Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Lampu kamar hotel yang temaram memberikan suasana tenang, sangat kontras dengan keributan di villa tadi.
Prita perlahan membuka matanya, rasa pusing akibat obat bius mulai berkurang, berganti dengan rasa aman yang hangat saat melihat punggung tegap Abraham yang sedang berdiri di dekat jendela, memastikan keamanan mereka.
"Mas..." panggil Prita lirih.
Abraham segera berbalik. Wajahnya yang tadi terlihat garang saat menghajar anak buah Imran, kini melembut seketika.
Ia duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan Prita yang masih terasa dingin.
"Aku di sini, Sayang. Istirahatlah, jangan banyak gerak dulu," ucap Abraham sambil mengelus jemari Prita dengan ibu jarinya.
Prita bangun perlahan, bersandar pada bantal yang ditumpuk Abraham.
Ia menatap lebam kecil di sudut bibir suaminya dan goresan di lengannya.
Air matanya kembali menetes, namun kali ini bukan karena takut.
"Maafkan aku, Mas. Karena aku, Mas jadi terluka seperti ini. Karena aku, Mas harus berurusan dengan Papa dan Imran," isak Prita.
"Aku takut sekali tadi. Aku takut tidak bisa melihat Mas lagi."
Abraham menarik Prita ke dalam pelukannya, membiarkan istrinya menangis di dadanya yang bidang.
"Jangan minta maaf. Itu sudah jadi kewajibanku sebagai suamimu. Justru Mas yang minta maaf karena tadi sempat meninggalkanmu sendirian di mess."
Prita mendongak, menatap mata Abraham yang tulus.
"Papa sudah membuangku, Mas. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain Mas dan Mbak Prames. Aku tidak punya rumah lagi..."
Abraham memegang kedua pipi Prita, memaksa istrinya menatapnya dalam-dalam.
"Rumahmu bukan lagi bangunan besar milik Papamu, Prita. Rumahmu ada di sini," ucap Abraham sambil menunjuk dadanya sendiri.
"Mungkin aku hanya seorang teknisi, mungkin aku tidak bisa memberimu kemewahan seperti yang Imran janjikan. Tapi aku janji, selama nafasku masih ada, tidak akan ada satu orang pun yang boleh menyakitimu lagi. Kita akan mulai semuanya dari nol, hanya kita berdua."
Prita tersenyum di tengah tangisnya. Ia merasa beban berat yang menghimpit dadanya selama bertahun-tahun di bawah tekanan ayahnya kini menguap.
"Aku tidak butuh kemewahan, Mas. Aku hanya butuh Mas. Terima kasih sudah menjemputku."
Malam itu, di kamar hotel yang sederhana namun penuh cinta, mereka saling menguatkan.
Prita menyadari bahwa keputusannya meninggalkan kemewahan demi cinta seorang teknisi adalah langkah terbaik dalam hidupnya.
Ponsel Abraham yang tergeletak di nakas hotel bergetar nyaring, memecah keheningan malam yang emosional itu.
Nama Deddy muncul di layar. Abraham melirik Prita sejenak, memberikan senyum penenang, lalu mengangkat telepon tersebut.
"Halo, Ded," ucap Abraham dengan suara yang masih terdengar sisa ketegasannya.
"Bram! Gimana? Sudah ketemu?" suara Deddy di seberang sana terdengar sangat khawatir dan terburu-buru.
"Ini Mbak Prames masih di mess, dia nangis terus. Pak Gio juga bingung mau lapor polisi atau gimana karena semua takut terjadi apa-apa sama Prita."
Abraham menghela napas panjang, sedikit melirik ke arah Prita yang kini menyandarkan kepala di bahunya.
"Sudah, Ded. Prita sudah sama aku sekarang. Kami aman."
Terdengar suara hembusan napas lega yang sangat keras dari ujung telepon.
"Alhamdulillah! Syukurlah, Bram. Kamu di mana sekarang? Perlu kami susul ke sana? Anak-anak di sini sudah siap semua kalau memang harus ada yang disamperin."
"Nggak usah, Ded. Kasihan Prita, dia syok berat dan tadi sempat dibius sama orang-orang itu.
Sekarang kami di hotel daerah pinggiran, biar dia bisa tenang dulu. Tolong kasih tahu Mbak Prames ya, bilang adiknya aman sama aku," jelas Abraham.
"Siap, Bram. Nanti aku sampaikan ke Mbak Prames biar dia bisa pulang dan istirahat juga," jawab Deddy. Nadanya kemudian berubah sedikit serius.
"Tapi Bram, besok-besok kalau ada apa-apa, jangan maju sendirian lagi. Kita ini keluarga di lapangan, susah senang bareng. Kalau soal hajar-menghajar, anak-anak teknisi nggak bakal mundur kalau temannya diganggu."
Abraham tersenyum tipis, merasa terharu dengan solidaritas rekan-rekannya.
"Iya, Ded. Terima kasih banyak ya sudah bantu jaga mess tadi."
"Sama-sama. Ya sudah, jaga istrimu baik-baik. Besok kalau mau balik ke mess, kabari saja. Biar anak-anak siapkan sambutan spesial buat 'pengantin baru' yang habis selamat dari penculikan!"
Deddy mengakhiri telepon dengan tawa khasnya yang sedikit menghibur suasana.
Abraham mematikan ponselnya, lalu mengecup puncak kepala Prita.
"Tuh, dengar kan? Banyak orang yang sayang dan peduli sama kamu di sini. Kamu nggak sendirian, Sayang."
Setelah ketegangan yang luar biasa sejak siang tadi, perut Prita akhirnya memberikan sinyal bahwa ia butuh asupan energi.
Ia menatap Abraham dengan tatapan sedikit malu-malu namun manja.
"Mas, aku lapar," ucap Prita lirih.
Abraham menepuk jidatnya pelan, merasa bersalah karena saking paniknya sampai lupa kalau istrinya belum makan sejak kejadian di pasar tadi pagi.
"Astaga, maaf ya Sayang. Mas sampai lupa. Kamu tunggu di sini sebentar, ya?"
Abraham berdiri dan merapikan jaketnya. "Mas keluar sebentar cari makan di sekitar sini. Mas kunci dari luar ya, biar kamu aman. Jangan buka pintu buat siapa pun kecuali Mas yang panggil."
Prita menganggukkan kepalanya patuh. Rasa trauma atas kejadian tadi membuatnya merasa lebih tenang jika pintu itu terkunci rapat.
Abraham melangkah keluar hotel dengan langkah cepat.
Udara malam pegunungan terasa dingin, namun ia tidak memedulikannya.
Di pinggir jalan tak jauh dari hotel, ia melihat sebuah warung tenda yang asapnya mengepul wangi, menebarkan aroma bumbu bakaran yang sedap.
"Ayam bakar dua porsi ya, Pak. Sambalnya dipisah saja, jangan terlalu pedas buat istri saya," ujar Abraham kepada penjualnya.
Ia memperhatikan sang penjual mengoleskan bumbu kecap yang kental ke atas ayam yang dipanggang di atas arang.
Aroma gurihnya sangat menggugah selera. Setelah menunggu beberapa menit, ia menerima dua bungkus lalapan ayam bakar lengkap dengan nasi hangat, sambal, serta potongan timun dan kemangi yang segar.
Abraham segera kembali ke hotel. Saat sampai di depan pintu kamar, ia mengetuk dengan pola khusus yang sudah ia beri tahu pada Prita.
Begitu masuk, ia melihat Prita sudah duduk menunggu di tepi ranjang.
"Ini, Sayang. Ayam bakar lalapan. Masih hangat," ucap Abraham sambil membuka bungkusan kertas minyak itu di atas meja kecil.
Wangi sambal terasi dan ayam bakar langsung memenuhi ruangan.
Prita mencium aromanya dengan penuh semangat.
"Wanginya enak sekali, Mas."
Malam itu, di dalam kamar hotel yang tenang, mereka makan bersama dari bungkusan kertas minyak tersebut.
Meski hanya makan di pinggir ranjang, bagi Prita, ayam bakar ini terasa jauh lebih nikmat daripada hidangan mewah di pesta mana pun, karena ia menikmatinya dalam keadaan bebas dan dicintai sepenuhnya oleh suaminya.
Abraham menghentikan kunyahannya sejenak. Ia menatap lekat manik mata Prita yang masih sedikit sembab namun kini memancarkan ketenangan.
Ia meletakkan potongan ayam di tangannya, lalu meraih tisu untuk membersihkan jemarinya sebelum menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"Sama-sama, Sayang. Jangan pernah berterima kasih untuk hal yang memang sudah menjadi kewajibanku," ucap Abraham dengan suara berat yang menenangkan.
Ia mengusap punggung tangan Prita, merasakan kehangatan yang perlahan kembali ke tubuh istrinya.
"Mas yang justru berterima kasih karena kamu sudah memilih Mas, meski Mas tahu hidup bersamaku tidak akan semudah hidupmu yang dulu. Kamu sudah mengorbankan segalanya demi kita."
Prita menggeleng pelan, ia menyandarkan kepalanya di bahu Abraham sambil tetap menikmati sisa ayam bakarnya.
"Aku tidak mengorbankan apa pun, Mas. Aku justru menyelamatkan diriku sendiri dengan memilih Mas."
Malam itu, di bawah temaram lampu hotel, mereka menghabiskan makan malam dalam keheningan yang nyaman.
Ketakutan akan ancaman Imran dan kemarahan Papa Broto seolah memudar, digantikan oleh ikatan batin yang semakin kuat.
Bagi mereka, selama tangan mereka masih bertautan, hari esok yang penuh tantangan bukan lagi hal yang perlu ditakuti.
"Sudah kenyang?" tanya Abraham lembut sambil merapikan sisa bungkusan makan malam mereka.
"Sekarang istirahat ya. Mas akan jaga di sini, tepat di sampingmu."