Dicampakkan demi masa depan! Arya tidak menyangka hubungan tiga tahunnya dengan Tiara berakhir tepat di gerbang kampus. Namun, saat Arya tenggelam dalam luka, ia tidak sadar bahwa selama ini ada sepasang mata yang terus mengawasinya dengan penuh gairah.
Arini Wijaya, CEO cantik berusia 36 tahun sekaligus ibu dari Tiara, telah memendam rasa selama sepuluh tahun pada pemuda yang pernah menyelamatkan nyawanya itu. Baginya, kegagalan cinta putrinya adalah kesempatan emas yang sudah lama ia nantikan.
"Jika putriku tidak bisa menghargaimu, maka biarkan 'Mbak' yang memilikimu seutuhnya."
Mampukah Arya menerima cinta dari wanita yang seharusnya ia panggil 'Ibu'? Dan apa yang terjadi saat Tiara menyadari bahwa mantan kekasihnya kini menjadi calon ayah tirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sekitar Universitas Negeri Semarang
Kedai Angkringan & Barbekyu Sahabat Sejati
Karena menemani Melati menunggu sopir pengganti, Arya Wiratama dan kedua wanita itu datang terlambat. Mereka memarkirkan mobil di pinggir jalan tepat di depan kedai.
Saat ini adalah waktu terbaik untuk menikmati sate-satean dan minuman dingin, sehingga kedai itu penuh sesak oleh pelanggan. Ketika orang-orang yang sedang makan melihat dua mobil mewah berhenti di sana, mereka semua menjulurkan leher dengan penasaran, terutama pada Ferrari puluhan miliar yang dikendarai Arini Wijaya.
"Gila, anak sultan mana yang makan di sini?"
"Kamu lihat Ferrari itu? Harganya pasti miliaran!"
"Satu atau dua miliar? Itu edisi terbatas, harganya lebih dari dua puluh miliar!"
"Sial, sudah sekaya itu masih mau makan di pinggir jalan sama kita."
Saat Arini dan Melati turun dari mobil, semua mata memandang tak berkedip, seolah bidadari baru saja turun ke bumi. Tanpa memedulikan pandangan orang, mereka masing-masing merangkul lengan kiri dan kanan Arya lalu berjalan masuk ke kedai.
Bagas dan kedua sahabat lainnya yang sudah memesan tempat segera berdiri menyambut. Mereka duduk di satu sisi, sementara Arya duduk di sisi lain diapit oleh Arini dan Melati. Melihat "medan pertempuran" asmara ini, Bagas dkk hanya bisa menunduk sambil menahan tawa.
Arya melirik mereka tajam, lalu mengambil daftar menu. "Sate daging sapi 20 tusuk, urat 20 tusuk, kacang rebus, sosis bakar, dan satu krat minuman dingin."
Setelah memesan, Arya bertanya pada kedua wanita itu. Melati memesan roti bakar, sedangkan Arini yang baru pertama kali makan di angkringan pinggir jalan membolak-balik menu dengan mata berbinar.
Dia menunjuk beberapa menu khusus. Arya melirik pesanan Arini dan tersenyum kecut. Arini ternyata memesan banyak menu penambah stamina pria. Apa aku selemah itu? Bukankah setiap malam dia selalu menyerah? Nanti di rumah harus kuberi pelajaran agar tidak meremehkanku, pikir Arya.
Semua orang mengobrol santai. Arini tidak minum alkohol karena harus menyetir, sisanya dihabiskan oleh Arya dan sahabatnya. Arya tadinya mengira akan ada preman yang datang menggoda agar dia bisa beraksi jadi pahlawan, tapi sampai kenyang pun tidak ada kejadian apa-apa. Ternyata cerita di novel itu fiksi; tidak semua makan di pinggir jalan berakhir dengan perkelahian demi wanita cantik.
Saat berpisah, Melati tampak berat hati. Dia memberikan nomor WhatsApp terbarunya kepada Arya. Arya merasa aneh; di hotel tadi mereka seperti mau perang, tapi di sini mereka malah asyik mengobrol dan bertukar kontak. Wanita benar-benar makhluk yang unik.
Dalam perjalanan pulang, Arya bertanya apa yang mereka bicarakan, tapi Arini tetap bungkam.
Setibanya di rumah, terjadilah "malam yang panas" sebagai pembuktian stamina Arya. Arini sampai berganti beberapa set pakaian tidur dan stoking untuk menyenangkan suaminya. Mereka baru benar-benar beristirahat saat tengah malam.
Pagi harinya, Arya terbangun karena hidungnya terasa gatal. Dia melihat wajah cantik Arini di depannya dan memberikan kecupan lembut.
"Pagi, Istriku."
"Pagi, Suamiku."
Arini turun dari tempat tidur, membereskan pakaian yang berserakan di lantai, dan memasukkannya ke mesin cuci. Dia juga membuang beberapa stoking yang rusak ke tempat sampah sambil membatin bahwa dia harus mulai menyetok stoking dalam jumlah besar.
"Sayang, aku masak sarapan dulu ya. Kamu segera bangun," ujar Arini lembut.
Di meja makan, sarapan tersedia sederhana: susu hangat, telur mata sapi, dan roti lapis. Selesai makan, Arya menahan tangan Arini yang hendak membereskan meja.
"Sayang, hari ini aku mau pulang ke kampung halaman untuk mengambil Kartu Keluarga (KK)."
Mata Arini berbinar gembira. "Mau aku temani?"
Arya melihat harapan di mata istrinya, tapi dia menjawab pelan, "Maaf Sayang, aku belum tahu cara memberitahu orang tuaku tentang hubungan kita."
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Perbedaan usia kita memang mungkin sulit diterima Paman dan Bibi, butuh waktu yang tepat."
Meskipun Arini bicara tenang, Arya melihat kilatan kecewa. Dia pun menenangkan, "Tenang saja, hari ini aku akan mencoba mencari tahu reaksi mereka. Setelah kita pegang surat nikah, aku akan berterus terang."
Setelah bersiap, Arini pergi ke kantor dengan Ferrarinya. Arya pergi ke garasi, melihat barisan mobil mewah, dan memilih Rolls-Royce Cullinan yang menurutnya "agak rendah hati" dibanding mobil sport untuk menempuh perjalanan pulang via jalan tol menuju kampung halamannya.