Pertemuan tidak sengaja Arabella dengan seorang wanita di cafe tempatnya bekerja, membawanya menjadi pengantin pengganti untuk seorang putra Billionaire Rusia, kondisi Arabella yang sedang membutuhkan banyak uang sehingga ia menerima penawaran wanita itu. Bukan hanya menjadi pengantin pengganti, ia juga harus menjadi putri pengganti dari seorang Billionaire Rusia yang memiliki pengaruh sangat besar di negara itu, Anara itulah nama barunya.
Neal Radislav tidak punya pilihan lain, selain bersedia melangsungkan pernikahan itu demi nama baik dua keluarga, walaupun Arabella memiliki wajah yang persis sama dengan kekasihnya, tak ada sedikitpun sikap manis yang Neal tunjukkan, baginya Anara adalah wanita yang tidak akan tergantikan di dunia ini.
Kenapa Arabella harus berpura-pura menjadi Anara? mampukan sikap lembut dan penyabar Arabella menaklukkan hati Neal? Rahasia apa yang tersembunyi dibalik sikap tertutup Arabella?
Ikuti kisah cinta mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Melya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Tidak Suka
Sepulang dari rumah sakit Arabela pun segera menuju tempat les pianonya, tempat yang sangat disukai Ara. Dengan musik ia dapat sejenak meghilangkan beban dalam pikirannya, David hanya memandangi Ara yang terlihat begitu menikmati alun nada yang keluar dari tuts piano, terlihat jelas wajah Ara yang meluapkan emosi
kesedihannya, David dengan jelas melihat air mata yang mengalir di pipinya, David hanya memperhatikan Ara dari posisi agak jauh, sampai dentingan piano itu tak terdengar lagi tinggal Ara yang terisak, jelas terlihat ia sedang menahan beban di hatinya, wajah ibunya bermain di matanya yang membuatnya begitu sedih .
“Kau kenapa…tidak biasanya seperti ini, David mencoba memberanikan diri untuk bertanya sambil menyentuh pundak Ara, tak ada jawaban dari Ara tapi isakan itu akhirnya mereda perlahan ia menurunkan kedua tangannya yang menutupi wajahnya, perlahan ia menggeser duduknya agar menghadap pada David, ”maafkan aku …karena
membuatmu terganggu.”
“Tidak….Sedikit pun aku merasa tidak terganggu, kau baik-baik saja kan?" Tanya David lagi sambil menatap lekat wanita yang ada didepannya itu.
“Ya…aku baik-baik saja," sahut Ara cepat tentu saja ia tidak ingin David tau keadaan sebenarnya yang sedang ditahan dalam hatinya.
“Baiklah…tapi kalau kau ada masalah jangan sungkan untuk berbagi cerita padaku," ucap David karena tak mungkin memaksa Ara walaupun ia tahu Ara sedang berbohong padanya karena ia dapat melihat jelas ada yang berusaha untuk di sembunyikan Ara darinya.
“Ara…nanti sore aku akan mengisih acara amal untuk sebuah Yayasan kanker bagi anak-anak yang menderita kanker, maukah kau ikut denganku?" Tawar David.
“Tentu saja aku ingin ikut...!" jawab Ara cepat penuh semangat. David tersenyum senang melihat kecerian kembali menghias wajah Ara, melihat wanita itu bersedih membuatnya seakan ikut merasakan hal yang sama.
****
Ara dan Davit turun di halte bus, keduanya berjalan kaki menuju tempat acara yang tak jauh dari halte tempat mereka berhenti, Ara harus membujuk keras Peter untuk memberinya ijin pergi dengan David, Peter yang tidak berani untuk memberi ijin Ara karena takut dimarahi oleh Neal, tapi Ara yang bersikeras dan akan menanggung semua kemarahan Neal tanpa membawa nama Peter.
Ara keget saat sampai ditempat penyelenggaraan acara amal itu, kerena ia tidak menyangkah acara itu di adakan di Gedung pertunjukan yang cukup terkenal di kota itu.
“David… kamu serius di sini tempatnya?"
“Tentu saja, acara ini juga mengundang orang - orang penting, acara ini hampir dilakukan tiap tahun untuk menggalang dana bagi anak-anak penderita kanker, bahkan beberapa acara di ikuti oleh anak-anak yang menginap kanker, nanti mereka kan bernyanyi, bermain music juga , dan masih banyak acara lainya lagi," jelas David sambil mengajak Ara masuk setelah memperlihatkan kartu identitasnya pada penyelenggara acara.
Arabela memperhatikan sekelilingnya, Gedung yang dihiasi oleh tema dengan nuansa yang sangat kental dengan dunia anak-anak, Ara tersenyum senang karena dapat hadir di acara amal seperti ini, seketika Ara teringat pada Noumi, ia berjanji jika ada acara seperti ini lagi ia ingin mengajaknya untuk ikut.
“David...kau disini akan mengisi acara apa?" Tanya Ara penasaran karena David mengajaknya untuk masuk ke belakang panggung. Disana sudah banyak berkumpul orang-oarang yang akan mengisih acara, Ara memperhatikan beberapa anak-anak yang ikut mengambil bagian acara ini, seperti yang di bilang David mereka semua itu anak-anak yang mengidap kanker.
“Aku akan mengiringi anak-anak ini dalam drama musical," sahut David .
Ara memeperhatikan David yang sedang berinteraksi dengan anak-anak itu sebelum mereka tampil di panggung, mereka terlihat begitu semangat dan sangat bahagia, melihat wajah anak-anak itu sejenak Ara melupakan
kegundahan yang sedang menyelimuti hatinya, bahkan itu memberikan dorongan padanya untuk tetap semangat.
*****
Ara segera keluar dari belakang panggung karena acara akan di mulai, David mengantarkan Ara untuk duduk di bangku penonoton tepat di depan panggung, Ara sangat senang dapat melihat pertunjukan itu dari bangku paling depan, David pun segera kembali setelah mengantarkan Ara pada bangkumya.
Sepasang mata sedang memperhatikan Ara saat keluar dari belakang panggung tadi, merasa tidak yakin dengan pandangannya Neal pun segera meraih ponsel dalam saku jasnya, tapi begitu ia akan melakukan panggilan, MC pun segera membuka acara amal itu, sehingga Neal mengurungkan niatnya karena suara keras akan mengganggunya, matanya tidak lepas memperhatikan Ara yang duduk beberapa bangku darinya.
“Kau perhatikan wanita yang duduk di di deret bangku kesepuluh sebelah kiriku," bisik Neal pada Mark, dan Mark pun mengikuti arah yang dikatakan bosnya itu, tak jauh beda dengan Neal ia pun kaget.
“Sepertinya itu Nona Tua," bisik Mark pada Neal.
“Kau atur bagaimana caranya agar aku bisa duduk tepat disampingnya,"balas Neal tanpa melepaskan pandangannya dari Ara.
*****
Ara yang terlihat begitu menikmati acara itu tak sedikit pun memperhatikan sekelilingnya, "Kau sepertinya sangat menikmati acara ini, sampai kau tidak melihat suamimu duduk disampingmu," bisik Neal pada Ara yang sangat tiba-tiba yang hampir saja membuat Ara terpekik kaget, namun dengan cepat Neal membekap mulut istrinya itu, sehingga suara Ara tertahan.
Dengan wajah takut Ara menatap wajah yang begitu dekat dengannya dan satu tanganya memegang dadanya karena jantungnya yang hampir copot, matanya membulat sempurna saat melihat wajah suaminya itu, Ara tak menyangkah Neal ada disini, dan bodohnya bahkan ia tidak menyadri Neal duduk disampingnya, seketika wajah Ara memucat membayangkan kemarahan Neal nanti kepadanya.
Perlahan Ara menelah ludahnya dengan getir, ”Neal kau disini jug? "Ucap Ara memberanikan diri untuk berbasa basi pada suaminya itu.
“Kenapa…apakah kehadiranku menganggumu dengan pria yang sedang bermain piano itu, bahkan matamu tidak berkedip saat menatap panggung, "dengus Neal kesal.
“Neal… bukan seperti itu, itu tidak seperti yang sedang engkau pikirkan," ucap Ara memelas
“Memang kau tau apa yang sedang aku pikirkan…," tukas Neal berbisik ketus. Yang membuat Ara kesal dengan sikap Neal yang mudah berubah seperti cuaca saja.
“Tidak...aku tidak peduli dengan pikiranmu," ucap Ara begitu saja. Ia tidak tau kata-kata itu meluncur saja dari mulutnya, ia menatap lekat wajah suaminya itu, dan perkataan Neal yang sangat menyakiti hatinya itu kembali terngiang di telingannya, sehingga membuatnya sangat ingin membalas Neal, dan mungkin ini kesempatannya untuk membalas Neal.
Mendengarkan perkataan Ara barusan membuat Neal mengertakkan giginya karena kesal, ingin rasanya ia menarik Ara untuk keluar dari sana, tapi ia mencoba untuk menahan emosinya, Ara Kembali mengalihkan pandangannya ke
panggung, tanpa mempedulikan Neal sedikit pun sedangkan Neal terus menatap Ara dengan tajam, minatnya seketika hilang untuk mengikuti acara itu, apalagi melihat pria yang bersama istrinya itu berada disana, sungguh membuatnya semakin kesal.
Acara yang berlangsung kurang lebih dua jam itu sangat menarik bagi Ara yang baru pertama kali datang ke acara seperti ini, ia memberikan tepuk tangan yang sangat meriah saat pembawa acara menutup acara amal itu, tentu saja sikap Ara itu kemabli mencuri perhatian Neal.
“Ayo kita pulang...," ajak Neal sambil menarik tangan Ara.
“Aku datang kesini dengan temanku, kau pulanglah dulu,$ tolak Ara yang membuat Neal mengeraskan wajahnya dan menatap Ara dengan pandangan yang seakan menembusnya, seketika nyali Ara menciut
“Iya…, aku akan pulang denganmu, tapi aku harus menemui temanku dulu agar ia tidak kebingungan mencarikku, 'tukas Ara melepaskan pegangan tangan Neal dan membalikan tubuhnya, tapi baru saja ia berbalik David sudah datang menghampirinya sambil tersenyum senang, dan tentu saja Neal tidak menyukai pemandangan yang ada didepannya itu, David menatap sekilas pria yang berdiri tepat dibelakang Ara, tentu saja David sangat mengenal pria itu karena ia salah seorang kolongmerat di negara ini, tak heran melihatnya ada diacara amal seperti ini karena ia memang terkenal dermawan walaupun dari penampilannya orang-orang akan melihatnya sombong karena sikapnya yang dingin dan terkesan tidak ramah, tapi ia tidak ada urusan dengan pria itu jadi untuk apa ia memikirkannya.
“Maaf Ara, membuatmu menunggu, ayo kita pulang, " ajak David sambil menarik tangan Ara.
“Lepaskan tanganmu dari istriku….!
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung