Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusun Rencana Di Malam Jum'at
Dewi baru saja selesai menaruh semua belanjaan di lemari dan rak dapur, menyusun sayuran dan bahan makanan dengan rapi. Tiba-tiba, suara dering handphone berbunyi.
Dia mengambil hp dari meja dan melihat nama yang muncul di layar – "Bayu".
"Bayu ada apa dia telepon, tumben," gumam Dewi sambil sedikit tersenyum, lalu menyentuh tombol jawab.
"Hallo..."
"Hallo Tante, boleh minta tolong?" suara Bayu terdengar manis dan sedikit khawatir dari sisi lain.
"Iya, tolong apa Bayu?" tanya Dewi dengan nada ramah.
"Jemput Bayu nanti jam 4 sore di sekolah dong..."
"Ohh... Emang kamu gak ada yang jemput?"
"Gak ada Tante..." jawab Bayu pelan.
"Ya udah nanti, Tante jemput kamu ya," kata Dewi dengan lembut.
"Oke makasih Tante ku yang cantikk!" pujian Bayu langsung terdengar.
"Hmm, gombal aja kamu!" teriak Dewi sambil tertawa ceria, lalu menutup teleponnya.
Dia melihat jam di dinding sudah pukul 2 sore. Cukup waktu untuk membersihkan rumah sebentar sebelum berangkat menjemput Bayu, sang saudara kandung Rini yang selalu dia anggap seperti adiknya sendiri.
Suasana kelas yang penuh suara bercampur anak-anak lain yang sedang asik berbincang tidak membuat Bayu terganggu. Dia tetap fokus menunduk di atas mejanya, tangan kanannya cepat melukis gambar dan menuliskan cerita di buku komik yang sudah ia isi sebagian besar halamannya hobi yang selalu ia lakukan di waktu senggang.
Tiba-tiba, "PLAK!" Suara pukulan di atas mejanya membuat Bayu terkejut, buku komiknya hampir terjatuh dari tangannya.
"Bayu!"
"Ada apa?" tanya Bayu dengan tatapan sedikit kesal karena pekerjaannya terganggu.
"Kita mau coba sesuatu dan Lo harus ikut!" kata Priya, teman dekatnya yang berdiri di depan mejanya.
"Nyoba apa?"
"Jelangkung..." bisik Priya dengan suara rendah ke telinga Bayu.
Bayu terkejut dan langsung memalingkan wajahnya ke sekeliling kelas. "Gila Lo!" ucapnya dengan nada sedikit tinggi.
"Ssstttttt!" Putra, teman mereka yang lebih pendiam, segera menepuk bahu Bayu. "Jangan keras-keras, nanti yang lain dengar!"
Ketiga teman mereka yang sudah berkumpul di sekitar mejanya hanya mengangguk menyetujui.
"Kita mau ngapain pake itu?" tanya Bayu dengan tatapan ragu.
"Kita coba untuk manggil arwah!" jawab Priya dengan mata yang bersinar semangat.
"Gak usah aneh-aneh aja," kata Bayu sambil mulai menyimpan buku komiknya ke dalam tas.
"Kenapa Lo takut ya?" canda Bobi, teman mereka yang sedikit gemuk, dengan senyum nakal.
"Gue bukannya takut!" tegas Bayu.
"Bilang aja kalau Lo takut, nggak apa-apa kok!" goda Priya lagi.
"Yaaaa.... gue gak takut ya!" Bayu menjawab dengan suara sedikit naik, mulai merasa emosi karena terus digoda.
"Jadi gimana, Lo ikut kan?" tekan Priya dengan tatapan memaksa tapi penuh harap.
Bayu menghela napas panjang, akhirnya menyerah. "Iya oke, gue ikut. Mau kapan?"
"Lebih bagus malam Jumat aja deh," kata Priya dengan senyum puas.
"Dirumah siapa ya?" tanya Bayu dengan sedikit khawatir.
"Dirumah Bobi aja dong! Orang tua nya kan lagi gak ada, sekalian kita nginep disana biar lebih seru!" usul Putra sambil menepuk bahu Bobi.
"Boleh tuh!" sahut Priya langsung.
"Lo yakin di rumah gue?" tanya Bobi yang sedikit ragu.
"Kenapa? Ada masalah?" balik putra
"Gak apa-apa kok," jawab Bobi sambil tersenyum tapi tampak tidak terlalu yakin. "Cuma rumahnya gak terlalu besar aja."
"Tidak apa-apa deh! Yang penting bisa kumpul dan aman aja," ujar Priya menyela.
"Oke deal ya! Kita malam Jumat ngumpul dan nginep di rumah Bobi!" teriak Priya penuh semangat.
"Deal! Deal! Deal! Deal!" serempak mereka berempat dengan suara yang cukup tinggi, membuat beberapa teman sekelas lain menoleh ke arah mereka.
Bayu menggeleng-geleng kepala tapi tidak bisa menahan senyum kecil. Meskipun masih merasa tidak nyaman dengan rencana itu, dia tidak mau dianggap pengecut oleh teman-temannya. Dia hanya berharap tidak ada hal buruk yang terjadi nanti malam Jumat.