NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Rutinitas Murid Luar

Dua minggu telah berlalu sejak Seol menjadi murid luar Sekte Pedang Surgawi.

Dua minggu penuh dengan keringat, tanah, dan rasa sakit yang membosankan. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia sudah bangun. Setiap malam, setelah semua lampu padam, ia masih berlatih di hutan kecil di belakang asrama. Tidak ada hari libur. Tidak ada istirahat. Hanya sapu, ember, dan tekad yang tidak pernah padam.

Tapi dua minggu juga cukup untuk mengajarinya sesuatu yang tidak pernah ia pelajari di Desa Cheonho: kesabaran.

---

Pagi Hari – Tugas Rutin

Matahari baru saja menyentuh puncak Gunung Cheongmyeong saat Seol sudah berdiri di area latihan murid dalam, sapu di tangan. Di sekelilingnya, daun-daun kering berguguran dari pohon-pohon tua yang menjulang di tepi pelataran—pepohonan yang sama setiap pagi, dengan jumlah daun yang sama banyaknya, seolah tidak pernah habis.

Ia menyapu dengan gerakan yang teratur. Bukan gerakan membosankan seperti yang dilakukan kebanyakan murid luar—yang hanya ingin cepat selesai. Gerakannya efisien, tenang, dan ada ritme di dalamnya. Ritme yang ia pelajari dari Gu: “Setiap gerakan, sekecil apa pun, bisa menjadi latihan jika kau melakukannya dengan kesadaran penuh.”

Setiap ayunan sapu adalah latihan keseimbangan. Setiap langkah adalah latihan penempatan kaki. Setiap kali ia membungkuk untuk mengambil dedaunan yang tersisa, ia melatih fleksibilitas tulang belakangnya. Tugas yang membosankan bagi orang lain menjadi meditasi baginya.

“Kau masih di sini.”

Suara itu datang dari belakangnya. Seol tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya.

Murid Senior Hwang, seorang pria berusia dua puluhan dengan wajah persegi dan alis tebal yang selalu tampak marah. Ia adalah salah satu murid dalam yang paling sering menggunakan area latihan ini, dan juga yang paling sering mengomeli murid luar.

“Setiap pagi kau di sini,” lanjut Hwang, berjalan mendekat dengan pedang di tangan. “Seperti hantu yang tidak bisa pergi.”

Seol tidak menjawab. Ia terus menyapu.

Hwang berdiri di depannya, menatap Seol dengan mata menyipit. “Kau tidak bosan? Menyapu daun setiap hari? Tidak ada yang akan melihat. Tidak ada yang akan menghargai. Kau hanya membuang waktu.”

“Daunnya harus bersih,” kata Seol datar. “Itu tugasku.”

Hwang mendengus. “Murid luar. Tidak punya ambisi.” Ia berbalik dan berjalan ke tengah pelataran, mulai berlatih dengan pedangnya.

Seol tidak menatapnya. Tapi ia mendengar. Setiap desis pedang, setiap hentakan kaki, setiap hembusan napas. Ia mempelajari gerakan Hwang dari suara—cara ia memegang pedang, cara ia memindahkan berat badan, cara ia mengalirkan qi ke ujung pedang.

Itu adalah bentuk latihan lain. Latihan yang tidak perlu izin siapa pun.

---

Siang Hari – Ruang Makan Bersama

Ruang makan murid luar terletak di bangunan terpisah dari ruang makan murid dalam. Bangunannya lebih kecil, lebih kotor, dan baunya tidak sedap—campuran asap, bawang, dan kayu lapuk. Meja-meja kayu panjang dipenuhi oleh murid luar lainnya, sebagian besar pria dan wanita paruh baya yang sudah bertahun-tahun di sini, wajah mereka penuh dengan kelelahan dan kepasrahan.

Seol duduk di sudut, semangkuk bubur hangat di depannya. Bubur itu encer, hampir tidak ada isinya, tetapi ia makan dengan lahap. Tidak ada yang boleh dibuang. Tidak ada yang boleh disia-siakan.

Baek Ho duduk di sampingnya, memandang buburnya dengan ekspresi masam. “Setiap hari sama. Bubur. Sayur asam. Kadang ada ikan asin kalau beruntung. Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan dengan makanan ini.”

“Kau akan terbiasa,” kata Seol.

“Kau terlalu sabar,” gumam Baek Ho. “Aku tidak tahu bagaimana kau melakukannya. Setiap hari menyapu, membersihkan, mengangkut air. Dan malamnya kau berlatih di hutan. Kapan kau istirahat?”

Seol tidak menjawab. Ia tidak bisa menjelaskan bahwa baginya, ini sudah lebih baik daripada di Desa Cheonho. Di sana, ia tidak hanya bekerja keras—ia juga dihina, diremehkan, dipandang seperti sampah. Di sini, setidaknya, tidak ada yang peduli cukup untuk membencinya. Ia hanya tidak terlihat. Dan ketidakjelasan itu adalah anugerah.

“Hei,” bisik Baek Ho, mencolek lengannya. “Lihat itu.”

Seol menoleh ke arah jendela. Dari sini, ia bisa melihat sebagian area latihan murid dalam. Seol Hwa sedang berlatih di sana, pedangnya berkelebat di bawah sinar matahari, gerakannya begitu cepat hingga sulit diikuti.

“Dia benar-benar cantik,” bisik Baek Ho. “Tapi juga menakutkan. Aku tidak akan pernah berani mendekatinya.”

Seol tidak menjawab. Ia mengamati gerakan Seol Hwa—bukan karena ketertarikan, tetapi karena ia sedang mempelajari sesuatu. Cara Seol Hwa mengalirkan qi ke pedangnya, cara ia memindahkan beban tubuh, cara ia mengatur napas di sela-sela gerakan. Semua itu adalah pelajaran yang tidak akan ia dapatkan dari instruktur mana pun selama ia masih menjadi murid luar.

“Kau memperhatikannya,” kata Baek Ho dengan nada bercanda. “Jangan-jangan kau—”

“Aku memperhatikan tekniknya,” potong Seol datar.

Baek Ho tertawa kecil. “Terserahlah.”

---

Sore Hari – Kabar dari Pengawas

Tugas sore Seol adalah mengangkut air dari sumur bawah ke area latihan murid dalam. Setiap hari, ia harus naik turun bukit dengan dua ember penuh di setiap tangan, total delapan kali perjalanan. Pekerjaan yang bahkan murid luar paling kuat pun mengeluh.

Tapi Seol menemukan cara untuk memanfaatkannya. Setiap langkah menanjak, ia mengalirkan qi ke kakinya, memperkuat otot-otot yang lemah. Setiap kali ember-ember itu terasa berat, ia menggunakan teknik pusaran untuk meringankan beban. Pada perjalanan kedelapan, ia biasanya sudah kehabisan qi—dan itu adalah latihan terbaik untuk memperluas kapasitasnya.

Hari ini, saat ia sedang mengangkat ember kedelapannya, ia melihat kerumunan kecil di dekat gerbang utama. Beberapa murid luar berdiri di sana, mendengarkan seorang pria dengan seragam pengawas yang sedang membacakan sesuatu dari gulungan kertas.

Seol mendekat, ember-ember masih di tangannya.

“—sesuai keputusan tetua sekte,” suara pengawas itu terdengar keras, “setiap enam bulan, akan diadakan evaluasi untuk murid luar. Mereka yang menunjukkan kemajuan signifikan dalam penguasaan qi dan teknik bela diri akan dipromosikan menjadi murid dalam.”

Bisik-bisik pecah di antara murid luar. Seol melihat mata mereka berbinar—bukan harapan, tetapi keingintahuan. Evaluasi seperti ini sudah sering diadakan, tetapi hanya sedikit yang berhasil.

“Evaluasi berikutnya akan dilaksanakan tiga bulan lagi,” lanjut pengawas itu. “Pendaftaran dibuka minggu depan. Syarat: minimal telah menjadi murid luar selama enam bulan, memiliki rekomendasi dari instruktur, dan…” Ia berhenti, matanya menyapu kerumunan. “Mampu mengalahkan setidaknya satu murid dalam dalam pertarungan sparring.”

Kerumunan itu tiba-tiba sunyi.

Mengalahkan murid dalam. Murid dalam yang telah berlatih bertahun-tahun, yang memiliki akses ke teknik-teknik tingkat lanjut, yang dilatih langsung oleh instruktur terbaik sekte. Untuk murid luar yang hanya diberi sapu dan ember setiap hari, itu adalah rintangan yang hampir mustahil.

Seol tidak bergerak. Di dalam dadanya, pusaran qi berputar lebih cepat.

Tiga bulan. Aku punya tiga bulan.

Ia menurunkan ember-embernya, berpaling, dan berjalan kembali ke asrama. Pikirannya bekerja cepat.

Tiga bulan untuk naik dari level Hwanin ke level yang cukup untuk mengalahkan murid dalam. Tiga bulan untuk mempelajari teknik yang tidak diajarkan kepadanya. Tiga bulan untuk membuktikan bahwa ia bukan sampah.

Ia tersenyum kecil.

Cukup.

---

Malam Hari – Latihan di Hutan

Seol berdiri di tempat terbuka kecil di antara pepohonan. Di tangannya, sebatang ranting kayu keras yang ia temukan di pinggir hutan—bukan pedang, tetapi cukup untuk berlatih.

Ia memejamkan mata. Di kepalanya, ia membayangkan gerakan-gerakan yang ia lihat hari ini. Gerakan Hwang yang kasar dan bertenaga. Gerakan Seol Hwa yang anggun dan mematikan. Ia menggabungkan keduanya, menciptakan sesuatu yang baru—sesuatu yang sesuai dengan tubuhnya yang masih kurus, dengan qi-nya yang masih terbatas.

Ia membuka mata. Ranting di tangannya bergerak.

Bukan gerakan cepat. Bukan gerakan indah. Tapi ada sesuatu di dalamnya—sesuatu yang lahir dari pengamatan, dari latihan tanpa henti, dari tekad yang tidak pernah padam.

Ia mengalirkan qi ke ranting itu. Di ujungnya, bayangan mulai terbentuk—bukan satu, bukan dua, tetapi empat bayangan.

Bayangan itu bertahan selama hampir satu menit sebelum menghilang.

Seol menurunkan ranting itu, napasnya terengah. Di dalam dadanya, pusaran qi berdenyut lebih cepat dari biasanya—tanda bahwa ia telah mencapai batasnya.

Tapi ia tersenyum.

Empat bayangan. Empat puluh detik. Masih jauh dari cukup. Tapi lebih baik dari kemarin.

Ia duduk bersila di atas tanah, memejamkan mata. Latihan qi. Setiap malam. Tidak pernah terlewat.

Di kejauhan, di balik pepohonan, sepasang mata hitam pekat mengamatinya.

Seol Hwa bersandar di batang pohon, tangan disilangkan di dada, pedang panjang tersandang di punggung. Ia sudah berdiri di sana sejak Seol mulai berlatih, tetapi tidak bergerak, tidak bersuara.

Ia mengamati gerakan-gerakan Seol. Kasar. Tidak terlatih. Tapi ada fondasi di sana—fondasi yang tidak diajarkan oleh instruktur mana pun di sekte ini. Fondasi yang berasal dari sesuatu yang lebih tua, lebih dalam.

“Siapa gurumu, Ryu Seol?” gumamnya dalam hati.

Ia tidak mendapat jawaban. Tapi ia tidak perlu. Yang ia lihat sudah cukup.

Pemuda ini tidak hanya berlatih. Ia hidup untuk berlatih. Setiap gerakan, setiap napas, setiap tetes keringat adalah bagian dari dirinya. Dan dalam tiga bulan, jika ia terus seperti ini…

Seol Hwa berbalik, melangkah pergi tanpa suara.

Ia penasaran. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia benar-benar penasaran.

---

Di Asrama – Tengah Malam

Seol kembali ke asramanya dengan langkah pelan. Tubuhnya terasa seperti habis dipukul bertubi-tubi, tetapi pikirannya jernih. Ia membuka pintu kayu yang berdecit, melangkah masuk ke dalam kegelapan kamarnya.

Di sudut, Baek Ho sedang duduk di atas tikar, menunggunya.

“Kau tahu,” kata Baek Ho, suaranya pelan agar tidak membangunkan yang lain, “suatu hari kau akan ketahuan. Dan jika kau ketahuan berlatih tanpa izin di tengah malam…”

“Aku tahu,” potong Seol. Ia duduk di tikarnya, mulai melepaskan sepatu yang penuh lumpur. “Tapi aku tidak punya pilihan.”

Baek Ho menghela napas. “Aku tahu. Aku hanya… khawatir.”

Seol menatapnya. Di bawah cahaya bulan yang masuk melalui celah dinding, wajah Baek Ho tampak lebih serius dari biasanya.

“Kau dengar kabar tentang evaluasi?” tanya Seol.

Baek Ho mengangguk. “Tiga bulan. Harus mengalahkan murid dalam.” Ia tertawa kecil, pahit. “Aku bahkan tidak bisa mengalahkanmu dalam sparing. Bagaimana aku bisa mengalahkan murid dalam?”

“Kau bisa,” kata Seol. “Kau punya kekuatan fisik yang luar biasa. Kau hanya perlu teknik.”

“Teknik dari mana? Tidak ada yang mengajari kita.”

Seol terdiam. Ia memikirkan Gu yang masih tertidur. Ia memikirkan teknik-teknik yang diajarkan Gu dulu—teknik yang tidak boleh ia bagikan pada siapa pun. Tapi Baek Ho bukan sembarang orang. Baek Ho adalah teman. Satu-satunya teman yang ia miliki di tempat ini.

“Aku akan mengajarimu,” kata Seol akhirnya.

Baek Ho terkejut. “Kau? Tapi kau sendiri—”

“Aku tahu beberapa teknik dasar. Bukan yang diajarkan di sekte ini. Tapi cukup untuk membuatmu lebih kuat.” Seol menatap matanya. “Tapi kau harus janji: tidak memberi tahu siapa pun. Jika ketahuan, kita berdua akan dikeluarkan.”

Baek Ho terdiam sejenak. Kemudian ia tersenyum—senyum lebar yang sudah lama tidak Seol lihat.

“Janji.”

Ia mengulurkan tangannya. Seol menjabatnya.

Dua pemuda di ruang sempit itu, di asrama kumuh murid luar, di bawah cahaya bulan yang tipis, membuat janji yang akan mengubah segalanya.

---

Di Kediaman Murid Dalam – Dini Hari

Seol Hwa tidak bisa tidur.

Ia berbaring di tempat tidurnya, mata terbuka lebar menatap langit-langit kamarnya yang terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi. Di luar, angin malam bertiup lembut, membawa aroma bunga sakura dari kebun sekte.

Pikirannya terus kembali pada pemuda kurus dengan sapu di tangan itu.

Ryu Seol.

Ia sudah melihat banyak murid luar selama bertahun-tahun. Kebanyakan dari mereka menyerah setelah beberapa bulan. Beberapa bertahan, tetapi tenggelam dalam rutinitas yang membosankan, kehilangan semangat yang pernah membawa mereka ke sini.

Tapi Ryu Seol berbeda.

Pemuda itu tidak hanya bertahan. Ia berkembang. Setiap hari, Seol Hwa mengamatinya dari kejauhan. Setiap hari, ia melihat perubahan kecil—cara berjalan yang lebih mantap, napas yang lebih teratur, qi yang mulai terasa meski ia berusaha menyembunyikannya.

Dan malam ini, ia melihat empat bayangan.

Empat bayangan, pikirnya. Teknik itu… bukan teknik sekte ini. Juga bukan teknik klan mana pun yang aku kenal. Dari mana kau mendapatkannya, Ryu Seol?

Ia memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, ia membayangkan gerakan-gerakan Seol malam ini. Kasar. Tidak terlatih. Tapi ada potensi di sana. Potensi yang jika diasah dengan benar…

Ia bisa menjadi ancaman. Atau ia bisa menjadi…

Ia tidak menyelesaikan pikirannya.

Tiga bulan. Evaluasi dalam tiga bulan. Jika Ryu Seol benar-benar mendaftar—dan Seol Hwa yakin ia akan mendaftar—maka ia harus berhadapan dengan murid dalam. Dan jika ia berhasil mengalahkan satu…

Seol Hwa tersenyum kecil di dalam gelap.

Maka segalanya akan menjadi menarik.

Ia memejamkan mata, membiarkan tidur datang perlahan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa ada sesuatu yang layak ditunggu.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!