Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Sableng's Couple
"Naik genteng?" ulang Akira yang tidak habis pikir dengan Mandasari, saudara kembarnya Mandaka. Akira tahu adik beda setahunnya itu memang kacau dari orok tapi ini tuh lagi hamil anak kembar pulak! Nak macam apa ngidam naik genteng? "Ngapain Tante?"
"Kata Wira, sudah dua kali seperti ini. Sari main gambar genteng kalau pagi. Kan kacau!" omel Rarasati.
"Gambar genteng?" seru Akira heboh. "Aduh, anak itu!"
"Kapan kita berangkat?" tanya Mandaka yang auto pusing dengarnya.
"Malam ini."
"Harus bawa coklat Belgia ini," kekeh Akira.
***
"Naik genteng? Gambar genteng?" seru Adrianto Pratomo dan Arsyanendra Léopold heboh.
"Hu um. Makanya malam ini aku ke Jakarta ya mas? Pesawat sudah dipinjamkan sama Oom Bayu," ucap Rarasati.
"Astaghfirullah anak itu! Padahal Raras selalu nasehati benar ke anak-anak lho!" gumam Adrianto. "Anak itu sadar nggak sih bawa dua anak di perut!"
"Sabar pak Adrianto ... Sabar. Ingat, nanti tensi naik," ucap Mandaka cuek.
Adrianto hanya menyipitkan matanya.
"Akira, Daddy pulang ke Belgia, kamu ke Jakarta?" tanya Arsyanendra.
"Boleh?" Akira menatap ayahnya.
"Pergilah. Siapa tahu di Jakarta sekalian healing. Plus pusing lihat adikmu reog!"
Akira terbahak. "Tenang, aspirin selalu sedia aku."
***
Jakarta Indonesia
"Maaaaasssss!"
"Iya sayang?"
"Kok spidol akrilik aku kurang satu ya?"
"Lha kamu taruh mana?" tanya Wira yang sedang membuatkan sarapan pagi ini karena Mandasari tidak bisa masuk dapur.
"Udah ketemu. Ayo!" ajak Mandasari.
"Kemana?" tanya Wira curiga.
"Naik genteng lagi," jawab Mandasari dengan wajah polos.
"Ngapain kamu mau naik genteng lagi?" ucap Wira panik apalagi Herdiani sudah kembali ke Solo.
"Gambar. Pengen kok mas ...." rengek Mandasari. "Duo cilik ini yang pengen." Bumil itu menunjuk perutnya yang sedikit menonjol.
"Haaaahhh?"
"Mau gambar genteng!" hardik Mandasari hampir menangis.
Wira hanya bisa mengiyakan karena kalau tidak, istrinya bisa menangis berjam-jam. Wira pernah karena dia melarang Mandasari menonton Squid Game yang penuh kekerasan. Endingnya Mandasari menangis semalaman.
Wira melihat istrinya naik ke atas genteng sambil membawa koleksi spidol akrilik nya yang banyak warna. Sambil bersenandung, Mandasari pun menggambar genteng sementara Wira menunggu cemas di bawah.
"Mas, tolong ambilkan topi caping dong! Panas ini," pinta Mandasari yang saat pergi jalan-jalan, membeli topi itu.
Wira pun ke teras untuk mengambil topi yang digantung disana karena biasanya dipakai Mandasari untuk membersihkan teras saat sore hari kalau panas. Wira pun naik ke atas genteng dan memberikan topi itu ke Mandasari. Bumil itu pun melanjutkan acara menggambar genteng di hari Sabtu ini.
Ponsel Wira pun berbunyi dan dia terkejut karena tamunya sudah datang.
"Persilakan masuk. Sudah laporan kan aku kemarin?" ucap Wira. "Terima kasih."
"Siapa mas?" tanya Mandasari cuek.
"Ada tamu penting datang. Kamu turun deh!" pinta Wira.
"Bentar ... Tanggung!" jawab Mandasari.
Wira hendak mengatakan sesuatu tapi mobil Range Rover hitam sudah sampai di depan rumahnya. Tak lama turun dua oranb pria dan seorang wanita cantik meskipun sudah berusia empat puluh akhir.
"Mama, Daka, mas Akira ...." Wira pun menghampiri mereka bertiga.
"Apa ada genteng bocor, Wira?" tanya Rarasati.
"Eh nggak ma," jawab Wira sambil Salim. "Itu ...." Wira hanya menunjuk ke atas. Ketiga orang yang baru datang itu melongo.
"Astaghfirullah ... SARI!" seru Rarasati panik.
Akira dan Mandaka hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Lho? Kok kalian datang?" ucap Mandasari tanpa beban. "Bentar ya. Tanggung ini lagi gambar Jerapah!"
"TURUN!" bentak Rarasati gemas.
"Aku bujuk Ma. Percuma kalau Wiro Sableng karena sudah pasti tidak mau ada drama," kekeh Mandaka yang langsung naik ke tangga. "Woi bumil, turun dong. Nanti mama lebih galak lagi lho. Jurus capit kepiting, jurus omelan tanpa cahaya, wejangan melebihi ustadz ...."
Mandasari pun manyun. "Ya udah deh ... Bisa lanjut besok."
Akira menatap adiknya dari bawah. "Bumil, ada coklat Belgia!" Pria itu memperlihatkan kantong makanan ke Mandasari.
"Wooo coklat Belgia. Aku turun!" ucap Mandasari dengan cueknya.
"Hati-hati ... Hati-hati ...." Mandaka membantu kembarannya turun.
Rarasati hanya bisa menghela nafas panjang. "Ya ampun Sarimiiiii!" ucapnya gemas.
"Lho apa gunanya ada mama yang dokter obgyn disini ... Addduuuhhhh!" Mandasari meringis karena kena jewer Rarasati. "Sakit mama ...."
"Kamu itu lagi hamil, Sari!" hardik Rarasati.
"Ini Gawan bayi ... Gawan bayi mamaaaaa ... Mas Wiraaaaa, aku dijewer mama ...." rengek Mandasari dengan menangis drama.
Akira menepuk bahu Wira. "Yang sabar ya?"
"Aku sudah dikirimkan stok aspirin dari Erhan," jawab Wira lelah.
Akira pun terbahak.
Mendengar keributan di rumah Mandasari dan Wira, membuat banyak orang keluar apalagi akhir pekan, mereka lebih suka tinggal di rumah. Utari yang mendengar suara heboh di rumah tetangganya pun keluar bersama Hamdan.
Keduanya terkejut melihat seorang pria bule ganteng dengan gayanya yang kharismatik dan seorang wanita cantik meskipun sudah berkepala empat, tapi masih tetap cantik sedang menjewer telinga Mandasari.
"Mamaaaaa ... Sakiiitttt!" rengek Mandasari.
Mama? Letnan Satu Hamdan dan Utari melongo.
"Bu Rarasati?" sapa Utari membuat Rarasati melepaskan japitan telinganya.
"Iya? Siapa ya?" tanya Rarasati sementara Mandasari mengusap telinganya yang merah dalam pelukan Wira.
"Saya Utari dan ini suami saya Hamdan ...."
"Ooh kamu sahabatnya Sari ya ... Aduh makasih ya mbak Utari sudah mau jadi teman putri saya," Rarasati memeluk Utari hangat membuat bumil itu tersipu. Harum parfum mahal yang lembut tercium di hidungnya. "Kamu lagi hamil juga ya? Jalan berapa?"
"Alhamdulillah sudah 12 Minggu kalau Tante Sari sebelas Minggu," jawab Utari setelah Rarasati melepaskan pelukannya.
"Terima kasih ya mas Hamdan sudah menjadi teman Wira," senyum Rarasati sambil menyalami Letnan Satu Hamdan yang merasa kikuk disalami oleh ibu Mandasari itu.
"Sama-sama Bu Rarasati. Namanya juga teman dan tetangga," jawab Letnan Satu Hamdan. "Pantas Tante Sari cantik, wong ibunya cantik sekali."
"Oom Hamdan, Tante Utari, apakah sudah pernah ketemu pangeran? The Real Prince?" goda Mandaka.
"Eh?"
"Perkenalkan saya pangeran Akira Léopold dari kerajaan Belgia. Senang bertemu dengan anda," senyum Akira sambil menyalami Hamdan dan Utari dengan bahasa Indonesia fasih.
Pasangan suami istri melongo sementara para tetangga Wira dan Mandasari yang kepo, langsung berteriak heboh.
"AAAAPPPPA?"
Akira hanya tersenyum manis.
"Dasar pangeran! Sok cakep!" gerutu Mandasari manyun.
Orang-orang pun mulai heboh mencari Akira di Google dan mereka hanya bisa terbengong-bengong karena pria ganteng di depan mereka, memang pangeran dari Belgia.
"Maaf, pangeran Akira apanya Tante Sari dan Oom Wira? Kok bisa kesini?" tanya salah seorang tetangga.
"Lho, saya sepupunya Sari. Maafkan kalau adik saya membuat rusuh disini," senyum Akira membuat para kaum Hawa klepek-klepek.
"Mulai deh tebar pesona," omel Mandasari sebal yang masih di pelukan Wira.
"EEEEHHH?"
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
The sableng family, yg nyuruh turun genteng aja, mama Rarasati bawa prince Akira 😂😂😂😂😂