Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Suara deru mesin motor matik milik Pramesti memecah keheningan gang depan rumah.
Prita, yang sejak tadi meringkuk di depan televisi sambil menonton drama seri kesukaannya, menoleh sekilas.
Ia sudah sangat hafal ritme kepulangan kakaknya; selalu tepat saat azan Isya baru saja berakhir.
Pintu depan terbuka dengan bunyi derit halus. Mama segera menghampiri, menyambut putri sulungnya yang tampak lelah namun tetap menyunggingkan senyum.
Di tangan Pramesti, sebuah kantong plastik putih berlogo kedai martabak ternama menggantung lemas.
"Bawa apa, Pram?" tanya Mama sambil mengambil alih kantong tersebut. Aroma mentega dan cokelat langsung memenuhi ruang tamu.
"Martabak spesial buat Mama dan Prita," jawab Pramesti sambil menyalami tangan ibunya.
"Tadi lewat jalan baru, antreannya lagi pendek."
Mama menepuk bahu Pramesti lembut. "Ya sudah, simpan dulu martabaknya di meja makan. Mandilah dulu, badanmu pasti lengket kena debu jalanan. Setelah itu kita makan malam bersama."
Pramesti mengangguk patuh. Sebelum melangkah menuju kamar mandi, ia menyempatkan diri melewati ruang tengah.
Dengan iseng, ia menyenggol bahu Prita yang masih terpaku pada layar televisi.
"Nonton terus, awas matanya copot!" goda Pramesti sambil tertawa kecil.
Prita hanya menjulurkan lidah tanpa menoleh. "Mbak sirik aja, ini lagi adegan seru!"
Dua puluh menit kemudian, Pramesti keluar dengan wajah yang jauh lebih segar.
Rambutnya yang masih basah dililit handuk kecil. Ia tidak langsung menuju meja makan, melainkan menjatuhkan diri di sofa ruang tamu, tepat di samping adiknya.
"Dek," panggil Pramesti pelan, suaranya kini terdengar lebih serius namun hangat.
Prita menoleh, menurunkan volume televisi. "Kenapa, Mbak?"
"Besok pagi ikut Mbak, yuk? Kita ambil Simon," ajak Pramesti.
Prita terdiam sejenak. Simon adalah kucing persia kesayangan Pramesti yang sudah beberapa hari ini dititipkan di sebuah mess karyawan karena Pramesti harus dinas keluar kota dan tidak ada yang menjaga di rumah.
"Ke mess ?" tanya Prita memastikan.
Pramesti mengangguk. "Iya. Kasihan Simon di sana. Meskipun ada yang kasih makan, suasananya bising karena banyak pekerjaan teknis di sekitar situ. Simon kan penakut, pasti dia stres kalau kelamaan di sana."
Melihat wajah kakaknya yang penuh harap, Prita tidak tega untuk menolak.
Lagi pula, ia juga sudah rindu pada bulu halus dan tingkah manja Simon.
"Jam berapa besok?"
"Pagi-pagi sekali ya, biar nggak kena panas," sahut Pramesti lega.
Prita menganggukkan kepalanya mantap. "Oke, Prita ikut."
Prita baru saja menyelesaikan makan malamnya yang tenang bersama Mama dan Pramesti.
Aroma manis sisa martabak tadi masih tercium samar di ruang tengah, namun pikirannya sudah melayang jauh ke rencana esok pagi.
Begitu masuk ke dalam kamar, Prita segera merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Ia meraih ponsel, memasang earphone, dan memutar daftar putar musik favoritnya untuk mengusir rasa kantuk yang belum juga datang.
Alunan melodi yang lembut biasanya bisa membuatnya rileks, namun kali ini, pikirannya justru dipenuhi oleh bayangan tentang tempat yang akan ia kunjungi besok.
Ia mulai membayangkan seperti apa rupa mess tempat kerja kakaknya itu.
Dalam benaknya, mess karyawan—terutama untuk para teknisi lapangan komunikasi—pastilah sebuah bangunan yang kaku, maskulin, dan mungkin sedikit menyeramkan.
Prita membayangkan barisan kabel yang semrawut, suara bising dari alat-alat berat, serta aroma oli dan besi yang menyengat.
Di sana adalah dunianya para pria tangguh yang setiap hari bergelut dengan tower tinggi dan teriknya matahari.
Bagi Prita yang terbiasa dengan kenyamanan rumah, membayangkan masuk ke lingkungan yang didominasi oleh para teknisi lapangan itu terasa seperti akan memasuki wilayah asing yang penuh misteri.
Prita memejamkan mata, membiarkan musik terus mengalun, sementara rasa penasaran dan sedikit rasa was-was mulai bercampur aduk di dadanya.
Mentari pagi baru saja mengintip di ufuk timur saat Prita dan Pramesti bersiap di teras rumah. Suasana masih sunyi, hanya terdengar suara kicauan burung yang bersahutan dengan deru halus mesin motor yang dipanaskan.
"Ma, kami berangkat dulu ya. Simon kasihan kalau kelamaan ditinggal," pamit Pramesti sambil menyalimi tangan Mama.
Prita menyusul di belakang, mencium tangan ibunya dengan gerakan cepat.
"Prita juga jalan ya, Ma."
"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut, Pram," pesan Mama lembut sembari melepas keberangkatan kedua putrinya.
Tepat pukul enam pagi, motor mereka mulai membelah jalanan menuju sebuah mess karyawan di sudut kota Malang.
Udara pagi itu terasa jauh lebih menusuk dari biasanya.
Kabut tipis masih menyelimuti aspal, dan hembusan angin yang menerpa wajah membuat Prita menggigil di kursi penumpang.
"Dingin banget, Mbak!" seru Prita di balik helmnya.
Ia merapatkan jaket tebal berwarna krem yang membungkus tubuhnya, berusaha menghalau rasa kaku yang mulai menyerang jemarinya.
Malang memang selalu punya cara untuk mengingatkan orang akan suhu dinginnya, terutama di jam-jam pergantian fajar seperti ini.
Di sepanjang jalan, Prita melihat orang-orang mulai memulai aktivitas dengan sarung atau jaket yang melekat erat.
Perut Prita tiba-tiba berbunyi pelan. Rasa lapar mulai mengusik konsentrasinya.
"Mbak, beli makan dulu yuk? Aku lapar banget, belum sempat sarapan tadi," pinta Prita sambil menepuk bahu kakaknya.
Pramesti melirik spion, lalu sedikit berteriak agar suaranya terdengar melawan angin.
"Nanti saja, tanggung ini sudah dekat. Kalau berhenti sekarang nanti malah kesiangan sampai mess-nya."
"Tapi lapar, Mbak..." rengek Prita manja.
"Sabar dulu. Nanti setelah ambil Simon, Mbak belikan mie ayam langganan yang enak itu. Gimana?" tawar Pramesti memberikan janji yang cukup menggiurkan.
Mendengar kata "mie ayam", Prita akhirnya menyerah.
Ia membayangkan semangkuk mie hangat dengan taburan ayam bumbu yang gurih, sangat cocok untuk cuaca sedingin ini.
"Oke, janji ya? Pake pangsit goreng!"
"Iya, tenang saja," sahut Pramesti sambil menambah kecepatan motornya.
Mereka terus melaju, melewati gedung-gedung tua dan pepohonan besar yang menjadi ciri khas kota Malang, semakin dekat menuju tempat di mana seorang pria bernama Abraham sedang memulai paginya di antara lilitan kabel dan menara komunikasi.
Motor Pramesti akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan memanjang yang tampak kokoh namun fungsional.
Papan nama di depan gerbang menegaskan bahwa inilah mess karyawan teknisi komunikasi yang selama ini hanya ada di bayangan Prita.
Begitu mesin motor mati, keheningan pagi di halaman mess itu mendadak berubah.
Prita turun dari boncengan, membuka helmnya, dan merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan terkena angin.
Beberapa teknisi yang sedang bersiap-siap dengan seragam lapangan mereka—ada yang sedang mengecek gulungan kabel, ada yang sibuk dengan tangga besi—mendadak terdiam.
Mata mereka serempak tertuju pada sosok gadis berjaket tebal yang tampak kontras di tengah
lingkungan yang keras dan maskulin itu.
Kehadiran Prita seperti embusan angin segar di antara aroma solar dan besi.
Pramesti yang sudah terbiasa dengan suasana itu hanya terkekeh melihat reaksi teman-temannya. Ia langsung menggandeng lengan adiknya.
"Ayo masuk, Dek. Simon pasti sudah menunggu di dalam," ajak Pramesti.
Prita mengangguk canggung, berusaha mengabaikan tatapan heran sekaligus kagum dari para pria di sana. Namun, langkah mereka terhenti saat seorang pria bertubuh tegap dengan kaus hitam dan celana kargo muncul dari arah pintu utama.
Abraham terpaku di tempatnya. Matanya tak lepas dari wajah Prita yang kemerahan karena hawa dingin Malang.
"Pram," panggil Abraham, suaranya sedikit serak namun terdengar penasaran.
"Siapa dia, Pram?"
Pramesti menoleh sambil tersenyum jahil. "Oh, ini Prita, adikku. Kenapa? Tumben nanya-nanya."
"Cantik, Pram..." gumam Abraham jujur, seolah kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa sempat ia saring.
Tatapannya yang tulus dan tajam membuat Prita sedikit salah tingkah.
Cubit!
Pramesti spontan mencubit lengan Abraham dengan gemas.
"Heh! Jaga pandangan, ya. Jangan macam-macam sama adikku!"
Abraham meringis kesakitan sambil mengusap lengannya, tapi matanya tetap tidak bisa beralih dari Prita.
Di tengah dinginnya pagi Malang, ada sesuatu yang tiba-tiba terasa hangat di dada Abraham dimana sebuah getaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya selama bekerja di bawah terik matahari.
Pramesti keluar dari mess dengan menggendong Simon yang tampak tenang di dalam pelukannya.
Kucing persia itu seolah tahu bahwa ia akan segera pulang ke rumah yang nyaman.
Prita mengikuti dari belakang, sesekali mengelus kepala Simon yang menyembul malu-malu.
"Ayo, Dek. Perutmu sudah bunyi terus, kan? Mbak tepati janji, kita cari mie ayam sekarang," ujar Pramesti sambil memakai helmnya kembali.
Prita tersenyum lebar, rasa lapar memang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
"Asyik! Cari yang porsinya banyak ya, Mbak."
Saat mereka bersiap untuk meninggalkan area mess, suasana di halaman itu masih terasa sedikit canggung.
Para teknisi lain sudah mulai kembali ke kesibukan mereka, namun tidak dengan satu orang.
Abraham masih berdiri di tempat yang sama, bersandar pada sebuah tiang penyangga bangunan.
Tangannya yang kasar karena pekerjaan lapangan itu terlipat di depan dada, namun fokusnya sama sekali tidak terbagi.
Pandangannya terkunci rapat pada sosok Prita yang kini sedang naik ke atas motor.
Ia seolah tidak mendengar suara bising rekan-rekannya yang mulai menyalakan mesin mobil operasional.
Dunia Abraham seakan melambat. Ia tidak mengedipkan matanya sama sekali, merekam setiap detail kecil: cara Prita merapikan jaket tebalnya, tawa kecilnya saat digoda sang kakak, hingga bagaimana helai rambutnya tertiup angin pagi.
Ada sesuatu tentang gadis itu yang membuatnya terpaku dimana sebuah pesona lembut yang terasa sangat kontras dengan dunia teknis yang selama ini ia geluti.
"Sampai ketemu lagi ya, Ham! Jangan bengong terus, nanti kesambet!" teriak Pramesti sambil melambaikan tangan sebelum menarik gas motornya.
Abraham hanya mampu memberikan anggukan kecil sebagai jawaban, tanpa suara.
Ia terus menatap punggung motor itu sampai benar-benar hilang di tikungan jalan.
Di dalam kepalanya, nama "Prita" sudah terpatri kuat, memicu sebuah debaran asing yang lebih kencang daripada deru mesin tower manapun yang pernah ia perbaiki.