"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.
"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. PERJAMUAN DARAH DI PINGGIRAN VOLGA
Malam itu, langit Rusia tidak menampakkan bintang. Hanya ada hamparan awan hitam yang menggantung rendah, seolah menekan bumi dengan berat yang tak tertahankan. Alana duduk di kursi belakang SUV lapis baja, mengenakan pakaian serba hitam yang taktis pemberian Alexei yang terasa seperti kulit kedua yang dingin. SUV lapis baja, membawa mereka melaju membelah kegelapan pinggiran kota menuju dermaga tua di Sungai Volga. Di dalam kabin yang kedap suara, Alana merasakan ketegangan yang luar biasa. Di sampingnya, Alexei duduk tenang, namun jemarinya terus bergerak memeriksa amunisi pistolnya.
"Gudang ini adalah milik faksi Volsky," Alexei memecah kesunyian, suaranya rendah dan berwibawa. "Sergei telah menggunakan namamu untuk melegalkan pengiriman senjata gelap dari Asia. Dia mencuri hakmu, Alana. Malam ini, kita akan menunjukkan padanya siapa pemilik sah dari wilayah ini."
Alana menatap tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam. "Kenapa harus sekarang? Kenapa tidak melalui jalur hukum?"
Alexei tertawa pendek, sebuah suara hambar yang tak sampai ke mata. "Di Rusia, hukum hanyalah saran bagi mereka yang tidak punya peluru. Sergei tidak akan berhenti sampai kau lenyap, karena selama kau hidup, posisinya sebagai pemimpin Volskaya hanyalah pinjaman. Kau adalah pewaris tunggal, Alana. Kau adalah ancaman terbesar bagi takhtanya."
Mobil berhenti. Ivan dan tim taktis segera bergerak seperti bayangan. Alexei turun dan membukakan pintu untuk Alana, memberikan tangannya dengan sikap ksatria yang begitu meyakinkan. Alana menyambutnya, merasakan perlindungan yang nyata dari genggaman pria itu.
Mereka menyelinap masuk ke dalam gudang yang berbau solar dan besi berkarat. Di sana, Alana melihat peti-peti kayu besar dengan logo Naratama Corp. Hatinya mencelos. Ayahnya benar-benar terlibat jauh dalam kegelapan ini.
"Lihat itu," Alexei menunjuk ke sebuah meja kerja di sudut gudang. Di sana terdapat sebuah map kulit tua dengan lambang mawar perak, lambang keluarga ibunya. "Itu adalah arsip pribadi Elena Volskaya yang disita Sergei saat ibumu melarikan diri ke Indonesia. Ambillah. Itu hakmu."
Alana melangkah maju, namun sebelum jemarinya menyentuh map itu, sebuah ledakan kecil menghancurkan jendela atas gudang.
DOR! DOR!
"Penyergapan! Lindungi Gospozha!" teriak Ivan.
Peluru-peluru menghujam peti kayu di sekitar Alana. Dalam sekejap, Alexei sudah berada di depannya, menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai. Ia menarik Alana ke balik tumpukan beton, melindunginya dengan dekapan yang begitu protektif.
"Tetap rendah, Alana! Jangan lepaskan tanganku!" perintah Alexei. Ia membalas tembakan dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mendekap bahu Alana, seolah nyawa Alana jauh lebih berharga daripada nyawanya sendiri.
Alana merogoh Glock 17 di pinggangnya. Jantungnya berpacu begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan. Namun, saat ia melihat seorang pria berjas abu-abu membidik Alexei dari balik pilar, sesuatu di dalam dirinya bergejolak. Rasa takut itu mendadak menguap, digantikan oleh insting bertahan hidup yang liar.
Ia membidik. Ia menahan napas, persis seperti yang diajarkan Alexei di ruang bawah tanah.
DOOR!
Pria itu jatuh tersungkur. Alana terpaku, melihat asap tipis keluar dari moncong senjatanya. Ia baru saja mengambil nyawa seseorang. Ia baru saja melewati garis yang tidak akan pernah bisa ia lalui kembali.
Alexei berbalik, menatap Alana dengan tatapan yang sulit diartikan ada rasa bangga, namun juga ada kegelapan yang berkilat di sana. Ia segera menarik Alana keluar menuju dermaga saat api mulai melahap isi gudang.
Di dermaga yang sepi, mereka menemukan Jenderal Orlov tersungkur dengan luka tembak di kakinya. Pria tua itu tampak ketakutan melihat Alexei.
"Alexei... kau berjanji... kau bilang kau akan melindungiku jika aku bicara pada gadis itu!" rintih Orlov dengan suara parau.
Alana membeku. "Jika aku bicara pada gadis itu?" Pertanyaan besar langsung menghantam benaknya. Apakah semua yang dikatakan Orlov di pesta kemarin adalah perintah Alexei?
Alana menatap Alexei, matanya menuntut penjelasan. "Apa maksudnya, Alexei? Kau menyuruhnya bicara padaku?"
Alexei melepaskan jubahnya dan menyampirkannya ke bahu Alana yang menggigil. Ia mendekati Orlov dengan ekspresi yang tampak sangat menyesal dan marah. "Jenderal, kau sudah kehilangan akal karena rasa takutmu pada Sergei. Aku memintamu melindungi Alana di pesta, bukan meracuni pikirannya dengan cerita-cerita yang belum terbukti!"
Alexei berlutut di depan Orlov, suaranya melembut namun terdengar sangat berbahaya. "Siapa yang membayarmu untuk bicara mengenai Wira Naratama di depan istriku? Apakah Sergei?"
Orlov tampak bingung, mulutnya terbuka hendak bicara, namun Alexei dengan cepat memegang rahang pria tua itu. "Katakan yang sebenarnya, atau Sergei akan menemukan potongan tubuhmu di sungai Volga besok pagi."
"I-itu Sergei... Sergei yang menyuruhku..." Orlov tergagap, matanya melirik ke arah pistol di pinggang Alexei dengan penuh ketakutan.
Alexei berdiri dan menoleh pada Alana. "Kau lihat? Sergei ingin kita saling menghancurkan. Dia ingin kau membenci ayahmu agar kau tidak punya tempat kembali, dan dia ingin kau meragukanku agar aliansi kita hancur. Dia tahu jika kita bersatu, dia tidak punya peluang."
Alana terdiam. Logika Alexei masuk akal, sangat masuk akal. Namun, di sudut hatinya, keraguan itu tetap ada. Mengapa Orlov tampak begitu takut pada Alexei jika Alexei adalah orang yang meminta perlindungan darinya?
"Bawa dia ke dokter, Ivan. Pastikan dia tetap hidup untuk memberikan kesaksian di depan dewan Bratva," perintah Alexei.
Alexei mendekati Alana, menghapus noda jelaga di pipi gadis itu dengan ibu jarinya. "Aku tahu kau bingung, Alana. Aku tahu kau tidak tahu siapa yang harus dipercaya. Tapi lihat sekelilingmu. Siapa yang membawamu keluar dari api tadi? Siapa yang berdiri di depan peluru untukmu?"
Alexei menarik Alana ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya dengan lembut. "Aku tidak memintamu mencintaiku sekarang. Aku hanya memintamu untuk tetap hidup di sampingku. Biarkan aku menjadi pedangmu sampai kau cukup kuat untuk memegang pedangmu sendiri."
Alana menyandarkan kepalanya di dada Alexei, menghirup aroma maskulin bercampur bau mesiu. Ia merasa aman, namun di saat yang sama, ia merasa seperti sedang berada di dalam sangkar emas yang Alexei ciptakan untuknya.
Saat mereka berjalan kembali ke mobil, Alana tidak sengaja melihat Ivan sedang membersihkan sisa-sisa dokumen yang terbakar. Di sana, Alana melihat map mawar perak milik ibunya telah kosong. Isinya telah diambil lebih dulu oleh seseorang.
Alana menoleh ke arah Alexei yang sedang memberikan instruksi pada timnya. Pria itu tampak begitu sempurna sebagai penyelamat. Namun, sebuah pertanyaan terus berputar di kepala Alana, Jika Sergei adalah musuh yang ingin menghancurkanku, kenapa aku merasa bahwa Alexei adalah orang yang paling diuntungkan jika aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini? mungkinkah ini alasan sebenarnya dia menikahiku?