novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
akhirnya, harga diri Lyra kalah telak sama tenaga Pharma yang kayak badak. Meskipun Lyra sudah berontak dan kakinya nendang-nendang udara, Pharma tetap menariknya masuk ke dalam mobil dengan kasar.
"Masuk!" bentak Pharma sambil mengunci pintu otomatis mobil begitu Lyra mendarat di jok kulit yang empuk tapi terasa panas itu.
Lyra duduk di pojok, merapatkan cardigan-nya dengan wajah super ditekuk. Di dalam hatinya, "konser" hujatan sudah pecah berkeping-keping.
(YOO ASUUU!! NI ORANG GAK BISA BIARIN GUE TIDUR DENGAN TENANG APA YA??!! GILA KALI YA, GUE PAKE PIYAMA SATIN GINI MAU DIBAWA KE ISTANA?? MAU JADI APA GUE? JADI KESET WELCOME DI DEPAN BUCKINGHAM?!) jerit Lyra dalam hati. Matanya melirik tajam ke arah Pharma yang duduk di tengah dengan wajah tanpa dosa.
"Nah, sekarang kita sudah lengkap," ucap Veronica dengan nada yang sangat menjengkelkan. Ia sengaja menggeser duduknya agar makin menempel pada Pharma, seolah ingin memamerkan bahwa dialah yang paling cantik dengan gaun merahnya, sementara Lyra cuma "remah-remah rempeyek" berbaju tidur. "Tapi Pharma, apa kamu serius? Dia terlihat sangat... memprihatinkan. Apa kata Ratu nanti kalau melihat asistenmu pakai baju tidur?"
Lyra yang sudah di puncak emosi langsung nyaut asbun, "Dih, repot amat lo tante. Bilang aja gue lagi ikut tren sleepwear-chic dari Paris. Lo mah nggak paham gaya, pahamnya cuma gaya gatel doang dari tadi."
"APA?!" Veronica melotot, siap meledak.
"Sudah, diam!" bentak Pharma, suaranya membuat suasana mobil mendadak senyap. Ia menatap Lyra lewat spion tengah. "Lyra, diam di situ. Saya sudah siapkan baju pengganti di dalam tas di bawah kursimu. Kamu punya waktu sepuluh menit sebelum kita sampai di gerbang istana. Ganti sekarang."
(GANTI DI MOBIL?! MATI AJA LO PHARMA!! LO PIKIR GUE AKROBAT APA?!) Lyra makin mengumpat di dalam hati, tapi tangannya tetap meraih tas itu dengan kasar.
Sambil ganti baju di balik cardigan dan bayangan gelap mobil, Lyra terus menyumpah serapah. Dia benar-benar nggak habis pikir kenapa hidupnya di London yang harusnya buat nyari ilmu malah jadi drama sirkus kayak gini.
"Gue sumpahin ban mobil ini bocor kek, atau pangerannya tiba-tiba alergi sama parfum lo yang nyegrak ini, Ver!" gumam Lyra pelan tapi pedas.
Pharma hanya diam, tapi tangannya diam-diam mengepal di atas lututnya. Dia tahu Lyra sedang mengamuk, tapi egonya untuk memiliki Lyra di sampingnya meskipun dengan cara memaksa jauh lebih besar daripada rasa bersalahnya.
Mobil mewah itu meluncur membelah jalanan London yang gemerlap, tapi suasana di dalamnya benar-benar seperti neraka bagi Lyra. Ia duduk menyamping, menempel pada pintu mobil, berusaha menciptakan jarak sejauh mungkin dari dua orang di sampingnya.
(ANJIRRR, PENGEN TERIAK!!) jerit Lyra dalam hati sambil menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Penampilannya benar-benar kacau: piyama satin abu-abu, cardigan panjang, rambut yang diikat asal-asalan, dan sandal hotel.
(GUE JADI APAAN INI? JADI BADUT KERAJAAN?! YOO ASUUU, PHARMA!! GUE SUMPAHIN LO JATOH PAS TURUN DARI MOBIL!!)
Sepanjang perjalanan, pemandangan di sampingnya jauh lebih menyebalkan. Veronica benar-benar "gatel" kuadrat. Wanita itu tidak berhenti menempel pada Pharma. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Pharma, jemarinya membelai lengan tuxedo Pharma dengan gerakan yang disengaja agar terlihat oleh Lyra.
"Pharma, kamu agak tegang ya malam ini? Mau aku pijat sebentar pundaknya?" bisik Veronica dengan suara manja yang bikin Lyra pengen muntah di tempat.
Pharma tidak menolak. Malah, ia sengaja melingkarkan lengannya di sandaran kursi di belakang kepala Veronica, seolah memberikan lampu hijau bagi wanita itu untuk makin nempel. Sesekali, mata Pharma melirik Lyra lewat pantulan kaca, memastikan apakah istrinya itu bereaksi atau tidak.
Lyra yang melihat itu dari sudut matanya cuma bisa mengelus dada.
(SABAR LYRA, SABAR... ORANG GILA JANGAN DILAWAN. GUE KE SINI BUAT ILMU, BUKAN BUAT NONTON JAV LIVE VERSI DRAMA MEDIS!!) batin Lyra sambil memutar bola matanya malas.
"Duh, Dok... kalau butuh ruang buat 'ndusel-ndusel', bilang dong. Biar gue pindah ke bagasi aja. Kayaknya di sana lebih tenang daripada dengerin suara kucing kejepit di sini," ceplos Lyra asbun tanpa menoleh.
"Kamu ! Pharma, lihat asistenmu! Benar-benar tidak punya sopan santun!" Veronica merengek sambil makin mengeratkan pelukannya di lengan Pharma.
Pharma cuma mendengus dingin. "Biarkan saja, Veronica. Orang yang tidak bisa menjaga penampilan memang biasanya cuma bisa jaga mulut yang tidak berguna."
(IDIH, SI TUKANG KASAR MULAI LAGI!!) Lyra merutuk dalam hati. Ia benar-benar merasa muak. Pharma benar-benar tidak peduli bagaimana perasaan Lyra yang dipaksa ikut dengan baju tidur, sementara dia asyik bermesraan dengan wanita lain tepat di depan matanya.
Mobil terus melaju, tapi macetnya jalanan menuju area istana bikin durasi "penyiksaan" mental buat Lyra makin panjang. Di dalam mobil, AC yang dingin nggak bisa mendinginkan ubun-ubun Lyra yang udah mendidih.
(YOO ASUUU!! INI MACETNYA UDAH KAYAK PASAR MINGGU APA GIMANA?!) Lyra ngedumel dalam hati sambil gigit bibir bawahnya. Dia bener-bener ngerasa kayak orang tolol duduk di kursi mobil seharga miliaran tapi pake baju tidur.
Sementara itu, di sampingnya, pemandangan makin nggak layak sensor. Veronica bener-benar nggak kasih celah. Dia sekarang malah mulai berani benerin dasi kupu-kupu Pharma dengan gerakan yang super lambat, mukanya cuma jarak beberapa senti dari muka Pharma.
"Pharma, nanti pas masuk, kita harus langsung temuin Lord Sterling ya. Aku mau dia liat kalau kita berdua bener-bener tim yang solid," bisik Veronica sambil senyum genit.
Pharma nggak ngejawab lewat kata-kata, tapi dia malah narik pinggang Veronica biar duduknya makin mepet. Matanya lurus menatap ke depan, tapi sudut bibirnya naik dikit, sengaja banget mau nunjukin ke Lyra kalau dia "menikmati" ini.
Lyra yang liat itu dari kaca jendela langsung buang muka ke arah jalanan.
(GELI BANGET JING!! GILA YA, NI DUA ORANG GAK TAHU TEMPAT APA GIMANA? PHARMA, LO TUH CMO APA PEMAIN SINETRON? GAK MALU APA DILIATIN SUPIR?!) Lyra ngebatin sambil ngeremas ujung cardigan-nya.
"Duh, Bapak sama Ibu Dokter... kalau masih mau lanjut adegan 'Romeo-Juliet' versi rumah sakit, mending gue turun di sini aja deh. Gue bisa cari bus atau apa gitu. Daripada gue jadi nyamuk yang udah kena semprot pestisida di sini," ceplos Lyra dengan nada asbun-nya yang khas.
"Diam kamu, Lyra! Kamu itu cuma asisten, tahu diri sedikit!" bentak Veronica tanpa nengok, masih asyik nempel sama Pharma.
"Iya, iya, asisten. Tapi asisten juga punya mata kali, Dok. Mata gue perih liat adegan murahan begini," balas Lyra bodo amat.
Pharma tiba-tiba nengok ke arah Lyra, tatapannya dingin banget. "Kalau kamu nggak mau lihat, tutup matamu. Tapi jangan harap saya bakal lepasin kamu dari mobil ini. Kamu harus lihat gimana seharusnya orang profesional bersikap di depan publik."
(PROFESIONAL PALA LO PEYANG!!) Lyra makin emosi di dalem hati. (GUE KE LONDON MAU NGEJAR PENGETAHUAN, MAU PINTER BEDAH ANAK, EH MALAH JADI SAKSI PERSIAWANAN DOKTER GATEL!!)
Mobil makin deket ke arah gerbang. Lampu-lampu sorot dari istana udah mulai kelihatan. Lyra makin panik tapi tetep berusaha pasang muka tembok.
(OKE, FIX. GUE BAKAL JADI SATU-SATUNYA ORANG YANG MASUK ISTANA PAKE PIYAMA SATIN. KALAU RATU NANYA, GUE JAWAB AJA GUE LAGI PENELITIAN EFEK PIYAMA TERHADAP KETEBALAN MUKA SEORANG ATASAN!!)
lyra honest reaction: