AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 4
Sepanjang perjalanan Audrey sama sekali tidak bersuara. Wajahnya ditekuk dengan bibir nya yang maju sampai lima centi, matanya menatap kosong pada jalanan yang dilalui mobil Wira..
Wira juga terlihat sibuk dengan ipadnya, membuat suasana di dalam mobil terasa semakin canggung.
Sampai di gedung Bimasena Group, Wira membuka pintu mobil, mengajak Audrey turun. Tapi ya tentunya dengan sedikit paksaan.
"Aku mau pulang!" Audrey semakin merajuk, dia tidak mau bergerak sedikit pun dari tempat duduknya
"Iya. Nanti aku antar pulang." Jawab Wira dengan suara rendah. Pria itu perlahan mengulurkan tangannya, menyentuh pergelangan tangan Audrey dengan sentuhan lembut.
Audrey merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Sentuhan Wira dingin, namun memberikan rasa aman yang belum pernah Audrey rasakan sebelumnya.
Wira menatap Audrey, tatapannya melembut hanya untuk gadis itu, sebelum kembali menjadi es saat menoleh pada Hendra yang berdiri di belakang.
"Bos, client sudah datang dan menunggu di ruang meeting." Kata Hendra memberi informasi.
Audrey tampak ingin bicara, tapi satu tatapan dari Wira membuat suaranya tertelan kembali di kerongkongan.
Wira sedikit menarik tangan Audrey hingga gadis itu mau tak mau turun dari mobil.
Tangan Wira masih menggenggam tangan Audrey sampai mereka masuk ke dalam lift.
Wira sama sekali tak memperdulikan tatapan para pegawainya yang tentu kaget melihat pemandangan langka itu.
Untuk pertama kali nya sejak Wira menjabat sebagai CEO di Bimasena Group, pria itu membawa seorang wanita.
Beberapa pegawai yang berpapasan dengan Wira dan Audrey langsung kasak kusuk di belakang. Wira yang dikenal dingin dan tak tersentuh rupanya telah menemukan wanita pujaannya.
Pertunangan Wira dan Audrey kemarin tidak mengundang banyak orang. Hanya keluarga inti dan beberapa petinggi perusahaan. Itulah mengapa hampir semua pegawai kantornya tidak tau identitas Audrey sebenarnya.
"Kamu tunggu disini, nanti aku antar kamu pulang." Ucap Wira ketika mereka sudah sampai di ruangan pribadi nya.
"Aku ngapain disini ? Nggak mau ah, mending aku pulang aja."
Wira mengambil sebotol air minum di mini fridge nya kemudian dia memberikan minuman dingin itu pada Audrey.
Audrey menerima sebotol air mineral itu dengan malas.
"Nih!" Wira memberikan ponsel pribadi nya pada Audrey.
Audrey tercenung menatap ponsel canggih keluaran terbaru milik Wira dengan bingung.
"Itu..buat apa ?" tanya Audrey
"Pakai ponselku supaya kamu tidak bosan menungguku!" Kemudian Wira menunjukkan password ponselnya pada Audrey.
Setelah mengatakan itu Wira pun keluar dari ruangannya. Di depan ruangan Hendra dan sekretaris Wira yang bernama Nadia sudah menunggu.
"Haish! Dasar cowo aneh! Ngapain dia kasih hape nya ke aku!" Audrey mencebik kemudian melempar ponsel Wira ke sofa. Lalu dia pun mengeluarkan ponsel nya dari dalam tas tangan.
"Astaga! Dua belas persen.." Gumam Audrey ketika melihat simbol baterai di ponselnya berwarna merah.
"Apa Kak Wira tadi lihat kalau ponsel aku mau lowbat...pantas saja dia memberikan ponselnya padaku.." Batin Audrey mengingat kejadian.
Audrey duduk di sofa panjang dimana ponsel Wira tergeletak disana.
Huh!
Audrey menghembuskan nafas nya, lalu dengan hati-hati gadis itu mengambil ponsel Wira.
"Berani sekali Kak Wira memberikan ponsel pribadi nya padaku ?! Apa dia tidak takut kalau nanti rahasia di ponsel nya diketahui orang lain ?!"
Audrey membolak-balikan ponsel Wira yang Audrey tau harganya di atas empat puluh jutaan.
"Passwordnya kalau nggak salah....." Audrey mencoba membuka pola di ponsel Wira.
Ketika benda pipih itu tak lagi terkunci, yang pertama Audrey buka galery Wira.
"Astaga.. Tidak adakah foto yang menarik yang dia ambil ??!!"
Audrey geleng-geleng kepala ketika melihat galery Wira isi nya hanya jepretan dokumen, bukti perbankan dan semua tentang perusahaannya.
"Tidak adakah foto wajahnya disini ?!!" Audrey terus mencari sampai ke foto paling bawah tapi tak ada satu pun wajah Wira atau siapapun yang memenuhi galerynya.
Saat Audrey sedang asik memeriksa ponsel tunangannya, pintu ruangan Wira diketuk dari luar.
"Masuk!" Ucap Audrey
Pintu pun terbuka.
"Permisi, Nona. Saya disuruh mengantarkan ini untuk Nona." Seorang pria yang memakai seragam OB masuk ke dalam lalu memberikan kantong plastik yang di atasnya diikat oleh kabel tie.
"Itu apa dan dari siapa ?" tanya Audrey seraya mencondongkan tubuhnya ke meja.
"Ini makanan dari Pak Wira, Nona." Jawab OB itu. "Kalau begitu saya permisi, Nona.." OB tersebut membungkuk hormat kemudian undur diri.
"Makanan ? Dari Kak Wira ?"
Audrey mengambil gunting di atas meja kerja Wira, kemudian membuka plastik makanan yang di letakkan OB tadi di meja tamu.
"Aduh! Kenapa jantung gue jadi deg-degan gini!" Audrey memegang dada nya, merasakan debaran aneh yang dia sendiri tidak yakin kenapa.
kruukk! kruukk!
Suara cacing di perut Audrey seolah bisa mencium bau makanan.
"Harum banget, jadi laper.." Audrey membuka kemasan Ayam Crispy dari brand ternama. Didalam nya ada Ayam Crispy lengkap dengan nasi, krim sup dan minuman soda.
Audrey bergegas cuci tangan.
Sambil nonton U-tub di ponsel Wira, Audrey makan dengan tenang.
Setelah selesai makan rupanya Wira belum juga kembali dari meeting. Audrey mulai bosan dan ngantuk.
Audrey mengambil ponsel nya yang dia isi daya di meja Wira.
"Lumayan delapan puluh persen." Audrey kembali duduk, kali ini dia duduk di kursi kebesaran Wira.
Audrey memainkan ponsel nya sementara ponsel milik Wira dia letakkan di meja kerja laki-laki itu.
Puluhan pesan muncul di jendela notifikasi saat Audrey memeriksa ponselnya.
Audrey membuka satu persatu.
Lula : Drey, gila tunangan lo..maen bawa lo gitu aja..
Lula : Pokoknya lo harus ceritain ke gue tentang tunangan lo, kenapa dia seposesif itu. Lo kan pernah cerita kalau kalian dijodohkan, tapi kok bisa tunangan lo itu ngejagain lo sampai segitunya.
Pesan dari Lula selesai Audrey baca. Tapi Audrey tidak langsung membalas pesan tersebut. Audrey membuka pesan lain nya yang datang dari James, Dean, Mama dan Kak Vincent.
James : Gue sama Dean dan Lula nggak jadi nonton, drey. Lula nggak mau kalau nggak ada Lo.
Audrey kembali membaca pesan berikutnya.
Dean : Drey, kamu nggak apa-apa kan ? Kalau dia nyakitin kamu bilang sama aku ya, drey. Aku akan bantu kamu sebisaku.
Audrey membaca pesan yang dikirim Dean berulang-ulang, bahkan sampai mengucek mata, khawatir dia salah baca atau Dean salah kirim.
"Ni anak kenapa, kok jadi aku kamu..aneh banget deh ni si Dean.."
Audrey keluar dari pesan Dean, tidak ada niat untuk membalas pesan itu karena menurutnya pesan singkat dari Dean itu yang paling aneh.
mama cantik 💗 : Audrey, kamu kok belum ngabarin Mama ? Kamu udah sampe atau belum ?
Audrey tersenyum membaca pesan dari mama yang kontaknya Audrey tulis dengan nama mama cantik lengkap dengan emoticon hati berdebar berwarna pink.
Audrey mengetik pesan balasan.
Audrey :
Ting!
Mama Ruby langsung membalas pesan putrinya.
Mama Ruby : Audrey! Kamu lagi dimana ? Katanya mau ke toko buku
Audrey membaca pesan itu tertawa kecil, dia merasa seperti bisa mendengar nada suara Mama nya dari pesan tersebut.
mama cantik 💗 calling.....
Audrey tersenyum. Sebelum menggeser icon berwarna hijau di sisi kanan layar, Audrey menarik nafas panjang seakan mempersiapkan diri sebelum mendengar omelan sang Mama.
Mama Ruby : Audrey, kamu dimana ? Kamu jangan macam-macam ya, kamu itu sudah punya tunangan. Kamu harus tau batasannya.
Audrey reflek menjauhkan ponselnya dari telinga,
Mama Ruby : Sekarang jawab Mama, kamu dimana ? Pak Osa akan jemput kamu sekarang juga.
Audrey tau kenapa Mama nya marah, ya apalagi kalau bukan karena foto yang dikirim Audrey tadi. Foto ruang terima tamu yang di jepret dari posisi dia duduk.
Pasti Mama nya berpikir macam-macam karena tidak tau Audrey sedang dimana.
Sebelum Audrey menjawab, pintu ruangan terbuka, dan si pemilik ruangan muncul dari balik pintu.
Mama Ruby : Audrey! Kamu dengerin Mama nggak sih ?
Wira menghampiri Audrey, mata mereka bertemu untuk beberapa detik sebelum Audrey mengalihkan pandangan.
"Nih...." Audrey menyerahkan ponsel nya pada Wira. Layar ponsel Audrey masih menyala dan Wira membaca nama kontak yang sedang melakukan sambungan dengan Audrey.
Wira menerima ponsel Audrey kemudian menempelkan nya di telinga.
Mama Ruby : Kamu bener-bener ya, Audrey. Mama akan laporkan kelakuan kamu ini pada Papa.
Wira menatap Audrey meminta penjelasan tapi Audrey justru acuh dan hanya mengedikkan kedua bahu nya.
Wira : Halo ?
Mama Ruby diam untuk sesaat. Sepertinya kaget karena mendengar suara laki-laki di sambungan nya dengan Audrey.
Mama Ruby : Ha-halo ? Eh..Kamu siapa ? Mana anak saya ?
Wira : Audrey sedang di kantor saya, tante.
Mama Ruby : Ka-kantor ?? Tunggu...memang nya kamu siapa dan ada urusan apa Audrey ke kantor kamu ?