Kerajaan Zorvath, sebuah negeri yang megah dan agung, dipimpin oleh Raja Reynold Arcturus Zorvath dan Ratu Aurelia Elyse Zorvath. Mereka telah mengikat janji suci selama 20 tahun, namun takdir masih belum memperkenankan mereka untuk memiliki penerus. Empat musim berganti, dari panasnya matahari hingga dinginnya salju, namun harapan akan kehadiran pewaris tahta masih belum terwujud.
Zorvath, sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, menjadi saksi bisu atas perjuangan pasangan kerajaan ini. Desakan dari berbagai pihak semakin kuat, menguji kesabaran dan cinta mereka. Namun, Raja Reynold dan Ratu Aurelia tetap teguh, memegang erat janji mereka untuk menjaga kerajaan dan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chas_chos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Selamat, Yang Mulia. Semua telah lahir dengan selamat. Tiga pangeran yang tampan… dan satu putri kecil yang begitu mirip dengan neneknya
Ratu Aurelia terdiam sebentar, tangannya mengepal dengan erat.
__________
"Ratu," tanya Lula dengan nada rendah serta menyentuh sedikit tangan Ratu Aurelia sebab ia tidak merespon perkataannya.
"Ah. . . "
"Sepertinya kontraksinya sudah mulai dekat, tolong siapkan kain dan air hangat ya, serta pisau yang sudah di steril," ucap Ratu Aurelia dengan menarik napas dengan dalam.
"Baik," jawab Lula dan Mila dengan sigap mereka langsung menyiapkan perlengkapannya.
Di luar tenda, Raja Reynold berdiri dengan tangan mengepal serta jantung yang berdegup kencang. Namun ia berusaha untuk menahan diri. Ini adalah keputusan Ratu Aurelia dan ia tahu, tidak akan ada yang bisa menghentikannya jika dia sudah memilih.
"Bu. . . Dengarkan saya, saat saya bilang dorong, lakukan. Jangan menyerah, anak anda menunggu pelukan anda," ucap Ratu Aurelia lebih tegas ke arah wanita itu.
Sesaat kemudian tangisan berubah menjadi erangan tertahan. Lula membantu memegangi tangan wanita itu dan Ratu Aurelia tepat berada di depan jalan lahir.
"Sekarang,"
"Dorong," ucap Ratu Aurelia.
Waktu seakan berjalan lambat. Keringat mengalir di pelipis Ratu Aurelia, napasnya terengah namun tangannya tetap stabil. Hingga akhirnya, tangisan kecil terdengar di tenda pengungsian.
Dengan tangan yang bergetar, Ratu Aurelia mengangkat bayi kecil itu dengan hati-hati, membersihkan dan membungkusnya dengan kain hangat. Dengan pelan ia dekap tubuh kecil itu, ia bergerak pelan di dalam gendongannya. Dengan langkah pelan, Ratu Aurelia mendekat kearah wanita itu.
"Selamat, anak anda lahir dengan selamat," ucap Ratu Aurelia dengan mata berkaca-kaca. Dengan pelan ia meletakkan kan bayi itu di pelukan ibunya.
"Terima kasih, Yang Mulia" ucap wanita itu pelan.
Ratu Aurelia hanya mengangguk dan segera keluar dari tenda.
__________
Di luar tenda, Raja Reynold menutup mata ketika mendengar tangisan bayi itu. Dadanya sesak antara syukur, takut dan luka lama yang kembali berdenyut.
Beberapa saat kemudian, Ratu Aurelia keluar dengan wajah pucat namun tersenyum tipis.
"Say . . ."
Belum selesai panggilan Raja Reynold, Ratu Aurelia perlahan-lahan limbung, jatuh di depannya.
Raja Reynold segera menghampirinya dengan panik, di dekapnya tubuh Ratu Aurelia.
Panas sekali, kenapa kamu keras kepala sekali sih sayang batin Raja Reynold
"Liam," teriak Raja Reynold dengan keras.
Liam yang sedang minum, langsung tersedak. Dengan langkah cepat ia segera kesana.
"Salam Yang Mulia," ucap Liam dengan terengah-engah.
"Siapkan mobil, kita pulang sekarang ke istana," ucap Raja Reynold dingin.
"Hah," ucap Liam dengan bingung, hingga pandangannya melihat ke arah Ratu Aurelia yang sedang dipeluk Raja Reynold.
"Baik, Yang Mulia," ucap Liam sigap dan langsung menyiapkan mobil dan membereskan barang-barang.
Raja Reynold mengangkat Ratu Aurelia ke gendongannya lalu melangkah ke tenda mereka, menunggu semuanya siap.
____________
Di perjalanan suasa terasa sunyi, hanya diterangi lampu di sepanjang jalan. Di dalam mobil, Raja Reynold tetap memeluk Ratu Aurelia, sudah lebih dari 3 jam tetapi Ratu Aurelia belum sadar serta suhu tubuhnya semakin panas.
“Lebih cepat, Liam,” ucap Raja Reynold dengan suara tertahan, matanya tak lepas dari wajah pucat di pelukannya.
“Baik, Yang Mulia,” jawab Liam pelan. Tangannya mencengkeram setir lebih kuat, meski jarum kecepatan sudah hampir mentok.
___________
Alam bawah sadar Ratu Aurelia__kenangan yang tidak pernah Aurelia ceritakan kepada siapapun.
“Selamat, Yang Mulia. Semua telah lahir dengan selamat. Tiga pangeran yang tampan… dan satu putri kecil yang begitu mirip dengan neneknya,” ucap dokter istana dengan senyum lega.
Brak
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.
Raja Alaric melangkah masuk tanpa ekspresi. Tatapannya dingin, tidak melihat pada Aurelia, melainkan pada bayi-bayi yang baru saja di lahirkan.
“Bawa pergi bayi-bayi ini, Caelan,” ucap Raja Alaric.
"Tapi ayah . . ." jawab Caelan dengan tangan yang mengepal disamping tubuhnya.
"Peraturan, tetap peraturan Caelan. Jangan melawan lagi kalau tidak mau hal lebih buruk terjadi pada adikmu," ujar Raja Alaric dengan nada keras.
“Jangan… Paman, jangan!, Aure mohon,” suara Aurelia pecah. Tubuhnya gemetar, tangannya terulur lemah.
“Aure… Aure belum memeluk mereka. Tolong… jangan sekarang, jangan pisahkan Aure dari anak-anak Aure.”
Air mata Aurelia jatuh tanpa bisa ditahan.
Raja Alaric perlahan mendekati ranjang Aurelia. Raut wajahnya semakin dingin menatap Aurelia.
"Kamu tahu ini peraturan keluarga kita, ingin kamu langgar. Tidak cukup kah kamu mengobrak-abrik sistem kerajaan Averdom, tidak cukupkah hukuman pembekuan identitasmu dua puluh tahun,"
Aurelia hanya bisa menangis tersedu-sedu mendengar semua perkataan Raja Alaric.
" Apa karena suami mu Raja Kerajaan Zorvath, kamu berpikir memiliki kekuasaan lagi," ujar Raja Alaric dengan sinis.
"Ingat Aurelia, kerajaan ini, bisa membuat kerajaan suami hanya tinggal sejarah saja," lanjut Raja Alaric. Lalu ia meninggalkan ruangan Aurelia bersama Caelan beserta pelayan yang membawa bayi-bayi itu.
__________
Di ruang kerja yang megah dengan berbagai ornamen, Aurelia duduk bersimpuh di atas lantai yang dingin. Pandangannya nanar menatap lantai.
"Biarkan Maria tinggal disini paman, setidaknya ada yang mengenalkan Kerajaan Zorvath serta asal usul mereka," ucap Aurelia lemah.
"Apa untungnya Aure" tanya Raja Alaric sinis.
"Bukan soal keuntungan paman, tapi ini tentang keluarga," jawab Aurelia.
"Keluarga," ucap Raja Alaric berdiri dari kursinya lalu berjalan perlahan mendekati Aurelia.
"Apa paman bukan keluargamu lalu kenapa kamu tidak percaya" lanjut Raja Alaric diam di depan wajah Aurelia.
Raja Alaric berdiri lalu menengok sebentar ke arah Aurelia.
"Ingat Aurelia, bukan sistem yang harus tunduk kepadamu tetapi kamu yang harus tunduk kepada sistem itu" ucap Raja Alaric.
"Maria"
"Boleh disini, tetapi harus ikut kerajaan Averdom"
Setelah mengatakan itu Raja Alaric pergi dari ruangan.
__________
"Jaga anak-anakku Maria" ucap Aurelia berdiri di sisi pintu mobil yang akan membawanya kembali ke Kerajaan Zorvath.
"Yang Mulia" balas Maria__pelayan setia Aurelia sebelum Liana___dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
Aurelia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Kerajaan Averdom.
__________
Keringat Ratu Aurelia terus bercucuran di dalam dekapan Raja Reynold, suhu tubuhnya semakin tinggi hingga napasnya sudah tak beraturan lagi.
"Sial,"
"Cepat, Liam," bentak Raja Reynold, nyaris hilang kendali.
_
_
_
Terima kasih yang 🙏 dan maaf ya kalau masih ada banyak typo
_
_
3 Februari 2026
_
_
🥰🥰🥰