NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Berpisah Ranjang Di Malam Ketiga

"Lho, kenapa sudah pulang? bukannya tadi kamu baru berangkat?"

Yang pertama menghampiri ketika Kharisma menginjakkan kaki kembali ke Mansion Wimana adalah ibu mertuanya—Nada.

Wanita dengan gaun tipis berbahan satin itu memasang raut penasaran, garis-garis wajahnya yang biasanya damai sedikit tertekuk. Terlebih lagi saat melihat kehadiran Prabujangga yang menyusul di belakang sang menantu.

"Kamu yang jemput, Prabu?"

Prabujangga tidak langsung menjawab. Dia melangkah masuk, melewati dua wanita yang berdiri di depan pintu utama yang terbuka. Tangannya dimasukkan ke dalam saku, wajahnya memasang fasad dinginnya yang familiar.

"Mama bicara dengan kamu, Mas. Jangan kurang ajar seperti itu."

Baru saat itulah langkahnya berhenti.

Kharisma memalingkan muka, tidak ingin bertemu pandang dengan Prabujangga yang menoleh ke arahnya dan Nada.

"Saya tidak berniat lancang, Mama. Tidak pernah." Prabujangga merendahkan nada bicaranya. "Mama selalu menuntut agar saya tidak bicara dengan lancang, tapi Mama sendiri seperti itu."

Nada mengerutkan kening. "Maksudnya?"

"Mama ingin saya menjelaskan maksudnya?" Prabujangga memberikan fokus penuh pada ibunya. "Bukankah Mama yang selalu mengajari saya untuk berkaca terlebih dahulu sebelum bicara? Kenapa sekarang Mama tidak tau apa maksud saya?"

Udara ruang tamu terasa menebal. Dinding-dinding kokoh terasa menyempit hingga ketegangan yang membentang semakin dekat dengan kata kengerian.

Bola mata Nada melebar, menatap putranya sungguh-sungguh seakan menilai apakah benar Prabujangga-nya yang tengah berdiri di sana. Menatapnya dengan tatapan dingin yang terasa terlalu jauh untuk status hubungan mereka.

"Mama mengirim istri saya ke rumahnya tanpa sedikitpun berniat untuk memberitahu saya," Prabujangga menjelaskan maksudnya. Dia atur sesingkat mungkin, sesederhana mungkin, agar sang Mama mengerti. "Bukankah itu juga lancang?"

Diamnya Nada adalah sebuah jawaban tak terucap.

"Tadi Mama sudah memberitahu—"

"Saat Kharisma sudah berada di sana, kan?" Prabujangga langsung menyela. "Saya mengharapkan izin, bukan sekedar diberitahu biasa. Saya punya hak atas perempuan itu sekarang." Untuk memperjelas, Prabujangga menunjuk langsung ke arah Kharisma yang menunduk dalam.

"Ke manapun dia pergi, apapun yang dia lakukan, semuanya harus seizin saya," tegas Prabujangga. "Mama seharusnya juga paham. Saya rasa Papa juga memperlakukan Mama seperti itu, kan?"

Kharisma terbelalak, langsung menoleh ke arah Nada yang terpaku di tempatnya.

Wanita itu menatap tidak menyangka ke arah Prabujangga. Tatapannya kosong, lirih, bahkan rasa sakit hati diam terlihat ikut tersirat di dalamnya.

"Jadi kamu membenarkan sikap Papa kamu itu, mas? Kamu mengira bahwa kamu juga bisa memperlakukan istri kamu seperti Papa kamu memperlakukan Mama?" Nada menggeleng tak percaya. Ditahannya cairan bening yang mengancam tumpah di pelupuk matanya. "Mama nggak pernah mendidik kamu seperti itu, Mas. Mama selalu wanti-wanti kamu soal ini sebelumnya."

Derak ketegangan bertukar menjadi hening memekakkan. Udara yang seharusnya menyegarkan berubah mencekik. Kata-kata yang tidak berani diucapkan melayang-layang seperti pikiran yang tidak bisa diungkapkan.

Kharisma melangkah, mengaitkan lengannya di lengan sang mertua yang masih memandangi Prabujangga dengan sejuta keterkejutan dan rahasia yang tidak Kharisma mengerti.

"Maaf, Bunda..." cicit Kharisma pelan. "Seharusnya aku tidak mengadu pada Bunda—"

"Tidak sayang." Nada menggeleng. "Mulai sekarang apapun yang membuat kamu nggak nyaman, harus segera diadukan pada bunda. Termasuk apa saja yang Prabujangga lakukan pada Kamu," tuntut Nada, melemparkan tatapan menusuk pada putranya yang masih berdiri di tempat.

"Bunda kira selama ini Bunda sudah berhasil mendidik putra Bunda agar bisa menjadi suami yang baik untuk istrinya. Tapi ternyata Bunda salah, ternyata dia sama saja dengan orang-orang di keluarga ini," tutur Nada kecewa, tangannya meremat jari-jari Kharisma tanpa sadar. "Dia tumbuh menjadi Prabujangga yang tidak Bunda kenal."

Kharisma terhenyak, tidak ada kata-kata balasan yang meluncur dari bibirnya. Dia hanya bingung, bingung dengan implikasi kata-kata Nada. Bingung tentang maksud di balik kata 'sama seperti orang-orang di keluarga ini'. Apa sebenarnya yang tidak Kharisma tau?

Enggan menoleh ke arah Prabujangga yang berdiri tanpa tutur di dekat tangga, Kharisma membiarkan saja Nada menariknya untuk melewati laki-laki itu, menuju lantai atas.

Nada seperti perwujudan dari rasa kecewa itu sendiri. Bisa dilihat dari bagaimana wanita itu tidak bicara lagi pada putranya meskipun biasanya bersikap begitu hangat.

"Kamu tidur di kamar Bunda malam ini."

...***...

"Bunda kamu itu hanya bersikap kekanak-kanakan," komentar Batra, tepat setelah mendengar cerita dari Prabujangga yang dibeberkan dengan ketenangan.

Mereka berdua tengah duduk di balkon luas rumah besar, berhadapan langsung dengan hamparan halaman yang luas. Sesekali angin sore berhembus, berusaha menenangkan gejolak yang jelas masih membara dalam diam.

"Saya mengatakan semua ini pada bukan untuk mendengarkan komentar," balas Prabujangga datar, matanya tertuju pada apapun selain lawan bicaranya. "Saya mengatakan ini untuk mengingatkan bahwa mungkin setelah ini saya akan disulitkan oleh sikap Mama yang keras kepala."

Prabujangga menghisap cerutu mahalnya, menghembuskan asap yang langsung menghilang sesaat setelah menerpa wajahnya.

"Papa sendiri yang menuntut agar saya cepat-cepat memiliki keturunan, tapi baru di hari ketiga saja saya sudah terancam akan pisah ranjang."

Batra mengerutkan dahi, alisnya nyaris menyatu. "Pisah ranjang?"

Prabujangga mengangguk singkat. "Mama menyuruh Kharisma untuk tidur dengannya malam ini," ungkapnya tenang. "Mungkin bukan hanya malam ini, bisa juga sampai malam-malam seterusnya."

Prabujangga meletakkan gulungan tembakau yang tersisa setengah ke tepian asbak ukir di atas meja kaca. Asapnya menguar diantara keduanya, menyebarkan aroma familiar yang tak lagi dianggap menganggu.

"Jika Papa ingin saya bisa cepat-cepat meraih apa yang saya tuju, mungkin Papa bisa membantu saya untuk menjauhkan Mama dari masalah ini untuk sementara," tutur Prabujangga, secara tidak langsung menjelaskan maksud di balik alasannya menceritakan masalah ini kepada sang ayah.

Batra yang sejak tadi mendengarkan masih tetap diam. Penyebutan sikap keras kepala istrinya membuatnya geram sendiri. Rahangnya mengetat meskipun tidak terlalu terlihat.

"Bahkan tanpa diminta Papa akan melakukannya."

Batra menoleh, menatap cerutu berasap di asbak lalu ke arah putranya yang sekilas tampak sedikit lelah karena tuntutan.

"Jangan pikirkan Mamamu untuk saat ini. Pastikan saja Dewandanu tidak mengetahui tujuan sebenarnya mengapa kamu menikahi putrinya. Tindakan kamu membawa Kharisma pergi tanpa berpamitan mungkin akan menciptakan masalah."

"Saya sudah menghubungi pihak rumahnya sebelum kemari. Saya sudah mengatasi hal itu," balas Prabujangga, berhasil mengatasi situasi sebagaimana biasanya ia menyelesaikan masalah-masalah kecil. "Selama perempuan itu tidak bicara, maka orang-orang Respati itu tidak akan menyadari apa yang sedang kita lakukan sekarang."

Batra mengangguk puas, tau bahwa apapun yang dilakukan oleh Prabujangga selalu melalui pertimbangan yang matang. Jika dia berani menyeret Kharisma kembali kemari, itu berarti dia tau bagaimana caranya mengatasi kecurigaan dari orang-orang yang merupakan keluarga perempuan itu.

Lagipula, mereka tidak akan terlalu peduli karena mereka tidak akan menganggap Batra sebagai ancaman, mengingat bagaimana hubungan Batra dan Dewandanu yang sudah terjalin bahkan saat mereka masih sangat kecil.

"Bagus, kamu mengurus semuanya dengan baik. Itulah mengapa Papa selalu bangga padamu," puji Batra, menepuk pelan bahu Prabujangga. "Putra semata wayang Papa yang selalu bisa diandalkan."

Putra semata wayang.

Kata-kata itu membuat Prabujangga menegang sesaat. Kata-kata tabu yang teramat dibencinya lagi-lagi keluar dari mulut sang ayah meskipun telah berkali-kali ia wanti-wanti.

Prabujangga melirik ke arah tangan Batra di bahunya, napasnya tertahan sedetik karena gejolak emosi yang tidak dapat dijelaskan.

"Saya tidak suka dipanggil seperti itu." Prabujangga perlahan menyingkirkan tangan ayahnya dari bahunya. "Siapapun di keluarga ini tau bahwa saya bukan putra satu-satunya. Jadi jangan pernah menyebutkan kata-kata itu lagi."

Prabujangga bangkit, membiarkan kursi kayu berderit di bawahnya, bergesekan pada marmer dan menciptakan bunyi keras. Dia tidak berniat melirik ke arah ayahnya untuk sesaat.

Ada rasa bersalah tersembunyi yang ia rasakan setiap kali ayahnya mengakui bahwa ia adalah satu-satunya putra yang diakui. Meskipun seluruh anggota keluarga ini tau, bahwa itu tidak pernah benar.

Prabujangga melangkah menjauh dari balkon, berhenti sejenak di langkah ke tiga. Sepatunya mengkilap, memantulkan cahaya jingga senja yang indah, yang jelas sangat kontras dengan suasana hatinya.

Dia menoleh, memandangi punggung Batra dari balik bahunya.

"Jangan lupa untuk mengurus soal Mama."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!