NovelToon NovelToon
Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
​Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
​Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Setelah mengucapkan ancaman itu, Tiara menarik adiknya, Rendi, lalu melenggang pergi dengan wajah merah padam.

Dalam perjalanan pulang menggunakan angkot yang pengap, Arga menerima panggilan di ponsel Nokia-nya. Layar monokrom itu menampilkan satu nama: Ibu.

“Halo, Bu.”

Suara Ibu Arga terdengar bergetar di seberang sana. Ada suara bising kendaraan dan deru mesin; sepertinya beliau menelepon dari wartel (warung telekomunikasi) di dekat pasar.

“Ga... bagaimana persiapan nikahnya? Calon mertuamu tidak minta yang aneh-aneh lagi, kan?”

Ibu Arga pernah bertemu keluarga Tiara dan tahu betul mereka bukan orang sembarangan dalam urusan menuntut. Namun demi kebahagiaan putra tunggalnya, pasangan tua di desa itu selalu memilih mengalah dan menelan harga diri.

Mendengar suara ibunya, Arga tersenyum tulus.

“Bu, Arga punya dua kabar buat Ibu. Ada kabar besar, ada kabar kecil. Ibu mau dengar yang mana dulu?”

Ibu Arga tertawa kecil. “Kabar kecil dulu saja, baru yang besar.”

Arga terkekeh ringan.

“Bu, Arga menang undian bank. Orang yang di berita TV kemarin—yang pakai kostum badut dan menang hadiah 10 miliar—itu Arga, Bu! Keluarga kita sekarang kaya. Arga akan langsung kirim 100 juta ke rekening Ibu buat biaya operasi kaki Bapak. Ibu tidak usah jualan jamu lagi. Istirahat saja di rumah, rawat Bapak. Kalau butuh apa-apa, tinggal bilang Arga.”

Ibu Arga terdiam lama sekali. Terdengar napasnya yang memburu di telepon.

“Le... kamu... kamu tidak sedang membohongi Ibu, kan, Nak?”

“Bu, mana berani Arga bohong soal uang, apalagi sama Ibu?”

Pertahanan Ibu Arga runtuh. Isak tangis haru terdengar jelas dari seberang kabel telepon.

“Alhamdulillah... Gusti Allah... anakku... akhirnya kamu sukses... Ibu... Ibu senang sekali...”

Penantian dan kerja keras bertahun-tahun seolah terbayar lunas. Beban berat yang selama ini menghimpit pundak wanita tua itu luruh seketika.

Arga berkata lembut, “Bu, Arga janji, mulai hari ini Ibu dan Bapak akan hidup mulia bersama Arga.”

Setelah suasana sedikit tenang, ibunya teringat sesuatu. “Lalu... kabar baik yang satunya lagi apa, Ga?”

Arga tidak menutupi apa pun.

“Bu, keluarga Tiara sudah kelewatan. Mereka bahkan mengincar uang santunan kecelakaan Bapak yang 200 juta itu cuma buat bayar utang judi si Rendi. Arga tolak, dan sekarang kami sudah putus.”

Ibu Arga terdiam sejenak. Di tahun 2000, membatalkan rencana pernikahan yang sudah dekat adalah aib besar di kampung.

“Ini... apa tidak apa-apa, Ga?”

“Bu, ini justru berkah!” nada Arga tegas. “Sikap Tiara ke Ibu dan Bapak sama sekali tidak ada sopannya. Sudah lama Arga ingin menyudahi ini. Jangan khawatir, Bu. Syarat utama Arga cari istri nanti cuma satu: dia harus sayang dan bakti sama orang tua Arga. Maafkan Arga ya, Bu, kalau selama ini sudah buat Ibu kepikiran.”

Suara Arga sedikit tercekat. Ia benar-benar merasa berdosa karena di kehidupan sebelumnya ia membiarkan wanita seperti Tiara menginjak-injak orang tuanya.

“Ya sudah, kalau itu maumu, Ibu dukung. Ibu percaya kamu pasti dapat yang jauh lebih baik,” pungkas ibunya lembut.

“Satu lagi, Bu. Tolong jangan ceritakan soal undian ini ke siapa pun dulu ya,” pesan Arga sebelum menutup telepon.

Tak lama setelah Arga sampai di rumah kontrakannya yang sempit, terdengar gedoran keras di pintu kayu. Begitu dibuka, Arga mendapati "pasukan lengkap": Tiara, Rendi, ibunya—Bu Lastri, dan ayahnya—Pak Bambang.

Bu Lastri langsung menunjuk hidung Arga dengan telunjuk yang gemetar karena emosi. Suaranya melengking bak pedagang di pasar loak.

“Arga! Mana hati nuranimu?! Undangan sudah dicetak! Kerabat di kampung sudah tahu semua! Sekarang kamu mau putus begitu saja? Kamu pikir anak saya barang pajangan?!”

Di masa lalu, Bu Lastri adalah sosok yang paling ditakuti Arga. Wanita ini sangat lihai bersilat lidah dan intimidatif. Namun hari ini, Arga berdiri tegak dengan tatapan dingin.

“Bu Lastri, tolong ingat baik-baik. Putri Ibu sendiri yang bilang, kalau saya tidak bisa setor 250 juta, lebih baik putus. Saya cuma mengabulkan permintaannya.”

“Halah! Jangan belagu!” Bu Lastri mencibir. “Saya tahu ibumu punya simpanan, dan bapakmu baru dapat uang ganti rugi proyek 200 juta, kan? Kalau kamu kasih 250 juta, kalian kan masih punya sisa!”

Arga tertawa getir. “Itu uang nyawa Bapak saya! Beliau patah kaki di proyek itu! Kalau uang itu saya kasih ke kalian, Bapak saya mau makan pakai apa di hari tua? Pakai batu?”

Rendi menyela sambil bersandar di kusen pintu dengan gaya sok jagoan, “Kan masih ada ibumu? Dia masih kuat gendong bakul jamu. Biarkan saja dia yang urus bapakmu.”

“Betul!” timpal Bu Lastri. “Ibumu itu kan orang desa, sudah biasa kerja kasar. Kalau tidak kerja malah sakit badan nanti!”

Rahang Arga mengeras. “Cuma satu kata buat kalian: Keluar!”

“Arga! Tega-teganya kamu!” Tiara mulai drama, air matanya tumpah. “Aku sudah kasih masa mudaku buat kamu! Apa itu tidak ada harganya dibanding uang 250 juta? Rendi itu adikku satu-satunya, Arga! Masa kamu tidak mau bantu?”

Dulu, Arga pasti akan langsung memeluknya dan minta maaf. Tapi sekarang, ia muak. Sampai detik ini, Tiara tetap merasa dirinya korban dan menganggap menjadi "pemuja adik" adalah hal yang benar.

“Aku egois? Pernahkah kamu pikirkan Bapakku yang hampir mati di rumah sakit? Di matamu, adikmu itu raja, aku ini cuma pelayan. Kalau begitu, kenapa tidak kamu saja yang menikah dengan adikmu? Biar awet hartanya!”

“Kurang ajar!” Rendi murka dan mencoba menerjang Arga.

“Hah, mau main otot?” Arga tertawa.

Tinggi Arga 180 cm dan badannya tegap karena sering olahraga. Sementara Rendi hanyalah pemuda pemalas yang cuma tahu main PS dan judi bola.

PLAK!

DUG!

Satu tamparan dan satu tendangan di perut membuat Rendi terjungkal ke lantai sambil memegang perutnya.

Bu Lastri histeris. “Kamu berani pukul anak saya?! Bayar! Kalau tidak kasih uangnya sekarang, kami lapor polisi karena penganiayaan!”

“Silakan,” tantang Arga. “Kalian masuk rumah orang tanpa izin dan melakukan pemerasan. Mari kita lihat siapa yang akan masuk sel duluan.”

Tiba-tiba Pak Bambang, yang sejak tadi diam, menarik Arga ke sudut ruangan dengan wajah dibuat ramah.

“Nak Arga, jangan emosi. Kami tidak benar-benar minta uang itu kok. Kami cuma mau lihat keseriusanmu.”

“Begini saja, kasih 250 juta sebagai mahar, nanti 50 jutanya kami balikan sebagai seserahan. Anggap saja modal kalian berumah tangga. Kamu untung, kan? Dapat istri cantik, dapat modal juga.”

1
Jack Strom
Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom: Eh jangan, entar leduk... 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!