Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.
Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.
Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Shift Malam.
Gemini berkata
Suasana Dina Coffee malam itu pecah. Dentuman bas dari grup musik lokal yang membawakan lagu-lagu balada akustik memenuhi ruangan yang beraroma kopi dan kayu jati. Dimas berdiri di balik meja bar, tangannya sibuk mengelap gelas, namun matanya terus memantau kerumunan pengunjung yang memadati setiap sudut kafe. Ini adalah eksperimen pertamanya mengadakan live music hingga tengah malam untuk mendongkrak pemasukan yang sempat merah.
"Mas, pesanan meja delapan! Americano dua sama kentang goreng satu," teriak salah satu karyawannya di sela kebisingan.
"Nggih, sedelok! (Iya, sebentar!)" balas Dimas. Tangannya cekatan mengoperasikan mesin espresso. Keringat membasahi dahi dan lehernya. Di kepalanya hanya ada satu target: omzet malam ini harus cukup untuk menutup biaya listrik dan sisa gaji pegawai.
Pukul dua dini hari, kafe baru benar-benar sepi. Dimas mengunci pintu kaca kafenya dengan tangan lemas. SUV hitamnya meluncur membelah jalanan Surabaya yang mulai lengang, hanya menyisakan truk-truk besar yang merayap menuju pelabuhan. Pikirannya kosong, hanya ingin segera menyentuh bantal.
Di sisi lain, di dalam kamar apartemen yang dingin, Dinara sudah duduk tegak di depan meja rias. Matanya sedikit sembab karena baru tidur tiga jam. Hari ini adalah hari krusial. Ia harus mendampingi tim jaksa senior untuk sidang lapangan di sebuah lahan sengketa yang jaraknya cukup jauh. Ia harus berangkat saat adzan Subuh berkumandang agar tidak terjebak macetnya jalur keluar kota.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka pelan. Dimas masuk dengan langkah gontai, aroma asap rokok dan kopi menempel kuat di pakaiannya. Ia tertegun melihat Dinara sudah rapi dengan kemeja putih dan kerudung instan yang praktis.
"Baru pulang, Mas?" tanya Dinara, suaranya serak namun terdengar tegas.
Dimas mengangguk, ia menghempaskan tubuhnya ke sofa kecil di sudut kamar tanpa melepas sepatu. "Rame banget tadi, Dek. Alhamdulillah, kafenya penuh. Mas baru bisa beresin semuanya jam satu tadi."
Dinara melirik jam dinding. Pukul setengah empat pagi. "Mas nggak mau shalat Tahajud dulu? Biasanya kita..."
"Aduh, Dek... Mas ngelu (pusing) banget. Kaki rasanya mau copot. Mas shalat Subuh saja nanti, sekarang mau merem bentar. Lima menit saja," potong Dimas sambil memejamkan mata.
Dinara terdiam. Biasanya, di jam seperti ini, mereka akan saling membangunkan, berwudhu bersama dalam hening, dan mengadu pada Sang Pencipta tentang beratnya hari. Tapi pagi ini, Dimas tampak seperti mesin yang kehabisan daya, sementara Dinara adalah prajurit yang harus segera maju ke medan perang.
Dinara menghela napas, ia mengambil sajadahnya dan menghampiri Dimas. Ia menyentuh lutut suaminya pelan. "Mas, wudhu dulu. Biar badannya enak. Tahajud sebentar saja, Mas kan imamnya Dinara."
Dimas hanya melenguh pelan tanpa membuka mata. "Mas capek, Sayang. Tolonglah, jangan dipaksa dulu. Kamu berangkat saja dhisik, nanti Mas shalat sendiri."
Kecewa. Ada rasa perih yang menusuk ulu hati Dinara. Ia merasa rutinitas sakral yang menjadi fondasi mereka selama ini mulai terkikis oleh urusan dunia. Tanpa banyak bicara, Dinara menggelar sajadahnya sendirian di pojok kamar. Ia shalat dalam kesunyian yang menyakitkan, hanya ditemani suara dengkur halus Dimas yang sudah terlelap di sofa.
Usai shalat, Dinara merapikan perlengkapannya. Ia tidak tega membangunkan Dimas lagi untuk berpamitan secara formal. Ia hanya menuliskan pesan singkat di atas secarik kertas dan meletakkannya di atas ponsel Dimas.
Mas, Dinara berangkat. Sarapan sudah aku siapkan di meja, tinggal dipanasin. Jaga kesehatan, jangan terlalu diforsir kafenya. Assalamualaikum.
Matahari sudah cukup tinggi saat Dimas terbangun. Ia tersentak melihat jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia melewatkan Subuh berjamaah di masjid, bahkan hampir melewatkan waktu shalatnya sendiri. Ia bergegas berwudhu dengan perasaan bersalah yang menghimpit.
Saat menuju dapur, ia menemukan piring yang tertutup tudung saji. Nasi goreng dengan telur mata sapi yang sudah mendingin. Dimas membaca memo dari Dinara, lalu menyandarkan kepalanya di pintu kulkas.
"Ya Allah... kok dadi ngene (kok jadi begini)," bisiknya lirih.
Ia merasa keberhasilannya mengumpulkan uang semalam terasa hambar karena harus mengorbankan waktu spiritualnya dengan sang istri. Dimas meraih ponselnya, berniat menelepon Dinara, namun ia urungkan. Ia tahu Dinara pasti sedang sibuk di lapangan, dikelilingi oleh polisi, hakim, dan pengacara yang haus akan kejelasan hukum.
Sementara itu, Dinara berdiri di tengah lahan luas yang gersang. Udara Surabaya yang mulai menyengat membuat keringat bercucuran di balik jilbabnya. Ia mencatat setiap detail batas tanah, mendengarkan perdebatan yang melelahkan, namun pikirannya melayang ke apartemen.
Ia teringat wajah lelah Dimas. Ia merasa egonya sebagai istri juga terluka. Ia ingin Dimas sukses dengan Dina Coffee, tapi ia tidak ingin kehilangan sosok Dimas yang selalu membimbingnya di sepertiga malam.
"Mbak Dinara? Kok bengong? Ini datanya sudah benar belum?" tanya seorang rekan kerjanya.
"Eh, nggih, Pak. Sudah benar. Maaf, saya kurang fokus sedikit," jawab Dinara cepat, mencoba kembali ke profesionalitasnya.
Sore harinya, Dimas kembali ke kafe lebih awal untuk mempersiapkan shift malam berikutnya. Namun, semangatnya tidak seperti semalam. Setiap kali melihat nama kafenya, Dina Coffee, ia teringat wajah istrinya yang tadi pagi tampak sangat asing dalam balutan seragam kerjanya.
"Mas Dimas, nanti malam ada band lagi?" tanya salah satu pegawainya.
"Enggak ada. Kita buat suasana tenang saja malam ini. Mas mau tutup jam sepuluh tepat. Gak usah kakehan polah (Nggak usah banyak tingkah), Mas mau pulang cepat," tegas Dimas.
Dimas menyadari satu hal: uang yang masuk dari acara live music itu memang banyak, tapi jika harganya adalah hilangnya momen Tahajud bersama Dinara, maka baginya itu adalah kerugian besar. Ia tidak ingin kafenya yang memakai nama istrinya justru menjadi alasan ia menjauh dari istrinya.
Pukul sepuluh malam, SUV hitam Dimas sudah terparkir di apartemen. Ia bergegas masuk dan menemukan Dinara sedang duduk di sofa, sedang memijat kakinya yang bengkak karena seharian berdiri di lapangan.
"Sayang..." panggil Dimas pelan.
Dinara menoleh, sedikit terkejut melihat Dimas sudah pulang. "Lho, kok cepat, Mas? Nggak ada acara musik lagi?"
Dimas duduk di lantai, tepat di depan kaki Dinara. Tanpa diminta, ia mengambil minyak urut di atas meja dan mulai memijat kaki istrinya dengan lembut. "Mas kapok, Dek. Mas nggak mau lagi pulang jam tiga pagi kalau ujung-ujungnya kita jadi kayak orang asing di rumah sendiri."
Dinara terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Rasa lelahnya seolah luruh saat merasakan sentuhan tangan Dimas.
"Maafin Mas ya tadi pagi. Mas egois banget, cuma mikirin capeknya sendiri sampai lupa kewajiban Mas sebagai imam," ucap Dimas tulus, ia menatap mata Dinara dalam-dalam.
Dinara mengusap dahi suaminya yang masih tampak kuyu. "Dinara juga minta maaf kalau tadi pagi nadanya agak ketus. Dinara cuma takut, Mas. Takut kita terlalu sibuk cari dunia sampai lupa kalau kekuatan kita itu ada di sajadah yang sama."
Dimas tersenyum, ia mencium tangan Dinara. "Nggih, Sayang. Mulai besok, Mas atur jadwal kafe lebih bener lagi. Kita nggak boleh absen Tahajud lagi. Mas kangen doain kamu pas kamu lagi senderan di bahu Mas."
Malam itu, Surabaya terasa lebih tenang bagi mereka. Meski tubuh mereka remuk oleh tuntutan pekerjaan, setidaknya hati mereka telah kembali di satu frekuensi. Mereka menyadari bahwa shift malam sejati bagi mereka bukanlah di kafe atau di kantor kejaksaan, melainkan momen ketika mereka berdua bersimpuh di hadapan Yang Maha Kuasa, menyatukan doa di tengah bisingnya ambisi dunia.