sebuah keserakahan manusia yang akan membawa petaka dari keluarganya, untungnya Laluna si gadis cantik yang perkasa ini luput dari kekejaman serta keserakahan orangtuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laluna dan Azka
Pagi ini Laluna berjalan menelusuri trotoar, langkahnya dia ayun suka suka dia, suntuk sekali pagi ini, memikirkan tentang mimpinya semalam yang selalu datang disaat beban fikiran nya meluap, sebenarnya mimpi itu datang ketika dia punya masalah dan masalahnya adalah dia di blokir sama ibunya sendiri, "apakah aku ini bukan anak kandung mereka ya, kenapa tega sekali, padahal aku hanya menentang jalan hidup mereka yang tak bertauhid pada yang kuasa, tetapi rela jadi budaknya iblis hanya demi nafsu dunia.
Ketika dia melihat ada batu di tengah jalan dia tendang begitu saja tendangan itu sebenarnya bertujuan untuk menyingkirkan batu yang menjadi penghalang orang yang lewat di tengah jalan, tetapi sialnya malah mengenai kepala orang yang sedang menggendong anak yang ketakutan.
Laluna mendekat kearah orang itu tetapi dengan kepala yang berdarah laki laki dewasa itu malah melarikan diri meninggalkan anak yang tadi di gendongnya.
"Mas, eh pak eh Abang, ini gimana anaknya kok malah di tinggal di jalan?" teriak Laluna dan si pria itu malah lari ngibrit tanpa menoleh ke belakang, Laluna mendekati bocah laki laki tampan berumur sekitar tiga tahun itu dan mencoba menanyainya, anak lelaki tampan berkulit putih itu seperti tidak takut sama sekali dengan keadaan yang menimpanya, dan malah tersenyum manis ke arah Laluna karena merasa telah terselamatkan dari laki laki yang menculiknya tadi.
"Terimakasih Umi telah menyelamatkan Azka". Ucapnya sambil memeluk Laluna.
"Jadi nama kamu Azka, terus laki-laki tadi siapa?" tanya Laluna masih merasa geli karena di panggil Umi. Umi darimana, penampilannya saja tak mencerminkan seorang yang patut di panggil Umi.
"Nggak tahu, tadi waktu istirahat di sekolah tiba tiba paman itu manggil Azka terus dia bilang Nenny di jahati orang suruh Azka datang menolongnya, dan ternyata Azka di gendong paman tadi tapi dari tadi Azka tanya dimana Nenny dia bilang kita akan mencarinya". Jawab si tampan ini, Laluna bingung, ada masalah apalagi ini, masa harus terlibat urusan dengan orang yang tidak ada hubungannya dengan hidupnya.
Laluna mengajak bocil itu ke tempat makanan cepat saji dan ketika pagi tadi Laluna sempat baca berita yang fyp di berandanya bahwa makanan itu ber indikasi di campur dengan human meat, Laluna ngeri sendiri terus tanya pada Azka mau makan apa? Ternyata simple permintaan Azka, 'ingin makan mie ayam' padahal itu aji mumpung, mumpung Abinya tak tahu karena pasti di larang makan makanan pinggir jalan.
Laluna mengajak Azka ke kedai bakso yang cukup bersih dan pegawainya pun bersih dan berbaju rapi, kemudian dia memesan dua mangkok mie ayam pake bakso dan jus jeruk, Azka yang melihat makanan favoritnya itu sangat sumringah dan segera menyantap nya, padahal jika itu orang yang sudah punya nalar pasti juga tidak akan mau di traktir orang yang tak di kenal tapi ini Azka si kecil yang masih belum faham siapa yang jahat siapa yang baik, seperti nya pengawasan di sekolahnya kurang ketat sehingga anak sekecil ini bisa lolos dari pantauan para guru, guru paud, dan jugaa keteledoran sang pengasuh.
Azka ingat dimana Azka sekolah?" tanya Laluna.
"Ingat Umi, di paud Al-Hidayah". Jawab Azka sambil terus menyuapkan daging campur tepung berbentuk bulat yang jadi favoritnya tetapi di larang sama nenek dan ayahnya itu.
"paud Al-Hidayah itu jauh sekali dan harus berjalan memutar sedangkan dia harus tepat waktu sampai ke kantor karena harus segera meliput berita tentang pembantaian yang berada jauh di luar kota, mau langsung diantar ke kantor polisi juga kurang nyaman nanti si Azka malah panjang urusannya.
"Azka punya nomor Abi, tapi awas jangan jawab dengan menyebutku Umi, panggil kakak saja atau Tante". Tanya Laluna sekaligus memberi ancaman kecil buat Azka, geli sekali dia dipanggil Umi.
Azka mengambil name tag yang di kalung kan di lehernya dan membalikkan kartu nama tersebut yang ternyata tertera nomor hp ,Laluna segera mengambil kartu itu mendialnya dan dengan cepat meng klik panggilan, lama sekali tak ada jawaban, kelihatannya sedang melakukan telpon, Laluna sekali lagi menelpon setelah panggilannya tadi sampai akhir tiada jawaban.
Laluna dengan sabar melakukan panggilan lagi dan di dengarnya suara bariton,besar sekali dengan suara yang agak serak, Laluna tak mau bicara itu percuma dan hanya memperpanjang pembicaraan pasti akan di tuduh ini itu maka Laluna memberikan HP nya pada Azka.
"Assalamualaikum Abi, ini Azka sekarang sedang bersama Tante cantik ,tadi Azka di tolongnya karena mau di bawa om jahat". Suara lelaki kecil ini langsung di jawab dengan ucapan Alhamdulillah, Abi nya Azka langsung bertanya dimana mereka berada saat ini dan karena Azka tak tahu sedang berada dimana maka Laluna mengatakan sedang berada di kedai bakso di dekat Novotel hotel, kemudian Laluna mengaktifkan lokasi tempat mereka berada.
"Berarti tidak begitu jauh, tunggu sebentar nona, kami akan segera datang". Ucap lelaki dalam telpon yang belum di ketahui namanya itu.
sepuluh menit kemudian dua orang laki-laki yang satunya tinggi besar tapi tidak gemuk berjalan di belakang seorang yang berpenampilan necis, berwajah tampan rupawan berkulit putih bersih dengan mata biru nya, bibirnya merah merekah seperti bintang sinetron Turki, sungguh laki laki yang sempurna, fikir Laluna.
"Azka kamu menakuti Abi dan jiddeh saja, apa yang terjadi sama kamu nak". Tanya lelaki tampan Abinya Azka dalam bahasa inggris.
Azka kemudian menceritakan kejadian yang menimpanya sampai dia di tolong oleh Tante cantik ini.
"Sebenarnya tadi aku tak tahu dan tak ada niat menolong siapapun tapi ada batu di tengah jalan sebesar kepalan manusia dewasa niatku ingin meminggirkan biar tak mencelakai pejalan lain, eh malah kena orang yang berusaha menculik anak bapak, maaf jika tadi meleset malah takutnya anak bapak yang terkena batu tersebut, maafkan kecerobohan saya". Laluna menceritakan kejadian yang sebenarnya.
lelaki yang memperkenalkan diri bernama Fadli itu tersenyum, dan senyum itu mampu menghipnotis Laluna hingga ia terbengong tanpa sadar.
"Heii nona siapa tadi, nona Laluna ya, apapun terimakasih atas bantuan mu kali ini kalau boleh kamu kerja dimana?" tanya Abinya Azka.
Kemudian Laluna menunjukkan nametag nya juga yang di jadikan kalung, tanpa mengucapkan kata sepatah pun.
"OHH anda seorang wartawan?, bagaimana caranya saya harus mengucapkan terimakasih pada anda?"
"Tidak usah pak, kebetulan saya terburu buru jika Azka sudah berada di tangan yang tepat maka saya akan tenang dan saya pamit". Ucap Laluna.
Sebelum pergi sang asisten yang bernama Hasan memberikan dia kartu.
"kalau ada sesuatu yang bisa kami bantu tolong hubungi kami di lain waktu". Ucap Hasan.
Laluna menerima kartu yang ternyata dua lembar itu, dia sungguh tak tahu bahwa kartu itu ada dua lembar karena saling bertumpuk, lalu memasukkan begitu saja ke dalam tas nya, merekapun berpisah Laluna mencegat taksi ke tempat lokasi kejadian perkara untuk meliput berita sedangkan Azka dan Abinya entah pergi kemana, mungkin pulang atau ke kantor, Laluna tak mau tahu baginya kejadian ini hanya kebetulan belaka dia tak mengira bahwa disinilah cerita ini di mulai.
@@$@@