menceritakan sang pangeran bernama iglesias Lucyfer seorang pangeran yang manja dan kekanak-kanakan suatu hari dia dan kakak perempuan Lucyfer iglesias Elice ingin menjadi penyihir high magnus dan bertahun tahun berlalu di mana saat sang kakak kembali lagi ke kerajaan vantier Elice berubah pesat dan menjadi sangat dingin, perfeksionis,fokus dan tak peduli dengan siapapun bahkan Elice malah menantang sang adik dan bertarung dengan sang adik tetapi sang adik tak bisa apa apa dan kalah dalam satu teknik sihir Elice,dan Elice mulai menyadarkan Lucyfer kalau penyihir seperti nya tak akan berkembang dan membuat lucyfer tetap di sana selama nya dan sang adik tak menyerah dia ke akademi yang sama seperti kakak nya dan mulai bertekad menjadi high magnus dan ingin membuktikan kalau diri nya sendiri bisa jadi high magnus tanpa kakak nya dan Lucyfer akan berjuang menjadi yang terhebat dengan 15 teman teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
aku merasakan ada yang janggal
Toma bangkit perlahan.
tongkat sihir matahari Toma masih tergenggam erat di tangannya.
meski lengannya gemetar hebat karena stamina nya terkuras habis melawan para kloning element ini tanpa ujung.
Nafasnya tersengal, paru-parunya terasa seperti terbakar, namun kakinya tetap melangkah maju—satu langkah demi satu—menghadap empat kloning elemen Lucyfer yang berdiri tanpa ragu sedikit pun.
Di mata Toma, ada sesuatu yang terasa salah.
“Mereka… terlalu rapi.”
Ia menyipitkan mata.
“Ini bukan pertarungan kloning biasa. Mereka bergerak terlalu sinkron, terlalu presisi.”
Jantung Toma berdegup lebih cepat.
“Tidak mungkin Lucyfer mengendalikan mereka dengan telepati jarak jauh…”
Lalu sebuah kesimpulan menghantam pikirannya.
“Bukan telepati.”
“Dia ada… di pikiran mereka.”
“Lucyfer adalah pusat dari semuanya.”
Nebel mendecak, suaranya melengking mengejek.
“Hahhh? Kenapa manusia sepertimu masih bisa berdiri lagi?”
“Tapi tenang saja… kali ini kami akan mengalahkanmu untuk kedua kalinya.”
Keempat kloning bergerak serentak.
Tanah bergetar.
Angin berputar.
Api menyala.
Kabut menebal.
Alven, yang berdiri sempoyongan di belakang Toma, menarik busur sihirnya dan melepaskan anak panah satu demi satu.
BOOM!
BOOM!
Ledakan kecil menghantam tubuh para kloning—bukan untuk menghancurkan, melainkan memperlambat.
“Aku tak punya pilihan lain.”
“Aku harus pakai kekuatan terkuat dari sihir matahari.”
“Yaitu mengubah tongkat sihir ini menjadi—
pedang matahari.”
Toma terpaksa mengubah tongkat sihir nya menjadi sebuah pedang matahari.
Cahaya emas menyala dari bilahnya, panas matahari berdenyut liar, semakin kuat seiring tekadnya mengeras.
“Sihir Matahari—”
“Matahari yang Menyinari Dunia.”
Toma menerjang.
Satu ayunan—
kedua tangan Gravem terbelah dua.
Ayunan kedua—
Tangan Nebel langsung terpotong, kabutnya terhambur.
Tusukan lurus—
Phyrr tertembus dada.
Dan satu tebasan rendah—
Kaki Aeral langsung terpotong, membuatnya jatuh dan tak bisa terbang lagi.
Namun Toma langsung tahu…
“Belum cukup.”
Tubuh para kloning mulai beregenerasi.
Retakan tanah menyatu, kabut kembali membentuk wujud, api menyala ulang, angin berputar lagi—namun kali ini lebih lambat.
Para kloning mengeluh. Gerakan mereka tak lagi sehalus sebelumnya.
Dan saat itulah—
Toma merasakan sesuatu.
sesuatu yang lembut… bunga mawar.
Ia tertegun.
“Aneh…”
“Di hutan ini… tidak ada bunga mawar.”
Naluri Toma menjerit.
Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan inderanya bekerja.
Aroma itu datang dari pedalaman hutan, jauh dari medan pertempuran.
“Jangan-jangan…”
“Ini inti sihirnya.”
“Sumber kehidupan kloning-kloning ini.”
Tanpa bicara panjang, Toma menarik Alven ke balik semak-semak.
“Ada yang janggal,” bisiknya cepat.
“Aku mencium bau mawar… dan aku yakin itu inti kloning mereka.”
Alven mengernyit, lalu matanya membesar.
“Hah? Jadi maksudmu…”
“Ini kayak sistem lebah?”
“Kalau lebah punya ratu—”
Toma mengangguk setuju apa kata Alven.
“—maka mereka juga punya pusat.”
“Dan aku yakin… keempat kloning ini akan mati kalau intinya dihancurkan.”
Alven menyeringai tipis, meski napasnya masih berat.
“Oke.”
“Kalau gitu… biar aku jadi umpan.”
Tanpa menunggu persetujuan, Alven keluar dari persembunyian dan berteriak keras.
“OIIIII KLONING SAMPAH!”
“kalian pikir kalian berempat benar benar hebat?!”
“Kalau berani, satu lawan empat sini!!”
Keempat kloning langsung menoleh ke arahnya.
Namun—
Gravem berhenti sejenak.
Ia menoleh ke arah pedalaman hutan.
Ia merasa ada yang aneh dan langsung berlari meninggalkan ketiga Kloning lain nya.
Dan itu cukup.
Toma berlari.
Langkahnya berat, tapi aroma mawar semakin kuat setiap detiknya.
“Cepat…”
“Di mana kau bersembunyi…”
Ia menerobos semak, melompati akar, hingga akhirnya—
Di tengah tanah yang gelap, ia melihatnya.
Satu bunga mawar.
Layu. Kelopaknya jatuh satu per satu.
Namun dari sanalah Toma merasakan denyut sihir yang sama dengan keempat kloning itu.
“Ini dia.”
Namun sebelum Toma bisa mengayunkan pedangnya—
BRAKK!!
Tanah meledak.
Gravem muncul di hadapannya, matanya menyala marah.
“Manusia…”
“Kau tidak boleh menyentuh itu.”
Ia menghantamkan tongkatnya ke tanah.
“Sihir Tanah—Golem Tanah.”
Sebuah raksasa tanah bangkit, menutup jalan Toma.
Toma mengangkat pedangnya, cahaya matahari kembali menyala di bilahnya.
“Kalau kau penjaganya…”
“Maka aku akan melewatimu.”
Dan pertarungan penentu pun dimulai—
antara penjaga inti dan manusia yang memilih melindungi orang lain meski dirinya hampir hancur.