novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Sementara itu, di depan gerbang utama Buckingham Palace, suasana benar-benar sangat glamor. Karpet merah membentang panjang, dikerumuni oleh puluhan jurnalis dan fotografer internasional.
Mobil mewah rumah sakit Delphi akhirnya berhenti di titik drop-off paling depan. Petugas istana yang mengenakan seragam kebesaran membukakan pintu dengan hormat.
Panggung Pharma & Veronica
Pharma turun lebih dulu. Ia berdiri tegak, membetulkan kancing tuxedo hitamnya yang sangat pas di badannya yang atletis. Wajahnya kembali ke setelan "dingin dan berkuasa". Ia terlihat sangat tampan, tipikal pria alfa yang disegani di dunia medis London. Namun, jika ada yang melihat matanya dengan teliti, ada sedikit gurat kekhawatiran dan rasa bersalah yang ia tekan dalam-dalam.
(Di mana dia sekarang? Apa dia sudah dapat taksi?) batin Pharma sambil melirik sekilas ke arah jalanan gelap di luar gerbang, sebelum akhirnya tersadar bahwa puluhan kamera sedang menyorotnya.
Veronica keluar menyusul dengan gerakan yang sangat anggun setidaknya menurut dia sendiri. Ia mengenakan gaun merah menyala dengan belahan tinggi, riasannya sangat tebal, dan ia langsung menyambar lengan Pharma, menguncinya dengan pose paling mesra agar semua wartawan bisa memotret mereka.
"Tersenyum sedikit, Pharma. Kita adalah pusat perhatian malam ini," bisik Veronica dengan nada penuh kemenangan. Ia merasa sudah benar-benar menyingkirkan "hama" bernama Lyra dari malam istimewanya.
Masuk ke Ruang Gala
Saat mereka mulai melangkah masuk melewati aula besar yang dikelilingi pilar-pilar emas dan lukisan bersejarah, Veronica mulai berbisik lagi, mencoba memastikan Pharma tidak memikirkan Lyra.
"Lihat kan, Pharma? Semuanya jadi lebih berkelas tanpa asistenmu yang kasar itu. Dia hanya akan merusak reputasimu di depan Lord Sterling," ucap Veronica sambil menyapa beberapa kolega dokter senior dengan senyum palsu.
Pharma hanya bergumam pendek, "Hmm."
Ia menyapa para petinggi kerajaan dan tamu undangan dengan sopan, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana. Setiap kali ia melihat pintu masuk aula, ia berharap sekaligus takut melihat sosok asistennya yang "tantrum" itu muncul.
Namun, yang ia lihat hanyalah deretan wanita-wanita bangsawan dengan gaun desainer yang sangat kaku. Pharma merasa ada yang hilang, meskipun di sampingnya ada Veronica yang terus-menerus bicara soal siapa yang paling cantik malam ini.
"Oh, lihat itu, Lord Sterling sudah ada di sana!" Veronica menarik lengan Pharma menuju kerumunan tamu kehormatan. "Ayo, kita harus menyapanya sekarang!"
Pharma mengikuti langkah Veronica, tapi hatinya merasa hampa. Ia tidak tahu bahwa beberapa kilometer dari sana, di sebuah butik mewah, "bencana" terindah dalam hidupnya sedang bersiap untuk menghancurkan kewarasannya malam ini.Suasana di dalam Grand Ballroom istana semakin riuh dengan denting gelas sampanye dan alunan musik klasik yang megah. Pharma dan Veronica berdiri di tengah lingkaran para dokter elit, namun tiba-tiba kerumunan itu terbelah saat seorang pria tua dengan aura otoritas yang sangat kuat melangkah maju.
Lord Sterling.
Wajahnya yang biasanya kaku kini tampak jauh lebih cerah. Begitu melihat Pharma, ia langsung melebarkan langkahnya dan menjabat tangan Pharma dengan sangat erat, hampir membuat orang-orang di sekitar mereka tertegun melihat keakraban tersebut.
"Pharma! My dear boy!" seru Lord Sterling dengan suara baritonnya yang mantap. "Saya benar-benar harus berterima kasih secara pribadi kepadamu. Berkat tindakan cepat dan analisis medis yang kalian lakukan di rumah sakit kemarin, saya merasa sepuluh tahun lebih muda malam ini! Saya tidak akan bisa berdiri di sini jika bukan karena tim hebatmu."
Pharma mengangguk sopan, meskipun hatinya sedikit mencelos mendengar kata 'tim'. "Suatu kehormatan bagi kami, Lord Sterling. Kami hanya menjalankan tugas kami."
Veronica, yang tidak mau kehilangan panggung, segera merapat dan menyunggingkan senyum paling manis yang ia miliki. Ia sedikit membungkuk anggun, mencoba menarik perhatian pria tua berpengaruh itu. "Kami sangat senang melihat Anda pulih, Lord. Saya Dokter Veronica, kepala bedah saraf yang juga ikut memantau perkembangan Anda..."
Namun, Lord Sterling hanya memberikan anggukan singkat dan dingin kepada Veronica, bahkan tidak melirik gaun merah mahalnya. Ia seolah menganggap Veronica hanyalah pelengkap dekorasi ruangan. Mata tua namun tajam itu justru menyapu area di belakang Pharma dengan raut wajah mencari-cari.
"Tunggu dulu," Lord Sterling memotong kalimat Veronica yang belum selesai. Ia menatap Pharma dengan kening berkerut. "Di mana dia? Di mana asisten kecilmu yang luar biasa itu? Lyra, bukan? Saya sengaja mengundang kalian berdua secara khusus karena saya sangat terkesan dengan caranya menangani saya. Dia punya keberanian dan ketulusan yang jarang saya lihat pada dokter masa kini."
Wajah Pharma mendadak kaku. Keringat dingin mulai muncul di tengkuknya. "Ah, itu... Lord Sterling..."
"Ya," lanjut Lord Sterling tanpa menyadari kegugupan Pharma. "Gadis itu, Lyra. Dia yang berani membantah prosedur kaku hanya demi memastikan kenyamanan saya sebagai pasien. Saya ingat betul bagaimana dia menjelaskan kondisi jantung saya dengan begitu jujur tapi menenangkan. Dia adalah permata di rumah sakitmu, Pharma. Saya sudah menyiapkan meja khusus untuknya di dekat kursi saya. Jadi, di mana dia? Jangan bilang dia terlambat?"
Veronica menggigit bibir dalamnya, mukanya berubah jadi ungu menahan kesal karena diabaikan total. Ia buru-buru menyahut, "Mohon maaf Lord, Dokter Lyra sepertinya sedang kurang sehat malam ini. Dia memutuskan untuk tetap di hotel karena... yah, mungkin dia merasa tidak terbiasa dengan acara sebesar ini."
Lord Sterling langsung berubah raut wajahnya menjadi kecewa, bahkan sedikit tersinggung. "Kurang sehat? Sangat disayangkan. Saya pikir dia tipe wanita yang tangguh. Padahal saya sudah sangat menantikan untuk memperkenalkannya pada beberapa kolega dari Royal College of Surgeons."
Pharma hanya bisa diam mematung. Di dalam hatinya, ia sedang memaki dirinya sendiri habis-habisan. (sial! Gue beneran bego banget! Lord Sterling nyariin Lyra, dan gue malah buang dia di jalanan pake piyama!!)
"Kalau dia memang tidak ada," ucap Lord Sterling dengan nada yang tiba-tiba mendingin, "maka acara ini akan terasa sedikit hambar bagi saya. Sampaikan salam saya padanya, Pharma. Dan katakan padanya, saya sangat kecewa dia tidak hadir."
Lord Sterling berbalik pergi begitu saja, meninggalkan Veronica yang harga dirinya hancur berkeping-keping karena tidak dianggap, dan Pharma yang sekarang merasa seperti pecundang paling besar di istana.
(Gila... kalau Lord Sterling sampai tahu gue nurunin Lyra di jalan, reputasi gue di London tamat malam ini juga,) batin Pharma dengan tangan gemetar.