Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Daud
"Daud....." Terdengar suara yang memanggil Nama Daud.
"Daud….." Suara itu terdengar lagi. Seperti berbisik, tepat di dalam kepalanya.
Daud membeku. Matanya membelalak dalam gelap. Napasnya tertahan.
"Si… siapa…" Suaranya nyaris tak terdengar.
Tak ada jawaban.
Namun kemudian, dari kejauhan. Di dalam gelap yang sangat pekat, terlihat sesuatu.
Seorang perempuan yang berdiri diam. Seperti bayangan yang perlahan membentuk wujud.
Rambutnya panjang, terurai menutupi sebagian wajahnya.
Tubuhnya diam. Dia tak bergerak. Dengan kepala sedikit menunduk. Namun matanya sedang menatap ke arah Daud.
"Daud….." Suara itu kembali terdengar.
Daud mulai gemetar hebat.
Dia mundur satu langkah. Tapi entah kenapa kakinya terasa berat.
Sosok perempuan itu mulai bergerak.
Pelan.
Langkahnya nyaris tanpa suara, namun setiap langkahnya terasa menghantam dada Daud. Jarak di antara mereka semakin dekat. Senyum di wajah pucat itu melebar, tidak wajar dan sangat mengerikan.
"Kau akan mati." Bisiknya.
Tiba-tiba, Tangannya terangkat.
Dan sekejap saja, leher Daud dicekik kuat.
"Akh....!"
Daud tersentak. Tangannya langsung mencengkeram pergelangan tangan Aning. Dia berusaha melepaskan diri.
Tapi, semakin dia meronta, cekikan itu semakin kuat.
Napas Daud mulai terputus-putus. Matanya membelalak.
Dia ingin berteriak meminta tolong. Namun suaranya tidak bisa keluar. Hanya desisan napas yang tertahan di tenggorokan.
Kakinya mulai lemas. Pandangan mulai gelap. Dan di depan wajahnya, Aning masih tersenyum menatapnya tanpa berkedip.
"Daud…"
Suara itu berubah.
Terasa lebih jauh Dan lebih samar.
"Daud… hei bangun…"
"Hah!" Daud tersentak bangun.
Dia terduduk dengan napas terengah-engah.
Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang.
Di hadapannya, ibunya berdiri dengan wajah khawatir.
"Kamu kenapa, Dud." Tanya ibunya pelan.
Daud masih terdiam. Matanya liar melihat sekeliling.
Kamar.
Dinding.
Lampu.
Semua normal.
Tidak ada siapa-siapa.
Dia menelan ludah.
"Ti… tidak apa-apa, Bu…" Jawabnya pelan.
Ibunya menghela napas, lalu mengusap kepalanya.
"Mimpi buruk, ya?"
Daud hanya mengangguk lemah.
"Makanya kamu itu jangan tidur sore-sore. Perbaiki perasaanmu, sudah itu makan. Malam nanti giliran kamu ronda." Kata ibunya mengingatkan.
"Iya, Bu." Jawab Daud pelan.
Ibunya pun keluar dari kamar, meninggalkan Daud sendirian.
Untuk beberapa saat, Daud hanya termenung. Tatapannya kosong, pikirannya masih tertinggal pada apa yang baru saja ia alami. Mimpi itu terasa begitu nyata, bahkan terlalu nyata untuk sekadar dianggap bunga tidur.
Dia mengusap wajahnya pelan, mencoba mengusir bayangan yang terus menghantui.
"Tidak mungkin." Gumamnya lirih.
Namun perasaan itu tetap ada.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Dia menarik napas panjang, tapi dadanya masih terasa sesak. Dalam benaknya, wajah Aning terus muncul, senyum dingin itu, tatapan kosong yang menembus.
Daud menelan ludah.
Entah kenapa, dia merasa, apa yang barusan terjadi bukan sekadar mimpi biasa.
Daud menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya.
Dia menatap kosong ke arah dinding kamar.
Dadanya masih terasa sesak.
Bukan hanya karena mimpi itu, tapi karena perasaan yang tidak bisa dia jelaskan.
Tangannya kembali menyentuh lehernya, dia menelan ludah lagi.
Bahkan sakitnya pun terasa terasa.
Namun, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya.
"Mimpi saja." Ucapnya sendiri.
Daud memejamkan mata sebentar untuk menghalau pikirannya. Tapi, itu justru membuat wajah Aning muncul lagi.
Dia pun langsung membuka mata dengan cepat.
"Ah… sial…" Desisnya pelan.
Dia bangkit dari tempat tidur, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar.
Kata-kata temannya kembali terngiang di kepalanya. Agar dia tetap bersikap biasa saja.
Napasnya menjadi tidak teratur.
"Tapi, kalau memang benar Aning...” gumamnya terputus.
Dia tidak berani melanjutkan pikirannya sendiri. Bagaimana kalau yang dia lihat benar?
Bagaimana kalau Aning benar-benar… kembali?
Dan kalau benar. Berarti
Dia menelan ludah dengan susah payah.
"Sudah jngan mikir yang aneh-aneh." katanya mencoba menenangkan diri.
Lalu dia pun melangkah keluar kamar.
Selesai mandi, Daud duduk di meja makan. Rambutnya masih basah, tetesan air sesekali jatuh ke bahunya. Di depannya sudah tersaji sepiring nasi hangat dan lauk sederhana yang dimasak ibunya.
Dia mulai makan perlahan, meski nafsu makannya tidak ada. Ibunya duduk di seberangnya, memperhatikannya sejenak.
"Daud." Panggilnya pelan.
"Iya, Bu?" jawab Daud sambil menyuap.
"Nanti malam kamu ronda, kan?"
"Iya." Daud mengangguk.
Ibunya menarik napas sebentar, lalu berkat.
"Sebaiknya nanti kamu ke rumah Pak Marsuki dulu."
Daud menghentikan gerakan tangannya.
"Ke rumah Pak Marsuki?"
"Iya," lanjut ibunya.
"Minta bacaan atau doa dari dia. Katanya kemarin dia ketemu hantu, tapi hantunya malah takut sama dia."
Daud menatap ibunya beberapa detik.
"Bu… Ibu percaya kalau hantu itu benar-benar ada?"
Ibunya tidak langsung menjawab. Ia terlihat berpikir sejenak.
"Selama Ibu hidup, ibu memang belum pernah melihat sendiri." katanya pelan
"Tapi, untuk berjaga-jaga tidak ada salahnya." lanjut ibunya
Daud terdiam.
"Apalagi sekarang, banyak kejadian aneh di desa ini." Ibunya menatapnya serius.
Daud menunduk, kembali menatap makanannya.
"Memangnya Ibu percaya kalau Pak Marsuki itu benar-benar hebat?" tanya Daud, sedikit menekankan kata hebat.
"Percaya tidak percaya, Dud." Jawabnya.
Daud menatapnya, menunggu.
"Tapi tidak ada salahnya mencoba."
Ibunya menoleh, menatapnya dengan tenang.
"Anggap saja untuk berjaga-jaga. Hitung-hitung menambah kepintaran." Ujar ibunya.
Daud hampir saja tersenyum mendengar itu.
"Kepintaran?" ulangnya pelan.
"Iya, siapa tahu ada doa atau bacaan yang bisa kamu hafalkan. Kan bagus." sahut ibunya ringan
Daud terdiam sejenak. Masuk akal.
Meski di sisi lain, dia tahu betul siapa Pak Marsuki sebenarnya, dia adalah orang yang suka membesar-besarkan cerita.
Tapi, bayangan mimpi tadi kembali terlintas.
Wajah Aning.
Senyumnya.
Dan rasa dingin di lehernya. Daud menelan ludah.
"Iya juga sih." Gumamnya pelan.
Ibunya mengangguk.
"Nanti sore sebelum maghrib, kamu ke sana saja. Biar lebih tenang waktu ronda."
Daud tidak langsung menjawab.
Ia kembali menatap makanannya.
Lalu akhirnya mengangguk kecil.
"Iya, Bu, nanti aku ke sana."