Elang Erlangga seorang mafia kejam berdarah dingin. Suatu malam Erlangga di kepung oleh para musuhnya di kota Jogja, saat sedang menjalankan sebuah misi untuk mencari ibu nya. Karena kebocoran informasi pada tentang keberadaan nya, dia nyaris mati. Untung nya dia di selamatkan oleh seorang gadis desa baik hati. Tersentuh akan kebaikan dan kelembutan sang gadis desa. membuat Elang ter obsesi untuk bisa memiliki gadis desa tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Terlalu lelah dalam perjalanan Meisya tertidur pulas di dalam mobil. Elang turun sambil mengendong Meisya ala bridal style. Dan membawanya masuk ke tempat penginapan yang telah mereka pesan. "Biarkan saya saja yang menggendong nona tuan!" kata salah satu pengawal nya.
Niat baiknya itu malah mendapatkan tatapan membunuh dari Elang. "Tak ada yang boleh menyentuh gadis ku, walaupun itu ujung kuku nya sekalipun!!" Kata Elang tajam.
Mereka semua langsung menjauh, membiarkan Elang membawa Meisya seorang diri, memasuki tempat penginapan. Dengan hati-hati Elang menidurkan Meisya di tempat tidur. Tidur nya terlihat lelap dan tak terusik oleh pergerakan yang Elang ciptakan saat membaringkan nya di atas kasur. Seperti nya Meisya benar-benar kelelahan.
Elang tersenyum simpul, memandang Meisya yang tidur dengan damai. "Kamu ajaib, entah kenapa saat bertemu dengan mu, seolah banyak hal yang ingin aku pelajari dari mu. kau bagaikan air sedangkan aku adalah api. Apakah kita tak pernah bisa bersama?" Kata nya sendu. Memandang dengan dalam wanita yang tidur dengan nyenyak tersebut.
*
*
*
Meisya merenggang tubuhnya pelan. matanya mulai menyesuaikan dengan cahaya yang masuk. Senyum nya pun perlahan mengembang karena tubuh nya terasa rileks. Namun berapa detik kemudian. Meisya terduduk karena terkejut. Ia baru sadar bahwa dia sekarang sedang berada di sebuah kamar yang asing.
Meisya langsung mengecek semua pakaiannya yang ternyata semuanya masih lengkap tanpa di ganti. Bahkan jilbab nya pun, masih melekat di kepala nya. Meisya bernafas lega. Ternyata Elang pria yang cukup baik. Dia tidak memanfaatkan keadaan nya yang sedang tertidur lelap. ada getaran rasa yang aneh di hati Meisya. Tetapi ia mengabaikan nya. Baginya tujuan utamanya tetap bisa pulang ke tanah air.
Meisya melangkah menuju jendela. Meisya terpukau ketika matanya langsung melihat sebuah pemandangan yang teramat indah dari sebuah gunung salju naga giok. Gunung berwarna putih yang di lapi salju abadi itu terlihat sangat memukau, dan pemandangan di sekitarnya tak kalah indah. Meisya baru sadar bahwa kamar tersebut di desain dengan desain tradisional, dengan ukiran kayu dan atap keramik yang mungkin jarang di temui di tempat lain.
Meisya membuka jendela kamar itu dan udara yang sejuk langsung menyambutnya. Kekaguman nya belum usai namun suara ketukan di pintu akhirnya mengalihkan nya.
Tok...
Tok..
Tok...
"Ya, sebentar!!!" Teriak Meisya , lalu melangkah untuk membuka pintu kamar itu. Dan ternyata yang berada di depan pintu adalah Elang. Elang terlihat sangat tampan dengan jas hitam nya yang rapi. Dan rambutnya yang ternyata rapi di tambah kulit nya yang seputih susu. Menambah kadar ketampanan nya berkali kali lipat.
Namun sangat di sayangkan, amarah dalam diri Meisya membuat nya tidak dapat menyadari itu. Padahal beberapa staff perempuan di penginapan tersebut saja, banyak yang Curi-curi pandang ke arah Elang. Bahkan tak jarang juga mereka dengan sengaja menggoda Elang. Tetapi Elang memang tidak terlalu suka dekat dengan wanita. Terkecuali Meisya , ibu dan juga nainai nya.
"Oh, kau belum bersiap? Aku hanya ingin mengajak mu sarapan pagi." kata Elang dengan nada lembut.
Meisya memaksakan ter senyum pada Elang. "Kau ingin menunggu nya di dalam, aku akan segera bersiap!"
"Tidak perlu, aku bisa menunggu mu di kamar ku, kabari aku jika kau sudah selesai." kata Elang, lalu berbalik pergi menuju kamar yang ia sewa. Elang sudah mempelajari kepercayaan Meisya, dia akan berusaha menghargai apa yang Meisya percayai.
Meisya agak terkejut dengan sikap Elang. Kini dia merasa seolah dia tidak lagi Tawan. Dia bisa bebas namun dalam batasan yang Elang buat. Dan Meisya kurang suka itu. Jika saja, Elang tak begini mungkin saja hati Meisya akan luluh. Ah.. Tapi siapa yang bisa menjamin itu. Sedangkan Meisya yang begitu bulol dengan Dwika.
*
*
Meisya keluar dengan menggunakan pasmina putih yang yang di balut indah di kepalanya, di padukan dengan gamis kuning yang ringan serta kardigan putih yang tipis, di tambah dengan tas Selempang putih mini. Membuat penampilan Meisya begitu manis. Begitu ia membuka pintu kamar nya. Ternyata Elang sudah ada di sana menyandarkan punggungnya ke dinding dengan tangan di lipat didada.
Elang tersenyum melihat penampilan Meisya yang begitu manis menurut nya. Jantung nya berdebar kencang lagi. Membuat nya jadi sedikit salah tingkah. Bagaimana pun, ini adalah kisah cinta pertama nya. Dia sebenarnya juga tidak terlalu mengerti, bagaimana harus memperlakukan wanita yang ia cintai. Mau bertanya pada anak buah nya gengsi nya terlalu tinggi. Hingga akhir Elang hanya bisa mempelajari nya dari beberapa drama, yang sengaja ia tonton.
Meisya sedikit mengeryit ketika Elang tak lagi menggandeng tangan nya, dia berjalan di samping Meisya namun tetap memberikan jarak sedikit. "Sikap mu sedikit aneh, ada apa?" tanya Meisya.
Elang menggaruk leher nya yang tidak gatal karena sedikit salah tingkah. "Emm.. aneh bagaimana? Kurasa aku biasa saja.
Meisya memicingkan matanya sambil tersenyum tipis. "Kau tak lagi mengandeng tangan ku, atau memaksa untuk merangkul pundak ku. Dan kau juga memberi jarak dari ku?"
Elang tersenyum penuh arti, mendengar pertanyaan Meisya. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah telinga Meisya. Jarak wajah mereka terlalu dekat, yang tanpa sadar membut Meisya dapat dengan jelas melihat wajah tampan Elang dari dekat. Wajah nya menjadi sedikit merah karena malu. Sedangkan Elang berbisik pelan di dekat telinga Meisya. "Kenapa kau ingin aku, bisa selalu menempel pada mu, seperti hari-hari yang telah berlalu. Bukan kah di agama yang kau yakini kita harus menikah dulu, agar bisa lebih menempel satu sama lain?" goda Elang. Yang membuat wajah putih Meisya menjadi sangat merah.
Elang hanya tertawa pelan menyaksikan Meisya yang sedang nge blush. Padahal dirinya tak jauh berbeda, kuliah nya yang seputih susu itu sekarang menjadi bersemu merah muda, bahkan telinga nya menjadi sangat merah. Akibat gerogi.
Elang mengajak Meisya menikmati sarapan di rumah makan tradisional di kota tua linjiang. Meisya sangat terpesona dengan keindahan kota tersebut. Meski sangat jauh berbeda dengan Jogja karta, tetapi suasana pedesaan yang damai dan sangat tradisional. Mau tak mau membuat Meisya rindu dengan kampung halamannya.
di sepanjang tepi sungai bermekaran. Bunga mawar merambat di tembok kota, bunga rapeseed (kanola) berwarna kuning keemasan, bunga persik merah muda, serta pohon pir dan sakura yang mekar, menciptakan pemandangan lanskap menakjubkan. Tanpa sadar Meisya terus tersenyum di sepanjang jalan, menuju rumah makan yang akan mereka singgahi. Sedangkan Elang, menatap penuh puja, pada gadis yang menurutnya mampu memberikan warna di hidung nya yang gelap itu.
Untuk setelah dialog ada dialog tag, itu pakai huruf kecil ya. Akhiran dialog itu pakai koma, jika bukan tanda tanya atau tanda seru, kecuali selanjutnya adalah aksi setelah dialog jika pakai titik.
Pliss namanya aestheticc bgt lhoo🫣
Contoh:
Dadanya bergedup kencang dan wajahnya peluh oleh keringat dingin yang membasahinya.
Ini contoh sederhana yang masih bisa disempurnakan.
→ Dengan hasutan...
→ Karena hasutan...
Tanpa menyebut lagi pun ini sudah menjelaskan.