna di sebelah kanan. Kami pakai sistem kodifikasi warna," bual Jingga sambil menunjukkan deretan botol itu pada ibunya.

Sintia menambahkan dengan percaya diri, "Iya, Bu. Jadi kalau Mas Jingga mau masak, dia nggak bakal keliru ambil garam jadi gula. Kami sangat... terorganisir."

Bu Lastri berdiri, menghampiri rak bumbu itu dan memeriksanya satu per satu. Dia menyentuh botol-botol itu dengan ujung jarinya, memastikan tidak ada lagi sisa lengket. "Lumayan. Tapi ini, kenapa botol terasi ditaruh di dekat kopi? Nanti kopinya bau jempol."

"Oh, itu... itu biar kopinya punya aroma earthy, Bu! Lagi tren di kafe-kafe Jakarta!" sahut Jingga asal, membuat Sintia hampir meledakkan tawanya.

"Kalian ini aneh-aneh saja. Tapi ya sudahlah, setidaknya sekarang sudah rapi. Ingat ya Sintia, dapur itu cerminan hati perempuan. Kalau dapurnya rapi, rumah tangganya juga pasti tenang," petuah Bu Lastri sambil menepuk-nepuk bahu Sintia.

Sintia tersenyum kaku. Kalau Ibu tahu hati saya tiap hari pengen nimpuk anak Ibu pakai ulekan ini, Ibu pasti pingsan, batinnya.

Setelah hampir dua jam melakukan inspeksi mendalam ke setiap sudut dapur—termasuk memeriksa tanggal kedaluwarsa saus tiram di pojok kulkas—akhirnya Bu Lastri merasa puas. Dia memberikan beberapa tips memasak rendang yang "benar" sebelum akhirnya berpamitan karena ada pengajian di rumah temannya.

Begitu pintu apartemen tertutup rapat dan suara langkah kaki Bu Lastri menghilang, Sintia langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai dapur yang dingin.

"Gila... nyokap lu lebih serem daripada bos Adrian pas lagi marah," keluh Sintia sambil mengusap keringat di dahinya.

Jingga bersandar di kulkas, melepaskan napas panjang yang sepertinya sudah dia tahan sejak tadi. "Nyokap gue emang gitu. Dia penganut aliran 'Kerapian adalah Sebagian dari Iman'. Gue dari kecil udah kenyang dikritik gara-gara naruh kaos kaki nggak simetris."

Sintia menoleh ke arah rak bumbu yang sekarang terlihat sangat rapi, berderet seperti prajurit yang sedang upacara. "Tapi lihat deh, Jing. Jadi bagus juga sih dapur kita."

Jingga melirik rak itu. "Iya. Bagus. Tapi labelnya ada yang salah tuh."

"Mana?"

Jingga menunjuk sebuah botol kecil di pojok. "Tadi gue sengaja tulis 'Racun Tikus' di botol kaldu jamur lu."

Sintia langsung meloncat berdiri. "APA?! JINGGA! LU BENER-BENER YA!"

Sintia menyambar serbet dan mengejar Jingga yang sudah berlari menuju kamar sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka berkejaran di ruang tamu, melompati sofa, dan berteriak layaknya musuh bebuyutan yang kembali ke setelan pabrik.

"Balikin nggak labelnya! Nanti kalau gue beneran keracunan gimana?!" teriak Sintia.

"Ya bagus dong! Warisannya jadi buat gue semua!" balas Jingga sambil menjulurkan lidah dari balik pintu kamarnya.

Sintia berhenti di depan pintu kamar Jingga, napasnya memburu. Dia menatap pintu kayu itu dengan kesal, namun di saat yang sama, ada sesuatu yang aneh di hatinya. Kelelahan setelah bekerja sama dengan Jingga di dapur tadi ternyata memberikan rasa puas yang berbeda. Bukan rasa puas karena berhasil membohongi mertua, tapi rasa puas karena... mereka ternyata bisa bekerja sama tanpa harus ada yang terluka (fisik).

Sintia kembali ke dapur, mengambil spidol, dan mencoret label 'Racun Tikus' itu. Dia menggantinya dengan tulisan: 'Penyedap Rasa - Untuk Suami yang Kurang Rasa'.

Dia tersenyum kecil melihat tulisan itu. "Sistem dapur yang rapi, ya? Kita lihat bertahan berapa hari."

Sintia mematikan lampu dapur, namun aroma rendang dari Bu Lastri yang tertinggal di udara seolah menjadi saksi bisu bahwa di balik sandiwara hari ini, ada satu bata lagi yang diletakkan dalam fondasi hubungan mereka—meskipun bata itu masih sangat rapuh dan penuh dengan ejekan.

Malam itu, mereka makan rendang pemberian Bu Lastri dalam keheningan yang sedikit lebih ramah dari biasanya. Tidak ada suara denting sendok yang beradu keras, hanya suara TV yang menyala pelan. Mereka mungkin masih bermusuhan, tapi setidaknya untuk malam ini, mereka adalah tim yang berhasil memenangkan "Perang Dapur" melawan inspeksi dadakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!