NovelToon NovelToon
Magic Knight: Sunder-soul

Magic Knight: Sunder-soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Antagonis
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: Arion Saga

Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Malam Berdarah 2 (Bagian 3-Luka Yang Terbuka)

Langkah kaki Liora bergema di lorong bawah tanah yang lembap, suaranya beradu dengan tetesan air yang jatuh dari langit-langit batu yang berlumut.

la berjalan dengan belati di tangannya, menyeret ujung bilah tajam itu ke dinding batu hingga menciptakan percikan api kecil dan suara decit yang menyayat telinga.

Matanya yang merah berkilat, memburu mangsa dengan gairah yang mengerikan.

Namun, saat ia melewati deretan jeruji besi yang dingin, langkahnya melambat.

Liora tidak melihat ke arah depan, tempat Komandan Garl mungkin sudah menunggu.

Pandangannya justru terlempar ke sisi kiri, menembus kegelapan di balik jeruji besi.

Di sana, ia melihat bayangan tubuh-tubuh yang meringkuk kurus, tangan-tangan yang terikat rantai karat, dan mata yang kehilangan cahaya kehidupan.

Anak-anak kecil itu bukan penjahat.

Mereka adalah para budak yang dikumpulkan sebagai komoditas untuk memuaskan kerakusan para bangsawan Beast.

Seketika, tubuh Liora mematung. Kegilaan yang tadi meluap-luap di wajahnya mendadak surut, digantikan oleh kekosongan yang dalam.

la menundukkan kepalanya, membiarkan poni rambutnya menutupi ekspresi wajahnya.

Di tengah keheningan lorong yang bau busuk itu, sebuah memori yang selama ini ia kunci rapat-rapat mendadak mendobrak paksa kesadarannya.

Flashback singkat...

Jauh sebelum ia dikenal sebagai "Gadis Merah" yang haus darah, Liora adalah seorang putri dari keluarga bangsawan Beast yang terhormat.

la mengingat masa kecilnya yang penuh tawa, di mana ia sering berlari di taman istana bersama seorang anak laki-laki yang memiliki senyum paling tulus yang pernah ia kenal-Arion.

Mereka adalah sahabat yang akrab, berbagi mimpi sederhana di bawah langit kerajaan yang saat itu masih terlihat indah.

Namun, kebahagiaan itu hanyalah fatamorgana yang hancur dalam semalam.

Keluarga Liora menemukan sebuah berkas yang berisi daftar dosa dan korupsi besar- besaran para bangsawan tinggi kerajaan.

Alih-alih mendapat keadilan, mereka justru dijebak.

Tuduhan korupsi dilemparkan kepada ayahnya.

Liora dipaksa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana orang tuanya dieksekusi di depan umum, tepat di bawah sorakan rakyat yang telah tertipu.

Dunia Liora runtuh bersamaan dengan hilangnya senyuman Arion di sisi lain kerajaan.

Di hari yang sama saat sahabatnya dikhianati, Liora dijual ke pasar budak.

Kehidupannya berubah menjadi rangkaian rasa sakit, cambukan, dan kehinaan di dalam kegelapan sel yang sempit.

Namun, di titik terendah saat ia nyaris menyerah pada kematian, sebuah kabar burung sampai ke telinganya.

Kabar tentang seorang pria dari masa lalunya-Arion-yang tidak lagi tersenyum.

Pria itu telah bangkit sebagai sosok mengerikan yang membantai dunia bawah, membangun pasukan dari sisa- sisa kehancuran, dan berjalan berdampingan dengan kematian.

Mendengar nama itu, harapan yang sudah mati di dalam dada Liora kembali berdenyut.

la menyadari bahwa ia tidak sendirian dalam kebenciannya.

Liora mengangkat kepalanya perlahan.

Bahunya bergetar, bukan karena sedih, melainkan karena sebuah amarah kuno yang kini menemukan jalannya kembali.

*

la menggenggam erat belatinya hingga buku jarinya memutih.

Suara rantai di sel itu tidak lagi terdengar seperti jeritan baginya, melainkan seperti lonceng kematian yang ia bunyikan untuk setiap orang yang berdiri di hadapannya malam ini.

Liora menatap tangannya sendiri, lalu kembali melirik ke arah jeruji besi.

Di dalam benaknya, bayangan Arion kecil yang mengulurkan tangan padanya terasa begitu nyata, begitu hangat.

Namun, kenyataan saat ini adalah sebuah pedang bermata dua yang dingin.

Ada satu kepahitan yang lebih besar dari cambukan rantai budak: kenyataan bahwa Arion tidak mengingatnya. Bagi Arion yang sekarang-sosok yang telah membuang kemanusiaannya demi kekuatan- Liora hanyalah satu dari sekian banyak pengikut yang ia pungut dari reruntuhan dunia bawah.

Arion tidak mengenali wajah gadis bangsawan yang dulu bermain bersamanya.

Bahkan jiwa Arion yang berasal dari dunia nyata pun tidak memiliki fragmen memori sedikit pun tentang "Liora si teman masa kecil".

Di dalam naskah takdir yang Arion jalani sekarang, nama Liora hanyalah sekadar nama ajudan setia, bukan sahabat yang hilang.

Arion benar-benar telah melupakan masa itu. Baginya, masa kecil adalah ruang hampa yang tidak layak untuk dikunjungi kembali. Liora mengetahui hal itu.

la melihatnya dari tatapan mata Arion yang kosong setiap kali mereka bicara.

Namun, alih-alih merasa dikhianati, Liora justru menerima kenyataan itu dengan kegilaan yang tenang.

"Tuan..." bisik Liora pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam kegelapan lorong.

"Meskipun kau telah melupakan gadis kecil yang dulu tertawa bersamamu, monster yang kau ciptakan ini akan tetap berada di sini. Sampai seluruh dunia ini sujud di bawah kakimu."

Bagi Liora, tidak diingat oleh Arion bukanlah masalah, selama ia diizinkan untuk tetap berada di bawah bayangan pria itu.

la sudah lama mati sebagai putri bangsawan; yang lahir kembali hanyalah monster yang hidup demi satu tujuan: memastikan siapapun yang menghancurkan masa kecil mereka akan membayar dengan nyawa.

Dunia mungkin mengenal Nyx sebagai ajudan pertama, bayangan yang paling lama berdiri di belakang Arion sejak ia bangkit dari kehancuran.

Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling gelap, Liora menyimpan rahasia yang lebih dalam. Secara teknis, Nyx memang yang terlama mengabdi, namun Liora adalah orang pertama di antara mereka semua yang sudah "mengenal" siapa sebenarnya Arion.

Liora telah mengenalnya jauh sebelum dunia menyebutnya monster, dan ia tetap mengenalinya saat dunia mulai gemetar ketakutan.

Liora menggenggam belatinya dengan cara yang berbeda sekarang.

Bukan lagi dengan getaran trauma, melainkan dengan ketenangan seorang predator.

la tidak lagi melihat jeruji besi itu sebagai pengingat akan kelemahannya, melainkan sebagai alasan mengapa pria di depan sana-Komandan Garl -harus mati dengan cara yang paling menyiksa.

Komandan Garl, yang sedari tadi hanya mengamati Liora yang tertunduk diam, merasa seperti sedang melihat mangsa yang terlalu mudah.

la melangkah maju dengan percaya diri, pedang besar di tangannya sedikit menyentuh lantai, menciptakan bunyi gesekan yang memecah keheningan lorong.

"Hei... nona?" Garl menyeringai, pandangannya merendahkan.

"Hmmm, apa mungkin kau tersesat? Harusnya memang kau tidak mengikuti pangeran lemah itu. Auramu di aula tadi terasa begitu sia-sia jika hanya untuk menjadi anjing bagi pecundang buangan sepertinya."

Liora tidak menjawab, tidak mengangkat kepalanya.

la membiarkan kata-kata merendahkan itu menembus telinganya, seolah-olah semua itu hanya angin lalu.

Namun, saat Garl melangkah lebih dekat, sebuah kilatan merah tiba-tiba menyambar. Liora mengayunkan belatinya secara vertikal, gerakan yang sangat sederhana namun sarat kekuatan tersembunyi.

Garl secara refleks mengangkat pedangnya untuk menangkis.

Brak!

Tabrakan logam yang berat itu mengejutkan sang Komandan Beast.

Meskipun ia berhasil menahan serangan itu, tubuh Garl terdorong mundur satu langkah, meninggalkan jejak sepatu di tanah lembap. Senyum meremehkannya lenyap, digantikan oleh kerutan bingung.

Sebelum Garl sempat bereaksi, Liora sudah melesat.

Jika Nyx adalah manifestasi kecepatan dan kelincahan yang menghilang dari pandangan, maka Liora adalah kecepatan yang brutal dan tak kenal takut.

la tidak menghindar dengan melesat ke belakang atau ke samping; ia terus berada di depan, menempel pada Garl seperti bayangan kematian. Belatinya tidak menusuk dengan elegan, melainkan menyayat dan memangkas dengan membabi buta, setiap serangannya memiliki bobot yang tidak seharusnya dimiliki oleh senjata kecil.

Garl terpaksa terus bertahan, matanya membelalak kaget.

Dengan pedang besar di tangannya, ia seharusnya memiliki jangkauan dan kekuatan superior. la tersenyum santai, mencoba menyembunyikan kekesalannya.

"Kau ingin adu kekuatan dengan senjata kecil itu?" gumamnya, mulai memainkan pedangnya dengan gerakan elegan-tebasan melingkar, tangkisan berputar-mencoba menjaga Liora tetap pada jarak yang aman.

la adalah petarung yang mengandalkan teknik dan jangkauan. Menghancurkan dinding baja.

"Mari kita lihat seberapa jauh amarahmu itu bisa membawamu, Gadis Merah!"

raung Garl, kini dengan pedang raksasa di tangan dan lengan yang penuh kekuatan.

la mengayunkan Ironfang, menciptakan tiupan angin yang mampu merobohkan.

Liora hanya menyeringai, matanya merah darah. Ini bukan lagi tentang teknik; ini tentang dendam.

Dan dia punya banyak sekali dendam untuk dilepaskan.

Di tengah dentingan logam yang memekakkan telinga, sesuatu dalam diri Liora berubah.

Kebrutalan yang awalnya meledak-ledak tanpa arah perlahan menyurut, digantikan oleh ketenangan yang dingin dan mencekam.

Matanya yang merah tidak lagi menyiratkan amarah buta; ia mulai mengalkulasi. Bukan mengalkulasi cara untuk menang-karena baginya kemenangan adalah kepastian- melainkan mengalkulasi bagaimana cara memperlambat kematian musuhnya.

Liora melompat mundur dengan ringan, menciptakan jarak beberapa meter di antara mereka.

Napasnya teratur, kontras dengan Garl yang mulai terengah-engah akibat beban lengannya yang membengkak dan pedang raksasanya.

Melihat celah itu, Garl kehilangan kesabarannya Didorong oleh rasa harga diri yang terluka, ia berlari kencang menerjang Liora. la tidak lagi memikirkan strategi; baginya, gadis kecil di depannya hanyalah serangga yang harus digilas oleh beratnya Ironfang.

"Ini untuk penghinaanmu kepada Tuanku," ucap Liora datar.

Dengan satu sentakan pergelangan tangan, Liora melempar belatinya.

Senjata itu melesat seperti kilat merah, mengincar tepat ke mata kiri Garl.

Namun, dengan refleks seorang komandan ksatria, Garl memiringkan kepalanya di detik terakhir.

Belati itu lewat, hanya menggores pipinya sebelum tertancap jauh di dinding batu di belakangnya.

"Hah! Lemparan yang buruk, Nona!" Garl tertawa mengejek, langkahnya tidak berhenti.

Kini jarak mereka hanya satu langkah.

Garl mengangkat pedang raksasanya tinggi-tinggi, siap membelah Liora menjadi dua. Namun, senyum Garl membeku saat ia melihat Liora sama sekali tidak menghindar.

Liora justru menatapnya dengan pandangan yang kosong.

Wush-!

Garl mendengar suara desingan tajam dari arah belakangnya.

Instingnya berteriak untuk menghindar, namun tubuhnya yang besar terlalu lambat untuk bereaksi dalam posisi menyerang.

la hanya sempat menolehkan matanya sedikit.

Belati yang tadi tertancap di dinding secara mustahil melesat kembali, ditarik oleh kekuatan yang tak kasat mata.

Bilah hitam itu lewat dengan mulus, merobek bola mata kiri Garl sebelum kembali ke genggaman Liora.

"ARGHHHHHHH!" Raungan kesakitan memenuhi lorong bawah tanah.

Garl ambruk, berlutut dengan satu kaki sambil memegang wajahnya yang kini bersimbah darah. Luka di mata kirinya mengerikan, cairan bening bercampur darah merah pekat mengalir di sela-sela jarinya.

Ironfang terjatuh, dentingannya terdengar seperti lonceng kematian.

Liora melangkah maju, melewati Garl yang sedang meringkuk kesakitan seolah pria itu hanyalah onggokan sampah di jalanan. la tidak berhenti untuk memberikan serangan akhir dengan tangannya sendiri.

Alih-alih, empat belati lainnya muncul dari balik jubahnya, melayang di udara dengan ujung yang mengincar Garl.

Ini adalan kartu as Liora: Telekinesis

Kemampuan yang ia asah selama bertahun- tahun untuk memastikan mangsanya tidak bisa lari.

Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!

Empat belati itu menghujam dengan presisi- dua menembus bahu Garl, mengunci lengannya ke lantai, dan dua lainnya memaku paha pria itu.

Garl terpasung dalam posisi bersujud yang menghina, tak mampu bergerak meski hanya satu inci.

Liora terus berjalan dengan tenang, mengabaikan rintihan Garl yang memohon ampun.

Langkahnya baru berhenti tepat di depan sebuah sel besar di ujung lorong. Ia

Di dalam sana, ia melihat pemandangan yang menghancurkan sisa-sisa hatinya: puluhan anak-anak yang hanya tinggal kulit membungkus tulang, mata mereka cekung dan kosong, menatapnya dengan ketakutan yang sudah mati. Mereka adalah potret masa lalu Liora yang gagal diselamatkan.

Liora menyentuh jeruji besi itu, jemarinya bergetar pelan.

Di belakangnya, Garl masih merintih, namun bagi Liora, suara itu kini terdengar seperti musik latar yang indah untuk pembebasan yang tertunda ini.

Bersambung...

1
Leon 107
ngak tau lagi apa yang mau dibaca...
Leon 107
pertama...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!