NovelToon NovelToon
Mereka Mengira Aku Buta

Mereka Mengira Aku Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?

On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Retakan yang Tidak Bisa Ditutup

Marcus bangun sebelum alarmnya berbunyi. Langit masih pucat, cahaya pagi menyusup tipis lewat celah tirai. Biasanya jam segini pikirannya sudah rapi, agenda, strategi, angka. Tapi pagi ini terasa berbeda. Ada kegelisahan yang tidak punya bentuk jelas, seperti bayangan yang terus bergerak di sudut pandang.

Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajah pelan. Bukan takut. Bukan juga panik. Tapi lebih seperti kehilangan pijakan. Dan ia membenci perasaan seperti itu.

Langkah kaki ringan terdengar dari lorong. Marcus menoleh saat Elena muncul di ambang pintu. Rambutnya terikat sederhana, pakaiannya rapi. Tongkat putih berada di tangannya lebih seperti simbol daripada kebutuhan.

“Aku buatkan kau kopi,” katanya lembut.

Marcus hanya mengangguk.

Ia memperhatikan Elena berjalan ke arah dapur. Tidak ada keraguan. Tidak ada sentuhan yang mencari arah. Tangannya menemukan benda-benda dengan presisi yang terlalu alami.

Marcus mengencangkan rahangnya. Kebiasaan, katanya dalam hati. Tapi instingnya tidak setuju.

Aroma kopi mengisi ruangan. Elena menuangkan cairan panas tanpa menumpahkan setetes air pun. Marcus berdiri di dekat meja, matanya mengikuti setiap gerakan.

“Kau terlihat sangat tegang,” kata Elena tanpa menoleh.

Marcus berhenti sepersekian detik. “Pekerjaan,” jawabnya singkat.

Elena mengangguk kecil. “Masalah yang datang pelan biasanya lebih berbahaya daripada yang datang berisik.”

Kalimat itu jatuh ringan namun mengendap berat di dada Marcus.

Ia tidak suka cara Elena mengatakannya. Tenang. Seolah berbicara tentang hal yang sudah ia pahami sepenuhnya.

Marcus mengambil cangkir kopi. Tangannya stabil. Berbeda dengan pikirannya.

...****************...

Kantor terasa berubah. Begitu Marcus melangkah masuk, percakapan mereda sedikit terlalu cepat. Orang-orang tetap bekerja, tetap profesional, tapi atmosfernya terasa berbeda. Ada kehati-hatian yang tidak biasa.

Marcus berjalan ke ruangannya tanpa menoleh. Selene sudah menunggu. Posturnya tegak, tapi ada ketegangan di bahunya.

“Kita kehilangan satu mitra lagi,” katanya langsung.

Marcus berhenti. “Alasan?”

“Mereka menunda kerja sama dengan kita,” jawab Selene “Katanya butuh evaluasi ulang.”

Marcus tertawa pendek. Tidak ada humor di dalamnya. “Evaluasi apa?”

Selene menggeleng kecil. “Mereka tidak menjelaskan.”

Marcus berjalan ke meja, membuka laporan. Proyek yang biasanya stabil kini penuh dengan catatan penundaan. Tidak ada konflik terbuka. Tidak ada tuduhan.

Hanya jarak.

Seseorang sedang menarik diri. Dan Marcus tidak tahu siapa.

“Telusuri semua komunikasi,” katanya dingin. “Setiap jalur.”

Selene mengangguk terlalu cepat.

Marcus melihatnya. Ketakutan.

Dan ketakutan adalah retakan pertama dari kendali.

...****************...

Di sisi lain kota, Elena duduk di dalam mobil yang terparkir di basement gedung lama. Udara dingin, suara kendaraan bergema jauh. Adrian memegang tablet, matanya menyapu data.

“Dua mitra mundur,” katanya pelan. “Satu lagi menunda.”

Elena tidak terlihat terkejut.

“Marcus pasti mulai merasa terkepung,” lanjut Adrian.

“Bagus,” jawab Elena tenang. “Biarkan dia berpikir dunia berubah tanpa penjelasan.”

Adrian menoleh. “Selene?”

Elena tersenyum tipis. “Dia sudah panik. Orang panik selalu membuat kesalahan. Marcus akan melihatnya dan jarak di antara mereka akan terbuka sendiri.”

Adrian menghela napas pelan. “Kau memecah mereka dari dalam.”

“Mereka membangun sistem rapuh,” kata Elena. “Aku hanya menyentuh titik lemahnya.”

Ia membuka pintu mobil.

“Sekarang kita tunggu,” katanya.

“Tunggu apa?”

Elena turun tanpa menoleh. “Kesalahan berikutnya.”

Kesalahan itu datang lebih cepat dari dugaan.

Sore hari, Selene masuk ke ruang Marcus tanpa mengetuk. Wajahnya pucat. “Ada kebocoran,” katanya.

Marcus mengangkat pandangan perlahan.

“Jelaskan.”

“Dokumen internal sampai ke pihak luar.”

Ruangan terasa mengecil.

“Bagaimana?” suara Marcus datar.

“Aku tidak tahu,” kata Selene. “Akses aman.”

Marcus berdiri. Langkahnya pelan. Terkontrol. Berbahaya. “Kau tidak tahu?” ulangnya.

Selene mundur setengah langkah. “Aku sedang menyelidiki—”

“Itu seharusnya tidak terjadi,” potong Marcus.

Keheningan jatuh.

Untuk pertama kalinya, Marcus melihat sesuatu yang tidak pernah ia toleransi. Ketidakpastian.“Perbaiki,” katanya dingin. “Dan pastikan ini terakhir.”

Selene keluar dengan tangan gemetar.

Marcus berdiri sendirian. Instingnya berteriak. Seseorang tidak hanya menyerang bisnisnya tapi kepercayaannya.

...****************...

Malam membawa sunyi yang berat. Marcus pulang lebih cepat. Rumah terasa terlalu rapi, terlalu diam. Elena duduk di ruang tamu dengan buku terbuka di pangkuannya.

“Kau pulang cepat,” katanya lembut.

“Banyak masalah,” jawab Marcus singkat.

Elena menutup buku perlahan. “Masalah jarang datang sendirian.”

Marcus menatapnya. “Sejak kapan kau jadi filsuf?”

Elena tersenyum kecil. “Sejak aku belajar bahwa kendali itu ilusi.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang Marcus akui. “Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan,” katanya datar.

“Mungkin,” jawab Elena.

Tapi nada suaranya mengatakan sebaliknya.

Marcus berjalan pergi. Ia tidak ingin melanjutkan percakapan yang membuatnya merasa dibaca. Di kamar kerja, ia berdiri di depan jendela. Kota berkilau seperti biasa. Namun untuk pertama kalinya

Marcus tidak merasa berada di atas semuanya. Ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaan. Dan ia tidak melihat arahnya.

Di ruang tamu, Elena tetap duduk diam. Mendengarkan langkahnya. Menunggu. Karena ia tahu kejatuhan tidak datang sebagai ledakan. Ia datang sebagai retakan kecil yang tidak bisa lagi ditutup. Dan Marcus baru saja mendengarnya.

Marcus tidak tidur malam itu. Lampu kamar kerja tetap menyala, menciptakan bayangan panjang di lantai. Laporan terbuka di layar, tapi matanya tidak benar-benar membaca. Ia mengulang kejadian hari itu berulang kali, mencari pola, mencari titik masuk, sesuatu yang bisa ia kendalikan.

Tidak ada.

Dan itu membuat napasnya terasa berat. Marcus berdiri tiba-tiba. Kursi bergeser pelan. Ia berjalan mondar-mandir, otaknya bekerja cepat. Kebocoran data bukan kecelakaan. Mitra yang mundur bukan kebetulan. Semua terjadi terlalu rapi. Seseorang sedang bermain sabar. Dan Marcus sadar permainan itu dirancang untuk membuatnya meragukan orang di sekitarnya.

Selene.

Nama itu muncul tanpa diundang.

Bukan karena ia yakin Selene bersalah melainkan karena retakan kepercayaan sudah terbentuk. Marcus membenci fakta itu. Selene adalah orang paling loyal dalam sistemnya. Namun loyalitas tanpa kontrol adalah risiko. Marcus berhenti di depan jendela. Pantulan wajahnya terlihat keras.

“Siapa pun kau…” gumamnya pelan, “…kau ingin aku kehilangan pijakan.”

Tangannya mengepal.“Kesalahan besar.”

Di ruang lain, Elena berdiri dalam gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang menembus tirai. Ia mendengar langkah Marcus berhenti. Ia bisa merasakan ketegangan yang menggantung di udara rumah itu. Sudut bibirnya bergerak tipis. Bukan senyum kemenangan melainkan kepastian.

Marcus akhirnya mulai melihat bahwa dunia di sekelilingnya tidak lagi tunduk sepenuhnya pada kendalinya. Dan begitu seseorang seperti Marcus merasakan itu ia akan bertindak. Elena menutup matanya sejenak. Karena langkah berikutnya bukan lagi tentang strategi. Melainkan tentang siapa yang lebih siap menghadapi kehancuran yang mereka ciptakan sendiri.

Dan permainan itu baru saja memasuki fase paling berbahaya.

1
Kaka's
pembohong kamu marcus horison...
Serena Khanza: kiper indo 😭
total 1 replies
Sean Sensei
asli sedikit kah? kok aku bacanya kurang puas ya /Sob/
Serena Khanza: maklum kak awal awal masih dikit 🤭🤣

baru belajar nulis 🤭🤭
total 1 replies
Hunk
Ya aku juga menunggu hasil nya elena🤣
Serena Khanza: perlahan lahan meledak kak 🤭
total 1 replies
Hunk
Mantap bukti nya banyak banget ples kuat.
cimownim
cara Elena menghadapi laki-laki udah keren cerdas banget ya
Serena Khanza: Elena menghadapi laki-laki dengan diam dan tenang 🤭
total 2 replies
APRILAH
kehangatan di dalam kegelapan
Tiara Bella
skrng ngurigain Selena ya Marcus....
Tiara Bella: hooh ...
total 2 replies
Hunk
Alasan umum untuk semua orang yg telat "Jalanan macet"
Sean Sensei
/Sweat/ : belum di update mungkin google map nya
Kaka's
saya suka narasi seperti ini. karna langsung sy praktekkan sesuai instruksinya.. terangkat tipis 🤭🤭
Kaka's: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Khusnul Khotimah
sampek sini q blom paham yg jd masalah itu pa?kok sampek segitunya ...ni masalah harta/warisan kah?perselingkuhan?.ato penghianatan?
Khusnul Khotimah: oooooohhhh.... gtu ditunggu kelanjutanya thor.
total 2 replies
Panda
mau pindahin aset kayanya marcus
Jing_Jing22
nggk sabar buka bab selanjutnya. pengen tau nasib tuh dua orang
Jing_Jing22
target mulai masuk kedalam rencana elena
CACASTAR
dialognya kenapa masih kaku Thor.. harusnya semakin lama di antara mereka tentunya semakin dekat. bahkan atasan dan bawahan sekalipun makin tahun pasti makin akrab. Kata sapaannya pun akan menggunakan kata sapaan yg lebih akrab walaupun sopan.
Serena Khanza: iya kak makasih masukannya 👍🏻😊

next aku perbaiki lagi di penulisan supaya bisa lebih natural lagi 😊😊
total 1 replies
APRILAH
Otewe gofood aja deh, ngeri kalo pesen gitu 😄
Kaka's
sudah terlambat marcus horison... su terlambat...
Serena Khanza: wkwkwk 🤭🤭
total 3 replies
Hunk
Elena menurut ku keren banget. Dokumen aj bisa sampai dia ingat isi nya. Padahal mungkin halaman nya banyak banget.👍
Serena Khanza: soalnya dia asisten marcus
total 1 replies
Hunk
Dia sendiri ga nyaman udah berbohong./Shame/
Murdoc H Guydons
Obat buat apa? Mata kabur segitu mah ga ngefek di kasi obat.. 🤭
Murdoc H Guydons: oh iy ya.. haha..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!