Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI KE SEMBILAN PUASA MUTIH
Setelah kejadian malam itu di rumah Pak Handoyo, aku hanya disuruh banyak istirahat sama bapakku. Dan Ustadz Furqon juga mengatakan hal yang sama. Sehingga sampai hari ke 9 aku berpuasa mutih, tak banyak aktifitasku ke luar rumah.
Alhamdulillah nya, Dinda dan Ningrum juga tak merasa curiga atau penasaran lebih jauh kenapa aku bisa sampai pusing dan keluar darah pada malam itu. Meskipun kemarin mereka datang ke rumahku untuk sekedar menjenguk dan ingin tahu keadaanku.
Begitu juga dengan para tetangga serta warga desa yang lain saat malam itu menjenguk Pak Handoyo melihatku seperti itu. Mereka tak sampai curiga atau merasa aneh. Semuanya berjalan lagi dengan normal.
Di hari ke sembilan ini aku berpuasa, aku akhirnya memberanikan diri untuk bercerita kepada bapak tentang apa yang aku alami pada saat malam penjengukan ke rumah Pak Handoyo itu.
Di teras rumah, sore hari saat sebentar lagi aku akan berbuka puasa mutih hari ke sembilan ini, aku membuka obrolan dengan Bapak.
"Pak... Aku... Mau cerita sama bapak..." ucapku perlahan, agak sedikit ragu, tapi tetap aku beranikan diri.
"Cerita aja Nis..." jawab bapakku dengan santai seperti biasa.
"Soal kejadian malam itu di rumah Pak Handoyo... Sebenernya aku..." lanjutku agak tertahan sejenak.
Bapak diam dengan menatapku lebih serius, sambil mengepul asap rokoknya.
"Apa? Ngomong aja sama bapak... Jangan ditahan kalo emang ada yang harus diceritain Nis..." lanjut bapakku saat melihat anaknya ini sedikit ragu.
"Iya Pak... Sebenarnya... Nisa mau cerita sama bapak. Semenjak awal mulai tirakat, Nisa seperti ada yang menemani Pak, dan juga apa yang bapak bilang tentang kemampuan dan perewangan almarhumah ibu, semuanya pelan-pelan aku rasain sendiri Pak." aku coba jelaskan dari awal, supaya bapak bisa memahami semua yang terjadi padaku hingga kejadian malam itu di rumah Pak Handoyo.
"Hm... Begitu... Terus?" tanya bapak.
"Aku juga mimpi ketemu sama almarhum kakek, terus setelah itu..." lanjutku, tapi seperti ada rasa yang menahanku untuk bercerita lebih detail.
"Apa Nisa? Coba cerita dengan batinmu yang tenang... Kalau ada bagian cerita yang menurutmu gak perlu diceritain, gak apa-apa... Ceritakan aja apa yang menurutmu bapak perlu tau..."
Bapak seperti mengerti bahwa apa yang ingin aku sampaikan ini terasa cukup berat bagiku, atau terasa ada yang harus aku ceritakan dan tidak harus aku ceritakan padanya. Dan aku pun melanjutkan ceritaku.
"Intinya Pak... Nisa... Seperti bisa melihat bangsa lelembut. Dan, ada satu sosok yang mulai menemani aku tiap hari Pak. Nisa yakin, kalo sosok itu sebenarnya adalah perewangan almarhumah ibu juga waktu masih hidup. Namanya..." aku coba sebutkan nama itu, tapi sudah keduluan oleh bapak.
"Dayang Putri?" kata bapak, menatap wajahku sambil sedikit tersenyum lagi.
"Iya pak... Sosok itu namanya Dayang Putri..." responku sambil mengangguk pelan.
Lalu aku mengalihkan pandanganku ke arah halaman rumah, dengan sinar matahari sore yang semakin menguning indah. Aku mencoba beranikan diri untuk menceritakan semua yang ku alami tentang sakitnya Pak Handoyo.
"Pak, hari ini, udah tiga hari Pak Handoyo sakit kan?" aku bertanya mengawali ceritaku tentang Pak Handoyo.
"Iya Nis... Tadi siang juga bapak ke sana lagi bareng Ustadz Furqon buat jenguk, masih belum ada perubahan di perutnya. Kasian banget Yaa Alloh..." jawab bapak.
Aku menarik nafas perlahan, dan kemudian sebelum aku lanjutkan cerita, penglihatan mata kiriku kembali terbuka....
Aku melirik, melihat Dayang Putri sudah berdiri di sebelah kiriku. Dan Dayang Putri berkata padaku,
"Ceritakanlah Nisa..."