Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Gerbang Hijau: Bab 29
Di kediaman Ratri, suasana hangat melingkupi ruang tengah. Bau minyak kelapa dari sentir lampu minyak tradisional bercampur samar dengan aroma teh melati yang mengepul dari cangkir. Jendela kayu yang terbuka lebar mengundang sejuknya udara malam, namun kehangatan persahabatan di dalam ruangan itu sanggup menepis rasa dingin.
Valaria, ibu, dan Tirta duduk melingkar di atas tikar pandan. Di bawah sorot cahaya kuning lembut dari sentir, tangan mereka bergerak luwes, menari di atas potongan kain katun polos.
Keberhasilan eksperimen awal Valaria dalam membuat saputangan telah memberinya semangat baru. Di hadapannya kini tertumpuk hasil jerih payah mereka: 18 buah saputangan cantik. Valaria baru saja membeli tiga meter kain yang dibagi rata menjadi tiga warna elegan putih, biru muda, dan hitam. Dari setiap meter kain, mereka berhasil memotong enam lembar saputangan yang rapi.
Saputangan putih itu berhias sulaman bunga melati yang halus. Warna biru muda dihiasi pola burung yang tengah terbang, sementara kain hitam tampak misterius sekaligus anggun dengan sulaman daun sirih yang mendetail. Ke-18 karya ini adalah bukti ketekunan mereka.
"Lihat ini, Ratri, Valaria," kata Tirta sambil mengangkat saputangan biru dengan wajah cerah.
Tirta, yang awalnya datang hanya untuk membicarakan resep masakan warung Valaria, justru larut dalam kegiatan menyulam. "Aku tidak menyangka bisa sefokus ini. Rasanya seperti melukis, tapi menggunakan benang."
Valaria tersenyum bangga. "Teknik sulaman bebas yang kuajarkan memang fokus pada mengalirkan perasaan, Tirta. Kau punya bakat. Garis sulamanmu jauh lebih luwes dari perkiraanku."
"Aku hanya meniru. Tapi benar, fokus seperti ini sangat menenangkan. Rasanya... semua beban pikiran tentang dapur dan warung menghilang sejenak," ujar Tirta sambil menarik napas lega.
Ibu, yang baru saja menyelesaikan sulaman kupu-kupu kecil di sudut kain putih, menimpali, "Jangan khawatir, Valaria. Malam ini kami akan memberikan yang terbaik. Suasana dengan sentir di tengah begini mengingatkanku pada masa kecil kita dulu, ya?"
Valaria menatap nyala api kecil yang menari-nari. "Iya, kehangatan desa memang tidak ada duanya."
Berbeda dengan keceriaan di rumah Ratri, suasana di rumah Baskoro terasa tegang. Meski rumah itu lebih modern dengan lampu listrik yang terang, suasananya terasa dingin. Eko, putra bungsu Tirta yang baru berusia sepuluh tahun, duduk gelisah di sofa. Matanya terus melirik jam dinding yang berdetak lambat.
"Ayah," panggil Eko pelan. "Ibu masih lama ya di rumah Kak Valaria?"
Baskoro sebenarnya sedang membaca koran, namun gurat di wajahnya menunjukkan bahwa ia pun mulai cemas. Ia melipat koran itu dengan suara renyah, lalu menoleh pada putranya.
"Sabar, Nak. Ibu sedang ada urusan penting dengan Bibi Ratri. Ini memang sudah larut, mungkin mereka terlalu asyik mengobrol," jawab Baskoro mencoba menenangkan.
"Urusan penting apa sampai lupa waktu? Biasanya Ibu sudah pulang sebelum jam sembilan," desak Eko. Ia berdiri dan berjalan mondar-mandir. Matanya berkaca-kaca karena rindu sekaligus khawatir.
Baskoro menghela napas, meletakkan korannya, lalu menarik Eko untuk duduk di sampingnya. "Eko, dengar Ayah. Ibu sedang berusaha demi kebaikan kita semua."
"Tapi, bukankah sekarang semuanya sudah baik-baik saja?" tanya Eko dengan suara bergetar. "Aku rindu Ibu. Hari ini aku dapat nilai sempurna di ulangan, aku ingin Ibu jadi orang pertama yang tahu. Kenapa Ibu harus bekerja keras sekali? Bukankah Ayah sudah punya pekerjaan?"
Pertanyaan jujur itu menusuk ulu hati Baskoro. Ia memeluk putranya erat-erat, merasa bersalah. "Ayah tahu, Nak. Maafkan Ayah. Ibu hanya ingin belajar mandiri, dan itu sifat yang bagus. Tapi kamu benar, seharusnya Ibu tetap ingat waktu untukmu."
Baskoro kemudian menatap Jaya, putra sulungnya yang sedari tadi memperhatikan mereka. "Jaya, tolong jemput Ibu sekarang. Kasihan adikmu."
Jaya mengangguk sigap. Ia segera menyambar jaket dan melangkah keluar. Udara dingin malam langsung menusuk kulit, membawa aroma embun dan tanah basah. Saat melewati gerbang rumah Laksmin, ia berpapasan dengan Miranda dan Leto yang baru saja keluar dari sana.
"Kak Jaya?" sapa Miranda terkejut. "Mau ke mana selarut ini?"
Jaya berhenti sejenak dan tersenyum tipis. "Selamat malam, Miranda, Leto. Aku mau menjemput Ibu di rumah Bibi Ratri. Sepertinya beliau terlalu asyik menyulam sampai lupa waktu."
Leto mengangguk sopan. "Oh, begitu. Hati-hati di jalan, Kak."
Setelah Jaya berlalu, Miranda menatap punggung pria itu dengan tatapan kagum yang sulit disembunyikan.
"Kau lihat, Leto? Dia sangat berbakti pada ibunya," gumam Miranda.
"Tentu saja. Kak Jaya memang orang baik dan pintar. Sayang sekali dia harus kehilangan pekerjaannya," sahut Leto.
Miranda merenung. "Aku ingin lebih dekat dengannya, Leto. Cara dia menjelaskan pelajaran sangat mudah dimengerti, tidak seperti guru di sekolah yang selalu terburu-buru. Dia punya kesabaran yang luar biasa."
Leto tertawa kecil, menggoda sepupunya. "Ah, kurasa ada alasan lain selain soal pelajaran, Mir. Tatapanmu berbeda saat membahas Kak Jaya."
Pipi Miranda merona. "Aku serius! Ini tentang pertemanan yang berharga. Dia orang yang tulus."
Jaya tiba di depan rumah Arjun. Ia mengetuk pintu kayu itu dengan pelan. Raka, putra dari Ratri, membukakan pintu sambil tersenyum.
"Kak Jaya? Masuk, Kak! Ibu-ibu sedang 'berpesta' sulam di dalam," canda Raka.
Jaya melangkah masuk dan melihat pemandangan yang hangat: tumpukan kain warna-warni dan cahaya sentir yang temaram. Valaria dan ibu sedang tertawa melihat Tirta yang mengeluh karena benangnya terbelit.
"Ibu..." panggil Jaya lembut.
Tirta tersentak. Ia baru menyadari betapa larutnya malam itu. "Jaya? Astaga! Nak, kenapa kamu yang menjemput? Di mana Ayahmu?"
Jaya duduk bersimpuh di samping ibunya. "Ayah yang menyuruhku, Bu. Eko rewel. Dia menangis karena Ibu belum pulang. Dia ingin pamer nilai ulangannya yang sempurna hari ini."
Wajah Tirta seketika muram. Rasa bersalah menghujam jantungnya. Ia segera meletakkan kain sulamannya. "Ya Tuhan... maafkan Ibu. Kami benar-benar lupa waktu."
"Eko butuh Ibu sekarang. Bukan hanya untuk mendengar ceritanya, tapi agar dia merasa aman karena Ibu ada di rumah," ujar Jaya dengan nada memohon yang halus.
Tirta menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. Ia sadar, perjuangannya untuk mandiri tidak boleh mengorbankan perasaan anak-anaknya.
"Baik, Nak. Kamu benar." Tirta menoleh pada Valaria dan Ratri. "Teman-teman, maaf, aku harus pulang sekarang. Anakku membutuhkanku."
"Tidak apa-apa, Tirta. Urusan anak memang yang utama," sahut Ratri penuh pengertian.
Valaria segera membereskan 18 saputangan hasil kerja mereka ke dalam tas anyaman. "Pergilah, Tirta. Kita lanjutkan besok."
Saat melangkah keluar dituntun oleh Jaya, Tirta menyadari sesuatu yang berharga. Malam itu ia tidak hanya belajar cara menyulam kain, tetapi juga belajar tentang batas antara ambisi dan peran sebagai seorang ibu. Pelajaran dari tatapan rindu anaknya jauh lebih berharga daripada berlembar-lembar saputangan yang berhasil ia selesaikan.