NovelToon NovelToon
Menantu Cenayang

Menantu Cenayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Action / Harem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sean Sensei

🔖 SINOPSIS :

Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.

​Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.

Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.

🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 | Sang Mantan yang Mengemis

...----------------🍁----------------🍁----------------...

Lantai lobi Grup Dragon terbuat dari marmer Carrara yang dipoles hingga mencapai tingkat refleksi sempurna. Dari balkon lantai mezzanine, aku bisa melihat bayangan ku sendiri di bawah sana, sosok pria dengan setelan jas custom-made seharga ribuan dollar, dikelilingi oleh pengawal berseragam yang siap mati demi perintah ku.

Namun, bukan bayangan ku yang menarik perhatian ku pagi ini. Melainkan sesosok wanita yang duduk di kursi roda di tengah luas nya lobi itu. Sosok yang tampak seperti noda kusam di atas kanvas kemewahan Shanghai.

"Clarissa Wijaya," gumam ku, suara ku bergema di dalam batin yang kini sedingin es kutub. "Dulu, aroma parfum mu adalah udara yang aku hirup. Dulu, senyum mu adalah hukum yang ku patuhi. Tapi sekarang, melihat mu di sana hanya membangkitkan rasa hambar, seperti membaca koran basi dari dekade yang lalu."

Aku merasakan denyut halus di mata kiri ku. Kemampuan ku mulai aktif tanpa ku pinta. Aku melihat aura di sekitar Clarissa. Itu bukan lagi aura emas kemakmuran yang dulu ia pamerkan di Jakarta. Aura nya sekarang berwarna kelabu kecokelatan, warna dari keputusasaan, kemiskinan, dan penyakit yang menggerogoti sisa-sisa harga diri nya.

Aku melangkah menuruni tangga melingkar. Setiap denting sepatu ku di lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi keheningan lobi. Para staf menunduk hormat saat aku lewat, namun mata ku terkunci pada wanita itu.

Clarissa mendongak. Wajah nya yang dulu selalu dipoles kosmetik terbaik kini tampak pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menceritakan malam-malam tanpa tidur. Saat mata nya bertemu dengan mata ku, mata yang kini memancarkan kilatan merah-emas yang mistis, ia tersentak.

"Sa... Satya?" suara nya pecah, serak karena terlalu banyak menangis.

Aku berhenti tiga langkah di depan nya. Jarak yang cukup dekat untuk mencium bau sisa-sisa antiseptik rumah sakit yang masih melekat pada pakaian nya, namun cukup jauh untuk menegaskan bahwa ada jurang dimensi yang memisahkan kami.

"Tuan Satya Samantha bagi Anda, Nona Wijaya," kata ku, suara ku datar, tanpa intonasi kemarahan maupun belas kasihan.

"Satya, tolong... lihat aku," Clarissa mencoba meraih ujung celana ku, namun tangan nya yang gemetar tertahan oleh tatapan dingin ku. Ia mulai terisak, bahunya berguncang hebat. "Aku tahu aku salah. Aku tahu aku wanita paling bodoh di dunia karena membuang mu. Tapi lihat kondisi ku sekarang... kaki ku... aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi."

Ayah Clarissa, pria yang dulu memanggil ku sampah dan parasit di depan seluruh relasi bisnis nya, kini berdiri di belakang kursi roda itu. Ia tidak berani menatap mata ku. Ia membungkuk begitu rendah hingga dahi nya hampir menyentuh sandaran kursi roda putri nya.

"Satya, Nak... tolonglah Clarissa," bisik pria tua itu dengan suara gemetar. "Keluarga kami hancur. Kami tidak punya uang untuk operasi saraf nya. Kau sekarang kaya raya, kau punya segalanya. Setetes dari kekayaan mu bisa menyelamatkan nyawa putri ku."

Aku menatap mereka berdua. Pemandangan ini seharusnya memuaskan dendam ku. Aku seharusnya tertawa melihat raksasa yang dulu menginjak ku kini bersujud di bawah kaki ku. Namun, yang ku rasakan hanya lah kekosongan.

"Apakah ini yang dinamakan puncak kekuatan?" pikir ku. "Saat kau menyadari bahwa menghancurkan semut yang pernah menggigit mu adalah pemborosan energi yang sia-sia."

"Operasi saraf di Shanghai sangat mahal," kata ku sambil memperbaiki letak jam tangan Patek Philippe ku. "Dan fasilitas medis terbaik di sini berada di bawah naungan Samantha Holdings. Kalian datang ke tempat yang tepat jika mencari kualitas."

Mata Clarissa berbinar karena harapan palsu. "Kau mau membantu ku? Oh, Satya, aku tahu kau masih pria baik yang ku kenal! Aku tahu cinta mu tidak akan hilang begitu saja!"

Ia mencoba memaksakan senyum, sebuah senyum yang dulu selalu berhasil meluluhkan hati ku. Namun sekarang, senyum itu tampak menjijikkan, seperti topeng yang retak.

"Cinta?" aku mengulangi kata itu seolah-olah itu adalah istilah teknis dari bahasa kuno yang sudah mati. "Mari kita bicara tentang nilai, Clarissa. Di dunia ini, segala sesuatu memiliki label harga. Kau datang ke sini bukan membawa cinta, kau datang membawa tagihan medis yang tidak bisa kau bayar."

Aku merogoh saku jas dalam ku. Clarissa dan ayah nya menahan napas, mungkin berharap aku akan mengeluarkan buku cek atau kartu kredit hitam tanpa batas.

Aku mengeluarkan sebuah koin logam. Koin seratus Rupiah lama, berkarat dan penyok, yang ku temukan di saku celana lama ku saat aku masih menjadi pelayan di rumah mereka. Aku menjatuhkan nya ke pangkuan Clarissa yang lumpuh.

Ting.

Koin itu berdenting pelan di atas kain rok nya yang murah.

"Ini," kata ku.

Clarissa menatap koin itu dengan bingung. "Apa... apa ini?"

"Itu adalah nilai dari seluruh air mata yang ku teteskan saat kau mengusir ku di tengah hujan," jawab ku, melangkah maju satu langkah, menekan kehadiran ku hingga ia merasa sulit bernapas. "Itu adalah nilai dari setiap janji setia yang kau langgar dengan pria lain di tempat tidur kita. Dan itu adalah nilai dari cinta yang kau tawarkan pada ku hari ini sekarang setelah aku menjadi Naga Shanghai."

"Satya, kau tidak bisa melakukan ini! Aku istri mu!" teriak Clarissa, tangan nya mencengkeram koin itu hingga kuku nya memutih.

"Kau mantan istri dari seorang pria yang sudah kau bunuh dengan kehinaan mu," balas ku kejam. "Pria yang berdiri di depan mu sekarang tidak mengenal mu. Pria ini hanya mengenal profit dan kerugian. Dan dalam neraca kehidupan ku, kau adalah aset busuk yang sudah seharusnya dihapus bukan begitu?"

Aku berbalik, memberi isyarat kepada Lin Xia yang berdiri di dekat lift.

"Xia, hubungi pihak keamanan. Berikan mereka lima puluh dollar untuk membawa dua orang ini ke pelabuhan kargo. Pastikan mereka naik kapal kargo paling lambat malam ini untuk kembali ke Jakarta. Kota ini tidak butuh pengemis dengan masa lalu yang membosankan."

"Satya! JANGAN!" Clarissa menjerit, mencoba mendorong kursi roda nya mengejar ku, namun roda kursi nya tersangkut di celah ubin marmer, membuat nya hampir terjungkal. "AKU AKAN MATI JIKA KAU TIDAK MEMBANTU KU! APA KAU TEGA LIHAT AKU MATI?!"

Aku berhenti sejenak, namun tidak berbalik. Aku menatap pantulan mereka di dinding kaca lobi. Di sana, aku melihat diri ku sendiri, seorang pria yang telah menukar kemanusiaan nya dengan kekuatan yang tak terbatas.

"Kematian adalah proses alamiah, Clarissa," gumam ku, cukup keras untuk didengar oleh nya. "Sama seperti kejatuhan keluarga Wijaya. Kalian tidak mati karena aku, kalian mati karena kesombongan kalian sendiri. Nikmatilah koin itu. Setidaknya itu bisa membelikan mu segelas air di kapal nanti."

Aku melangkah masuk ke dalam lift emas yang terbuka. Meiling sudah ada di dalam, menunggu ku dengan senyum kemenangan yang dingin. Ia telah melihat seluruh adegan itu melalui monitor CCTV.

"Kau terlalu baik pada nya, Satya," bisik Meiling saat pintu lift tertutup, memutus jeritan Clarissa di lobi bawah. "Jika itu aku, aku akan memastikan mereka tidak pernah meninggalkan dermaga."

Meiling merapatkan tubuh nya pada ku, tangan nya yang halus meraba dada ku, mencari kehangatan di balik jas mahal itu. Aku membalas pelukan nya, namun mata ku tetap menatap angka lantai yang bergerak naik.

"Aku bukan baik, Meiling," pikir ku. "Aku hanya ingin dia hidup cukup lama untuk melihat bagaimana aku menaklukkan dunia yang dulu dia pikir terlalu besar untuk ku. Aku ingin dia merasakan setiap detik kelumpuhan nya sebagai pengingat bahwa dia telah membuang suami nya hanya demi seorang pecundang."

Lift berdenting. Lantai 88.

Aku keluar dari lift, kembali ke dunia ku yang berada di atas awan. Di bawah sana, Clarissa hanya lah titik kecil yang sedang diseret keluar oleh petugas keamanan. Pintu masa lalu ku telah tertutup rapat, digembok oleh koin karat yang melambangkan akhir dari kemanusiaan ku.

"Kirim pesan ke Detektif Chen," kata ku pada Lin Xia yang baru menyusul. "Katakan pada nya untuk mengawasi kapal kargo itu. Aku tidak ingin ada kecelakaan yang membuat mereka kembali ke daratan China. Biarkan mereka membusuk di tempat asal mereka."

"Baik, Tuan Satya," jawab Lin Xia patuh.

Aku berdiri di meja kerja besar ku, menatap peta industri teknologi yang sedang aku bangun. Mata ku kembali berkilat. Kali ini bukan lagi soal uang. Ini soal dominasi mutlak.

"Selamat tinggal, Clarissa," batin naga di dalam diri ku menggeram puas. "Terima kasih atas luka itu. Tanpa nya, aku tidak akan pernah memiliki kegelapan yang cukup untuk menerangi jalan ku menjadi penguasa."

Malam itu, Shanghai tetap bersinar, namun di dalam gedung Samantha Holdings, sebuah hati baru saja mengeras menjadi berlian yang tak terpatahkan, indah, mahal, namun tak lagi memiliki ruang untuk belas kasihan.

...----------------🍁----------------🍁----------------...

1
Syh.Mutiara
Ada ada aja, deh😄
Serena Khanza
duh takut 🫣 gimana nih sama satya
Hunk
anjay posesif banget nih cewe.
Hunk
Masih hidup mantan istrinya? aku kira udah mati.
LOL #555
Wihh,ini mereka bakal jadi pasangan atau cuman rekan kerja biasa
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
jadi, kekuatan mata super itu diketahui banyak orang yang Thor?
Serena Khanza
wuih wang meiling pocecip 🤭 biasanya kan cowok yang pocecip ya 🫣
Panda
cukup oke cuma wang itu terlalu telling dan kebanyakan narasi emosi dibanding "show" emosi
Syh.Mutiara
waduh gak cukup tuh untuk hidup dalam seminggu
LOL #555
emas murni sama jam tangan ? 200k? pengen ditendang ni bapak satu
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
kelazzz cuyyy, ijin copas 🤭
Hunk
Keren banget bagian ini. Ketegangan dan urgensinya kerasa nyata, apalagi saat keputusan ekstrem seperti jual Yuan dan pakai leverage besar langsung dieksekusi. Dialognya tegas dan punya power, bikin karakter MC terasa dominan dan berani ambil risiko.👍
Serena Khanza
wow adegan nya panas thor
Hunk
/Applaud/Aww terlalu dekat🤭
Serena Khanza
tinggi bener 88 lantai ya buset 😭
Alexanderia
ceritanya bagus 👍👍
Syh.Mutiara
benar jugaa ya🤔 Dunia ini akan berubah seiring waktu
LOL #555
Satrya ,kalau udah kaya di Shanghai sana , ingat ya ,aku adikmu 🤣
LOL #555
Berarti nanti anak Satya fak bakal bisa cenayang ya?
Serena Khanza
siapa nih🤔 si meiling ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!