Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DARAH DARI GORESAN
Maya mengendarai mobilnya untuk pulang. Lalu ditengah perjalanan ada telepon dari Lingga.
"Halo kak" sapa Maya kepada kakaknya.
"Hai, dek. Gimana proses negoisasi suamimu di perusahaan? Apa dia setuju baik baik?" tanya Lingga khawatir kepada adiknya.
"Hmm mau tidak mau dia harus menerima penawaran ini kak. Lagian dia juga untung dalam hal ini. Tapi ya gitu caranya masih kasar" jawab Maya.
Terdengar helaan nafas berat dari Lingga.
"Kamu gak mau mempertimbangkan untuk berpisah dari Juan, dek? Kakak bener bener udah muak sama dia. Barusan dia datang mau pinjem uang entah buat apa. Mangkanya kakak langsung telepon kamu, ngecek gimana hasil meetingnya" ujar pria itu.
"Kakak pinjemin?" tanya Maya.
"Ya nggaklah. Suamimu itu makin berani saja, masa mau pinjem 100juta tanpa alasan yang jelas. Aku hanya bilang selesaikan masalah nya dulu dan jaga kamu" jawab Lingga.
"Baguslah, kak. Semakin lama dia semakin tidak terkendali. Aku juga bingung ada apa dengan dia sebenarnya" ujar Maya.
"Jika dia menyakitimu lagi karena amarahnya, lebih baik kamu pulang ke rumah momi sama daddi. Sudahlah, Juan susah untuk kembali ke jalannya jika sudah terlalu jauh" sahut Lingga.
"Aku akan pertimbangkan yang terbaik untuk hidupku kak, aku hanya ingat pesan ibu mertuaku, Bunda Jayantri, untuk bersama putranya sampai kapanpun. Jika aku mengabaikannya apakah aku akan baik baik saja?" ujar Maya.
"Ibu mertuamu tidak tau bagaimana anaknya memperlakukan mu seburuk itu, May. Sudahlah, sekali lagi aku melihat Juan menyakitimu, aku yang akan menjemputmu keluar dari rumah itu. Sebelum daddi dan mommi tau apa yang terjadi dalam keluargamu" ucap Lingga.
"Tolong jaga kondisi rumah tanggaku dari mommi sama daddi ya kak, aku tidak ingin membuat mereka sedih. Aku akan segera mempertimbangkan untuk berpisah dari Mas Juan" sahut Maya.
Setelah beberapa kalimat selanjutnya, panggilan selesai. Bersamaan dengan Maya sampai rumah.
Terlihat mobil Juan sudah terparkir disana.
Maya menghela nafas sebelum masuk rumah. Pasti ada saja yang akan diperbuat suaminya setelah ia membuka pintu.
Dan benar saja baru saja membuka pintu, Maya melihat ruang tamunya sudah berantakan. Banyak pecahan kaca dari hiasan pot disana berserakan.
Apalagi ketika semakin berjalan kedalam, ia melihat jejak darah di lantai.
"MAAAAS!!" teriak Maya saat melihat tangan Juan sudah penuh darah. Pria itu duduk di bawah sofa dan menyandarkan tubuhnya.
Maya berlari menghampiri suaminya.
"Apa..apa yang telah kamu lakukan mas?" tanyanya sambil membalut pergelangan tangan Juan dengan sapu tangan miliknya.
"Hmm..kamu sudah pulang..sayang.." jawab Juan dengan suara lirih dengan kesadaran yang mulai berkurang.
"Kamu mau bunuh diri hah?" marah Maya.
"Bagaimana...bagaimana bisa kamu berfikir melakukan ini?" lanjutnya.
"Ha..ha..ha..seharusnya kamu senang...pria miskin itu sudah kembali di hadapan mu..kamu bisa lari kepadanya" ujar Juan.
Maya sudah paham arah pembicaraan suaminya. Ia memilih diam dan memanggil ambulance.
"Aku sudah ditinggal bundaku, jadi jika kamu tinggalkan aku juga, aku tidak akan terkejut" ucap pria itu dengan sisa kesadarannya.
"Cukup, mas. Jangan berbicara yang tidak tidak. Jika kamu membiarkan ku pergi darimu dalam kondisi seperti ini, berarti aku sama saja denganmu yang menyakiti orang orang yang kamu sayangi. Aku tidak ingin menyakiti siapapun yang aku sayangi" sahut Maya.
"Ha..ha..ha..Maya oh Maya.. istriku yang cantik..jangan bilang sayang kepadaku jika kamu memikirkan pria lain sejak kita menikah" ujar Juan.
"Aku tau kamu sudah tidak mencintaiku lagi saat pria miskin itu hampir saja mati karenaku. Benar bukan apa yang aku katakan? Cintamu sudah hilang sejak lama kepadaku dan berpindah kepada pria kampungan yang tidak selevel denganku" lanjutnya.
Maya diam dan fokus menekan goresan cukup dalam di pergelangan tangan sebelah kiri milik Juan.
Suara ambulance terdengar. Penjaga rumah pun masuk kedalam rumah karena tidak tau apa yang terjadi dengan majikannya hingga ada ambulance.
Saat masuk, penjaga itu terkejut karena ruang tamu majikannya sudah berantakan. Petugas medis langsung membawa Juan dengan tandu. Maya terduduk lemas dibawah sofa setelah Juan dibawa ambulance.
Ia mengatakan kepada tim medis bahwa akan menyusul dengan mobil pribadi.
"Nyonya tidak papa?" tanya seorang pria yang bekerja sebagai penjaga rumah Juan dan Maya.
"Tidak apa apa, Pak Iwan. Hanya saja, aku sangat lelah" jawab Maya.
Penjaga rumah yang bernama Iwan itu pun kebingungan, apa yang bisa ia lakukan untuk majikannya.
Sang istri yang bertugas bersih2 rumah saat pagi hingga siang sudah pulang.
Tiba tiba suara hape berbunyi diantara mereka. Lebih tepatnya berasal dari tas Maya.
"Tolong ambilkan saja air hangat saja di gelas ya pak" minta Maya saat ia tau siapa yang menelponnya agar Iwan pergi sebentar.
"Iya Nyonya, sebentar" ucap Iwan menurut.
Maya menerima panggilan dari Riko.
"Hai, May..udah sampai rumah?" tanya Riko.
"Udah..tapi suamiku sungguh membuatku panik" jawab Maya.
"Panik? Apa lagi yang dia perbuat padamu hah?" sahut Riko panik sendiri.
"Ini Nyonya, minumnya" sela Iwan yang sudah datang kembali sambil membawa segelas air hangat yang diminta majikannya.
Maya pun menerima gelas itu. Ia jauhkan ponselnya dan berbicara pada Iwan.
"Pak, saya minta tolong panggilkan Bi Lastri ya untuk kesini. Maaf keadaan rumah seperti ini jadi butuh dibersihkan lagi, sebelum Mas Juan kembali ke rumah" ucapnya.
"Baik Nyonya. Akan saya hubungi istri saya" sahut Iwan lalu pergi ke posnya dan meninggalkan Maya sendiri.
"Hei, jawab Maya. Apa yang terjadi denganmu? Rumahmu kenapa? Jawab aku please" ujar Riko.
Maya tiba tiba terisak.
"Mas..Mas Juan berniat melukai dirinya sendiri..aku takut dia nekat melakukan sesuatu" ungkapnya.
"apakah kamu dilukai juga? Perlu aku jemput dirumahmu?" sahut Riko.
"Gak perlu.. aku akan segera kerumah sakit menyusul Mas Juan. Kita bisa bertemu disana" ujar Maya.
"Rumah sakit mana?" tanya Riko.
"Rumah Sakit International Jakarta" jawab Maya.
"Tunggu aku. Aku akan kesana. Hati hati dijalan, tenangkan dirimu dulu" ucap Riko.
"Iya" ujar singkat Maya lalu panggilan ia putuskan.
Maya meminum segelas air hangat yang dibawa Iwan.
Glek.gleeek.
Tenggorokan Maya terasa sangat kering akibat kepanikan yang ia rasakan.
Perutnya mendadak mual saat melihat darah suaminya di lantai. Ia memilih buru buru keluar rumah sebelum perutnya ingin mengeluarkan isi alias muntah.
Maya masuk ke mobilnya dan pergi dari rumahnya menuju rumah sakit.
Riko yang berada di kantor firmanya pun langsung menuju rumah sakit yang Maya tuju.