Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: LULUS, GALAU, DAN PILIHAN YANG BIKIN KERINGAT DINGIN
Disclaimer: Bab ini mengandung wisuda yang bikin baper, tawaran kerja yang nggak diduga-duga, dan perbedaan mimpi yang tiba-taya nongol kayak setan.
---
Wisuda. Kata ajaib yang selama ini cuma jadi deadline di kalender, tiba-taya jadi nyata. Ardi duduk di barisan, toga jingganya gombrong, topinya agak miring. Dari kejauhan, di tribun, Kinan melambai-lambaikan tangan, pegang kamera poket. Bowo di sampingnya bawa poster tulisan tangan: "KONGRATS ARDI! SKRIPSI LO JELEK TAPI LO LULUS!"
Saat namanya dipanggil, Ardi jalan ke panggung, deg-degan. Bukan karena serem, tapi karena ini akhir. Akhir dari satu fase yang jelas: kuliah. Selanjutnya? Blank. Seperti layar komputer yang baru di-restart, masih gelap, belum ada program yang kebuka.
Acara selesai. Kinan nyamperin, peluk dia erat. "Selamat ya, Sarjana Desain Komunikasi Visual yang gak pernah bisa desain poster rapi!"
"Makasih, yang dateng padahal gue gak ngundang."
"Jangan sok. Gue malu disorakin Bowo tadi."
Foto-foto. Senyum-senyum kaku. Lalu, di tengah keramaian, tiba-taya ada yang nyamperin: Pak Heru, dosen Ardi yang killer sekaligus pengusaha.
"Ardi, selamat. Skripsimu tentang etika algoritma di media sosial itu menarik. Ada waktu ngobrol sebentar?"
Mereka ngobrol di pinggir aula. Pak Heru nawarin sesuatu yang bikin Ardi keringat dingin: posisi junior researcher di perusahaan tech startup-nya yang di BSD. Gajinya cukup buat bayar cicilan motor baru plus nabung. Kerjanya hybrid, boleh remote. "Kamu cocok. Pemikiranmu kritis, dan kamu punya first-hand experience jadi korban sistem," kata Pak Heru.
Ardi bengong. Ini mimpi banyak orang. Kerja tetap, gaji bagus, bidang yang dia minati. Tapi... BSD. Jauh dari Kota. Jauh dari Kinan yang rencananya mau fokus bikin studio desain kecil di Bandung. Jauh dari ritme mereka yang sudah terbentuk.
"Saya... butuh waktu mikir, Pak."
"Tentu. Tapi jangan lama-lama. Posisi ini banyak yang incar."
Ardi balik ke Kinan dengan wajah kosong.
"Apa? Ditegur soal nilai?" tanya Kinan.
"Dia nawarin kerja."
Wajah Kinan bersinar. "SERIUS?! KEREN BANGET! DI MANA? APA?"
Ardi jelasin. Pelan-pelan, cahaya di wajah Kinan meredup. "Oh... BSD ya. Jauh juga."
"Iya."
Mereka pulang di mobil sewaan. Suasana hening. Pesta kecil di kosan Bowo berjalan dengan canggung. Kinan pura-pura senang, Ardi pura-pura antusias. Tapi ada gunung es di antara mereka.
---
Malamnya, di rooftop kosan Ardi.
"Jadi lo mau terima?" tanya Kinan, mainin daun yang tertiup angin.
"Gue nggak tahu. Itu tawaran bagus. Tapi..."
"Tapi kita jadi long distance lagi."
"Bukan cuma itu. Kerja di startup tech... pasti culture-nya cepat, demanding. Beda vibe sama kita yang sekarang."
Kinan memandangnya. "Lo takut berubah?"
"Gue takut kita berubah."
Ini bukan lagi soal uang atau kelas sosial. Ini soal arah hidup. Kinan ingin tetap di ekosistem kreatif yang agak slow, membangun sesuatu dari nol. Ardi ditawari jalan masuk ke korporat tech yang serba cepat dan penuh tuntutan. Dua jalur yang semakin menjauh.
"Gimana kalo gue yang ikut lo ke Jakarta?" usul Kinan tiba-taya.
"Studio lo gimana?"
"Bisa gue jalanin online dulu. Atau buka cabang kecil di sana."
"Tapi lo benci Jakarta. Lo bilang sendiri, Jakarta bikin lo stres."
"Tapi lo lebih penting."
Ardi geleng. "Jangan. Jangan sampe lo ngerasa mengalah buat gue. Nanti lo sakit hati."
"Terus gimana? Kita putus? Karena lo dapet kerjaan bagus? Itu konyol!"
"GUE NGGAK BILANG PUTUS! Tapi gue nggak mau kita berdua ngerasa terpenjara karena satu pilihan!"
Suara mereka mulai meninggi. Ini perdebatan pertama yang benar-benar tentang masa depan, bukan tentang mantan atau gala dinner. Dan itu lebih menakutkan.
---
Dua hari penuh dengan keheningan yang tegang. Mereka chat cuma buat hal teknis. "Makan belum?" "Udah."
Ardi kepikiran terus. Dia bayangin dirinya di kereta commuter setiap hari, pakai kemeja, meeting sampe malam, pulang ke apartemen kecil yang sepi. Lalu bayangin Kinan di Bandung, keliling cafe meeting klien, pulang ke studio kecilnya yang cozy. Dua gambaran itu... nggak nyambung. Mereka seperti dua karakter di serial yang berbeda, dipaksa buat crossover.
Tapi dia juga nggak mau nolak tawaran itu cuma karena takut. Itu oportunitas langka. Dan dalam hatinya, dia penasaran. Pengin tau rasanya kerja di dunia itu.
Kinan, di sisi lain, lagi stalk Instagram para digital nomad yang hubungannya LDR. Semua keliatannya happy, selalu ketemu di airport, kirim pakem hadiah. Tapi di kolom komentar, ada yang curhat: "Tahan 2 tahun, akhirnya putus karena nggak ada yang mau kompromi." Dia nggak mau itu.
---
Keputusan datang dari hal yang paling nggak diduga: kucing.
Kucing Dadu si gemuk dari warteg, yang sekarang sering mampir ke kosan Ardi, tiba-taya melahirkan 4 anak di bawah lemari es. Ardi panik, telpon Kinan. Kinan yang lagi galau langsung nyetir ke Bandung bawa kotak dan susu formula kucing.
Mereka berdua duduk di lantai dapur, lihat induk kucing menjilati anaknya yang masih kecil.
"Lo liat itu," kata Kinan. "Dia nggak mikir mau tinggal di mana, kerja di mana. Dia mikir: anak-anak gue lahir di sini, jadi gue jaga di sini."
"Kok jadi filosofis."
"Maksud gue... maybe we're overthinking. Kita mikirnya 'Ardi ke Jakarta, Kinan di Bandung, oh no long distance'. Tapi kita lupa nanya: di mana kita bisa tumbuh bareng? Bukan cuma satu orang yang tumbuh, satu lagi nungguin."
Ardi ngerenung. "Di BSD, gue bakal tumbuh jadi corporate researcher. Di Bandung, lo bakal tumbuh jadi creative entrepreneur. Kita tumbuhnya di tempat yang beda. Bisa aja kita makin jauh."
"Atau..." Kinan ambil napas. "Kita cari tempat ketiga. Bukan Jakarta, bukan Bandung. Tempat yang buat kita berdua bisa mulai dari nol, bikin aturan main sendiri."
Ardi menatapnya. "Contohnya?"
"Jogja. Atau Bali. Atau Surabaya. Di mana aja yang ada tech scene kecil dan creative scene-nya kuat. Kita mulai kecil. Gue bikin studio, lo kerja remote atau cari freelance di startup lokal. Gaji mungkin lebih kecil, tapi... kita tumbuhnya bareng. Di tanah netral."
Gila. Tapi... masuk akal.
---
Telepon ke Pak Heru.
"Pak, saya mau minta waktu 6 bulan. Saya ada komitmen buat bikin project pribadi dulu. Tapi kalau nanti posisi masih ada, saya akan pertimbangkan lagi."
Pak Heru tertawa di telepon. "Project dengan pacarmu itu? Good. Passion project itu penting. Tapi ingat, dunia nggak akan nunggu. Saya kasih waktu 6 bulan. Good luck."
Keputusan akhir: Mereka akan pindah ke Jogja dalam 2 bulan. Kota yang punya vibe kreatif kuat, hidup lebih murah, dan punya komunitas tech yang berkembang. Ardi bakal freelance bikin riset kecil-kecilan dan lanjutin musik. Kinan bakal buka studio desain kecil sekaligus workshop digital wellness.
Bukan pilihan yang aman. Tapi itu pilihan mereka berdua. Bukan satu mengalah buat yang lain. Tapi dua orang yang sepakat buat ngebangun peta baru, bukan pilih jalan yang udah ada.
---
LAST LINE: Saat packing kardus buku pertama, Ardi nemuin notes lama Kinan yang nyempil. Isinya coretan: "Love is not about finding the person you can live with. It's about finding the person you can't imagine building a new map without." Ardi tersenyum, tempel notes itu di samping laptop. Mungkin, peta terbaik bukan yang udah jadi, tapi yang bakal mereka gambar bareng-bareng—dengan coretan-coretan salah, bekas kopi tumpah, dan tanda panah yang awalnya nunjuk ke arah yang salah, tapi akhirnya nemuin jalur yang bikin mereka berdua bilang: "Oh, ini dia. Ayo kesana." 🗺️✏️